MANTIV

MANTIV
● Mantiv(107)


__ADS_3

Pagi harinya~


Evita yang biasanya bangun siang, kini memaksakan diri untuk bangun pagi. Dan mendapati wajah Za yang ada didepannya, Za yang asik menatap layar ponselnya tak mengetahui Evita membuka mata.


“Apa kau tengah sibuk?”Tanya Evita yang membuat sang Suami langsung melempar ponsel pintarnya. Untung tak jatuh dari kasur.


“Astaga Kau mengagetkanku, Evita”ucap Za yang menatap Evita.


Evita yang ditatap hanya mengerutkan alisnya “Apa yang kaget sih?”Evita ingin meranjak bangun tapi Za kembali menuntunnya untuk berbaring.


“Ada apa?”tanya Evita yang berada didada bidang sang Suami. Za yang mendengarnya langsung menjawab “Tumben bangun pagi...Apa ada yang ingin kau lakukan?”tanya Za.


Evita mengangguk “Hari ini Aku akan melakukan pertemuan kecil dengan keluarga Yan”


“Yan?”wajah Za tampak mengerut mendengar ucapan Evita. “Apa yang ingin Kau lakukan?”


“Sudah saatnya bergerak Za...Jika aku berdiam diri, musuhku yang disana telah mengatur banyak rencana, jadi sudah saatnya Aku bergerak..jika seperti ini terus menerus..Aku hanya menunggu kematianku saja lagi”


“Berhenti mengatakan hal yang tak perlu..baiklah sekarang Mandi dan lakukan kegiatanmu”ucap Za yang melepas pelukkannya. Evita bangun namun masih menatap sang Suami.


“Za...”


“Hm”


“Tak jadi”Evita melangkah pergi meninggalkan Suaminya yang menatap bingung dengan tindakkannya itu.


-


Didalam ruang rapat, kini ada Raja dan Sebastian yang datang. Mereka dipanggil kembali karena Raja dan Sebastian akan turun membantu dalam urusan Evita ini.


“Seperti apa yang ku ucapkan, Aku akan melakukan pertemuan dengan keluarga Yan ini dulu, lalu bertemu dengan Yelina”ucap Evita yang memandang kearah semua orang.


Yang lain mengangguk, memang sudah saatnya mereka bergerak. Jika hanya berdiam diri. Takutnya tak akan menemukan apa-apa dan semua bukti yang ada langsung menghilang begitu saja.


“Pertemuan Keluarga Yan..Apa kau ingin datang sendiri?”tanya Amelya. Evita mengeleng “Aku akan datang bersama Sebastian...”ucapnya yang kemudian menatap Za, suaminya sendiri.


Za yang ditatap mengangguk “Aku akan mengantar kalian berdua”ucapnya. Evita tersenyum. Yang lain mengangguk menyetujui hal tersebut.


“Baiklah...keputusan telah kita buat..bersiaplah Evita, Kau akan menemuinya malam ini kan?”tanya Intari yang langsung mendapat anggukkan dari Evita.


“Kalau begitu bersiap, Kami akan berada disini dan siap menolong kapanpun kau butuh”Evita lagi-lagi mengangguk.


Ruangan rapat sederhana itu akhirnya berakhir. Semua melakukan kesibukkan mereka masing-masing. Raja yang telah lama bertahun-tahun kini memfokuskan diri untuk bisa berkerja dengan baik. Memang gaji yang didapat tak bisa dipandang sebelah mata. Namun dari gaji yang tinggi ada resiko kematian yang tinggi juga. Jadi yeah berbahaya untuk orang yang tak kuat fisik.


-


Malam harinya, Evita telah mengirim pesan kepada keluarga besar Yan. Yang tak lain keluarga Merlina. Gelaran yang didapat Merlina adalah Mer-Yan.


Seperti apa yang diucapkan olehnya, jika ia masih bisa bertemu dengan keluarga besar Yan, maka kemungkinan para pengusaha yang lain tak bertindak untuk menghabisi keluarga Yan.


