MANTIV

MANTIV
● Mantiv(117)


__ADS_3

[Vino Li dan Mavin Vintorin keduanya merupakan Ayah dan Anak]


Tulisan itu tak bisa dilupakan oleh Evita, Ia bahkan tak menduga akan seperti ini jadinya. Wajahnya seketika memandang datar.


“Apa bayangan tiga orang itu nyata, jadi selama ini Mavin Vintorin tak menyentuh ku?....Astaga banyak sekali yang terjadi dihidup ini”benak Evita dengan rasa sesak didadanya.


Evita bangun saat suara pintu kamar mandi terbuka, Ia menahan diri dan memilih untuk menyambut suaminya yang baru saja selesai mandi.


“Kenapa denganmu Sayang?”tanya Za menatap sang Istri yang terlihat sedih. Evita mengeleng “Tidak apa Za..Aku akan mandi”ucap Evita.


Namun Za yang sudah mengetahui watak sang Istri memilih untuk memeluknya. Za saat ini hanya mengunakan handuk untuk menutupi privasinya. Jadi Evita bisa merasakan langsung dada bidang suaminya.


“Kau tak akan mengatakan bahkan tak akan pernah memberitahu orang lain Evita, Apa yang Kau sembunyikan pasti baru saja menyakitimu”ucap Za memeluk Evita. Evita yang tak ingin menangis langsung meneteskan air matanya.


“Za...kenapa hidupku seperti ini, Apa karena Aku pernah membunuh seseorang, dan Mereka memberiku kutukan, atau karena Karma Ayah kandungku yang akhirnya jatuh kepadaku...Za ini sangat melelahkan”Evita berbicara sambil memeluk erat Za.


Mendengar tutur kata Evita membuat Za terdiam, ia mengusap kepala Evita lalu menuntun Evita untuk menatapnya dan tak lama ciuman pun dilakukan.


Evita yang mendapati Za menciumnya membelakkan mata. Meski ciuman ini hanya berdiam tak bergerak bahkan bermain. Evita bisa merasakan bahwa saat ini Za memberikan kekuatan kepadanya.


Ciuman terlepas dengan Za menatap Evita, lalu mengsejajarkan tingginya dan menyatukan dahinya.


“Dengar Evita, Perjalanan hidup memang tak seperti yang diharapkan, dan karma itu memang ada. tapi Evita, Jalan hidup akan berubah jika Kau menjalani dengan kebahagiaan disampingmu dan karma hidup bisa kau hadapi jika kau berani untuk melewatinya..apa lagi ada Diriku, Evita. Aku siap berada didepanmu dan akan bersamamu”ucap Za dengan hentakkan nafas yang sama.


Evita mendengar ungkapan itu tersenyum, ia sudah banyak membawa orang-orang dalam masalahnya, Sahabatnya dan sekarang Suaminya sendiri. ah rasanya Ia ingin mengakhiri hidupnya. Tapi Ia belum mendapatkan akhir dari ceritanya. Ia perlu lembaran baru untuk menulis kisah hidupnya.


Dan lembaran itu akan ia isi dengan kebahagiaan bersama keluarga yang didapat olehnya.


“Mn..Terimakasih Za, lindungilah diriku”ucap Evita memeluk suaminya. Za membalas pelukkan tersebut.


“Evita, apapun yang terjadi, meski Aku harus melanggar banyak hukum, Akan ku lakukan untukmu”benak Za bertekad.


-


Pagi yang seharusnya dihiasi dengan para gadis memasak, malah Amelya yang seorang diri menunggu dimeja makan. Meski ada Echan disampingnya.


Tak lama dua pasangan yang lain datang dengan keadaan yang masing-masing mengantuk.


“Kenapa telat banget bangun?”tanya Amelya. Ia bertujuan untuk menyindir Intari, tapi yang menangkap sindiriannya kedua Sahabatnya.


“Maaf, Aku mengantuk bahkan ingin kembali tidur”ucap Evita menarik kursi untuk Za.


Tak tinggal diam, Intari juga menjawab “Kalau Aku kebablasan bree..jadi maaf”


Amelya yang mendengarnya mendengus. Evita yang melihat masakkan didepannya menatap kearah Amelya. “Amelya, bukannya para pelayan ada disini ya..kenapa kau memasak?”tanya Evita.


Amelya sadar bahwa Pelayan disini banyak, dan Ia tak perlu memasak. “Ah maaf Evita, Aku sudah kebiasaan”jawab Amelya.


