
setelah menyelesaikan ucapan panjang dari Kakek Pertama, Yoongi dan Echan memandang Evita yang masih duduk dengan tenang disamping Bibi Ketiga. Ya mereka tahu bahwa itu adalah ibu Yoongi sendiri.
Echan berbisik “dia tidak risih ya mendengar susunan keluarga kita ini” Yoongi mengangguk sambil melihat ibunya diseberang duduk dengan Evita yang masih tenang.
Evita memang memasang wajah tenang tapi hatinya dan otaknya terus memutar ucapan dari Kakek Pertama ini atau lebih tepatnya Tuan rumah disini. Ia merasa sedikit senang dengan susunan keluarganya yang tidak terlalu memikirkan hal seperti ini. Setelah mendengar semuanya ia hanya bisa mengeluh dalam hati untuk keluarga ini.
“karena sudah selesai membahasnya.. lebih baik Evita istirahat bentar dikamar....” ucap Sang Kakek pertama tiba-tiba dipotong oleh Bibi Kedua yang menyapa pedas kepada Evita.
“Kekamar Tamu...pelayan antar dirinya” tintahnya dan tidak ada yang berani menolak. Evita tersenyum dan mengangguk meninggalkan keluarga yang masih harus membahas hal ini.
Evita melangkah menyusuri rumah besar ini, meski memiliki dua lantai, tapi tetap saja rumah ini besar dan akan membuatmu cepat buta map, lebih tepatnya cepat lupa arah-arah yang ada dirumah ini, seperti sekarang ia lupa jalan keluar dari lorong. Lorong ini memiliki beberapa belokkan dan untuk datang kekamar tamu juga sedikit lama, ada rasa kasihan yang Evita tanamkan untuk keluarga ini.
Pelayan yang diperintahkan itu pun berhenti tepat disebuah pintu yang dipoles warna coklat mengkilat, ia tersenyum, “sudah sampai, Nona silahkan istirahat” ucapnya. Dan ingin pergi namun Evita menahannya. “Tunggu...”
“ada apa nona...” kaget tapi kembali tenang itu yang tampak diwajah Pelayan didepannya.
“Aku lupa jalan menuju keruang tamu, jika nanti aku tidak datang bisa kau menjemputku..” ucapnya. Sang pelayan tersenyum sambil mengeleng, “tentu akan saya jemput anda Nona” ucapnya ramah. Evita tersenyum. “terimakasih”
Pelayan itu pun pergi dengan mengangguk tanda menerima ucapan terimakasihnya. Dan Evita pun memutuskan untuk beristirahat didalam kamar tamu itu.
-
Diruang tamu setelah kepergian Evita, suasana kembali dingin. “Menantu..kau tidak baik menyambut kedatangan tamu seperti itu” ucap Kakek Pertama. Sedangkan yang ditegur Cuma membuang muka.
“Anak keduaku, tegur istri mu” ucapnya lagi kali ini mengarah keputranya keduanya yang setia berdiri dibelakang istrinya.
“Untuk apa aku melakukan hal itu...itu keputusannya bukan keputusanku” ucapnya sedikit penekanan.
Semua orang mengelengkan kepala mereka. Kakek pertama tidak ingin melanjutkan ucapannya, ia beralih untuk pergi begitu juga yang lainnya.
Za,Yoongi dan Echan sedang berada diteras atas. Mereka berbincang masalah barusan terjadi.
“Dia sangat cantik, tapi apa benar dia menggunakan topengnya?” tanya Echan tidak percaya akan kejadian sore barusan, ia memang tahu bahwa orang bernama Evita itu dingin dengan tatapannya juga. Tapi saat bertemu kenapa Evita terlihat seperti gadis umumnya.
“Mungkin itu hanya cerita belaka” jawab Yoongi dan Echan pun mengangguk.
“Kak Za..menurutmu seperti apa dirinya?” tanya Echan beralih menganti topik walau orang yang jadi pembicaran tetap sama.
“Aku tidak tahu” itu yang keluar dimulut Za, ia saat ini tengah memutar gelas yang berisikan wine.
__ADS_1
“Apa Kak Za tidak melihat wajahnya?” tanya Echan lagi dan Za mengelengkan kepalanya.
Yoongi kaget dengan hal itu. “kenapa?..bukannya ia berdiri juga terpampang didepan semua orang..bagaimana bisa kau tidak melihatnya?” tanya Yoongi.
Za tidak menjawab melainkan meneguk minumannya sampai habis. Yoongi dan Echan saling menukar pandangan mereka, “kenapa dia tidak melihatnya” itu yang tertulis diwajah mereka saat ini.
-
Makan Malam pun tiba, semua telah duduk berpasangan seperti sekumpulan keluarga yang harmonis. Itu hanya pandangan sekilas.
