MANTIV

MANTIV
● Mantiv(31)


__ADS_3

karena telah mencari disekeliling tempat tinggal warga. Yuda memutuskan untuk kembali kerumah, siapa tahu adiknya sudah tiba.


Dan seperti dugaannya, pintu rumah telah terbuka. Jadi Yuda berlari, masuk kedalam rumah sambil berteriak menyebut nama adiknya.


Ia begitu gelisah, hatinya begitu tidak tenang. Ia merasa ada yang salah, hingga melihat sang adik tengah tergeletak dilantai ruang tamu. Ia berbaring disela meja dan sofa.


Yuda langsung mendekati sang Adik dan membangunkannya dengan tepukkan lembut.


“Sasa...Sasa...kau dengar kakak bukan?..Sasa”


Masih berusaha untuk membuat sang adik bangun. Yuda tak henti-hentinya, membangunkan sang adik. Hingga mata itu bergerak dengan perlahan. Membuat Yuda bersyukur dalam diam.


“Ka...ka..k”ucap Salma pelan. Membuat seluruh tubuh Yuda lemah, ia merasa takut. Takut adiknya kenapa-napa. Jadi ia terus meringkuh, memeluk adiknya.


“Iya sayang, kakak ada disini...bersama mu”ucap Yuda.


Ia tidak ingin melihat adiknya.


“Ka..ka..k...bisa..ka...kak..tolong..se..la..mat..kan...ba..yi..ku.....” ucapnya pelan, begitu sangat sakit setiap kata yang diucapkan olehnya.


Yuda sudah tidak sangup mendengar ucapan sang adik, tapi ia juga tidak mengerti dengan apa yang dimaksud menyelamatkan bayi, sampai ia sadar bahwa saat ini tubuh Salma diselimuti oleh darah. Darah segar. Membuat Yuda langsung panik. Sangat panik. Hingga ia pun mengangkat tubuh sang adik dan meletakkannya didalam kamar.


Dengan cepat ia ingin pergi mencari seorang bidan, tapi sayang adiknya menahan tubuhnya.


“Ka..ka..selamatkan..ba..yi..ku...ka kaka...ku mohon...to..long”ucapnya begitu lemah. Yuda lagi-lagi tidak tahu harus berbuat apa. Hingga dengan akal setengah-setengah. Ia mengambil pisau kecil didapur dengan membawa air hangat serta air minum untuk adiknya.


Dengan berbekal ilmu yang tidak pasti. Yuda membelah perut adiknya. Ia berusaha agar adiknya tidak kesakitan, tapi apalah daya, meski sepelan apapun, jika bagian tubuhmu tergores, kau akan tetap merasakan sakit itu.


2 jam kemudian, akal-akalan yang dibuat dadakan itu pun berhasil mengeluarkan seorang bayi yang merah. Yuda membersihkan bayi tersebut setelah merasa bersih, ia menidurkan bayi itu disamping ibunya yang telah tidak sadarkan diri.


Yuda dengan berbekal pikiran setengah-setengah, menjahit perut adiknya. Ia berharap darah adiknya tidak lagi keluar. Dengan harapan tinggi, hingga sampai selesai dan ia pun membereskan sisa-sisa kerjaannya. Ia begitu sangat hati-hati dalam bergerak, hingga tersadar pada seorang Bayi yang tertidur lelap.


Yuda memutar ingatannya ketika mengeluarkan bayi tersebut. Dimana bayi itu tidak bernyanyi. Seketika itu juga, Yuda langsung menyentuh wajah sang Bayi yang sudah membiru, tidur lelap yang tidak akan pernah bangun. Dan saat itu juga Yuda langsung bertekuk lutut. Sungguh otak setengah-setengahnya, menyakiti semuanya.


Dan Yuda melihat seorang pemuda yang datang dari pintu depan dengan keringat yang mengucur ditubuhnya. Ia tidak lain adalah Sintro. Sang adik ipar sekalian calon suami dan ayah. Tapi melihat mata pemuda itu, Yuda melihat bahwa pemuda itu tengah menatap kearahnya dengan pandangan marah.


Mereka berdua langsung berkelahi, membuat Yuda lupa dengan bayi dan Adiknya yang kini seharusnya perlu perawatan khusus. Perlu bidan.


Perkelahian itu berupa tinjuan dan teriakan. Sintro meneriakan kekesalannya.


“Apa yang kau lakukan kepada tunanganku..apa yang kau lakukan..kau membunuh istriku dan calon anakku...apa sebegitu tidak setujunya engkau dengan diriku yang akan menjadi adik iparmu..kau..kau”Sintro begitu geram.


Namun karena kelincahan Yuda, ia mampu memukul mundur Sintro, hingga Sintro memilih untuk kabur dan meninggalkan calon istri dan anaknya. Yang ia tidak tahu apakah mereka masih bernyawa apa tidak.


