MANTIV

MANTIV
● Mantiv(48)


__ADS_3

Za baru saja selesai membersihkan diri, ia mengenakan pakaian yang diminta olehnya. Tak sengaja tangannya mengambil jas yang kini terlihat sebuah kartu hitam yang tak lain adalah kartu permainan tadi.


Ia sedikit merasa geram dengan apa yang didapatnya, karena seingatnya kartu ini tak dibuka. Bahkan tak dilirik olehnya. Karena harus meladeni gadis yang kini telah resmi bukan tunangannya lagi.


“Za apa kau tak ingin berdansa denganku?”tanya Navi dengan nada genitnya. Bodoamat dengan apa yang orang-orang lihat padanya. Ia hanya ingin menikmati momen indah bersama kekasihnya ini.


“berhenti mengatakan hal seperti itu, aku bukan kekasihmu”ucap Za sambil meneguk wine ditanganya.


“kau tunanganku”Navi meninggikan nadanya tak senang dengan apa yang diucapkan oleh Za kepadanya. Ia sudah bertunangan dengan kurung waktu yang lama. Dan tiba-tiba mendapat penolakkan seperti ini. Ia tak terima.


“Aku membatalkan pertunangan kita....aku sudah mengatakannya kepada orang tuamu, ini malam terakhir kita”ucap Za tanpa basa basi. Membuat Navi langsung terdiam. Ia melangkah pergi meninggalkan Za yang kini hanya menikmati wine tanpa rasa bersalah


Mengingat hal itu membuatnya sedikit merasakan kelegaan yang ada. tinggal menghadapi bibi Keduanya ini. Memang akan menjadi pertempuran keluarga, tapi mau bagaimana pun Za tak bisa mengambil keputusan yang akan memberinya rasa sakit.


Za mengambil batang rokok lalu mengisapnya. Ia berdiri melangkah menuju kejendela yang kini mengarah ketaman. Tak perlu terlalu menikmati pemandangan singkat itu. Tapi mata Za menangkap sosok seseorang yang dikenalnya. Apa lagi melihat tingkah gadis itu yang sangat aneh.


“Apa itu Evita?”benaknya. hatinya tak tenang melihat gadis tersebut yang makin lama makin aneh. Ditambah suara teriakkan yang diberikan. Seketika itu juga, Za melesat meninggalkan kamarnya.


Ia berlari menuju tangga yang digunakan oleh karyawan bukan para penghuni. Ia tak memperdulikan hal itu, meski saat ini ia berada dilantai tujuh, ia tetap berlari menuruni tangga dengan sangat cepatnya.


Terus melangkah bahkan tak menghiraukan panggilan para karyawan yang ada hingga ia melihat seorang gadis bukan ia seorang wanita yang ingin ia miliki. Ingin ia dapatkan tapi menahan diri karena takut salah mengenali.


Kim yang ia tahu telah pergi meninggalkannya. Apa mungkin telah kembali untuk dirinya. Melihat gadis itu menjerit kesakitan membuatnya ikut merasakan sakit yang ada.


Dengan cepat ia memeluk Wanita didepannya. Menekan pelukkan itu agar lebih dalam dan menenangkan wanita yang didalamnya. Membiarkan ia memukul dan berguman dengan perkataan yang aneh.


Za tak bisa lagi membendung rasa sakitnya. Ia menahan pukulan itu lalu menangkup lagi dan mengeratkan pelukannya. Tak tega hatinya melihat hal ini.


Dengan suara yang tenang ia mengatakan “Tenanglah....”tapi itu sia-sia karena Wanita didepannya makin merasa gundah tak jelas, seakan-akan ada hal yang membuatnya terluka. Melihat lagi dan memeluk erat menuntunnya untuk duduk dengan tenang, melupakan pandangan orang-orang yang menatap mereka.


Ia melanjutkan lagi, “Tenanglah....aku disini Kim”ucap Za dengan suara yang tak bisa lagi tenang. Hatinya ikut sakit melihat wanita ini tak lain orang yang dicintainya menderita dengan trauma yang didapat olehnya.


(Kartu Hitam milik Za berangka 01)


-


Intari dan Amelya mendengar teriakkan tadi langsung bergegas bangun dan mencari Evita. Setelah tak menemukannya didalam kamar, mereka bergegas berlari untuk mencari ditempat lain. sayang seribu sayang sakit kepala mereka muncul. Mereka langsung menepi dengan kepala yang begitu sakitnya.