Amelya memang sudah kebiasaan memasak, karena diajarkan oleh Bibi, Ia menjadi biasa memasak bahkan bangun pagi. Mendengar jawaban tersebut Evita mengangguk. Mereka pun memulai makanan mereka.


Tanpa disadari para pelayan yang lewat sana-sini penasaran. Tentu saja penasaran, jarang boss mereka pulang bawa tiga pria. Apa lagi dilihat-lihat semua pria ini tampan.


“Ternyata Nyonya Evita sudah pulang, lihat rambutnya tak panjang lagi”


“Benar dulu Ia suka rambut panjang, apa yang terjadi?”


“Kau sudah lupa, Ia pernah datang kesini, bahkan membuat Nyonya Intari dan Amelya bertengkar dengannya..untung sekarang mereka baik-baik saja”


“Benar juga...lihat Mereka tampan kan, sangat cocok untuk Nyonya kita”


“Kau benar...pasti mereka sepasang kekasih”


“Kau ini bagaimana sih..lihat jari manis Nyonya kita”

__ADS_1


Pelayan yang merumpi itu langsung melihat jari manis seluruh Nyonya mereka dan masing-masing dari mereka menutup mulut.


“Akhirnya, Nyonya kita menikah”ucap mereka bersama meski hanya mereka yang mendengar. Setelah asik merumpi, mereka kembali mengerjakan tugas mereka.


-


Semua duduk diruang tamu sambil berbincang-bincang masalah kejadian tadi malam.


“Bagaimana Evita, Apa kau sudah membunuhnya?”Intari sebenarnya ingin sekali melihat Evita membunuh seseorang. Karena jarang-jarang melihatnya. Meski kadang Intari merasakan hawa pembunuh Evita begitu padat sampai Ia sendiri takut untuk mendekat.


Tak hanya dirinya, Amelya juga penasaran bagaimana ekspresi Evita yang sesungguhnya. Ia tak pernah melihat Evita marah sampai niat membunuhnya begitu memuncak. Namun tetap saja meski penasaran Amelya juga sebenarnya takut. Takut terkena sasaran.


“Ya...mungkin seharusnya sudah diberitakan”ucap Evita yang melihat layar tabletnya. Ia mencari berita tentang Yelina namun yang didapati hanya keluarga Merlina.


“Kau menemukan beritanya?”tanya Amelya. Evita mengeleng “Sepertinya ada kenalan Yelina, hingga berita tentangnya pun disembunyikan...mungkin orang ini yang membawa Yelina untuk bisa bermain”


“Aneh tidak menurutmu Evita, Yelina dan Merlina berteman...Merlina yang mengijinkan Yelina untuk bergerak bebas, padahal Yelina itu adalah seorang maniak judi dan keberadaannya selalu dicari, dan dengan izin Merlina, Yelina bisa bebas tanpa hambatan”Intari menyampaikan apa yang ada dipikirannya.


Evita mengangguk “Memang benar, namun ada satu hal lagi, dibalik Yelina atau mungkin dibelakang Merlina. Meski Merlina mengijinkan Yelina bebas, ada seseorang yang membantu Yelina agar usahanya berkembang. Menurutmu bagaimana bisa dunia perjudiannya menyebar luar?”


Amelya dan Intari terdiam mendengar tutur Evita. Evita melanjutkan “Menurutku, perusahaan yang menjadi tempat persembunyiannya itulah yang melindungi dirinya”


Za,Yoongi dan Echan yang mendengar hal tersebut terdiam. Kenapa, karena mereka bertiga tahu bahwa perusahaan itu tak lain adalah milik Keluarga Nurganto. Dan hal ini jika diketahui oleh Evita, mungkin akan membuat Evita tertarik untuk mengali informasi keluarga Nurganto.


“Nyonya!!!”Sebastian datang dengan wajah yang kelelahan akibat berlatih dan berlari.


Evita melihat seketarisnya yang terdesak itu langsung mengangguk. “Ada apa?”tanya Evita.


Sebastian menunjukkan hologram yang disambungkan dari jam tangannya. Terlihat Miss Lila yang menatap kearah Evita.


《Dengar Evita》


Evita langsung menatap kearah Miss Lila yang berbicara kepadanya. Hologram ini diprogram layaknya sebuah telpon. Meski ada kekurangan dibaliknya. Namun ini mampu digunakan saat keadaan darurat.


