MANTIV

MANTIV
● Mantiv(115)


__ADS_3

Hujan akan indah jika yang keluar adalah hujan Air, tapi bagaimana jika yang datang itu adalah air berwarna merah. Evita mengunakan payung yang dibawa olehnya. Bagaimana bisa membawanya, tentu saja kecangihan jaman yang terus berkembang.


Evita menatap keselilingnya, yang didapatinya hanya kehampaan karena sang musuh sepertinya bergegas pergi. Namun Evita yang sudah menetapkan bahwa musuhnya harus mati hari ini, maka musuh tersebut tak bisa kabur darinya.


Swussss


Evita melesatkan tali yang langsung mengait didinding. Dengan cepat pula Evita menarik dirinya untuk melewati orang-orang. Adu tembakkan itu terus berbunyi dan hujan darah terus berjatuhan. Tinggal menunggu siapakah yang bisa memenangkannya.


“Itu dia”guman Evita yang menemukan musuhnya. Ia bergegas terjun dan menjatuhkan diri tepat didepan Yelina.


Yelina yang tadinya merasa sudah bebas langsung terkejut bahkan terjatuh dari berdirinya melihat seorang wanita memegang payung ditangannya.


“Yelina, Kau perlu payung?”tanya Evita yang berhasil menarik netra Yelina. Ia memandang Evita lebih dalam.


“Ja...Jangan bilang, Kau orang yang memberikan ku payung?”tanya Yelina dengan wajah yang bingung.


Evita mengerutkan alisnya, “Payung?..Kapan?”tanya Evita yang berjongkok lalu memandang Yelina.


Yelina menatap kearah bola mata Evita, bayangan tentang Ia ditolong dan mendapatkan sebuah payung bahkan kelanjutan hidupnya waktu itu karena seorang gadis yang memberikannya sebuah payung. Dan momen ini terasa sama persis dengan pertemuannya waktu itu.


“Tidak, Tidak mungkin..”guman Yelina yang didengar oleh Evita. Evita menatap tenang, Ia memutar ingatannya. Apakah Ia pernah bertemu Yelina sebelumnya?.


“Oh Aku ingat”pekik Evita yang membuat Yelina menatap kearahnya. “Dulu, Aku pernah memberikan Payungku kepada seorang remaja yang kehujanan”ucap Evita.


Bertahun-tahun yang lalu...


“kau..tak apa-apa?”tanya Evita kepada seorang wanita yang kehujanan.


Evita tak dihiraukan oleh wanita tersebut bahkan pergi meninggalkannya. Namun Evita yang berusia 8 tahun itu tak tinggal diam.


Ia terus mengikuti langkah wanita yang baru ditemuinya.namun baru beberapa langkah, Evita mendapat serangan dengan wanita yang menghempas payung miliknya.


“Apa yang kau lakukan hah?”tanya wanita itu kepadanya. Evita mengambil payung yang terhempas oleh Wanita tersebut.


“Pakailah”ucap Evita. sambil menyodorkan payung kearah Wanita yang ada didepannya.


Namun Wanita didepan itu menghempas kembali Payung yang disodorkannya. Lagi-lagi Evita mengambi payung tersebut lalu menyodorkannya lagi.


“Jauhkan itu dariku”ucap Wanita itu kepadanya sambil menatap kearah lain. “Ku bilang JAUHKAN INI DARIKU”teriak Wanita itu yang ingin meneping payung pemberiannya. Namun tangan itu harus terhenti karena tertahan oleh orang yang melindugi Evita. siapa lagi kalau bukan bodyguardnya.


“Kau jangan pernah menolak apa yang diberikan kepadamu, kadang sesuatu yang kau hempaskan itu adalah kebaikan untukmu..mungkin kau saat ini dilanda banyak masalah, namun tetaplah bertahan dan teruslah yakin,semua akan diganti dengan hal yang baik”ucap Evita dengan tenang dan melangkah pergi bersama bodyguardnya.


Selama perjalanan, Evita membalikkan tubuhnya untuk melihat apakah Wanita tersebut memakai payungnya. Matanya menatap dengan tengan melihat harapannya dipakai oleh Wanita tersebut.


Setiba ditempat Evita bertemu dengan Papahnya. “Kemana Kau sayang?”tanya Sang Papah yang sudah menyelesaikan rapat penting yang ada.


“Aku habis menolong seseorang yang sedang terpuruk Papah”jawab Evita yang kemudian masuk kedalam mobil keluarganya. Hari ini Evita mengikuti Papahnya untuk melakukan pertemuan yang Ia sendiri tak tahu pertemuan apa itu.