Hingga mereka sadar bahwa ada seseorang yang menolong mereka. kepala mereka diangkat bersamaan, dan terlihat pria yang tak lain orang yang ingin mereka hindari.


“Apa yang terjadi denganmu?”tanya Echan kepada Amelya yang kini berusaha untuk melepaskan diri. Tapi sayang kepalanya benar-benar tak bisa diremehkan. Sakit yang menjalar ini membuat keseimbangannya hilang hingga Echan dengan cepat menangkap tubuhnya.


Ada sengatan yang muncul diantara keduanya, membuat kedua orang ini mengalami sakit kepala yang sama. Mereka tak bisa menahan sakit yang begitu kuatnya.


Amelya sendiri telah meremas baju Echan tak memperdulikan apa yang ia lakukan. Saat ini kepalanya benar-benar sakit. Begitu juga Echan, ia berusaha untuk membawa Amelya kekamarnya. Saat ini kamarnya tak jauh dari lift yang ada, jadi ia menuntun hingga Amelya dibaringkan dikasurnya.


“Aku akan mengambil obat”ucap Echan. Amelya menahan baju Echan yang membuat Echan kembali menatap kearah Amelya.


“Tidak...Evita...Evita...aku harus menolong Evita”ucap Amelya, rasa sakit tak seberapa, selama ia bisa mengetahui bahwa Evita tak menderita. Tap sakit kepalanya ini sangat mengerikan.


“Akan ku cari, setelah meminum obat oke”ucap Echan menyakinkan dengan air minum dan obat ditangannya. Ia tak tahu apa yang membuat Amelya didepannya ini meringis kesakitan.


“Tidak!!!”tolak Amelya saat Echan menyodorkan obat yang ada ditangan Echan. Membuat kerutan dialis Echan akibat penolakkan yang didapatnya. Tapi juga menjadi sebuah kepingan baru dalam ingatanya tentang Amelya atau Ara yang memang tak menyukai obat.


“Minumlah”Echan tak tinggal diam, ia ingin langsung memberikan obat itu kepada Amelya secara langsung. Tapi sia-sia karena Amelya benar-benar sulit diberi obat.

__ADS_1


“Kalau tak meminumnya, bagaimana nanti bisa mencarinya?”Echan ingin membujuk dengan mengatakan perkataan yang bisa membuat Amelya,Wanita didepannya menurut. Tapi sayang Amelya langsung menepis tangannya lagi.


“Tidak perlu..jangan peduli padaku, aku akan mencari Evita sendiri”ucap Amelya yang ingin bangun. Namun belum sempat kaki menyentuh lantai, Amelya mendapati dirinya tengah dipaksa minum obat lewat mulut kemulut. Membuatnya membelakkan mata.


“Hmmm.....Apmha yahmng kahmu lahmkuhmkan*”sedikit bersuara tapi sia-sia, semakin berbicara semakin dalam obat itu masuk kemulutnya. Membuatnya pasrah dengan apa yang dilakukan.


*apa yang kau lakukan


Setelah merasa obat tertelan dengan baik, Echan melepaskan tautan bibir yang ia buat. Entah apa yang ia lakukan ini benar atau tidak. Yang pasti ia tak merasa bersalah setelah apa yang dilakukan.


Tak berseling lama, Amelya langsung memeluk tubuh Echan, yang membuat Echan mematung. “Tolong....jangan tinggalkan aku”


Echan cepat menyentuh dahi Amelya. Takut bahwa Wanita didepannya ini mengalami demam tinggi. Namun tak ada rasa pana, hanya tubuh yang gemetar dengan keringat dingin.


“apa kau akan meninggalkanku lagi”ucap Amelya ngaur. Membuat Echan langsung mengeleng.


“Tidak”jawabnya. Dan Amelya bertanya lagi “Apa kau tak mengingat ku?”lagi-lagi Echan menjawab “Tidak...”


Amelya melepas pelukannya. Ia langsung menatap lekat kearah Echan yang juga menatapnya.


-


Yoongi dan Intari tengah berada dilorong. Mereka tak bisa masuk karena kekeras kepalaan Intari yang begitu sulit ditakluhkan. Membuat Yoongi merasa tambah sakit kepala.


