MANTIV

MANTIV
● Mantiv(82)


__ADS_3

Evita tiba ditempat yang ingin dikunjunginya. Terlihat para pengawal langsung bergegas menghampirinya dan memberikan hormat mereka. Evita tak memperdulikan hal itu. ia terus melangkah sambil berguman menyebutkan kata ‘Selamat..harus bisa selamat’


Saat tiba diruangan yang memang diinginkan olehnya, terlihat dua orang yang tengah memeriksa sesuatu. Evital langsung mendekat.


“Astaga..Evita apa yang kau lakukan?”tanya Ibu Zahra yang terkejut dengan kedatangan Evita. Evita datang dengan wujud tapi ruh ditubuhnya seakan-akan menghilang. Karena wajah Evita tak menunjukkan kehidupan.


“Tante..Paman..bisa bantu aku..ku mohon”ucap Evita yang langsung bertekuk lutut didepan dua orang yang ia anggap sebagai keluarga.


Hal yang ia lakukan langsung mendapat respon kejutan untuk dua orang. Ibu Maya Anita Zahra, langsung bergegas mendekat dan membantu Evita.


“Apa..apa yang bisa ku bantu..katakanlah?”ucap Ibu Zahra.Ayah Zhara juga mengangguk untuk menyetujui perkataan istrinya.


“Paman..Tante...bisa kalian lacak seseorang..aku membawa benda yang bisa menghubungkanku dengan mereka”ucap Evita yang menyerahkan sebuah gelang yang digunakan oleh para detektif. Ia tak bisa mengunjungi markas detektif. Pilihan satu-satunya adalah keluarga mafia ini.


“Baik..Biar paman yang melakukannya..kau tunggu sebentar”ucap Tuan Zahra yang langsung mengambil gelang tersebut dan melangkah pergi.


Evita masih memikirkan cara lain, ia memandang Ibu Maya yang kini menatapnya juga.


“Tante..apa kau punya ponsel..ponselku tertinggal tadi”ucap Evita. Ibu Maya langsung mengangguk dan menyerahkan ponsel pintar miliknya.


Evita menghubungi seketaris pribadinya. Ia tahu Sebastian pasti ada dimarkas saat ini. Jadi ia bisa meminta bantuan dari sana.


Tutt..tuttt.tutt,


“hallo”


“Sebastian ini aku Evita”


“Nyonya..apa terjadi sesuatu?"


“Benar...sekarang aku ingin kau menyiapkan peralatan yang ku perlukan..dan cari titik kordinatku, lalu temui aku”


“Baik..akan dilaksanakan”


“Terimakasih”


Panggilan pun terputus dengan Evita yang langsung mengembalikan ponsel tersebut. Dan tak lama datang Tuan Zahra yang membawa laptop ditangannya.


“Aku menemukan keberadaannya..mereka ada dipelabuhan”ucap Tuan Zahra.


Evita langsung membelak. Ia ingat pesan dari Miss Lila...


“Evita..Ingat, kasus ini sedikit ilegal, jadi ada kemungkinan mereka yang datang mengunakan kapal untuk berpergian..jadi hati-hati”


Pesan tersebut berhasil membuat Evita mengerutuk diri sendiri. ia salah, seharusnya ia meninggalkan perusahaannya dan menjalani misi ini. Sial sekali dirinya.


“Paman,Aku akan kesana...kalian saat ini tak perlu bergerak..jika terjadi sesuatu, seketaris pribadiku langsung menghubungi kalian”ucap Evita yang kemudian melangkah pergi tanpa mendengarkan ucapan dari pasangan mafia itu.


Evita lebih memilih untuk turun tangan langsung. Ia mengambil data yang diberikan oleh Paman Zahra. Dan langsung menuju ketempat lokasi.


Dari posisinya saat ini, ia perlu menempuh 40 menit perjalanan menuju kepelabuhan yang dimaksud.


Kota Q memiliki 3 pelabuhan. Dan yang paling sering digunakan adalah pelabuhan Q1. Pelabuhan itu sangat besar, jadi lokasi yang ditunjukkan tepat dipelabuhan tersebut. Evita tak mengira orang-orang akan mengunakan pelabuhan yang terbilang ramai. Padahal jika mereka ingin Pelabuhan Q2 dan Q3 adalah tempat yang cocok untuk transaksi ilegal. Tapi tak ada yang tahu taktik.


Selama perjalanannya, Evita terus memikirkan bagaimana keadaan Sahabatnya. Apa mereka akan baik-baik saja. Apa mereka tak terluka. Pikiran negatif berhasil menghantui dirinya.


-


Reza duduk diruang tamu, ia memandang pria yang kini melepaskan topi dan maskernya. Menunjukkan wajah pria umumnya.