Yuda yang babak belur juga tidak sanggup melihat kebelakang, ketika mendengar isakkan tangis milih sang adik. Benar sang adiknya telah bangun dari pingsannya. Dan kini melihat sang bayi yang tidak sadarkan diri, atau sekarang tidak bernyawa.


Yuda gemetar hebat, ia tidak ingin berbalik, tapi tubuhnya ingin berbalik, tidak mau mendengar kata pikirannya yang menahan. Namun hati menyuruh berbalik. Hingga saat berbalik, Ia melihat adiknya berlari mendekat kearahnya, memeluknya dengan bayi yang tidak bernyawa dalam gendongannya. Ia menangis terus menangis.


Hingga kedua adik kakak itu pun terduduk bersama. Sangat menderita bersama-sama. Bahkan bisa dibayangkan bahwa sang Bayi juga ikut menangis, mungkin. Sampai Salma mengangkat wajahnya, menatap sang Kakak yang babak belur dengan pakaian yang berwarna merah, sudah bisa dipastikan bahwa kakaknya yang berusaha menyelamatkan bayinya, tapi sayang bayinya tidak ingin menyusahkan ibu dan pamannya, sehingga memilih tidur selamanya.


“Kakak..terimakasih....terimakasih...terimakasih”ucapnya sambil menatap sang bayi yang berwajah biru, tubuh yang dingin dalam gendongannya. Salma tersenyum lembut.dan membelai wajah sang putra yang diberi nama olehnya dengan sebutan Sino. Mengambil nama suaminya.


Mengingat hal itu membuat raut wajah Salma berubah, ia langsung gemetar, dan memandang kearah pintu, seakan-akan takut akan hadirnya sosok yang tidak diinginkan.


Yuda menyadari apa yang membuat adiknya takut, tapi hatinya diladang banyak pertanyaan, jadi ia bertanya kepada adiknya dengan tenang, tapi sayang sang adik masih tidak mau menjawab.

__ADS_1


Hingga beberapa hari telah terlewati, setelah kejadian itu, putra Salma dikubur dibelakang rumah, dan Salma mengurungkan dirinya didalam kamar. Hal itu membuat sang kakak khawatir berat. Sampai membuat kantung mata Kakaknya menjadi lebih gelap.


Namun Yuda masih menuntun sang adik agar tidak menyimpan penyesalannya sendiri, atau masalahnya sendiri. Yuda juga tidak memaksa sang adik untuk bisa langsung berbicara dengannya sampai hari itu tiba, yang dimana kini, ia dan adiknya tengah duduk diruang tamu.


Suasana yang dirasakan mereka sangat berbeda, sang adik merasa aura kegelisahan sedangkan sang kakak merasa aura kekhawatiran.


“Sasa..apa ada yang menganggumu”Salma yang mendengarnya mengangguk.


“Apa kau perlu bantuan kakakmu?”tanya Yuda lagi dan Salma mengangguk.


“Maka katakan kepada kakakmu, apa keinginanmu, kakak akan berusaha membantumu” dan Salma hanya terdiam tidak menjawab.


Hingga 10 menit dalam keadaan diam, Yuda melihat adiknya membuka mulut untuk bicara.


“Kak..apa kakak tahu saat aku bilang ingin pergi membeli buah, aku bertemu dengan Sintro saat tengah berjalan pulang. Kami berbincang pelan....


Flashback on


“Salma...aku ingin mengajakmu makan siang bersama, apa kau mau?”tanya Sintro saat berjalan berdua dengan Salma.


Salma tersenyum mendengar ajakkan Sintro, sangat jarang dirinya bisa bersama dengan tunangannya sendiri, jadi ia memutuskan untuk mengiyakan ajakkan dari Sintro.


Dan kini dirinya tengah duduk diruang makan, rumah Sintro. Rumah yang akan menjadi rumahnya juga. Dalam diam ia mengamati sekelilingnya. Tapi ada bau yang tidak begitu ia sukai, bau ramuan-ramuan sejenis racikkan bahan-bahan yang dibuat oleh Sintro untuk penemuannya, yang pasti tengah ia teliti.


“maaf membuatmu menunggu lama”ucap Sintro sambil membawa dua hidangan utama yang akan mereka berdua makan.


Hidangan itu, tidak lain adalah sayuran yang ditumis dan ada daging ayam yang dibuat menjadi sup oleh Sintro.


Benar-benar lelaki idaman dalam pikiran Salma. Sampai setelah mereka selesai makan, tiba-tiba Sintro mengajak Salma mengunjungi ruangan penelitiannya.


