
“Lagian selama ini aku telah banyak menahan diri untuk mengikuti kemauanmu..sekarang bisa kau penuhi keinginanku?”tanya Reza yang kini duduk didepan Evita. Evita yang berdiri diambang kaca rumah hanya bisa menundukkan kepala.
“Apa yang kau inginkan?”tanya Evita yang telah merasa tenang. Reza yang mendengarnya langsung mendekat kearah Evita. Evita yang telah berada dikaca rumah hanya bisa menatap Reza yang mulai mendekat.
“Aku menginginkan hati dan dirimu..serta kalau bisa jiwa ragamu”ucap Reza yang mengelus kepala Evita. Evita langsung menepisnya.
“Kau gila....apa kau benar-benar mencintaiku..atau karena n*fsumu?”Evita mulai berpikir liar dengan pikirannya sendiri. entah datang dari mana keberaniannya ini.
“Apa aku terlihat seperti laki-laki penuh n*fsu, jika ia maka kau sudah tak akan perawan lagi”ucap Reza yang menjauh dan melangkah menuju kepintu.
“Dengar Evita...selama kau menurut, Aku tak akan menyakitimu dan Ayahmu itu..Kau lupa Ayahmu punya penyakit Jantung”ucap Reza yang kemudian melangkah pergi.
Pintu otomatis itu langsung menutup dan mengunci. Membuat Evita menatap dengan pandangan kosong. Otaknya tak berkerja. Pikirannya tak ikut membantu. Hingga hanya pandangan kosong dengan tubuh yang mulai lemah.
Evita mengangkat kepalanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?. Kenapa ia tak menyadari hal ini. Apa ia harus menerima Reza. Ia bahkan tak mencintainya.
-
Waktu berjalan, Evita bahkan tertidur. Ia bangun dengan tubuh yang dipeluk oleh seseorang. Lagi-lagi Evita merasa jijik.
Ia langsung bangun dan melihat Reza yang betah memeluknya. Bahkan memejamkan mata.
“Reza lepaskan”ucap Evita. ia tahu bahwa Reza saat ini hanya sedang menutup matanya.
“Apa kau sudah merasa tenang hmmm”Reza mengubah posisi tidurnya, ia berbaring dipaha Evita yang menatap dengan pandangan rendah.
“Reza,Aku tak mencintaimu...”
“Aku tak mau mendengar itu, Evita, kau bisa menerimaku”
“Tapi Reza..kau salah”
“Apa yang salah...lagian kau akan tetap menjadi milikku, dan harus menjadi milikku”
“Aku tak mencintaimu”
“Apa karena pria yang menjadi kakak kelasmu itu..dia hanya pria kecil”
“Tapi aku mencintainya”
“Cinta bisa berubah..Evita tolong jangan berbicara lagi”
Evita terdiam. Ia tak memperdulikan Reza yang kembali memeluknya dan berbaring dipahanya. Evita telah disentuh banyak pria sekarang. Sepertinya ia benar-benar tak bisa menjaga nama baik keluarga kandungnya. Bagaimana jika orang tuanya akan menerima semua ini.
Evita kembali termenung. Dimana sifatnya yang kuat. Yang mampu mengalahkan segala jenis pria. Tapi kali ini ia benar-benar telah kalah telak. Pria yang berbaring dipangkuannya ini benar-benar telah merencanakan dengan matang.
“Ooh ya Evita..kau tahu orang yang mengerjai kalian telahku urus, mereka akan menjadi tahanan terlama”ucapnya. Evita hanya mendengarkan tak menjawab.
Ia memilih untuk memandang jendela yang kini telah menunjukkan kegelapannya. “Sudah malam ya?”benak Evita.
-
Amelya dan Indah tertidur karena terlalu lelah. Padahal mereka hanya berdiam diri.
Clank..
“Ayuk bangunkan mereka...Tuan pasti akan marah”ucap pengawal yang datang.
Dua pengawal yang lain langsung mendekati Indah dan Amelya. Mereka mengangkat tubuh dua orang gadis itu. seketika itu juga Indah dan Amelya terbangun.
“Ugh..apa yang terjadi?”benak Indah yang kini mulai memandang jernih. Mereka ternyata telah dikeluarkan dari sel. Ia melihat kearah Amelya yang memandangnya.
“Bagus”Benak Indah yang mengangguk. Membuat Amelya mengerti apa yang dimaksud.
Mereka terus diseret. Jalan yang dilalui hanya memiliki satu arah. Tidak ada belokkan. Dan lagi sekeliling hanya dipenuhi dengan tanah. Indah dan Amelya menduga mereka pasti berada dibawah tanah.