“Karena kau telah memberikan undangan itu, kami akan membantumu..katakan saja keinginanmu”


“Kau berisikeras dari tadi, baiklah...aku ingin seorang wanita, ia adalah pemilik perusahaan tadi, bisa kau membantuku mendapatkannya?”tak ingin sia-sia Reza mencoba saja.


“Baiklah...malam ini, kesempatanmu, kami akan melacak orang tersebut, dan akan membuatnya kecelakaan, jadi selama itu gunakan kesempatanmu dengan baik...”


“Dan..tentang keselamatannya akan kami jamin...gimana?”Pria tersebut mengulurkan tangannya kepada Reza yang menatap uluran tangan itu.


“Baiklah..semoga kalian tak berbohong kepadaku”Reza menyambut uluran tangan itu.


Mengingat rencana yang berhasil itu membuat Reza begitu senang, tapi sekarang..


“Agh....”Reza merintih kesakitan. Dokter datang tepat waktu, dan langsung mengobatinya.


“Tuan Reza....luka ini lumayan lama sembuhnya..saya harap tuan menjaga diri”ucap Dokter tersebut setelah membalutkan perban.


Reza tak mendengarkan ucapan itu, ia masih membayangkan wajah Evita yang terlihat lain dari pada yang lain. ia seakan-akan bertemu dengan Evita yang baru. Evita yang sepertinya adalah wajah asli yang dimiliki oleh Evita. tapi bagaimana bisa?

__ADS_1


“Kalau begitu saya permisi...segala obat telah saya tulis..”ucap Dokter tersebut. Reza hanya mengangguk.


Setelah kepergian Dokter yang membantunya, para bodyguard yang berada diluar langsung masuk kedalam.


“Tuan ada yang bisa kami bantu?”tanya Pengawal yang lain. mereka sebenarnya juga tak percaya, dua pengawal yang disuruh menjaga mati seketika saat Evita menyerang mereka.


Hal ini bisa terlihat dicctv yang ada. dan mereka masing-masing langsung menegukkan air ludah, tak percaya dengan apa yang dilihat. Tapi percaya atau tidak semua telah terjadi dan bukti telah ditunjukkan.


“Aku ingin mencari jejaknya..kalian bantu aku, lacak keberadaannya dengan plat mobilnya”


Para pengawal langsung bergegas melaksanakannya. Meninggalkan Reza yang kini melihat balutan perban ditubuhnya.


“Sungguh luar biasa...apa ia gadis psikopat?”guman Reza. Beberapa menit kemudian mengeleng. Sudahlah ia memang tak bisa menebak.


-


Evita tiba ditempat tujuan. Matanya menatap kearah kapal persiar yang sangat besar sedang penuh dengan orang-orang berdesakkan.


“Pantes memilih kapal ini....rupanya kapal wisatawan..luar binasa”benak Evita.


Ia tak mungkin bisa masuk sekarang, jalan satu-satunya adalah menerobos masuk. Ia melihat sekeliling dan terlihat mobil Sebastian.


Evita mendekati arah mobil tersebut, Sebastian yang melihat kedatangannya langsung menundukkan kepala dan menatap Nyonya-nya.


“Nyonya..semua telah saya siapkan..silahkan bersiap”ucapnya. Evita mengangguk, ia masuk kedalam mobil dan menganti seluruh pakaiannya.


Sebastian menjaga diluar dengan memperhatikan segara arah, karena saat ini area tengah padat akan pengunjung dari berbagai belahan dunia.


15 menit berganti pakaian, Evita keluar dari mobilnya. Ia mengenakan style lengkap dengan segala alat yang tersembunyi. Rambut yang hanya diikat sembarang, membuat Sebastian membantu untuk mengikatnya.


Evita membiarkannya, ia bodoamat akan hal ini. Yang penting ia telah bersiap. Setelah selesai, ia berpesan


“Sebastian dengar..jika lokasi keberadaanku menghilang, cari jejaknya dan langsung temukan diriku, ditambah kau hubungi mereka”memberikan kertas.


“Mereka adalah keluargaku juga, hubungi mereka jika aku tak bisa dilacak, mengerti”


Sebastian langsung menangguk, ia menyimpan kertas tersebut disakunya. “Hati-hati Nyonya”ucap Sebastian. Evita mengangguk dan ia pun mengelus rambut Sebastian sebelum melangkah pergi.


Sebastian hanya terdiam melihat kepergian Nyonya-nya itu. ia dapat berbagai macam tugas. Sekarang yang terpenting adalah tugas yang diberikan. Harapannya semoga Nyonya-nya baik-baik saja.


“Sial..aku tak tahu apakah masih dijual tiketnya atau tidak”benaknya, ia kemudian melihat kearah lain, terdapat tempat untuk mengantar barang-barang para pengunjung. Evita mendapatkan ide cemerlang.