“Ah..maafkan aku sayang, lihat aku tengah membuat sebuah ramuan yang akan membuat orang pingsan, kau tahu...para militer tengah menunggu hasil ini, jadi saat mereka tengah menyerang markas musuh, mereka tidak perlu ragu lagi jika ada ramuan ciptaanku ini”jelasnya begitu antusias dengan mata berbinar.


Salma hanya terdiam, ia tidak berpendidikan. Tapi ia juga mengerti apa maksud dari Sintro sampai begitu bahagianya. Tapi yang membuatnya tidak habis pikir, kenapa ia harus diajak. Ia tengah mengandung dan itu bisa berpengaruh untuk bayinya. Jadi ia ingin memutuskan untuk keluar. Namun tangannya ditahan oleh Sintro.


“Kenapa kau ingin keluar?..kau harus berada disini sayang, aku akan mengujinya kepadamu, aku ingin tahu Ramuan ini berkerja hanya untuk siapa saja”jelasnya. Mata Salma terbelak. Kalau bisa dibilang ia boneka, maka matanya pasti telah keluar. Bagaimana tidak, engkau tengah mengandung, dan menjaga kandunganmu agar tidak ada hal luar yang menganggu. Tapi kenapa pria bajiangan ini begitu memaksa ingin menganggu bayinya.


Apa lagi Bayi tersebut anaknya sendiri. Salma memerah karena amarah. Ia menghempas tangan Sintro. “apa yang kau lakukan Sin?..aku tengah mengandung, kau ingin aku menjadi subjek untuk mengetes ramuan itu..apa kau ingin membunuh anakmu?”tanya Salma. Meski suaranya masih tenang. Tapi setiap tutur kata yang keluar penuh dengan penekanan.


“Apa maksudmu..ini tidak akan berpengaruh pada Bayi kita..ini hanya berpengaruh untuk orang dewasa”ucapnya dengan mata masih berbinar.


PLAKKK!!


Karena kesal, dan merasa orang didepannya ini telah kehilangan akal. Maka Salma dengan mantap menampar wajah tunangannya sendiri. Bodoamat dengan amarahnya, yang harus ia pastikan adalah kandungannya. Tidak ada yang boleh menghancurkan atau menganggu kandungannya. Jika ada maka siap mati untuk menganti kerusakkan yang ada.


Salma mungkin kalem, tapi jiwa membunuh yang tidak pernah dibangun. Harap jangan dibangunkan. Karena sekali bangun. Maka siap kan dirimu untuk melihat jiwa itu menampakkan diri.


Sintro yang merasa tertampar langsung menatap tajam kearah Salma. Ia tidak menahan emosinya sampai-sampai berani mengangkat tangan untuk membalas tamparan Salma.


PLAKKK


Tamparan itu pun terbalas. Dan kali ini Salma langsung mengambil pendapat bahwa Sintronya ini ternyata pemukul. Dan terobsesi dengan penelitian sampai-sampai rela mengkorbankan dirinya dan anaknya.


Sintro mengenggam tangan Salma. Ia mengikat tangan lembut tersebut. Dan menyeretnya menuju kekursi yang telah disediakan. Salma didudukkan begitu saja dengan cara terpaksa. Membuat Salma merintih kesakitan. Ia begitu merasa tersiksa sekarang. Dan rasa penyesalan muncul dibenaknya.


“DIAM DISINI..AKU AKAN MELEPASKAN AROMANYA DAN NIKMATI BAUNYA”teriaknya.

__ADS_1


Sintro langsung menutup pintu labnya tanpa menguncinya. Ia tidak akan mengunci karena memang tidak bisa dikunci. Selain itu ruangan dan pintu keluar agak jauh, jadi sulit untuk dicapai. Salma berusaha untuk berdiri. Tapi kabut tiba-tiba memenuhi ruangan yang mengeluarkan aroma harum. Begitu memanjakan hidungmu. Tapi mengingat bahwa itu menganggu bayinya. Salma berusaha untuk tetap keluar dari ruangan.


Setelah berjalan begitu lama, Salma akhirnya bisa keluar. Ia bernafas lega. Tapi tiba-tiba perutnya merasa sakit yang begitu dalam. Membuatnya berteriak dan merintih kesakitan.


“agghhhh!!!...Sin....Sin....tolong..”teriaknya. Sintro yang mendengarnya langsung menghampiri. Wajahnya begitu membinar ingin mendengar pendapat Salma.


Salma yang melihat wajahnya, merasa kesal. Rasanya ia ingin menempelkan wajah itu kedinding dan menyeretnya agar muka tersebut hancur.


Tapi rasa sakit diperutnya, mengurunkan niatnya. Ia mencengkam kemeja Sintro. “Sintro..perutku sakit..selamatkan anakku, tolong....anakku akan kenapa-kenapa”ucapnya dengan susah payah.