Evita melangkah bersama Sebastian yang ada didepannya. Tentu saja ada beberapa bodyguard yang dibawa oleh Evita. Sebastian sudah mengatur semuanya. Seperti biasa Seketaris Pribadinya tahu segala apa yang dibutuhkan olehnya. Sedangkan Za menyamar menjadi bodyguard dengan kaca mata menjadi pelengkapnya.


Selama perjalanan mereka memasuki ruangan utama. Terlihat beberapa Pelayan yang menyambut kedatangannya. Evita dan Sebastian menggunakan topeng untuk menutupi wajah mereka. meski itu hanya digunakan sebagai formalitas saja.


“Selamat datang Nyonya Pengusaha ke 2”ucap Pengusaha ke 10 yang tak lain adalah Tuan Rel-Yan. Ayah dari Merlina.


“Maaf atas sambutan kami yang kurang mengenankan”ucap Nyonya Yan. Mereka mempersilahkan Evita untuk duduk disofa yang begitu luasnya. Sebastian berdiri dibelakang Evita.


“Apa yang ingin anda bicarakan Pengusaha ke 2?”tanya Pengusaha ke 10 yang menatap dengan wajah yang penuh ketegangan. Seperti yang dilakukan dalam pertemuan antara Pengusaha, Masing-masing dari mereka masih mengunakan topeng diwajah.


“Aku tak akan basa basi....Sebelumnya Aku penasaran Tuan Pengusaha ke 10. Apa pengusaha yang lain tidak bermain bersama kalian?”tanya Evita yang sebenarnya tahu bahwa Pengusaha ke 10 mengalami kebangkrutan. Dalam sekejap pengusaha yang lain mengoyangkan usaha mereka dan langsung menurunkan jabatannya dalam dunia pengusaha.


“Langsung saja keintinya Pengusaha ke 2”ucap Tuan Pengusaha ke 10 yang mulai menunjukkan reaksi tak senang.


Evita tersenyum dibalik topeng yang dikenakannya. “Baiklah...Kali ini pertemuanku sangat sederhana...karena keluarga kalian telah jatuh terpuruk seperti ini, maka ijinkan Aku untuk menambahkannya, yaitu menjatuhkan kalian sampai tak akan ada lagi keluarga yang tersisa”ucap Evita yang membuat pasangan didepannya terteguh.


“Hahaha..maksudnya Apa itu?”tanya sang Istri yang berkeringat dingin.

__ADS_1


Evita yang masih tersenyum dibalik topeng kini berwajah datar. Ia ingin melanjutkan ucapannya tapi seseorang dengan wajah yang penuh amarah datang menghampirinya.


Greb


Sebastian dan Za yang berada disana langsung bersiap untuk melindungi Evita. namun Evita menghentikan mereka.


“Kenapa kau selalu menghentikan ini Evita”benak Za yang melihat sang Istri dalam bahaya. Ia berbenak lagi “Jangan sampai Aku yang turun tangan Evita”


Merlina datang dengan menarik kerah kemeja Evita. bahkan matanya yang menatap tajam tak merasa terganggu dengan topeng yang dikenakan oleh Evita.


Orang tua Merlina langsung bergegas untuk menariknya. “Anak ini..Apa yang kau lakukan..Kau ingin menambah masalah Kami?”ucap sang Ibu yang menarik rambut sang Putri.


Namun Merlina masih kukuh menahan Evita dalam genggamannya. Semua yang ada dibuat bingung. Apa lagi Evita tak menyuruh mereka mendekat.


“SIAL..KARENAMU...KARENA DIRIMU..KARENA KAU...JIKA..JIKA KELUARGA MU ITU TIDAK MENGANGGU KAMI, SUDAH PASTI AKU AKAN HIDUP DENGAN BAHAGIA!!!”Teriak Merlina yang masih menatap kearah Evita.