Evita baru datang karena seperti yang dikatakan, ia tidak bisa mengingat jalan rumah ini, benar-benar membuatnya jadi buta map dalam satu hari. Untungnya pelayan tadi benar-benar menepati janjinya, jadi ia datang sebelum semua orang makan.
“Terlambat lagi” komentar seseorang. Evita awalnya hanya memandang wajahnya, kali ini ia melihat dari bawah sampai kepala. Dan yang didapatnya adalah orang yang selalu berkomentar dan menyambutnya secara kasar mengenakan pakaian ungu muda terlihat jelas seperti ******. Itu yang ada diotak Evita, tapi yang nampak diwajahnya hanya senyum manisnya.
Orang yang berkomentar itu hanya mendengus lalu menyajikan makanan untuk suaminya. Seperti yang diketahui bahwa istri melayani suami mereka. Itulah yang terjadi saat ini.
“Evi..kemarilah..mau kau menyajikan makanan untukku” ucap sang Kakek Ketiga yang duduk disebelah kanan Kakek pertama. Semua orang langsung menatap kearahnya dan yang ditatap hanya tersenyum.
Evita mengeleng pelan, ia pun mendekati meja sang Kakek Ketiga. Dan menyajikan seperti apa yang dilakukan oleh para perempuan disini.
Tidak ingin disia-siakan, Kakek Pertama dan kakek kedua menyodoran piring mereka kearah Evita yang telah selesai menyajikan. Semua orang lagi-lagi tercenga melihat hal ini.
Semua orang tersenyum, kecuali Bibi dan Paman kedua serta Za yang hanya makan dalam diam. Yoongi dan Echan tersenyum, mereka merasa bahwa sang Evita ini sepertinya menarik. Karena jarang kakeknya langsung suka seseorang.
Seperti mendapat keberuntungan untuk Evita sendiri.
Evita bingung melihat dua kakek yang seperti anak kecil didepannya. Ia berbenak “berdosa sekali aku menyebut kalian anak kecil manja, atau mungkin kakek kecil cocok untuk mereka bertiga”
Ia pun menyajikan makanan untuk Kakek Kedua dan Kakek pertama setelah itu baru ia duduk, itu pun duduk disamping bibi ketiga karena mendapat paksaan. Dan makan dengan tenang tidak ada yang membuat keributan.
Para Pelayan disana sedikit tersenyum sebelumnya karena tingkah manja dari sang kakek ini. Mereka berpikir bagaimana mungkin seorang kakek bisa manja begitu saja kepada seseorang. Hingga mereka memutuskan bahwa Evita adalah sang pembawa suasana manja dikediaman ini.
-
Diruang Aula. Semua keluarga kumpul dan kali ini Evita duduk disamping seorang pria yang tidak diliriknya sekalipun, Malas menatap wajah yang tidak ingin dikenalnya walau ia tahu bahwa pria disampingnya adalah tunangannya.
“Ini adalah cucu pertamaku, namanya Zhan Za Chen....lihatlah” ucap Kakek Ketiga yang melirik kearah cucunya. Sedangkan yang dilirik hanya memasang wajah datarnya.
Evita yang duduk samping Za Cuma bisa tersenyum, karena tidak ingin membuat orang-orang disini mengetahui sifatnya yang sulit mengenal laki-laki, ia pun memberanikan diri melihat kearah Za yang sebenarnya cukup dilirik.
__ADS_1
Pandangan mereka saling bertemu, Za memandang kearah Evita sedangkan Evita juga melakukan hal yang sama. Yang melihat mereka berdua merasa bahwa ada kecocokan tapi beda dengan dua orang ini. Evita membulatkan matanya dan berusaha untuk menormalkan dirinya sambil tersenyum dan mengangguk pelan.
Sedangkan Za terdiam sesaat, ia tidak menunjukkan reaksi apapun, dan dengan cepat memutuskan pandangan itu. Dihatinya berbenak “Apa aku pernah bertemu dengannya?”.
Evita melihat Za memutuskan pandangan dengan cepat merasa sedikit tenang. Ia pun menghadap kembali kearah pandangan seluruh keluarga. “Kenapa wajahnya serasa familiar” benak Evita.
“karena adikku sudah mengenalkan kalian, maka saatnya menentukan keputusan, karena hari ini kau terlambat dihari pertamamu, jadi kami memutuskan untuk memulai hitungan dalam tiga hari mulai besok” ucap Kakek Pertama.
Bibi kedua angkat bicara “tidak...aku tidak setuju, kalian begitu enaknya saja memutuskan, lebih baik itu tetap dalam hitungan, seperti hari ini, kalian sudah menilainya bukan” ucapnya.
Bibi kelima atau tepatnya ibu Echan berbicara, “sungguh tidak sopan kakak Kedua...dia sedang sibuk, ibunya saja memberitahu kita bahwa dirinya tengah menghadiri rapat besar” jelasnya dengan suara lembut.
