MANTIV

MANTIV
● Mantiv(19)


__ADS_3

Intari dan Amelya benar-benar lelah hari ini...bagaimana tidak, sudah dua hari ini Evita tidak kembali. Mereka merasa bosan. Apa lagi sekarang, kebosanan mereka berakhir harus menemani anak seorang penjabat perusahaan.


Putrinya dilecehkan oleh seseorang. Sang ayah tidak mungkin membuat putrinya makin dilecehkan, hingga ia pun pergi kesebuah tempat asing. Yang ada ditepi kota, mungkin lebih tepatnya ditepi tebing. Tempat asing ini memberikannya kepastian untuk menjaga putrinya. Apa lagi melihat langsung kedalam ruangan dan bertemu dengan orang yang bernama Raja.


Setelah menyampaikan unek-uneknya, ia pergi dengan berharap mereka bisa menangkap pelaku pelecehan putrinya itu.


Setelah mendengar cerita dari Raja, Intari dan Amelya merasa tertarik untuk menyelesaikannya. Inul dan Nabila sudah mencarikan karyawan yang akan bertugas, namun Intari menyuruh mereka untuk digantikan dengan dirinya dan Amelya.


Meski dadakan, akhirnya kemarin pun tersetujui tentang Intari dan Amelya mengambil kasus dan menjaga seorang anak Penjabat.


Dan seperti ini jadinya, mereka berdua tengah membawa banyak box yang bukan main beratnya, untungnya tangan mereka sudah sering berlatih, jadi tidak kebas.


Kali ini mereka berada disebuah Mall. Menemani si Manja yang tengah menjelajahi dunia Mall dengan mata berbinar.


“Lihat kak Han*” ucap si gadis yang diberi nama oleh Intari dan Amelya dengan sebutan Manja.


*Han: pengambilan dari nama Haneul


“Hm...”Kim haneul nim, lebih tepatnya Intari langsung melihat kearah Si Manja yang berlari kesebuah toko baju.


Melihat hal itu, helaan nafas terdengar begitu panjang yang membuat semua orang tahu bahwa dirimu tengah lelah. Kim Ara lebih tepatnya Amelya hanya bisa tersenyum, iya dia sendiri merasa begitu lelah, karena menghadapi seorang gadis yang begitu hiperaktif membuatnya yang jarang mengeluh, kini mengeluh dalam diam.


Mereka berdua pun mengikuti langkah gadis manja tersebut.


-


Tiba didalam mereka melihat begitu banyak pakaian yang kekurangan kain. Membuat mata mereka sakit. Meski saat ini mereka tengah menyamar dengan pakaian yeah bisa dibilang santai.


Intari yang mengenakan pakaian celana panjang dengan dibalutkan jaket hitam yang begitu menarik perhatian. Beda dengan Amelya, ia memilih mengenakan dress sampai dibawah lutut kaki dan sedikit mengenakan jepitan pita dirambutnya, agar orang-orang tidak terlalu mudah mengenalnya. Kini diri mereka berdua bertolak belakang, yang dimana waktu itu Intari terlihat feminim dalam penyamaran, sekarang Amelya yang terlihat seperti gadis polos ya memang polos.


Mereka berdua saling bertatapan....


‘Aku akan memeriksa sekeliling’ tatapan Amelya yang langsung diberi anggukan oleh Intari. Kepergian Amelya dalam sekejab menelusuri isi toko tersebut sedangkan Intari beralih untuk mencari gadis Manja yang menjadi boss mereka saat ini.


Amelya melihat sekelilingnya, matanya sudah teriritasi. Bagaimana tidak, pakaian seksi ini begitu terpampang didepan mata. Mulai dari pakaian setengah dada, pakaian tidur berwarna merah, hitam. Biru Malam, maron, bahkan bermacam-macam. Membuat semua orang yang mungkin baru menjadi pasangan suami istri pasti langsung meliriknya.


Ia berguman “marketing tidaklah sulit, cukup pancing dengan produk yang menarik”


Ia kembali lagi mengamati ruangan yang ada, meski ada cctv sekali pun, mereka tidak akan bisa mengambil pergerakan aneh darinya. Karena Amelya yang sudah ahli dalam menelurusi ruangan tanpa dicurigai. Bukan apa dirinya seorang yang berada diperingkat kelima saat dirinya masih menjadi pemula dalam dunia detektif.


“sepertinya disini tidak mencurigakan” benaknya.


Ruangan ini memiliki rak-rak pakaian yang berjulang tinggi hingga memberi beberapa cekatan dalam ruangan. Ada tiga cekatan dan masing-masing cekatan terdapat ruang ganti untuk mencoba pakaian.


Ia memilih mengambil pakaian berwarna putih untuk dicoba, lalu masuk kedalam ruangan ganti dan bukannya mencoba, ia melihat sekeliling.


“pertama..ruangan ini tidak punya cctv...menarik” ia melihat kearah kaca yang dibuat mengelilingi ruangan ganti itu.