Evita memandang datar dibalik topeng. Ia menahan dirinya. Orang tua Merlina dibuat gereget dengan putri mereka. hingga


Crash!!!


Mata Evita membelak melihat sang Ayah yang dengan seenak jidat memukul kepala sang Putri dengan vas bunga. Semua yang ada disana juga ikut membelak.


Merlina yang mengenggam kerah baju Evita langsung melepaskannya, dan membalikkan tubuh, menatap kearah orang tua yang kini menatapnya juga.


“Oh...ha...ha.....HAHAHAHAHAHAHAH”Merlina tertawa sambil menyentuh kepala bagian belakang. Darah mengalir dengan begitu segarnya.


Merlina menatap kearah tangan yang kini berada didepan mata. Darah yang didapat olehnya adalah darahnya sendiri. Ia mengangkat kepalanya dan menatap orang tuanya.


“Kalian benar-benar ingin Aku mati bukan?...KENAPA SAAT AKU LAHIR, KALIAN TAK MEMBUNUHKU...SEHARUSNYA KALIAN MEMBUNUHKU SAAT ITU, ATAU MEMBUANGKU KESELOKKAN, BAHKAN KALAU TAHU KAU SEDANG HAMIL, GUGURKAN SAJA KANDUNGANMU ITU”ucap Merlina yang menatap kearah dua orang tuanya.


Evita terdiam berada dibelakang. Merlina melanjutkan “Hanya karena Harta, Hanya karena kekuasaan, Kebahagiaan dalam keluarga hilang gara-gara itu semua....Tidak...Ini semua bukan salah ku kan..bukan salah ku lahir, tapi salah....DIRIMU”ucap Merlina.


Swusssh


“EVITA!!!!”


Semua orang berteriak melihat apa yang ada didepan mata mereka. yeah Merlina yang berhasil mengores luka dileher Evita. lalu Evita yang menatap tajam dengan pisau yang hampir menusuk Merlina, tepat diLehernya juga.


Semua orang langsung bergegas untuk mendekat. Karena tampak wajah Merlina dipenuhi dengan ketakutan ketika menyadari nyawanya hanya tinggal hitungan detik.


Darah dileher Evita mengalir perlahan, ia menjauhkan pisau dari leher Merlina dan menjauhkan diri dari Merlina yang bertekuk lutut.


Sebastian dan Za sudah berdiri didekat Evita, mereka merasa bahwa Evita akan membunuh Merlina. Namun apa yang didapat oleh mereka adalah melihat Merlina yang meringkuk dengan wajah yang penuh ketakutan.


Orang tua Merlina langsung menangkap Putri mereka. Merlina yang tadi terlihat kuat kini dipenuhi hawa menakutkan. Ia menatap kearah pisau ditangannya.


“Haha..haha..Aku.Aku..Aku hampir membunuhnya..Haha....Lihat Ibu..Ayah, Anakmu hampir membunuhnya”ucap Merlina yang mulai terlihat kehilangan Akal.


Sebastian yang melihat hal ini, seakan ingat dengan Feliya yang juga mengalami trauma. Ia langsung menatap kearah Evita yang masih tenang berdiri.


“Evita!!!”guman Sebastian yang ingin maju tapi terhenti dengan Za yang menahannya. “Sebastian, Evita masih bisa mengontrol dirinya”ucap Za yang membuat Sebastian berhenti dengan rasa khawatirnya.


“Semua karena Aku?”ucap Evita yang menatap kearah keluarga penuh dengan kebisingan ini. Evita memandang datar dengan melepaskan topengnya.


Membuat Tuan Yan dan Istrinya terkejut melihat wajah Evita. “Kau!!!...kau Evita?”ucap sang Istri yang menatap dengan perlahan mundur.


“Bagaimana bisa...Kau..anak Angkat dari keluarga Kim?”Tuan Yan menatap Evita lalu menatap Putrinya.


