MANTIV

MANTIV
● Mantiv(124)


__ADS_3

Dikediaman keluarga besar Zhan.


Bawahan keluarga besar Zhan datang dengan tergesa-gesa. Mereka menghadap kearah Tuan besar yang tengah menikmati secangkir tehnya.


“Tuan Besar , Keluarga Alex menemukkan lokasi Evita, dan Kami juga sudah menemukan lokasi Tuan Muda Za”lapor salah satu dari mereka.


Kakek Zhan, atau Tuan besar pertama langsung mengangguk mendengarnya. Ia sudah mendapatkan Informasi ini lebih dahulu karena Kepala keluarga besar Alex menghubunginya.


“Siapkan mobil, Kita akan kesana”ucap kakek Zhan yang langsung dianggukkan oleh yang lainnya.


“Ada apa Kakak?”tanya sang Adik yang menatap Kakak pertamanya.


“Za sudah ditemukan, sepertinya ia melakukan sesuatu yang melewati batasannya”jawab sang Kakak yang melangkah menyiapkan diri.


3 keluarga Utama datang dimedan pertempuran. Banyak korban yang terlihat namun semua itu tak menganggu yang tengah lewat.


Sampai akhirnya mereka melihat yang tak ingin dilihat. Cucu pertama dengan gelar yang mengaggumkan mengendong seorang wanita yang lemah didalam genggamannya.


Para Kakek keluarga Zhan terdiam ditempat. Apa lagi melihat dua cucu yang lain mengenggam tangan seorang wanita.


Semua butuh penjelasan. Saat ini Yoongi dan Echan membawa kakek mereka kerumah sakit. Dimana ada Kakak utama mereka yang tengah terdiam.


Tak ada niat marah ketika melihat seorang Pria berpakaian darah meratapi nasibnya. Wajahnya pun tak terlihat bahagia melainkan wajah yang penuh kesalahan begitu dalam.


“Kakak Za, bagaimana dengan Evita?”tanya Intari menatap kearah Za yang duduk dengan kepala menunduk.


Za menjawab dengan gelengan “Saat ini kita hanya menunggu saja”ucapnya.


Amelya dan Intari terduduk lemas. Mereka tak bisa membayangkan jika Evita pergi meninggalkan mereka. apa yang akan mereka lakukan tanpa Evita.


Para Kakek yang melihatnya terdiam. Mereka mendekati Za yang kini menganggkat kepalanya.


“Kakek, Aku tahu Kalian memperlukan penjelasan, tapi saat ini...Aku mohon untuk membiarkanku disini, Aku ingin bersamanya”ucap Za dengan wajah yang penuh kesedihan.


“Baiklah, kakek akan menunggunya, datanglah kalian bertiga”ucap kakek pertama mereka. setelahnya mereka pergi tanpa meminta penjelasan lebih.


Intari dan Amelya yang melihatnya merasa yakin, bahwa mereka pasti tak direstui. Keduanya memandang suami mereka, dan melihat wajah yang penuh kekhawatiran itu.


Krek!!


“Zhan”panggil sang Paman yang keluar dengan pakaian sudah bercampur darah. Za yang melihatnya merasa sakit.


“Kami kekurangan darah, tak ada yang cocok dengan darahnya ini,karena darahnya ini sangat langka..”ucap sang Paman yang membuat Za langsung terdiam.


“Kami punya stok darahnya, apa darahnya golong Golden Blood?”tanya Maya yang sudah menunggu di dekat Za.


Chen Rey mengangguk menjawab pertanyaan Maya. “Benar, golongan darah ini sangat langka..bahkan dikota kita sekalipun...kami memperlukannya, karena kondisinya lebih parah dari sebelumnya”ucap Paman Za.


Maya mengangguk “Darahnya akan tiba..”ucapannya belum selesai, karena kedatangan Siska dan Laura. Dua wanita cantik itu merupakan saudara sesumpah Maya.


Mereka membawa sebuah koper yang langsung diserahkan kesuster.


“Ada 10 kantong darah yang sudah disediakan”ucap Laura dan dianggukkan oleh Siska.