__ADS_1


“dan kaca ini..”


-


Disaat Amelya memeriksa ruangan. Intari selalu berada didekat gadis manja yang kini tengah mencari baju yang menurutnya cantik.


“Kak Han...dimana Kak Ara?” tanyanya sekilas melihat Kim Haneul yang berdiri dibelakangnya.


Kim Haneul (Intari) hanya tersenyum, ia menjawab “dirinya menunggu kita diruangan tunggu, lagian barangmu banyak” ucapnya. Ia sedikit mengunakan kata-kata mengejek untuk membuat gadis Manja itu berhenti berbelanja, bagaimana tidak mereka berdua harus membawa box yang isinya bukan hanya isi biasa, mulai dari sepatu, tas, beberapa perhiasan.


Untungnya ruang tunggu itu memiliki keamanan yang bagus, jadi untuk meninggal barang mereka, tidak akan membuat mereka cemas.


“cih...aku kan hanya ingin bersantai..lagian papah tidak marah tuh” ucapnya.


Intari memutar bola matanya, rasanya ingin ia menyadarkan Gadis Manja didepannya ini. Bagaimana susahnya orang tua mencari uang sedangkan kau mudah menghabiskannya. Kalau perlu, mungkin Intari akan membuat Ayahnya tercenga saat tahu perusahaan yang ayahnya pimpin itu berada dibawah pengawasan orang terdekatnya.


Ia mengeleng mengingat rencana yang tidak seharusnya ia gunakan. Ia kembali mengikuti SI Manja sampai diruang Ganti. Sebelum menyuruhnya masuk, entah kenapa Intari ingin memeriksa ruangan itu, tapi tiba-tiba Si Manja langsung menerobos masuk aja tanpa mengingat jika ada orang yang harus ia suruh untuk mengecek dalam ruangan. Tapi untuk apa menyuruh orang, lagian didalam ruangan ganti tidak mungkin kan ada orang yang melakukan hal mesum.


Kim Haneul Nim (Intari) yang melihat si Manja sudah masuk hanya bisa mendengus. Sungguh tabah dirinya menghadapi kemanjaan seorang putri.


“Baiklah..aku akan menunggu disini” benaknya.


Ting


Notifikasi berbunyi. Kim Haneul (Intari) mengambil ponsel pintar sambil sesekali melihat kearah ruang ganti. Ia pun membaca pesan dari kiriman seseorang.


“Maaf Nona...masih ada orang didalam” ucap seorang karyawan.


“Saya tahu” suara berat Kim Hanuel keluar begitu saja. Ia menatap Karyawan yang menghentikan tindakkannya.


“Kalau begitu anda tidak berhak memaksa masuk” balasnya. Kim Haneul tersenyum.


“Baiklah....karena masih ada orang didalam, bukan berarti tidak ada orang kedua kan” ucapnya yang masih dicerna oleh karyawan itu. Tanpa memikirkan jawaban dari karyawan tersebut, Kim Hanuel menendang pintu yang terbuat dari kaca.


Brakkk


Sekali tendangan, seluruh serpihan kaca pun tersebar dilantai.


“Hah..apa ini hari terakhir aku kerja” ucapnya pelan. Ia melangkahkan kakinya, lalu melihat kedalam. Ruangan itu tidak terlalu besar, tapi mampu menjadikan kamar untuk seorang anak yang merantau.


Semua ruangan didominasi dengan kaca. Jadi tidak mungkin orang yang berada didalam tidak terlihat olehnya. Tapi saat masuk yang ada didalam bayangan kaca hanya dirinya tidak ada orang lain. Bahkan tidak ada sehelai pakaian pun yang tertinggal.


“wow..apa SI Manja ingin bermain petak umpet?” tanyanya. Suaranya bergema dalam ruangan. Karyawan yang termenung tadi tiba-tiba masuk dengan wajah yang merah karena marah.


“KAU...HATI-HATI.. AKU AKAN MELAPORKAN DIRIMU...”Ancamnya. namun tidak dikubis oleh Kim Haneul.


Kim Haneul lebih memilih untuk fokus dengan ruangan yang ada. Jari telunjuknya sengaja disentuhkan dengan permukaan kaca. Ia mengelilingi ruangan tersebut.

__ADS_1


Karena tidak dihiraukan, Karyawan tadi menekan bel darurat untuk memberitahukan bahwa ada bahaya diruangan mereka. Semua karyawan termasuk boss mereka datang menghampiri ruangan ganti dengan nomor 05.


“Ada apa ini?” tanya sang atasan. Karyawan yang tadi melapor langsung mendekat.


“Tuan...orang itu menobrak pintu untuk masuk, saya sudah melarangnya,tapi tetap dirinya tidak mendengarkan saya” ucapnya dengan nada bersalah seakan-akan dirinya yang mengijinkan Kim Haneul masuk.


Kim Haneul hanya mendengus, ia melirik salah satu kaca yang dimana telunjuknya tidak berlawan, melainkan menyatu. Selain itu ada suara gesekkan didalam, seakan-akan ada seekor tikus yang merobek sebuah baju. Mendengar itu Kim Haneul tersenyum.


