
“Kakak, apa kakak akan mengijinkan kakak ipar kembali memegang senjata?”tanya Yoongi. Saat ini Yoongi,Echan dan Za sedang dalam perjalanan pulang dari kantor kepolisian.
“Aku tidak bisa melarangnya. jika aku melakukan hal itu, sama saja aku memendam amarahnya yang bisa meledak kapan pun itu. Evita belum melepaskan emosi yang ada pada dirinya”jawab Za dengan tenang.
Yoongi dan Echan mengerti akan situasi kakak pertama mereka ini. Memang sulit dimengerti jalan pikir kakak ipar mereka. yang bisa mereka lakukan adalah menunggu dan berdoa agar semua baik-baik saja.
Dalam perjalanan pulang, hanya ada kesunyian yang menemani ketiga pria ini. Sampai tiba pun tak ada yang saling berbicara.
“Kalian sudah pulang ternyata?”Kaget Putra yang tiba bersama Inul. Mereka terkejut melihat Za,Yoongi dan Echan yang baru saja tiba.
“Oh, yeah beberapa hari yang lalu”ucap Echan menjawab. Semua langsung melangkah masuk bersama-sama.
Kedatangan mereka langsung disambut oleh para orang tua dan kakek mereka.
“wah menantu sudah tiba ternyata”ucap Kakek kedua yang melihat kedatangan Inul dan Putra. Kakek kedua bahkan menyambut Ida Putri yang berada digendongan Putra.
Semua mulai mengobrol dengan kehangatan yang hadir.Za memutuskan untuk meninggalkan kehangatan ini karena Istrinya tak ada disana.
“Oh Za, sebentar”ucap Kakek pertama yang melangkah mendekati Za. Za mengangguk menyambut kedatangan kakeknya.
“Ada yang ingin ku bicarakan. Tadi siang Evita terlihat aneh”
Za mengerutkan alis mendengar ucapan dari Kakeknya.
“Sebelah tangga, ada minyak yang berceceran. Evita melewati tangga itu, Kakek tak tahu detilnya seperti apa. Tapi saat itu Evita terjatuh dengan mata yang tertutup, semua jadi panik..namun....”
Belum selesai kakek pertama berucap. Za sudah melangkah pergi meninggalkannya,dengan wajah panik.
“Kakek, apa yang terjadi?”tanya Echan yang terkejut dengan Kakak pertama mereka berlari dimansion.
“Ah itu..”
-
Brak!!!
“Siapa!!”
Wajah panik saling terlihat, Za panik melihat Evita, dan Evita yang baru saja selesai mandi ikutan panik dengan Za yang mengebrak pintu dengan dadakkan.
“Za, ada apa?”tanya Evita panik menyambut suaminya. Dirinya masih mengunakan bathrub dengan wangi selepas mandi. Terlihat mengoda dimata Za.
Greb!
Za memeluk Evita, lalu mencium kedua pipi,jidat hingga bibir Evita. pintu kamar tertutup otomatis bersamaan dengan Evita yang dibaringkan kekasur luas.
“Ada apa Za?”Evita bertanya kembali sambil mengusap wajah Suaminya.
Za mencium telapak tangan Evita,lalu melihat perut Evita yang mulai membuncit. Disuapnya dengan pelan untuk mencari ketenangan.
Melihat tingkah Za, membuat Evita menatap bingung. Ia memutar ingatannya, siapa tahu kedatangan suaminya dengan wajah panik berasal dari dirinya sendiri.
“Apa kau panik karena seseorang bercerita kepadamu tentang aku terjatuh dari tangga?”Evita langsung bertanya keintinya. Karena ia tahu keluarga masih panik kepada dirinya.
Za dengan pandangan tajam melihat kearah Evita. untuk sesaat Evita melihat sosok lagi dari Suaminya.
“Ehm, Za!”
“Huh~...kenapa kau bertingkah ceroboh Evita?”tanya Za yang menenangkan diri. Ia duduk ditepi kasur dengan mengangkat kedua kaki Evita, lalu memijitnya dengan lembut.
Evita duduk dan memangku dirinya, menyinggirkan tangan Za yang memijit kaki jenjangnya.
“Aku hanya bermain dalam permainan seseorang, lagian aku tak apa-apa Za”Evita mengalungkan tangannya dileher Za, dan memandang suaminya untuk mendapatkan perhatian Za.
“Dengar Za, aku tahu dirimu sangat sayang akan keluarga. Namun ada seseorang yang membenciku disini, jadi kau tak mungkin bisa merelakan seseorang dengan tenang bukan?”tanya Evita yang membuat Za diam sesaat.