Dokter Chen Rey mengangguk “Baiklah, semuanya tunggu disini”ucapnya yang kemudian masuk kembali keruang operasi.


Waktu yang berjalan membuat kegelisahan, semua tampak cemas karena takut akan satu hal. Apakah berhasil?,apakah selamat?..itu yang ditakutkan dan dicemaskan.


Apa lagi bagi Yoongi dan Echan. Pikiran mereka kalut karena setelah ini yang akan dihadapi adalah kakek mereka. mereka memikirkan bagaimana caranya agar Istri mereka tak kena hukuman. Namun memikirkannya membuat mereka tambah takut.


Yoongi dan Echan yang berdiri didekat Istri. Keduanya memandang kearah sang istri yang terdiam tak bersuara.


Ting!!!


“Zhan...Ikut paman sebentar, Kau suaminya kan?”tanya Paman Chen Rey yang langsung dianggukkan oleh Za.


Za pergi bersama Chen Rey memasuki ruangan khusus dokter, meninggalkan orang-orang yang menatap kearahnya.


-


“Maya, Kami tak akan bisa lama...jadi maaf Kami harus kembali”ucap Siska kepada Sahabatnya.


“Tak apa, terimakasih sudah mengantarnya, Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa, ku pikir Ia tak akan membunuh dirinya sendiri”ucap Maya dengan perasaan cemasnya.


“Sudahlah, Kita percayakan ini kepada Evita, Ia pasti akan bisa mengatasinya tanpa rasa takut, lagi pula Evita itu kuat, sama sepertimu”ucap Laura mengusap pungung Maya. Maya tersenyum melihat kedua saudara sesumpahnya. Ia mengangguk dengan menenangkan diri dihatinya.


-


Yoongi menatap Intari yang tengah gusar karena kecemasan. Ia memberanikan diri untuk mendekati istrinya dan menatap wajah sang Istri yang kini memandangnya juga.


“Kenapa?”tanya Intari. Keduanya yang saling memandang mengetahui apa yang tersirat dibalik tatapan itu.

__ADS_1


Yoongi tahu bahwa saat ini pikiran Intari juga mengarah kepada Keluarganya. Dan jelas sekali Intari takut akan perpisahannya. Yoongi mengangkat tubuhnya dan memeluk Intari dengan dadakan yang membuat Intari kaget melihatnya.


“Apa yang kau lakukan Yoongi?”bisik Intari yang hanya didiamkan oleh Yoongi. Intari yang paham hanya bisa membiarkan apa yang dilakukan oleh Yoongi.


Berbeda dengan Intari, Amelya mendapati tangan gemetar Echan yang menundukkan kepala diantara pahanya. Amelya yang melihatnya hanya bisa berdiam diri.


Semua yang ada dilanda pemikiran yang benar-benar kacau. Serba salah dan bingung harus seperti apa.


-


Didalam ruangan dokter..


“Paman, kenapa dengan Evita?”tanya Za dengan wajah yang masih cemas.


“Paman harus memeriksa lebih lagi Zhan, ditubuhnya sangat benar-benar rapuh...serapuh dandelion...”ucap Pamannya dengan wajah yang serius.


“Dengar Zhan, Istri pun punya dua pilihan, dan kau yang menentukan pilihan itu”


Za yang mendengarnya menatap dengan perasaan cemas. Ia memandang Pamannya yang menepuk pundaknya.


“Pilihanmu dua hal, pertahankan kehidupan yang ada diperut Istrimu dengan resiko kematian saat melahirkan atau gugurkan kehidupan dengan resiko Istrimu tak bisa lagi mengandung”ucap Pamannya dengan wajah serius.


Za yang mendengarnya terdiam, ia menatap kearah Pamannya. “Pa..paman, maksud Paman..Evita..Evita tengah mengandung?”tanya Za dengan wajah penuh keterkejutan.


“Kau sudah menikahinya kan?...wajar saja Ia hamil, jika kau menidurinya, apa lagi usia kandungannya baru 2 minggu...”ucap Pamannya dengan serius.


Za memandang pamannya, “Paman,pertahankan, pertahankan anak itu...itu merupakan hadiah terbesar dari Evita..aku tak mungkin mengugurkannya”ucap Za.