《Evita, kembali kekota Q secepatnya, seseorang merentas sistem kita dan.....》


Hologram yang berwarna biru itu seketika berubah menjadi warna hitam dan menampilkan sosok lain.


Ia keluar bagaikan hantu dan langsung menyodorkan diri kearah Evita. Evita yang duduk tenang seketika memundurkan tubuhnya.


“KAU!!!”Pekik Evita bersamaan dengan kedua sahabatnya.


Orang tersebut tersenyum, Ia kemudian menegakkan diri.


《Senang bertemu denganmu, Evita..hm atau lebih tepatnya Kim Hyun Jae》


Mata Evita membulat, Ia menatap kearah wanita didepannya ini. Ingatannya yang buram akhirnya jelas saat ia berada disebuah kapar persiar (Chapter 82) Wanita yang disebut maniak eksperimen itu adalah orang didepannya.


Rambut hitam dengan potongan menarik khas anak gadis umumnya. Apa lagi wajahnya yang putih ketahuan sekali bahwa Ia keturunan campuran. Dan lagi tindik-tindik disamping telinganya terlihat begitu liar wanita didepan Evita.


Evita langsung dilindungi oleh Intari dan Amelya. Meski didepan mereka hanya hologram, tapi tak ada yang tahu apa yang terjadi jika direntas seperti ini.


Bukan hanya Intari dan Amelya. Semua juga siaga bahkan pelayan sekalipun.


《Sepertinya semua melindungimu ya》


Ucap Wanita tersebut. Ia kemudian tersenyum dan mengulurkan tangannya hingga tersentuhlah didagu Evita. dan secepat itu juga Za mengangkat tubuh Evita lalu mengendongnya. Dan hal ini membuat Wanita tersebut terkekeh.


《Kau memang suami yang baik, sudahlah karena Aku hanya sebentar saja..Aku akan mengatakan berberapa hal》


Wanita itu memperbaiki dirinya, lalu kemudian Ia tersenyum dan mulai melanjutkan ucapannya.


《Evita, Aku menunggu kedatanganmu, kematian orang tuamu disebabkan olehku, jika kau ingin kematianku, Aku menunggumu..Aku sudah merentas sistem perusahaan detektif utama milik Miss Lilamu itu, tenang saja hanya pesan disana tak akan ada kerusakan. Jadi Aku akan menunggumu ketika kau sudah melihat pesannya, kalau begitu sampai jumpa Kim Hyun Jae》

__ADS_1


Hologram yang berwarna hitam itu langsung berubah menjadi warna biru dan terlihatlah Miss lila yang tampak panik.


《Apa yang terjadi, Kenapa Kami kehilangan kalian?》


Miss lila bertanya dengan wajah yang begitu paniknya. Evita langsung menjawab “Miss, kami akan kekota Q sekarang, tunggu kedatangan kami”ucap Evita.


Miss lila yang mengerti langsung mengangguk, hologram itu pun padam seketika.


“Nyonya, Apa kita sekarang langsung kesana?”tanya Sebastian.


Evita menangguk. “Siapkan semuanya, kita akan kekota Q” semua langsung mengangguk dan bergegas untuk bersiap, tak terkecuali Intari dan Amelya.


Para Pelayan yang ada langsung mendapatkan perintah oleh Evita. “Diamlah disini, jika seseorang mencariku, katakan kepadanya bahwa Aku ada urusan”ucap Evita. Para Pelayan menganguk dan langsung bergegas pergi.


Evita tak sembarangan mengambil pelayan, meski semua pilihan Amelya, Pelayan ini merupakan orang yang berkemampuan. Mereka bisa bela diri bahkan bisa membunuh orang sekali pun. Maka tak heran kenapa kediaman gagak terlihat aman.


Evita yang ingin bersiap dikagetkan dengan dering ponselnya. Ia baru saja menyalakan ponsel yang sebenarnya. Ponsel ia matikan karena keluarga Alex akan mudah menemukannya, jadi Ia memutuskan untuk mematikannya dan mengunakan ponsel yang satunya. Namun ponsel yang satunya ini hanya orang-orang tertentu yang mengetahui nomornya. Jadi wajar jika seseorang tak bisa menghubunginya.


Terutama seorang pria yang ingin Evita tanyai tentangnya. Siapa lagi kalau bukan Mavin Vintorin.


Evita mengangkat ponsel yang berdering itu, Ia mengangkat panggilan tersebut.