“baiklah...aku punya pilihan, pertama kalian keluar sendiri atau aku yang menarik lehermu sampai patah” ucapannya tajam sampai para karyawan dan boss mereka merindik ngeri.


“Hei...jangan mengancam kami...atau kami panggil polisi” ucap sang Atasan. Lagi-lagi Kim Haneul hanya membuang pendengarannya.


Ia mengetuk kaca didapannya. “baiklah..aku yang akan mengeluarkan kalian” ucapnya yang langsung meninju kaca tipis itu.


Braaak


Terlihat seorang pria dengan memeluk seorang gadis yang pingsan tidak sadarkan diri. Pria itu melesat mendekati Kim Haneul dengan menyodorkan sebilah pisau untuk menyerang.


Melihat hal itu semua orang yang berada disana langsung keluar ruangan. Berbeda dengan Kim Haneul. Ya lebih tempatnya Intari, dengan senyum manisnya. Ia memainkan lengan kiri untuk melengkeskan serangan.


Sang pria tersebut masih berusaha untuk mengores tangan kiri Gadis didepannya. Sedangkan Intari dengan santai mengarahkan pertarungan keluar dari ruangan.


Mereka terus bertarung, sampai diluar ruangan, Intari mendekat dan melesatkan tangan kirinya yang langsung ditepis oleh Pria tersebut. Namun dengan tindakkan dadakan itu, memberi kesempatan untuk Intari mengambil si Manja ditangan Pria itu.


Setelah mengambilnya, intari berteriak “Ara!!!” serunya yang langsung mendengar suara langkah kaki yang tengah berlari.


“Disini” balasan seseorang yang tidak jauh dari mereka. Intari tersenyum, lalu melempar si Manja seperti barang dagangan yang ringan. Dan dengan cepat Amelya menangkapnya. Ia lalu meninggalkan ruangan yang penuh dengan perkelahian itu menuju keruang tunggu untuk mengambil barang belanjaan nona mereka.


“huh sepertinya aku harus menelpon sang bodyguard yang diluar” benaknya yang langsung meraih ponsel pintar untuk memberitahukan bahwa ia membutuhkan mereka.


Tak berapa lama, sekitar 10 bodyguard pun datang dengan tergesa-gesa. Mereka melihat Amelya yang tengah mengendong Si Manja dipunggungnya.


“Ada apa Nona?” tanya mereka. Dan salah satu dari mereka mengambil si manja dan mengendongnya diantara lengan.


“tidak apa-apa..bawa ia kerumah sakit untuk diperiksa, lalu hubungi ayahnya, aku akan menyusul kalian..dan jangan lupa panggil polisi bersama ayahnya biar urusan ini cepat selesai” imbuhnya. Sang bodyguard pun mengangguk dan meninggalkan Amelya. Barang belanjaan pun dibawa oleh mereka.


Amelya kembali keruangan yang penuh pertarungan sambil menonton. Untung saja ia sempat membeli cemilan ringan untuk disantap.


Intari yang tengah bertarung sebenarnya memiliki peluang banyak. Sedangkan sang musuh sudah ketar-ketir kebingungan untuk mencari celah agar bisa memukul mundur Intari.


Mereka tidak lagi beradu senjata, melainkan beradu tenaga. Pria itu mengarahkan tangan kanannya untuk menahan tinjuan Intari, sedangkan tangan kiri untuk memukul perutnya. Intari yang melihat hal itu memutarkan tubuhnya lalu menarik tangan kanan pria tersebut dan mengangkat tubuhnya. Lumayan berat itu yang terbenak didalam hati Intari. Tapi tetap saja ia mampu mengangkatnya.


Dengan sekali angkat, Intari menghempaskan tubuh tersebut kelantai. Hingga terdengar suara rintihan dari sang terhempas. Amelya yang melihatnya tersenyum dan berbenak “sungguh...sang pengangkat barbel bisa meremukkan tubuh...aku berdoa moga aja pas dia punya kekasih. Kekasihnya tidak dibuat untuk menjadi tempat pelampiasan amarahnya”


Amelya mengingat dimana saat masih berusia 16 tahun, dimana dirinya baru berkenalan dengan Intari. Setelah Evita. Ia melihat Intari yang selalu bertempremen tinggi, suka marah-marah. Tapi ia tidak bisa marah dengan Evita itu anehnya. Sekali Intari marah, yang jadi sasaran amukkannya adalah benda yang ada didekatnya. Atau dia akan pergi keruang latihan untuk melampiaskan amarah pada barbel atau sebagainya. Hal itu sudah menjadi darah daging untuk Intari. Tapi setelah beberapa tahun ia berubah dan sedikit tahu bahwa amarah bisa menyebabkan perpecahan. Jadi sejak itu ia tidak lagi marah walau kadang-kadang juga bakal terjadi sih.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa like and comment😊


__ADS_2