“Masuklah kekamarku dulu, ada obat sakit kepala, itu bisa membuatmu sedikit tenang”ucap Yoongi dengan mengenggam tangan Intari.


“Tidak...pergilah menjauh....kau mengangguku”Intari menghempaskan tangan Pria yang ia cintai. Hati masih mencintai tapi bertolak belakang dengan pikirannya. Saat ini yang penting itu Evita bukan dirinya.


“Kau tak mendengarkanku?”Yoongi meninggikan suaranya. Dan Intari juga membalas hal yang sama “sapa kau yang memerintahku”


“pergi”ucap Intari dengan nada memerintah seketika itu juga Yoongi mengangkat tubuh Wanita didepannya. Mengangkat dan melangkah menuju kamarnya.


“Aku mungkin orang asing untukmu, tapi entah kenapa aku merasa kalau aku adalah orang yang pernah dekat denganmu”ucap Yoongi yang langsung dibalasi oleh Intari.


“dekat bukan berarti sudah kenal, mungkin hanya sebatas rekan, turunkan aku..”ucap Intari tak terima, walau hatinya bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Yoongi.


“Tak akan ku turunkan”ucap Yoongi yang langsung melangkah kekamarnya. Ia mencari obat pereda sakit kepala. Meletakkan kemulutnya dan menurunkan wanita yang ada gendongannya.


“Pergi”ucap Intari lagi, tapi mulutnya langsung tersumpal dengan benda kenyal yang menyentuh bibirnya. Sebutir obat masuk kedalam mulutnya dan didorong paksa untuk ditelan.


“Hmmmm”Intari mengelak dengan cepat, tapi Yoongi langsung menekan tekuk Intari untuk memperdalam ciuman mereka. dan mendorong Intari untuk menelan obat yang diberikan olehnya.


Setelahnya hembusan nafas kasar tertimpa diwajah masing-masing. Hingga Intari langsung menangis histeris yang membuat Yoongi memeluknya.


“Tak apa..aku ada disini”ucap Yoongi dengan mengelus punggung Intari.


-


Berbeda dengan yang melihat dari kejauhan. Dua pria yang tak lain adalah Mavin Vintorin dan Derka Jamesta yang menatap kearah Evita yang tengah ditenangkan oleh Zhan Za Chen.


Melihat hal ini membuat diri mereka masing-masing terdiam, tak ada yang berbicara.


“Apa ini jawaban yang ku dapatkan?”tanya Mavin Vintorin dalam diamnya. Ia tak menyangka melihat hal ini. Saat mendengar teriakkan suara yang tak asing, ia langsung bergegas berlari dan melihat kearah Za yang berlari dengan cepat. Bahkan tak tanggung-tanggung Za berlari tanpa alas kaki. Membuat Mavin merasa percaya bahwa yang teriak tak lain adalah Evita.


Dengan mata kepala sendiri melihat apa yang ada didepan mata. Jawaban yang dicari telah sepenuhnya didapatkan. Mavin Vintorin langsung menghilang dalam kerumunan. Memilih untuk menjauh dari pada terus merasa tersakiti.

__ADS_1


Bukan sia-sia mengejar Evita, justru ia belajar. Bahwa saat ini ia diajarkan untuk mengikhlaskan seseorang yang memang sudah ditakdirkan bersama. Memisahkan mereka sama saja memberikan luka yang dalam. Ia tak ingin hal itu terjadi, lebih baik ia yang merasakan rasa sakit dari pada orang yang dicintainya.


Berbeda dengan Mavin Vintorin. Derka Jamesta tersenyum sambil menangis dengan apa yang dilihatnya. Air matanya mengalir tanpa sadar. Ada rasa sakit dan bahagia.


Ia tahu dulu memang telat ia menerima rasa jatuh cinta dan telat mengungkapnya. Ia tahu bahwa ia dianggap adik oleh Evita sendiri, sehingga tak ragu-ragu Evita menerima pelukkannya.padahal ia tahu bahwa Za sendiri hanya bisa beberapa kali memeluk kasihnya dulu dari pada dirinya.


Tapi mau memaksakan rasa cinta yang membuatnya kejalan yang salah akan malah berdampak besar untuknya bahkan untuk Evita. Maka rasa bahagia itu muncul melihat orang yang seharusnya dipeluk itu telah datang dan memeluknya dalam diam yang memberikan kenyamanan.