-


Reza menatap layar komputernya, “Apa kalian benar-benar yakin, ia menaiki kapal persiar itu?”tanya Reza kepada Pengawalnya. Pengawal yang dapat merentas sistem cctv berhasil mendapatkan jejak Evita.


Pengawal tersebut mengangguk “Benar Tuan..tapi jejaknya menghilang dimobilnya, jadi kami hanya bisa memastikan ia ikut kesana”


“Ada Sebastian disana?”tanya Reza dan Pengawal tersebut mengangguk.


“Kita tak perlu mengejar dirinya, yang diperlukan sekarang adalah mengurus Sebastian...jika Evita adalah seorang detektif, bagaimana ia bisa memecahkan kasus hilangnya orang yang berharga yang dititipkannya kepada orang kepercayaannya...Evita, Aku akan menghukummu kali ini”ucap Reza.


Pengawal yang mendengarnya terdiam. Mereka awal mulanya mengikuti tuan besar Kim, tapi berjalannya waktu mereka mengikuti Reza yang lebih mudah dipahami, dan juga mereka merasa Reza cocok untuk memimpin. Tapi karena mengetahui bahwa Tuan besar Kim memiliki seorang Putri, mereka sedikit goyah. Namun tetap saja mereka mengikuti keinginan Reza yang dianggap sebagai tuan.


“Kalian awasi kediaman besar Kim”perintah Reza yang langsung dituruti oleh pengawalnya. Mereka bergegas melaksanakan tugas.


-


“Huh..akhirnya”Evita merengangkan tubuh yang terlipat-lipat karena memasuki sebuah box besar yang berisikan Bir. Evita membuang Bir tersebut dan memasukinya. Untungnya tak ada yang mengetahui hal tersebut.


Ia melangkah menuju kearah pintu tempat penyimpanan barang. Titik kordinat Sahabatnya berubah tempat, membuatnya mendesak kesal.


“keren...baru saja aku tiba, mereka telah bergerak, apa mereka mengetahui keberadaanku?”benak Evita. ia melangkah meninggalkan gudang penyimpanan. Ia melihat seorang pelayan yang melangkah pergi.


“Cus ikuti”ucap Evita. ia melangkah menuju ketempat yang dimana pelayan tersebut lewati, terlihat masing-masing pintu yang bertulisan.


Gudang, peralatan makan, ruang ganti, ruang pelayan. Melihat semua yang tertulis, Evita merasa pusing melihatnya. Ia tak mengira kapal besar ini sungguh memiliki ruang yang cukup hanya untuk pelayan.


Pelayan itu terus melangkah hingga terlihat sebuah tangga untuk naik keatas, Evita melihat titik kordinat Sahabatnya, matanya menunjukkan kilat kebahagiaan, karena Sahabatnya tempat didekatnya.


“Seperti keberuntungan masih menyertaiku”benak Evita. ia melangkah untuk bersembunyi karena mendengar suara langkah kaki arah lainnya.


“Aku dengar seorang ilmuan sedang melakukan proyeknya disini...apa itu tak akan apa-apa dengan kapal kita?”


“Aku juga bertanya-tanya..bagaimana bisa mereka mengijinkan ilmuan itu berada disini...tapi aku dengar-dengar selain masalah proyek, ternyata ilmuan itu seorang wanita”


“eh benarkah?....wow sangat luar biasa sekali, aku ingin melihatnya”

__ADS_1


“melihat?..jangan berharap, karena hanya orang-orang tertentu yang dapat melihatnya”


“ah sial..kalau tahu gitu, aku mau dibagian untuk menjaga mereka”


“kita hanya pelayan..tak bisa seperti itu”


Bisik dua pelayan yang membawa mapan untuk meyajikan minuman-minuman. Dua pelayan itu meninggalkan tempat yang dimana Evita bersembunyi disana.


Evita mendengar ucapan para pelayan itu sedikit terteguh. “Ilmuan keren sekali ya”benak Evita.


Ia melanjutkan langkahnya menuju kearah tangga. Terlihat titik kordinat sahabatnya bergerak sedikit. Evita berdecak dengan wajah tak suka. Ia merasa sepertinya orang-orang ini sengaja atau mungkin mengetahui keberadaannya.


“Ah..jangan berpikir sembarangan, lebih baik aku secepatnya pergi”guman Evita. ia melangkah menyesuaikan diri dengan keadaan. Terlihat pelayan-pelayan berjalan disekitar lorong.


Melihat keseliling, dan mengikuti arah titik lokasi Sahabatnya. Evita menatap kedepan yang terlihat banyak sekali pintu. Sekarang ia bukan berada digudang. Ini adalah kamar para tamu VVIP.


“Wow”kagum dengan apa yang dilihat, padahal tak tahu isi didalam kamar itu apa.