“Cepatlah melangkah jika sudah bangun...gadis murahan”ucap salah satu pengawal yang mengangkat Indah. Indah yang mendengarnya mendengus. Sial coba saja ia tidak bersabar. Mungkin sudah hancur masa depan pria disampingnya ini.
Mereka terus melangkah sampai terlihat sebuah cahaya. Yeah itu pasti jalan keluarnya.
Indah dan Amelya yang telah menginjakkan kaki keluar kaget melihat apa yang terjadi. Ini ruangan benar-benar dihiasi dengan hal yang tak senonoh.
Bagaimana bisa, ini tempat umum. Suara des*han masuk ketelinga mereka. seketika bulu kuduk mereka berdiri. Mereka yang berniat ingin menutup mata malah tak jadi, karena mengingat tujuan mereka.
Langkah mereka terus berjalan. Sampai disebuah pintu yang besar dan terdiri dua pengawal yang ada disamping-samping pintu.
“Apa mereka yang akan melayani Tuan?”tanya pengawal yang ada dipintu.
“Iya...apa ada yang salah?”tanya pengawal yang menjadi pemimpin.
“Tidak ada...tapi kenapa hanya dua orang?”tanya Pengawal itu lagi.
“Kenapa?..mereka masih muda, lagian nanti sang ilmuan akan datang..dan Tuan akan dengan senang menikmati semuanya”
“Baiklah...”pintu pun terbuka. Dan didalam terlihat ruangan yang sangat besar. Membuat Indah dan Amelya tak mempercayainya.
__ADS_1
“Sekarang lakukan tugas kalian...senangkan Tuan maka hidup kalian akan terjamin”
Lima pengawal itu pun pergi dengan cepat. Dan pintu pun ditutup dengan keras. Indah dan Amelya hanya bisa menatap horor kearah ruangan yang besar ini.
“Indah bagaimana ini?”tanya Amelya. Ia tak bisa berpikir jernih sekarang.
“Pertama periksa apa ada cctv disini?”tanya Indah. Mereka berdua pun menyelidiki dengan melihat sekeliling.
Tak berapa lama, Indah dan Amelya kembali bertemu. “Tidak ada Indah...apa ruangan ini benar-benar telah diamankan?”
Indah yang mendapat pertanyaan itu mengeleng “Kita tidak tahu Mel...sekarang kita harus cari cara untuk bisa kabur dari sini..ooh ya biasanya dimana pembuangan sampah?”tanya Indah yang membuat Amelya kebingungan.
“Indah kalau ditempat kita tinggal diangkat dan ditumpuk ketempat sampah...”Amelya bingung dengan pertanyaan dari Indah ini.
“Tidak mel..orang kaya, dan halaman rumah ini terbilang jauh, tapi dekat sungai..ada dua kemungkinan, kita bisa keluar lewat pembuangan sampah otomatis disini atau lewat lorong air”ucap Indah yang membuat Amelya masih tak mengerti. Tapi karena tak ada cara lain. Amelya mengikuti keinginan Indah.
Mereka berdua melangkah menuju dapur yang terlihat. Mereka dengan cepat melangkah karena menghindari pria yang mereka sendiri tak tahu siapa.
“Indah....ini tempat saluran angin”ucap Amelya. Indah yang mendengarnya langsung bergegas melihat.
“Bagus..kita naik saluran udara ini...dan cari jalan keluar”ucap Indah yang kemudian berjongkok. “Amelya dorong penghalangnya”
Amelya mengikuti apa yang diinginkan oleh Indah. Ia mendorong penghalang tersebut. Dan kemudian menaikinya.
“Indah ayuk”Amelya mengulurkan tangannya. Dan Indah ikut naik. Tapi sesuatu terjadi. Pengawal melangkah kedalam.
“Amelya kita diam disini dulu”Agar tak ada yang tahu mereka pergi. Lebih baik diam ditempat dulu.
“Aku meninggalkan lap tangan ini..eh apa sudah dimulai, mereka berkerja dengan baik”ucap Pengawal itu. ia kemudian melangkah keluar.
Indah dan Amelya bernafas lega. Mereka pun melanjutkan perjalanan sempit mereka.
Saluran udara ini benar-benar sangat sempit. Perlu waktu lama untuk bisa keluar. Mereka melihat banyak lorong yang digunakan. Membuat mereka berdua kebingungan.
“Yang mana?”bisik Amelya. Indah hanya asal menunjuk. Mereka pun mengikuti apa yang diputuskan oleh Indah sendiri.