“Haha..hahahaah...Bagaimana ini, dulu Aku berniat untuk membuat Merlina menjadi anak angkat keluarga Kim, namun Keluarga Kim menolaknya...dan memilih anak dari keluarga besar Alex..haha..hahahhaah.....”Tuan Yan bangun dari duduknya, ia menatap kearah Evita yang masih memandang datar.


“Bagaimana bisa....?”itu yang keluar dari mulut Tuan besar Yan yang menatap kearah Evita.


Bertahun-tahun yang lalu,


“Tuan Kim..Aku mendengar Kau ingin mengangkat seorang anak?”tanya Tuan Yan yang berada disebuah ruangan khusus para pengusaha.


Tuan Kim mengangguk mendengar pertanyaan Tuan Yan. “Benar Tuan Yan, memangnya ada apa?”

__ADS_1


“Hahah...sangat bagus, kebetulan sekali, Aku memiliki seorang Putri, mungkin bisa kau pertimbangkan?”ucap Tuan Yan yang menatap dengan pandangan penuh harapan.


“Maaf Tuan Yan, Aku sudah tertarik dengan anak seseorang, ia sangat menarik untukku”penolakkan diberikan kepada Tuan Yan yang langsung merubah ekspresinya.


“Oh....begitu rupanya...Anak siapa kalau boleh tahu?”tanya Tuan Yan.


“Maaf Tuan Yan...ini sangat rahasia”ucap Tuan Kim yang memilih untuk pergi meninggalkan Pria yang berharap besar kepadanya.


-


Tuan Yan pulang dengan rasa kesal didadanya, ketika rencanannya harus hancur begitu saja.


Sang Istri datang dengan wajah yang penuh harapan. “Bagaimana...Apa Anak kita akan diangkat dikeluarga Kim?”tanya Sang Istri, karena Tuan Yan yang kesal akan rencananya yang tak terwujud membuatnya langsung melampiaskan kekesalannya kepada Istrinya.


“SIAPA YANG INGIN SEORANG ANAK PEREMPUAN HAH?..KAU TAHU SENDIRI BAHWA LAKI-LAKI YANG KAU NIKAHI INI MENGINGINKAN SEORANG ANAK LAKI-LAKI BUKAN PEREMPUAN”


Rencana Tuan Yan adalah ingin menghancurkan pengusaha ke 2 yang merupakan Tuan Kim. Dengan mendapatkan kesempatan bahwa Tuan Kim ingin seorang Anak angkat membuat Tuan Yan mengorbankan Putrinya sendiri. tapi sayang seperti yang diketahui, orang-orang menginginkan anak laki-laki bukan perempuan. Karena mengetahui fakta tersebut Tuan Yan benar-benar merasa dirugikan.


Menikahi seorang gadis karena terpaksa dan mendapati seorang Anak perempuan yang tak diinginkan. Rumah Tangga Keluarga Yan benar-benar hancur.


Sang istri yang mendengar amarah tersebut ikut emosi, ia langsung membanting benda yang ada didekatnya.


Brak!!!


“JIKA KAU INGIN ANAK LAKI-LAKI KENAPA KAU INGIN MENIKAHIKU....AKU JUGA TAK TAHU KENAPA MALAH MENDAPATKAN ANAK PEREMPUAN”


Rumah yang tak pernah tenang selalu diisi dengan keributan antar dua orang yang saling ungkit mengunkit. Sampai sang Putri yang masih muda itu harus menyaksikan keluarga yang berkelahi disetiap harinya.


“Hiks...hiks...Ibu..Ayah..jangan bertengkar”ucap Merlina yang saat itu tak mengerti apa-apa. Tapi karena dipaksa dewasa sebelum waktunya, Merlina memendam dendam kepada Evita yang menghancurkan keluarganya.


“Dulu, Aku mengira Tuan Kim akan mengangkat seorang anak laki-laki..dan tak menduga ternyata Ia seorang perempuan..apa lagi dari cucu kesayangan keluarga Alex”ucap Tuan Yan yang membuat Evita sedikit terteguh.