“Apa ini ulah Bibi Kedua, dia yang melukaimu?”Za menatap Evita, ia mengusap lembut pungung Evita yang tertutup kain.
“Bisa dibilang begitu, Bibimu sangat cerdik mengatur segalanya. Sayangnya aku tak bisa mendapatkan bukti dari apa yang telah ia lakukan”
“Apa kau akan marah jika suatu hari nanti, Kau menangkap Bibimu sendiri Za, atau melihat kematiannnya?”
Evita bangun dari pangkuan suaminya, memakai piyama yang sudah disiapkan olehnya untuk dikenakan.
__ADS_1
“Lagi pula, Aku akan tega melakukan itu Za..hanya saat ini yang ku pikiran adalah kebersamaan keluarga. Jika diriku yang dulu, aku sudah membunuh semua yang menganggukku...sudahlah.”
“Untuk masalah jatuh ditangga itu, Aku sudah memikirkan keamananku, jadi jangan khawatir”
Evita meninggalkan Za sendiri yang diam tak berbicara sama sekali.
Hubungan mereka memang penuh akan cinta dan perhatian serta kasih sayang. Namun untuk saling mengerti dan memahami lalu memperhatikan, mereka lemah dalam hal itu.
Bagaimana pun hubungan yang sudah rengang, akan sulit disatukan kembali. Jadi Za menahan diri dan sabar menghadapi Istirnya. Ia berharap bisa mengatakan apa yang diinginkan olehnya kepada Evita.
“Kau tidak mandi?”tannya Evita yang kembali dengan susu ditangannya. Za tersenyum lalu bangun menuju kekamar mandi.
Evita diam memperhatikan tingkah Za, “Kau selalu sabar menghadapiku..huh, rasanya tak pantas bersamamu Za”benak Evita.
-
“Kakak Inul, apa dirimu akan menginap disini?”tanya Amelya yang mengendong Ida Putri.
“Iya, aku akan menginap selama beberapa hari”Inul menjawab dengan santai sambil menikmati secangkir teh hangat.
“Kalau begitu apa kita harus reunian karena kita sedang berkumpul sekarang, kita akan mengundang Nabila juga”usul Intari dengan menyuapi Ida Putri.
“Ku rasa itu tak akan bisa Indah, kau lupa Evita sedang bersiap-siap sekarang...kita tinggal menunggu pasukkannya tiba”Amelya menunduk perlahan. Wajah teduhnya membuat Inul menatap bingung.
“Apa yang bersiap?”Tanya Inul kembali.
“Evita akan menyerang Ayahnya Mavin, mungkin tak akan lama lagi peperangan akan terjadi”jelas Amelya.
Inul terdiam mendengarnya. Memang tak bisa disangka. Evita akan mempercepat pergerakkannya.
Kekhawatiran mereka bertambah saat seorang pelayan melewati mereka. terlihat sekali pelayan itu terburu-buru.
“Ada apa dengan pelayan itu?”tanya Intari melihat Pelayan yang menuju kekamar Evita.
Tak lama Pelayan itu kembali lalu melewati mereka dengan terburu-buru lagi.
Sampai akhirnya mereka sadar bahwa seseorang sedang bertamu. Ia tak lain adalah Pria yang begitu lengket dengan Evita.
Tak lama perginya Evita bersama Vintorin. Za, suami Evita turun dari tangga sambil merapikan pakaian polisinya. Ia akan bertugas sebentar malam ini.
“Kakak Ipar Za!”sapa Inul dengan menundukkan kepalanya. Za mengangguk sesaat, lalu mengusap kepala Ida Putri yang tersenyum kepadanya.
“Apa anda tahu Mavin Vintorin ada disini?”tanya Inul dengan wajah penasarannya. Ia tak mau keponakkannya itu dikira macam-macam, karena mengundang laki-laki didalam rumah keluarga suaminya.
“Oh dia sudah datang, tak apa-apa...aku mengizinkannya, asal Evita ada didalam rumah ini.....kalian jaga dirinya, aku akan bekerja sebentar”ucap Za yang melangkah pergi meninggalkan wajah kebingungan dari Intari dan Amelya.
Bahkan Inul tercenga mendengar jawaban Za yang santai tanpa beban.
-
Didalam ruangan, Evita menghidangkan sebuah kopi untuk Vintorin.