Mengingat kejadian puluhan tahun yang lalu membuat Evita bingung. “Apa Aku pernah ikut pertemuan itu?, dan lagi Pertemuan apa itu?”benak Evita.


“Tidak, Tidak mungkin Kau orangnya, Gadis imut itu tak mungkin dirimu”ucap Yelina dengan bangun dan menarik kerah kemeja Evita. Evita tersenyum melihat mata Yelina yang terlihat sekali begitu menganggumi orang yang disebut gadis imut.


“Yelina, Apa dulu gadis itu berkata....Kau jangan pernah menolak apa yang diberikan kepadamu, kadang sesuatu yang kau hempaskan itu adalah kebaikan untukmu..mungkin kau saat ini dilanda banyak masalah, namun tetaplah bertahan dan teruslah yakin,semua akan diganti dengan hal yang baik...Apa dia berkata seperti itu?”tanya Evita dengan nada yang sama persis dengan gadis yang ditemui oleh Yelina.


“Tak mungkin..tak mungkin”Yelina bergumang sambil melangkah mundur. Perperangan tembak menembak masih terjadi. Yelina tersungkur dengan wajah yang sudah menangis.


-


Intari dan Amelya menyimpan peralatan mereka, Mereka berdua baru saja mengheacker sebuah bom yang terbuat dengan teknologi yang bukan main.


“Sudah selesai?”tanya Intari kepada Amelya yang langsung mengangguk menjawab pertanyaannya.


“Yasudah Kita pulang, Raja pasti sudah menunggu kita”Intari dan Amelya melangkah menuju jalan keluar mereka. namun saat tiba diambang pintu masuk. Keduanya dihadang oleh dua wanita yang mengunakan masker diwajah mereka.

__ADS_1


“Kita ditugaskan untuk membunuh Kalian”ucap salah satunya. Intari dan Amelya saling memandang. “Eh, Tadi kita masuk ada penjaganya engak sih?”tanya Intari kepada Amelya.


Amelya menjawab “Tidak ada tuh, lagian kita masuk lewat pintu belakang, bukan pintu depan, ngapain penjaga melindungi pintu belakang?”tanya Amelya kembali.


“Bukannya kita menerobos masuk ya?”Intari bertanya kembali. Melihat dua orang yang berbincang-bincang didepan mereka memberikan kesempatan kepada dua wanita yang menghalangi Intari dan Amelya.


Brak!!!


“Lemah”ucap Intari yang menghantam perut Wanita yang mendekat kearahnya. Amelya bahkan sudah menghempaskan tubuh wanita yang menghalanginya.


Keduanya dalam sekali serangan langsung jatuh ditempat. Intari dan Amelya saling memandang. “Apa Aku kelewatan memukul mereka?”tanya Amelya yang kemudian membuat keduanya tertawa bersama.


Sudah lama mereka tak menhajar seseorang, lalu sudah lama juga tak berlatih. Jadi Mereka berdua sama-sama tak tahu harus mengatur kekuatan mereka sendiri.


Keduanya melangkah kepinggir jalan tempat mereka disingahkan oleh Evita. terlihat sebuah mobil dengan Pria yang termenung ditempat.


“Kenapa denganmu Raja, malam-malam begini sudah terlihat seperti orang kehilangan hidup?”tanya Intari yang meletakkan perlengkapannya di bagasi mobil.


“Ah, selamat malam Nyonya Intari dan Nona Amelya”sapa Raja yang tersadar dari bengongnya. Ia bergegas membuka pintu untuk keduanya masuk. Intari dan Amelya yang melihatnya hanya bisa menatap bingung.


Raja bergegas masuk untuk membawa kedua Bosnya kembali. Karena tugasnya kali ini bergegas membawa bossnya kembali dengan aman.


“Apa terjadi sesuatu denganmu Raja?”tanya Intari kepada seketarisnya.


Raja yang mendengarnya langsung mengeleng “Tidak terjadi apa-apa Nyonya”jawab Raja dengan tenang. Intari dan Amelya hanya bisa diam melihat Raja yang fokus menyetir.


“Apa yang kau sembunyikan?”benak Intari menatap kearah seketarisnya. Meski Intari mengenal Raja, namun banyak yang tak diketahui oleh Intari. Jadi kadang Intari merasa ada banyak hal yang disembunyikan oleh Raja. Dan entah kenapa Intari merasa bahwa suatu saat nanti akan ada kejutan dibalik Seketarisnya ini.


-


Dor!!!!


Tembak- menembak masih menjadi tradisi malam ini. Evita masih dengan tenang melihat Yelina yang gelisah bahkan berguman hal-hal yang tak jelas.


“Evita, jika memang waktu itu adalah dirimu, maka kenapa Kau membunuhku?”tanya Yelina. Evita yang berjongkok itu langsung berdiri dan menjawab.