Terus melangkah hingga mereka merasa jalan yang mereka lalu ini terlihat mulai berkabut. Tidak memang kabut.
“Sepertinya mereka tahu kita kabur”ucap Indah.
Keduanya merangkak dengan cepat hingga tak menyadari bahwa saluran yang mereka pilih malah menerjungkan mereka.
Byuuuurrrr
Hmmmm
-
Evita menatap kosong pada langit-langit malam. Ia tak mengira bahwa hari ini ia bertahan disini. Bahkan menurut apa yang di inginkan oleh Reza. Yeah meski begitu Reza tak meminta terlalu jauh.
“Apa kau tak ingin tidur hmmm?”tanya Reza yang melangkah dan duduk disamping Evita. Evita terdiam, ia tak ingin berbicara sekarang.
Mental dan pikirannya campur aduk. Pertama ia tak pernah berduaan dengan laki-laki melebihi waktu yang sampai seharian. Kedua tinggal serumah yang ia yakini ini pasti jauh dari kediamannya.
Dan terakhir ia entah kenapa merasa sedikit terganggu. Mungkin karena sudah dari awal tak menyukai. Sehingga ia merasa mentalnya sedikit terusik karena terkekang. Evita tak suka terkekang. Ia memilih kebebasan tapi tahu aturan. Maka jangan heran ia memilih untuk pergi jauh dari keluarga aslinya. Karena disana banyak peraturan yang harus diikuti. Sedangkan disini ia bersama Ayah Angkat tak akan terkena aturan yang membuatnya pusing.
Tapi sepertinya rasa terkekang itu harus dirasakan sekarang. Evita terdiam dengan Reza yang mengubah posisi untuk berbaring dipangkuan Evita. ia memandang wajah Evita yang tak menunjukkan reaksi apapun.
“Evita..Aku penasaran, Kau ini anak kandung siapa?”tanya Reza yang membuat Evita menatapnya.
“Kenapa emangnya?”tanya Evita. ia mengeluarkan suara yang sangat acuh.
Reza yang mendengar suara itu tersenyum “Apa sebegitu bencinya kau kepadaku, tapi tak apa...lagian bencimu itu juga akan menghilang, ooh ya aku hanya penasaran. Wajah acuh mu itu terlihat mirip seperti hmmm siapa ya..ah telihat seperti pria yang lain, yang datang disekolahmu”
“Tak perlu mencari tahu tentang diriku..kau tak akan mendapatkan perhatianku sama sekali”
“Heheh baiklah Evita sayang...sekarang tidur dan istirahat. Apa Aku perlu menemanimu?”
Evita langsung melesat berbaring, menolak tawaran Reza. Reza yang melihatnya hanya tersenyum kaku. Ia pun mengecup kepala Evita secara singkat dan pergi keluar dari kamar.
Mata Evita tak terpejam, pikiran liar tersimpan menjadi sebuah rencana untuknya. Ia tetap memandang kearah langit-langit yang ada. dan terdiam dengan kebisuan yang menjadikan suasana sepi.
-
Indah dan Amelya bangun dari tercebur mereka. untungnya tidak terlalu dalam. jadi mereka tak akan tengelam. Karena mereka tak tahu berenang.
“Amelya..ayuk disana ada terowongan”ucap Indah. Amelya langsung melihat kearah mana yang ditunjukkan oleh Indah. Mereka melesat kesana sebelum seseorang menemukan mereka.
Didalam terowongan air yang gelap. Mereka membiasakan diri dengan hawa yang dingin karena masih malam.
Melangkah terus sampai akhirnya merasa cukup. Mereka berhenti dan memilih untuk beristirahat.
“Indah...Aku takut”ucap Amelya yang kini menyampaikan apa yang dirasakan olehnya.
“Aku jua Amelya...Aku merasa benar-benar dijual tadi”Indah tak bisa membayangkan jika mereka benar-benar disentuh oleh pria yang mereka sendiri tak tahu siapa.
__ADS_1
Kruuukkkkk
Indah dan Amelya saling tersenyum. Karena perut mereka telah lapar dan pengen diberi asupan. Sayangnya terowongan ini benar-benar tak ada apapun.
Tlum
Sebuah roti jatuh dari atas mereka. Indah dan Amelya langsung melihatnya.
“Eh..ternyata ada celah kecil disana, ini benar-benar masih dikota kan”Amelya merasa senang, meski mereka belum bisa lolos, setidaknya mereka bisa melihat harapan.
“Iya Mel”ucap Indah.