Sintro terkejut. Ia langsung menatap tajam kearah Salma. “Apa maksudmu..aku gagal melakukan penelitian ini...agh sial..kenapa kau harus hamil sih...kan kau...”belum selesai ia berbicara, tamparan keras kembali memberikan cap diwajahnya. Salma langsung berlari meninggalkan bajingan yang mementingkan penelitiannya dari pada memikirkan bayi yang merupakan darahnya sendiri.


Salma terus berlari, ia tidak memperdulikan darah yang kini mengalir diselangkanganya. Ia harus meminta bantuan kakaknya. Mencarikan bidan dan mengeluarkan bayinya. Ia tidak ingin bayinya kenapa-kenapa. Tidak boleh kenapa-kenapa.


Salma menceritakan apa yang ia alami, selama kejadian itu. Dan mengingat ucapannya tentang tidak boleh kenapa-kenapa, nyatanya sekarang anaknya telah pergi meninggalkannya. Sungguh sia-sia perjuangannya. Tapi kakaknya tidak pernah meninggalkannya. Dan memberikan dirinya semangat untuk tetap bertahan demi anaknya. Maka saat itulah ia bersemangat hidup meski mengurung diri dalam kamar dan tidak pernah keluar.


Yuda menceritakan semua yang dia ketahui kepada Amelya yang ingin mendengar ceritanya. Kini mereka berdua tengah duduk. Dengan ditemani oleh Salma yang matanya saja tidak menunjukkan kehidupan.


Amelya tertunduk. Ia memikirkan Evita yang menderita dengan mendapat perkara dan permasalahan yang bertubi-tubi. Ia merasa Evita pasti juga tengah berjuang sendiri demi hidupnya. Walau raut wajah datar itu terdapat wajah asli yang menangis.


“Nona Salma..saya sangat senang anda masih bisa bertahan, terus lah bersemangat...saya yakin anak anda juga setuju dengan perkataan saya”ucap Amelya menyemangati.


Salma hanya mengangguk. Yuda menepuk pelan kepala adiknya dan mengusapnya. Menyalurkan kehangatan untuk Adiknya.


Intari yang berniat mendekati Pemuda bernama Sintro. Ia melirik Sintro yang sedang menunduk menatap ketanah.


Intari menikmati raut wajah yang tengah gusar itu, ia merasa bahwa wajah-wajah dengan kesedihan dan rasa bersalah sungguh sangat indah untuk dilihat. Karena jarang-jarang orang ingin menunjukkannya. Biasanya mereka akan menyembunyikannya dan memilih untuk lebih menunjukkan sikap amarah dan sombong hingga kesedihan tertutup rapat.


Namun kadang sekali kesedihan datang, raut wajah yang penuh amarah dan kesombongannya itu akan menunjukkan wajah aslinya. Yang penuh dengan keaslian. Jadi saat ini Sintro tengah menunjukkan wajah kesedihannya. Wajah penuh penderitaannya.


Intari mendekat. Hingga kakinya kini dilihat oleh Sintro dan Sintro mengangkat wajahnya. Melihat seorang wanita yang mampu menjatuhkannya dalam sekali tendanganya. Wajah itu tegas seperti wajah laki-laki. Mengingat Intari wanita, membuat Sintro merasa kesal, karena kalah dengan wanita.


“Kenapa lihat-lihat?”tanyanya. Intari yang merasa bahwa pertanyaan itu untuknya hanya tersenyum tipis.


“Bukan apa-apa..aku hanya penasaran dengan orang yang berprofesi ilmuan, mendadak menjadi seorang sampah hanya karena tindakkan bajingan”ucapnya dengan nada mengejek. Membuat Sintro menatap tajam kearahnya.


“apa keinginanmu?”tanya Sintro.


“apa kau akan memberikan apa yang ku ucapkan...atau yang ku inginkan?”Intari tersenyum.


“iya...lagi pula aku akan dijemput oleh polisi nanti”ucap Sintro jujur.membuat Intari terkekeh mendengarnya.


“sungguh lucu..baiklah...kalau begitu alasanmu melakukan semua ini karena apa?”tanya Intari. Sintro masih menatap mantap.


“apa lagi..aku ingin anak, anakku meninggal ditangan kakak iparku sendiri..jadi aku akan menculik anak-anak yang ada”


“hanya itu?”tanya Intari.


“Apa lagi..sudah ku katakan..lagian ramuan itu juga tidak lagi ada ditanganku”ucapnya. Dan setelah sadar dengan ucapan itu ia langsung bungkam.


“hah?”Intari sebenarnya mendengar jelas, hanya saja ingin memastikan pendengarannya. Sayangnya Sintro benar-benar tutup mulut sekarang.


Membuat Intari ingin menghajarnya. Kalau bisa salah satu gigi depan Sintro, patah dan kalau bisa lagi gigi tersebut tidak lagi bisa tumbuh. Itu yang ditampakkan oleh Intari.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2