Bibi kedua mengerutkan alisnya. “sejak kapan wanita lebih mementingkan pekerjaan...seharusnya ia lebih memperhatikan keluarga, kalau seperti ini pandanganku kepada dirinya kembali ragu-ragu” ucapnya. Semua orang langsung memandang kearahnya kecuali Za dan Evita yang terlihat tidak peduli.
“Lihat...dia saja tidak ingin membela diri...dengar kan aku, laki-laki itu wajib bekerja, dan wanita itu wajib melayani Suaminya tugas sang istri itu didapur bukan duduk dikantor” jelasnya lagi. Bibi ketiga pun angkat bicara.
“Kakak Kedua...bukankah kau juga bekerja...seharusnya kau tahu juga bahwa tidak hanya laki-laki bisa berkerja, wanita juga tahu, dan mereka juga tahu tugas mereka sebagai istri, tapi beda dengan Evita. Dia anak pertama dari pasangan keluarga Muchen. Wajar jika dirinya bekerja, apa lagi dia anak perempuan satu-satunya. Pasti dirinya akan menunjukkan bahwa ia juga bisa membantu perkembangan ekonomi keluarganya” belanya.
“Anak pertama, anak perempuan satu-satunya.....membantu ekonomi...tunggu apa maksudmu keluarganya itu dulu miskin?....kau seperti tahu semuanya adik ketiga....aku tahu aku memang menikah paling akhir...tapi aku juga tahu tentang perkembangan jaman, dan tentu tahu diperbatasan mana yang tidak memiliki kecukupan. Keluarga Alex beberapa belas tahun lalu sudah berkembang pesat walau belum masuk rata-rata seperti sekarang, tapi kau bilang membantu ekonomi?...sungguh tipu muslihat apa lagi ini” ucapnya dengan nada mengejek. Bibi Keempat ingin melawan tapi Evita kali ini membela dirinya.
“Mohon maaf Bibi ah tante....sejujurnya perkataan tante ada benarnya. Wanita pada umumnya memang bertugas menjadi seorang wanita rumah yang mengerjakan pekerjaan rumah, dari memasak, mencuci, melayani suami, atau mungkin bisa juga menjaga anak-anaknya..tapi ada yang tidak saya setujui dari perkataan Tante..itu membahas masalah derajat seseorang, saya tahu bahwa saya memang anak yang bisa dibilang berkemampuan, tapi jujur sebagai anak pertama dan putri satu-satunya saya tidak ingin menjadi anak manja yang bergantung pada uang orang tua. Jika saya mampu bekerja dan mencari uang sendiri, maka saya bisa memberikan uang itu untuk mereka juga, untuk membanggakan mereka juga, jadi mereka tidak merasa bahwa sia-sia perjuangan yang mereka berikan...” menghela nafasnya Evita melihat sekeliling,semua memperhatikannya, ia tersenyum lalu melanjutkannya.
“Orang tua ku memang berkecukupan, tapi mereka mengajarkan kepadaku bahwa didunia ini tidak ada yang namanya lantai atas. Maksudnya tidak ada orang yang selalu berada di atas. Karena mereka semua pasti memulai sesuatu dari bawah, dan jika ada orang-orang yang berada di atas maka orang tersebut juga pasti akan mencari tahu tentang isi jalan di bawah. Semua orang tahu bahwa takdir tidak bisa ditentukan. Tapi mereka bisa mengubahnya jika mereka bisa merubah semuanya, seperti saat ini jika aku lahir dari keluarga miskin maka akan diajarkan menjadi orang yang hemat dan kuat dalam menghadapi rintangan hidup, jika aku dilahirkan dalam keluarga berkecukupan, aku di didik untuk menjadi mandiri, belajar dari hal kecil dan tidak membuat diri menjadi boros..itu yang diajarkan oleh orang tuaku..maka sudah jelas bahwa aku yang di didik oleh mereka bisa bekerja....tapi tetap Tante benar...seharusnya saya lebih memperhatikan pertemuan keluarga ini” jelasnya mengakhiri kalimat panjang lebarnya itu. Sungguh dirinya merasa lelah hanya berbicara seperti ini. Dirinya merasa bodoh membela diri. Tapi mau bagaimana lagi, orangtuanya disini lagi dihina, dan jangan berkata jika anak hanya diam, anak pasti akan membela orang tua mereka. Dan itu yang dilakukan Evita.
Semua orang terdiam, bahkan Bibi kedua yang tadi ingin terus menghina terdiam tidak lagi berbicara dan pergi meninggalkan mereka. Evita hanya menghela nafas dan kembali duduk.
...****************...
*Jangan Lupa Like and Comment😊
Pentas kecil.
Kim: "Bibi Kedua...lagi PMS ya?"
Bibi Kedua: "....."
Evita: "Lagi Sariyawan Kim...jadi marah-marah mulu"
Kim: "ooh pantes🤭*"
__ADS_1