“Aku tahu batasanku, tapi apakah salah aku mengharapkan dirimu”benak Derka dengan melangkah mundur ia meninggalkan pemandangan yang memberikan rasa sakit tapi terselip rasa bahagia disana.


Sebelum melangkah menjauh, ia melihat lagi dan berbenak “ku harap kakak bisa bahagia kali ini. Dan bisa melepaskan apa yang terkekang dan beku dihati kakak”


Setelah mengucapkan kata didalam hati, Derka memutuskan untuk pergi dengan meninggalkan hotel yang ada. dan menuju ketempat Mansion miliknya sendiri.


-


Kini tiga orang wanita yang masing-masing dipeluk oleh kekasih mereka sendiri. memberikan ketenangan dengan indahnya. Tapi apa yang akan terjadi selanjutnya bukan hal yang diinginkan oleh ketiganya.


Mereka tak bisa membayangkan semakin lama semakin rasa sakit kepala mereka terasa. Menekan dan terus menekan. bukan hanya mereka, tiga Pria yang memeluk mereka juga merasakan hal yang sama. Merasakan rasa sakit yang tak bisa dibiarkan begitu saja. Hingga pelukan itu makin mengencang disetiap rasa sakit yang diberikan.


Dengan gumangan


“Aku ada disini...”


“jangan takut..aku memelukmu”


“tenanglah..aku disini...aku disini”


Terus terucap dimulut mereka masing-masing untuk menenangkan orang yang tengah mereka peluk. Mengharapkan bahwa rasa sakit bisa berpindah tapi sia-sia karena mereka juga merasakan sakit yang ada.


Hingga tak berapa lama, Ketiga gadis itu melengkungkan tubuh karena merasakan sengatan yang sangat luat biasa. Rasa sakit dikepala menghasilkan ingatan yang suram. Mengingatkan tentang masa lalu yang kelam. Tak bisa dipungkiri lagi. dengan cepat mereka menutup telinga dan berteriak histeris.


“AAAGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH”


-


Seorang wanita menatap tiga foto yang menjadi objek langka miliknya. ia memainkan anak panah crossbow yang ada ditangannya. Lancip dengan ketajaman yang sangat menyenangkan untuk menusuk Papan Dart yang tersusun tiga foto disana.


“Apa sudah saatnya mengingat masalalu..Kim Hyun Jae,Kim haneul nim dan Kim Ara?”mulut berlipstik itu terbuka dengan mengucapkan setiap kata. Setelahnya akan terbentuk senyum kecil.


“Seharusnya aku langsung menangkap kalian, tapi mau bagaimanapun seseorang harus hidup, karena kalian objek yang tak bisa dibuang begitu saja”ucapnya lagi. ia melempar anak panah crossbow yang ada ditangannya. Tertancap meleset dari tiga foto yang ada.


Melangkah mengitari lagi, ia melempar lagi dan lemparan kali ini juga meleset. Namun dilemparan selanjutnya tiga anak panah itu langsung melesat mengenai sasaran yang tepat. Langsung tertancap dalam.


Tersenyum, itu yang muncul diwajahnya. Tapi matanya tak menunjukkan kebahagiaan sama sekali. Hanya tatapan datar yang diberikan setelahnya kepalsuan yang ditunjukkan.


“Sudahlah...aku menunggu kedatanganmu”ucapnya meninggalkan ruangan yang penuh dengan alat-alat laboratorium. Dengan asap yang bercampur-campur dan ada diantara alat-alat kecil itu, sebuah peti jernih yang berisikan seorang wanita telanjang yang tengah terlelap dalam tidur manis miliknya.


Hanya diberi nafas bantuan dan diberi keawetan tubuh. Setelahnya hanya keheningan yang ada. wanita itu melangkah meninggalkan ruangan dengan lampu yang kini dimatikan olehnya.


“Aku tak sabar menunggu hasil objek yang telah berhasil”gumannya. Setelahnya dengan bamm pintu tebal tertutup rapat.


-


Catatan penulis:

__ADS_1


Chapter selanjutnya akan menceritakan kisah masa lalu dari Evita,Intari dan Amelya. akan sedikit panjang cerita masa lalu ini. mohon untuk tak melupakan chapter ini😁


__ADS_2