Evita melangkah, berusaha membaur, ia tahu pasti pelayan disini akan mengenalinya. Jadi sebelum itu terjadi ia harus menemukan lokasi Sahabatnya dulu.


Tap


Sebuah tangan menyentuh pundaknya, Evita tak percaya ia semudah ini ditemukan.


“Maaf, Apa Nona tamu disini?”tanya Pelayan yang bersuara wanita. Evita merasa ia sepertinya kehilangan keberuntungannya.


“Ah itu...”Evita membalikkan tubuhnya dan melihat pelayan yang memandang intes kepadanya. Ia bingung mau berbicara apa, karena jika berbohong percuma, setiap tamu yang ada mereka akan mengenakan sebuah pin kecil untuk menandakan mereka seorang tamu VVIP. Jadi ya kalau berbohong percuma. Lagian setiap Pin pasti terhitung jika ada yang mengunakannya dan akan bisa dilacak keberadaannya.tamat sudah...


“Ada apa?”tanya seseorang. Ia berdiri dibelakang Evita. Evita yang mendengarnya hanya bisa diam ditempat. Lagian ia tak mau menunjukkan wajahnya.


“Tuan..wanita ini apakah anda mengenalnya?”tanya Pelayan itu. ia berbicara dengan sopan. Pria yang ada dibelakang Evita melangkah maju dan memandang Evita dari belakang.


Refleks membuat Evita mundur, tapi sia-sia. Tubuhnya bertabrakkan dengan Tubuh Pria yang melihat wajahnya.


“Oh..dia, Kekasihku...”ucapnya.


Pelayan itu terkejut hingga tercenga. Evita juga ikut terganga, bahkan memandang Pria yang kini dengan tenang meletakkan tangannya untuk mengusapkan kepala Evita.


“Maaf atas ketidak sopanan Saya,Tuan dan Nona..kalau Nona kehilangan Pin yang diberikan, kami bisa melacaknya”


“Tak perlu....Aku tak memberikan Pin itu kepadanya, karena ia tak suka dengan Pin tersebut, jadi aku membawanya tanpa Pin...Aku akan memberitahu atasanmu tentang masalah ini”


“Tidak Tuan..ini kelancangan saya..maafkan saya..sekali lagi maafkan saya”


“Hm..baiklah”


“Saya ijin permisi”


Pelayan tersebut langsung pergi meninggalkan dua orang yang sama-sama tak saling mengenal. Evita ingin berterimakasih. Tapi ia ditarik memasuki sebuah kamar yang membuat Evita langsung memberontak.


“Apa yang kau lakukan?”tanya Evita dengan menarik tangannya secara paksa.


Pria yang menariknya langsung melepaskan tangannya, ia langsung berjongkok dan menundukkan kepalanya didepan Evita. Evita yang melihatnya langsung merasa serba salah.


“Eh..apa yang kau lakukan...tidak-tidak, berdiri sekarang”ucap Evita. membuat Pria itu mengeleng.


Melihat tingkahnya ini, membuat Evita mengingat Sebastian yang bertekuk lutut karena salah. Ia menduga Pria ini pasti membantunya dan merasa bersalah dengan berbicara yang macam-macam. Seperti kekasih.


“Kak..maafkan aku, aku berbicara semauku, dan mengatakan bahwa engkau adalah kekasihku..maafkan kelancanganku ini...sekali lagi maafkan Aku,kak.”ucap Pria tersebut.


Evita langsung mengeleng, ia menyentuh kedua pundak Pria didepannya, dan menyuruhnya untuk berdiri. Pria ini tingginya tak beda jauh dengan Evita. tapi tampang dari wajahnya terlihat tidak asing bagi Evita. hanya Evita tak bisa mengingat siapa pemilik wajah ini.


“Tidak perlu minta maaf..seharusnya aku yang berterimakasih karena kau, aku bisa aman..terimakasih ya”ucap Evita memandang Pria yang ada didepannya.


Rambut acak-acakkan tapi terlihat tampan untuk pria didepannya ini.meski masih tampan Za. Hehe......


“Ah maafkan aku yang merepotkan dirimu...sepertinya akan sulit menghadapi pemilik kapal ini..ruangan yang kau gunakan sangat mahal”Evita memandang sekeliling ruangan. Ia tak menduga ruang VVIP sangat mewah.


“Aku tak mengeluarkan uang sama sekali..ini semua gratis untukku”ucap Pria tersebut.


Evita langsung menatap tak percaya. “astaga...betapa kayanya Pria ini”benak Evita.


Ia kemudian beralih menatap Pria yang masih berdiri ditempat. Tak bergerak sama sekali. Ia hanya menatap Evita.


“Sebaiknya kita berkenalan..Aku Evita..”ucap Evita yang mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


Pria didepannya tersebut menyambut uluran tangan itu. “Aku........

__ADS_1


__ADS_2