“Ini takdir Yelina, Apa kau percaya takdir..sebenarnya Aku tak mempercayainya, namun semakin aku memikirkannya semakin Aku percaya takdir itu ada. seandainya dulu Aku tak bertemu denganmu, apa mungkin Kau sudah membunuh dirimu sendiri dan menjatuhkan diri kedalam sungai bahkan kedalam laut sekali pun?”


Evita melanjutkan, “Seandainya Kau tak ikut dalam kasus kematian orang tuaku, Kau mungkin sudah menjadi rekan kerjaku, bahkan ku anggap sebagai Kakakku...sayangnya takdir berkata lain...”ucap Evita mengakhiri perkatannya. Tatapannya menjadi dingin dan menyodorkan pistol tepat didahi Yelina.


“Tak apa, memang ini takdirku, bertemu denganmu yang dulu bagaikan malaikat dan sekarang bertemu lagi denganmu yang mirip seperti malaikat kematian, bunuhlah Aku Evita”ucap Yelina yang memejamkan matanya.


Dor!!!!


Yelina merasakan peluru masuk kedalam dahinya secara cepat. Dan tubuhnya langsung ambruk dengan pandangan yang ikut jatuh. Matanya masih melihat bayangan Evita yang berjongkok kembali dengan payung yang menutupi kepalanya.


“Dengar Yelina, Aku bukan malaikat kematian, Aku sama sepertimu, orang yang menunggu kematian itu datang meski takut bertemu dengannya, namun kali ini berbeda, Aku memiliki tugas. Yaitu mengantarmu kemalaikat kematian itu sendiri, beristirahatlah dengan tenang dineraka bersama Merlina...tenang saja temanmu yang lain akan menyusul”ucap Evita yang kemudian berdiri.


“Apa sudah selesai?”tanya Evita melihat kebelakang dimana seluruh orang suruhan Yelina ikut dalam lautan kematian. Tentu saja 50 orang yang dibawa Evita hanya sisa 40 orang yang masih bernafas dan sisanya sudah ikut kedalam kematian.


“Kematian kalian tak akan sia-sia”benak Evita. Ia tersenyum melihat Za dan Sebastian mendekat kearahnya.


“Kita kembali”ucap Evita yang kemudian merasakan tubuhnya begitu lelah untuk bergerak. Ia pun menjatuhkan dirinya yang langsung ditangkap oleh Za.


“Za, Aku capek”ucap Evita yang langsung digendong ala bridal style. Za mengangguk kemudian mencium puncak kepala Evita. Sebastian menuntun Kedua bossnya melangkah untuk keluar.


Setibanya dimobil, Sebastian langusng melesatkan mobilnya menuju kembali kekediaman Nyonyanya.


“Kita Akan ke kediaman gagak Sebastian”ucap Evita yang langsung dianggukkan oleh Sebastian. “Dan Jangan lupa kasih tahu Raja agar langsung mengantar kesana”Lagi-lagi Sebastian mengangguk. Dan langsung mengerjakan tugasnya.


Evita fokus dengan tenang berbaring didada bidang Suaminya. Menghirup aroma Suaminya membuatnya tenang. Ia bahkan ingin memejamkan matanya.


“Jangan tidur dulu sayang”ucap Za yang menarik perhatian Evita. Evita murung meliht kearah Za.

__ADS_1


“Dengar, Kau sudah kelewatan...lihat tanganmu ini”Za mengangkat tangan yang tersayat dengan enam sayatan disana. Untungnya tidak dalam.


Evita yang tersenyum melihat kekhawatiran Suaminya. Dan memilih melelapkan dirinya dalam luatan mimpi. Membiarkan Za mengobati lukanya.


“Sebastian, Kau membawa darah Evita tadi kan?”tanya Za setelah memastikan Evita tertidur.


“Tenang saja Tuan, Aku sudah menyimpannya”jawab Sebastian yang fokus menyetir.


“Bagus, tak ada yang boleh mengambil darahnya. Dan lagi Evita benar-benar mirip seperti pembunuh”ucap Za memandang teduh kearah Istrinya. Hatinya sakit melihat Evita yang berjuang untuk mengungkapkan kasus kematian orang tuanya. Dan bahkan rela menjadi buronan polisi nanti.


“Nyonya tak akan melepaskan mangasnya Tuan, ditambah Tuan sendiri tahu dulu Nyonya begitu kejam menghajar Reza bahkan hampir membunuhnya”ucap Sebastian.


Za yang mendengarnya mengangguk. Ia tak bisa lagi berkata apa-apa. Sekarang yang terbaik Ia harus melindungi Istrinya dari segala bahaya yang ada. entah kenapa ada perasaan yang aneh didalam dirinya.