“Evita..akhirnya Aku bisa menghubungi mu”


“Hm, ada apa Mavin?”tanya Evita dengan wajah yang tenang. Ia sebenarnya ingin sekali berbicara langsung dengan Mavin, tapi takdir berkata lain. mungkin Dirinya dan Mavin akan bertemu dengan suasana yang berbeda.


“Aku merindukanmu Evita, Kau ada waktu? Aku ingin sekali memelukmu”


Mendengar suara diseberang sana, Evita terdiam. Ia sudah mengenal Mavin, jadi tak mungkin saat ini Mavin berbohong.


“Aku yakin Kau sudah tahu tentangku..atau mungkin Kau sudah tahu segalanya”Evita mengarahkan pembicaraan tentang batasan diantara mereka. Evita sudah menikah dan tak sewajarnya asal memeluk seseorang.


Dan diseberang sana berhasil bungkam ketika mendengar ucapan Evita.


“Apa Za sudah menjadi kekasihmu?”


Evita mendengar pertanyaan itu langsung menjawab “Lebih dari kata kekasih, Ia sekarang adalah Suamiku”


Dan sekali lagi diseberang sana bungkam dengan jawabannya. Evita yang tahu bahwa saat ini Mavin pasti sedang menenangkan dirinya. Ia pun melanjutkan ucapannya “Mavin, terimakasih..Aku mungkin sekarang tak bisa bertemu denganmu, tapi mungkin diwaktu yang lain, Aku akan berbicara dan berterimakasih dengan benar”ucap Evita dengan tenangnya. Ia melihat Za sudah menunggunya diambang pintu.


“Evita...untuk masalah itu tak perlu kau ucapkan terimakasih, justru akulah..namun ada yang ingin ku tanyakan, Apa Kau tahu dimana Liyana?”


Evita yang tersenyum menatap kearah Za kini langsung menatap datar ketika mendengar pertanyaan Mavin.


“Sepertinya Ia sudah menyadari atau mungkin bertemu dengan Liyana”Benak Evita. Ia kemudian menjawab “Liyana ya...saat ini Ia sibuk berkerja, dan kemungkinan tak ada dikota ini..Mavin jika Kau ingin mencarinya berusahalah, karena Aku saja tak tahu keberadaannya itu”


“Baiklah, terimakasih Evita”


Panggilan itu pun terselesaikan dengan cepat, Evita menatap layar ponselnya dan ada rasa aneh dihatinya. “Maaf Mavin, Liyana pasti akan marah jika kau datang tanpa mencarinya. Kau harus berjuang dan entah kenapa Hatiku merasa kelegaan namun sedih juga, apa mungkin karena sudah bersamamu sangat lama ada kenangan dibaliknya”benak Evita. Ia menatap kearah Za yang menunggunya dengan tenang.


“Yeah tak tahu apa perasaan itu, bagaimana pun Aku sudah mendapatkan orang yang ku cintai, Mavin berjuanglah dan dapatkan orang yang baru hadir didalam hidupmu”benak Evita yang melangkah menuju kearah Za. Mereka pun berangkat dengan empat mobil yang ada.


-


Mavin Vintorin yang baru saja bisa menghubungi Evita, merasa senang namun setelah mendengar ucapan Evita langsung membuat hatinya menjadi sedih.


Mavin yang berada didalam mobil karena pergi kesana sini untuk mencari keberadaan Evita. dan setelah tahu Evita baik-baik saja apa lagi sudah ada orang yang melindunginya.


Hati yang senang itu kini gusar dan ingin berteriak akibat sayatan yang entah datang darimana. Mavin memejamkan matanya dan genangan air terjun membasahi pipinya. Meski hanya sekali namun itu berhasil membuat seorang Mafia berhati dingin menangis hanya karena wanita.


Mavin membenamkan rasa sakitnya dan tersenyum untuk menguatkan hatinya.


“Evita..Evita, kenapa sakit sekali..”guman Mavin. Ia kembali mengingat ucapan Evita bahwa wanita yang dicarinya sulit ditemukan.

__ADS_1


“Evita, Apa kau juga telah mengetahuinya?”benak Mavin. Ia kemudian keluar dari mobil menuju mansion miliknya dan bergegas untuk kembali mencari keberadaan Liyana, wanita yang mengendong seorang putra, bisa dibilang wanita yang ditiduri olehnya.


__ADS_2