Sudah lama mereka tak bertemu, terakhir kali mereka saling bicara saat membahas masalah Liyana. Sekarang mereka bertemu lagi dengan status yang berbeda.
Tak ada lagi paksaan, tak ada lagi pelukkan dan tak ada lagi yang namanya pengejaran. Mavin Vintorin berhenti mengejar Evita saat ia melihat Evita memeluk Za dengan erat dihotel milih keluarga Zhan,Saat itu setelah acara ulang tahun dari Merlina. Dan sekarang dirinya mengejar Liyana ibu dari Anaknya.
“Kau menghubungiku berkali-kali, maafkan diriku yang tak mengangkat pangilanmu, ada alasan dibalik itu semua”ucap Evita membuka pembicaraan.
Vintorin mengangguk, “Aku tahu, seharusnya saat itu aku tak menghubungimu. Tapi aku juga saat itu panik, karena melihat hal yang tak pernah ku sangka-sangka..Evita ternyata Aku sudah memiliki seorang anak”
Evita diam mendengar apa yang diucapkan oleh Vintorin. Meski hatinya sudah diisi penuh oleh Za, ia tetap memberikan ruang untuk Vintorin ini. Karena bagaimana pun Vintorin pernah menjaganya selama 4 tahun dan melindunginya. Namun sekarang semua sudah berubah.
“Apa kau bertemu dengan Vino-Li?”tanya Evita yang langsung dianggukkan oleh Vintorin.
“Dia sangat tampan, matanya mirip dengan ibunya...”
“Tapi sikap dan tindakkannya mirip denganmu Vintorin. Putramu bukan anak yang mudah ditipu sepertimu”Evita memotong ucapan Vintorin.
Suasana kembali bisu setelah ucapan Evita.
“Yeah sudah 5 tahun bukan?...tak ada yang tahu takdir, aku juga tak lama lagi akan memiliki seorang anak, semoga mereka bisa lahir dengan selamat”Evita mengusap perutnya dengan lembut.
Vintorin diam menatap Evita, tak ada lagi kata ‘seandainya’. Karena mereka tidak bersama. Mereka sudah menentukan jalan mereka masing-masing.
__ADS_1
“Oh ya, apa yang ingin kau bicarakan Vintorin, kau kesini pasti ada alasannya bukan?”tanya Evita yang kembali ketopik pembahasan yang sebenarnya.
Vintorin langsung mengangguk, “Aku ingin membantumu Evita, membunuh Ayahku!”
Evita terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Mavin Vintorin. Ayah merupakan orang yang berperan penting selama tak ada Ibu. Dan tak mungkin seorang anak merelakan kepergian Ayahnya bukan?. Tetapi Mavin Vintorin berbeda, ia merelakan Ayahnya dibunuh oleh orang yang pernah dicintainya.
“Vintorin! Apa yang terjadi kepadamu, kau membantuku?”keraguan dari suara Evita membuat Vintorin memberikan sebuah kepastiannya.
“Aku akan membantu, karena aku juga kecewa Evita..Ayahku memang orang tua yang jarang berinteraksi kepada anaknya,namun kasih sayangnya jangan diremehkan. Aku perduli kepadanya, aku juga menyayanginya. Namun saat aku tahu, bahwa alasannya menganggumu, hanya semata-mata rasa haus dari kekuasaan, membuatku merasa kecewa kepadanya”jelas Vintorin.
Evita memotong ucapannya, “Vintorin, bagaimana pun Ia Ayahmu..kau mungkin merasa kecewa kepadanya, tapi...”
“Evita, Aku mendukungmu bukan karena membelamu atau karena aku menyukaimu. Tapi ini karena rasa sesalku kepadanya yang memandang rendah wanita dan beranggapan wanita itu adalah mainan. Aku membenci itu Evita”Vintorin memotong ucapan Evita dengan cepat.
Evita terdiam sesaat, ia tahu bahwa mungkin ada sesuatu yang terjadi kepada Vintorin yang membuatnya seperti ini. Dan lagi pula jika memang Vintorin tak melarangnya. Ia tak akan menambah musuh baru yang harus dibunuh olehnya, apa lagi Vintorin sudah dianggapnya sebagai teman dekat.
“Aku tak tahu apa yang terjadi kepadamu, tapi untuk bantuan. Semua ditanganmu aku akan menerimanya. Hanya, aku tak ingin suatu hari nanti, akan ada sebuah masalah yang terkait akan hal ini jadi perhatikan ucapanmu”
Vintorin mengangguk. “Aku mengerti tenang saja”
“Oh ya, Kau sudah bertemu Liyana?”tanya Evita dengan menyesap teh hangat miliknya.