Mereka pun membagi roti buangan tadi, untungnya masih ada yang bisa dimakan. Jadi yeah meski sedikit jijik, tapi mau bagaimana pun mereka harus makan, untuk menambah tenaga mereka.
Setelah memberi penawaran dengan roti, mereka melangkah untuk mencari jalan keluar. Biasanya dilorong seperti ini ada tempat untuk keluar. Jadi mereka menyusuri jalan.
Satu jam berjalan terlihat sebuah tangga, mereka langsung melesat untuk naik dan mencoba membukanya.
“Bagaimana bisa?”tanya Amelya yang kini memandang Indah.
“Aman...dan disini sangat sepi...ayuk naik”Indah naik terlebih dahulu, lalu disusul oleh Amelya.
Melihat suasana yang terbilang sepi, Indah dan Amelya menutup tempat keluar mereka. lalu bersembunyi sebentar. Karena ada kemungkinan mereka dicari oleh seseorang.
Dan apa yang dipikirkan itu malah terjadi karena beberapa orang berlari dengan tergesa-gesa.
“Sial...kita kehilangannya, bagaimana ini....astaga”
“Mereka menghilang dengan cepat, apa mereka telah menghapal tempat ini”
“Kalian ini, sudah jangan bercerita...yang terpenting kita harus mencari mereka”
“Benar...jika tidak..Tuan akan memengal kepala kita”
Mereka pun melangkah menuju kearah yang lain. memberikan nafas lega untuk Indah dan Amelya yang bersembunyi disemak-semak.
“Indah...Ayuk kita pergi”ucap Amelya yang dianggukkan oleh Indah. Mereka pun melangkah menuju arah yang berlawanan. Untungnya jalan memiliki empat simpangan. Jadi mereka bisa bebas.
-
Setelah merasa lumayan berlari, terlihat sebuah kota yang mereka tahu bahwa itu adalah kota Q . dan terlihat sebuah mobil yang melewati mereka. tapi kemudian berhenti.
“Nona Indah..Nona Amelya?”kaget Sebastian yang baru saja kembali setelah latihan.
Indah dan Amelya merasa bersyukur sekarang. Mereka menemukan Sebastian.
“Apa yang terjadi?”tanya Sebastian sambil menyerahkan dua botol mineral untuk dua Nona nya.
“Tidak ada..kami hanya sedang tersesat dan meninggalkan segala perlengkapan kami”ucap Indah menjawab pertanyaan Sebastian. Dan merahasiakan apa yang tak ingin ia ceritakan.
Amelya yang mengerti juga mengangguk. Ia juga tak ingin masalah mereka diketahui. Cukup mereka bedua saja. Karena jika sampai Evita tahu akan sedikit bahaya.
“Baiklah...kalau begitu mari Saya antar”ucap Sebastian yang langsung dianggukan oleh keduanya. Mereka pun melesat membelah jalan dengan cepat. Indah dan Amelya sama-sama bernafas lega. Meski ada rasa takut yang menjalar mereka harus tetap tenang.
Hanya ada satu masalah, mereka lupa arah yang tadi menjadi tempat penahanan mereka. bagaimana ingin menyelamatkan yang lain.
“Sebastian bisa membantuku?”ucap Indah. Ia hanya bisa berharap dengan sebastian.
“Apa itu Nona...?”tanya Sebastian yang masih fokus menyetir.
“Aku meninggalkan ponselku, bisa kau lacak dimana keberadaannya?”Indah hanya berharap ponsel itu berada ditempat penyekapannya. Karena itu satu-satunya jalan, untuk mereka menyelamatkan para wanita.
“Baiklah..akan Saya lakukan”ucap Sebastian. Tak berapa lama mereka pun tiba dikediaman Indah.
“Amelya..tinggalkan dirumahku dulu”ucap Indah.
“Baiklah....Aku menginap dirumahmu”Amelya mengangguk dan keluar dari mobil bersama Indah.
“Nona Indah..dan Nona Amelya selamat malam, dan untuk Nona Indah, akan saya kerjakan apa yang anda perintahkan”
Indah mengangguk. Sebastian pun pergi dengan mobil yang dibawanya.
“EH Indah kita melupakan Evita”Amelya seketika sadar membuat keduanya saling menatap horor.
-
“EVITAAAAAA!!!!”
“Sial...Pengawal Cari dirinya, aku akan membuat perhitungan dengan dirinya..”
“Apa sebegitu inginnya bersama Kakak?”
“Kau!”
“mari berkerja sama tuan Reza..aku bisa membantumu”
__ADS_1