Marga Alex yang sudah dibuang olehnya ternyata masih membekas disetiap orang yang tak mengetahui bahwa Ia telah melepas marganya.


“Itu dulu Tuan Yan..bukan kah kau sudah melihat bahwa anak angkat keluarga Kim adalah Aku, Evita..Atau lebih tepatnya Kim Hyun Jae”ucap Evita yang membuat kepala keluarga Yan itu langsung menatap kearahnya.


Merlina yang masih menunduk tak mengangkat kepala kini mengengam celana Evita yang membuat semua orang terteguh.


“Evita...bunuh Aku...ku mohon”ucap Merlina yang membuat Evita membelakkan matanya tak percaya dengan apa yang didengar olehnya.


Orang tua Merlina juga dibuat kaget mereka tersentak mundur mendengar hal tersebut.


“Bunuh Aku Evita!!!!!!.......AKU TAK SANGGUP, TAK SANGGUP MENAMPUNG SEGALA EMOSI ORANG TUAKU, JIKA AKU TAK KAU BUNUH, MAKA BIAR AKU MEMBUNUHMU, AKU INGIN HIDUP DENGAN RASA KEKELUARGAAN BUKAN RASA SIKSAAN SEPERTI INI”teriak Merlina dengan wajah yang sudah dibanjiri oleh air mata. Darah dikepalanya entah sudah berhenti mengalir atau masih mengalirkan darah segarnya.


Orang tua Merlina dilanda syok berat mereka langsung menarik Merlina tapi Merlina memeluk erat Evita sampai Evita tak sanggup menampung ketiganya. Sebastian yang ada langsung menjauhkan orang tua Merlina.


“DASAR ANAK TAK TAHU DIRI...KAU PIKIR AKU MENGANDUNGMU SEPERTI MAKAN PERMEN APA?”ucap sang Ibu Merlina yang berteriak dibalik tahanan para bodyguard Evita.


Merlina meringkuk dengan tubuh yang gemetar, wajahnya menjadi pusat pasi karena tak ada lagi tenaga disana.


Evita hanya diam tak bergeming. Sang Ayah yang ditahan tak tinggal diam. “ANAK YANG TAK TAHU BERTERIMAKASIH, BANYAK SUDAH YANG KU KORBANKAN, KENAPA KAU SEENAK JIDAT LANGSUNG INGIN BUNUH DIRI HAH?”


Mendengarnya membuat Evita ikut tersalut dalam emosi. Ia menyodongkan pistol yang dibawa olehnya. Hal ini berhasil membuat Sebastian dan Za mendekati kearahnya.


“Merlina...bangunlah”ucap Evita yang membuat Za dan Sebastian berhenti mendekat. Merlina yang dipanggil menatap kearahnya dengan wajah yang tak lagi memiliki kehidupan.


“Kau ingin Aku yang membunuh orang tuamu, atau Kau ingin membunuhnya sendiri?”tanya Evita yang membuat Merlina menompang tubuh untuk bisa berdiri.


“Aku tak ingin tanganku membunuh mereka Evita....Mereka adalah orang tuaku”guman Merlina yang didengar oleh semua orang.


Kedua orang tuanya terteguh mendengarnya. “Meski Aku membenci mereka, dan berharap bukan mereka orang tuaku, tetap saja hukum alam mengatakan bahwa merekalah orang tua kandungku...Evita bunuh saja Aku”ucap Merlina yang kembali mendudukkan dirinya.


Evita menatap datar kearah keluarga yang penuh dengan segala kesedihan.


“Sial...”ucap Evita menghela nafas. Lehernya masih mengeluarkan darah meski sedikit. Ia menyeka sebentar lalu menatap kearah keluarga yang dimana Putri mereka ingin dibunuh oleh dirinya.


Brak!!!

__ADS_1


__ADS_2