Za memeluk erat Evita yang terlelap dengan wajah kelelahan. “setelah ini kau pasti memikirkan cara untuk menangkap atau mungkin menghabisi orang tahananmu sendiri”benak Za menatap Evita dan sekali lagi Ia mencium dahi Istrinya.


-


Seseorang menatap kelayar komputernya. Ada 6 layar yang terpampang didepannya. Dan salah satunya mayat seseorang yang terpayungi.


“Yeah, Aku tak menduga hasil ciptaaanku begitu tak sabar bertemu denganku..agh ingin sekali Aku membedahnya sekarang”


Ia bangun dari duduknya dan menatap kembali kearah layar yang dimana dua wanita suruhannya baru saja sadar dari perkelahiannya.


“Kalian ini sangat lemah, tidak yang lemah bukan kalian, tapi musuh kalian yang bertambah kuat...ah, Evita, Indah dan Amelya....kapan kita ketemu ya”


Rasa kagum menghantuinya. Ia menatap kearah tiga foto yang didapat olehnya. Dan membandingkan foto salah satu yang diambilnya kepada seseorang yang berada ditabung. Orang tersebut sudah meninggal hanya saja tubuhnya diawetkan dalam tabung yang berisikan cairan.


“Lihat, ini putrimu, Ia akan bertemu denganku, lalu Aku akan menjadikannya karya terbaik untukku...bagaimana Nona Kim Jun Jae”matanya menatap dengan pandangan tenang dan bibir yang tersenyum penuh kebahagiaan.


-


“Sepertinya Queen ini selalu berpindah-pindah?”


“Sudahlah, Aku kan sudah bilang kita hanya perlu menunggu orang yang menemukan Queen kita”


“Ah Aku begitu tak sabar untuk bertemu dengannya, dan mengobrak-abrik tubuhnya untuk bisa menemukan apa yang tersembunyi dibalik rahasia para Mafia”


“Sabarlah, ini merupakan ujian kita untuk menunggu”


Dimeja bundar kembali dilakukan pertemuan. Semua pergerakkan seseorang sudah terlihat didepan mata meski mereka kadang harus kehilangan jejak orang tersebut.


Gambar foto seseorang tepat diwajah mereka sendiri karena meja bundar kali ini merapatkan seorang wanita yang menarik perhatian semuanya. Tak hanya mereka seluruh pembisnis dunia bahwa begitu penasaran dengan orang yang ada difoto tersebut.


Rambut panjang dengan mata tajam menatap kearah mereka. seakan-akan orang tersebut memang ada diantara mereka, lebih tepatnya ada didepan mereka sendiri.


Meski hanya sebuah foto atau gambar. Mereka tetap bisa merasakan pandangan itu untuk mereka. ada yang merespon dengan penuh kebahagiaan melihat foto tersebut, ada juga yang sampai merasa takut hingga jadi sebuah trauma dalam dirinya.


“Queen Kita”itu adalah kalimat yang keluar dari mulut mereka. dua kata itu mampu mengetarkan hasrat mereka. bukan hanya mereka. seorang pria yang dikenal kekejamannya. Bahkan diberi gelar sebagai si Blue yang selalu dicari-cari oleh kepolisian.


Yeah Pria itu tengah mengenakan pakaian santai dengan tubuh madu yang begitu mempesona. Seorang duda yang memiliki banyak putra meski yang diakuinya hanya satu saja.


Pria itu meniupkan rokoknya keudara luas yang begitu indah di negara Amerika. Saat ini Ia sedang menikmati liburannya. Dan menantikan seseorang untuk bertindak.


“Aku kangen denganmu Baby”ucap Tuan besar Mavin Vintorian yang melangkah masuk kedalam vilanya. Lalu memilih untuk mengistirahatkan dirinya.


-


“Ba..bagaimana ini bisa terjadi?”ucap Navi yang baru saja berniat untuk bertemu dengan temannya. Siapa lagi kalau bukan Yelina.


Pagi yang cerah ini seharusnya disambut kebahagiaan, mereka malah menyambut kolam lautan darah yang begitu banyak.


“PERIKSA SEGALA YANG ADA, JANGAN SAMPAI KITA TAK MENEMUKAN BUKTI PEMBUNUHAN INI”teriak Navi kepada anak buahnya. Semua langsung bergegas menuruti perintahnya.

__ADS_1


“Ba..bagaimana bisa?”benak Navi. “Siapa yang Kau lawan Yelina?”guman Navi yang menatap mayat seseorang dengan dilindungi sebuah payung dikepalanya.


__ADS_2