“Sudah, kami juga melakukan makan malam bersama”
“Kau pasti akan mendapatkan hatinya. Kejarlah ia dengan baik-baik. Dan jangan mengungkit hal yang membuatnya sakit hati. Bagaimana pun ia wanita yang tak tahu mengendalikan emosinya sendiri”
“Tentu saja, terimakasih sarannya”
“Hm”
Setelah berbincang, Vintorin memutuskan kembali. Dan Evita mempersiapkan apa yang sudah direncanakan olehnya. Kali ini ia harus menyelesaikan urusan Ayahnya Vintorin. Dan ia akan menyelesaikan sisa-sisa masalahnya.
-
Keesokkan harinya...
Diruang tamu, seluruh keluarga berkumpul. Tak terkecuali dengan Bibi Kedua dan Suaminya. Suasana diruang tamu begitu berantakkan. Antara kehangatan bertabrakkan dengan suasana suram.
“Kakek, Aku akan membawa Evita dikediamanku”ucap Za membuka suasana.
“Za, apa kau yakin...Evita mungkin memperlukan seseorang untuk bersamanya”ucap Kakek Pertama dengan rasa khawatirnya. Karena bagaimana pun ia tak lama lagi akan memiliki seorang cicit. Jadi ia harus menjaga Istri cucunya dengan hati-hati.
“Kakek tenang saja, Intari dan Amelya akan ada disana”ucap Echan dengan ceria.
“Kalian sudah memutuskan semua ini, apa Menantu semua sudah tahu?”Kakek ketiga bertanya kepada Evita,Intari dan Amelya. Ketiganya mengangguk dengan tenang.
Helaan nafas berat keluar dari bibir Kakek Pertama, “Aku tak tahu apa yang kalian pikirkan. Tapi jagalah kesehatan kalian mengerti”ucap Kakek Pertama. Semua mengangguk mendengarkannya.
Keputusan tinggal dikediaman Za, diambil oleh Za sendiri. ia ingin menjaga Evita, lebih tepat diam-diam mengekang Evita agar tak ada yang menyentuhnya. Apa lagi dikediamannya jarang dikunjungi orang. Jadi ia yakin Evita akan aman disana.
Lalu keputusannya disetujui oleh Yoongi dan Echan yang merasa ingin mandiri juga. Meski masih menginap dikediaman Za. Mereka tak mungkin memisahkan Sahabat yang sudah melekat itu. namun mereka yakin suatu saat nanti pasti akan berpisah untuk mengikuti mereka. jadi setidaknya sahabat itu berkumpul sebelum berpisah kan?.
Keberangkatan pun dillakukan pada sore hari. Tiga mobil dibawa keluar dari kediaman Zhan. Tentu saja banyak sekali hal yang harus dilewati.
Seperti ketidak relaan mertua kepada menantunya. Lalu perhatian penuh kepada Evita dari Kakek-kakek yang tak sabar menantikan seorang cicit. Ini benar-benar melelahkan untuk tiga wanita yang bernafas lega didalam mobil.
Perjalanan mereka cukup melelahkan sampai-sampai ketiganya tidur dengan lelap dan bahkan tak sadar saat mereka diangkat oleh Suami mereka sendiri.
Dikediaman Za..
Suasana suram masih melekat disana. Yoongi dan Echan pun tak bisa berkata apa-apa melihat apa yang ada didepan mereka.
Melangkah masuk hingga keruang utama.terlihat segala pelayan menyambut kedatangan mereka.
“Anda sudah datang..Tuan..Za”ucap kepala Pelayan dengan suara yang tertahan. Karena melihat Za,Yoongi dan Echan mengendong wanita dengan begitu lembut.
Za tak memperdulikan sapaan kepala pelayan, ia melanjutkan langkahnya. Namun beberapa saat kemudian langkahnya berhenti.
“Siapkan dua kamar utama untuk mereka berdua”ucapnya dengan nada yang dingin. Pelayan pun bergegas untuk melakukan apa yang disuruh.
Za melangkah menaiki tangga, untuk mengantar istri tersayangnya dikamar miliknya.
Pelayan yang ada disana terdiam melihat hal yang tak pernah dipikirkan. Apa lagi Kepala Pelayan yang menahan emosi melihat orang yang dicintai sudah dimiliki oleh orang lain. dan orang itu adalah orang yang sama, yang memandang datar kepada dirinya.
__ADS_1