Pamannya langsung menatap dengan pandangan mengerut “Kau harus sadar, jika istrimu melahirkannya, nyawa yang akan jadi taruhan”ucap Pamannya.


“Evita akan menyerahkan nyawanya, Paman tenang saja...jika Aku memilih yang kedua, Aku bukan hanya kehilangan Anakku, tapi Evita yang tak akan memiliki kehidupan apapun, Jadi pertahankan dan selamatkan Anakku”ucap Za.


Paman yang mendengarnya langsung terdiam. “Beginilah Cinta, hal merepotkan seperti ini mampu mengalahkan ego seseorang...kalian berdua sama-sama beruntung..semoga tuhan melindungi kalian”benak Chen Rey yang mengangguk menjawab ucapan keponakkan.


“Baiklah, Istrimu pasti senang mendengar jawabanmu, Paman akan mengurusnya”ucap Chen Rey yang melangkah keluar ruangan. Meninggalkan Za yang tadi bahagia kini menunjukkan wajah sedihnya.


“Anakku, jaga Ibumu ya..Ayah akan melindungi kalian”benak Za keluar dari ruang pamannya.


-


3 jam berlalu..


“Kak Za, mandilah..bajumu masih berlumur darah”ucap Echan yang menghampiri Kakaknya.


Za tersenyum mendengarnya “Tak apa Echan, aku akan mandi setelah mendengar kabar Pamanku”ucap Za.


Echan yang mendengarnya mengangguk. memang tak ada yang bisa tenang. Bahkan berniat pulang pun harus berpikir dua kali karena tak ingin meninggalkan tempat.


Saat waktu berjalan dengan cepat begitu juga dengan ruang UGD yang dimana lampunya padam. Semua orang langsung melihat kearah pintu yang terlihat Paman Za keluar dari sana.


“Dia sudah selamat..hanya..Kita berdoa saja, semoga Ia cepat sadar”ucap Paman Chen Rey yang melangkah pergi meninggalkan orang yang dekat dengan Evita.


“Kalian pulanglah dulu Indah dan Amelya, bawa pakaian Evita juga...Aku akan menjaga disini”ucap Za yang langsung digelengkan oleh Intari dan Amelya.


“Kami akan pulang dan menjaga Evita bergantian...”usul Intari yang langsung dianggukkan oleh Amelya “Benar, lagi pula kita tak tenang jika dirumah..jadi kami akan mengambil pakaian dan akan membantu berjaga disini”


Za yang mendengarnya mengangguk “Baiklah. Yoongi dan Echan, antar mereka dan kembalilah kesini”


Yoongi dan Echan mengangguk mendengarnya, mereka berdua pergi meninggalkan Za yang menatap ruang rawat Istrinya.


Pintu kamar terbuka dengan memperlihatkan wanita cantik tengah tertidur dengan tenangnya.


Ditutupnya pintu kamar dan melangkah menuju kearah sang istri yang tertidur. Duduk disampingnya dan memandang wajah seorang wanita yang pucat tanpa ada senyum disana.


Za melihatnya merasa tersayat-sayat. Ia mengengam tangan Evita yang terdapat infus disana.


“Sayang...kapan Kau bangun hm...jangan tidur mulu...kau tak sedih denganku yang menunggumu?”


“Dan lagi, lihat wajahmu pucat seperti itu, bangunlah..kau mendengarku kan?”


“Aku yakin kau mendengarnya, jadi jangan kelamaan tidur ya...kasihan diriku dan kehidupan yang ada didalam dirimu, kami semua menunggumu..sadarlah dan kembali tersenyum...”


“Apa kau menyuruhku untuk menunggumu, Aku sudah menunggu dirimu sayang, dan sekarang jangan membuatku menunggu lagi ya...Aku tak sanggup....Karena Aku tak ingin kehilanganmu”


Air mata terjatuh dipipinya. Dengan kepala yang lemah, dijatuhkan kegenggamannya. Wanita yang tidur dengan wajah pucat itu tak mungkin bisa mendengar ucapannya.


-


Derka dan Mavin Vintorin terdiam didepan kamar rawat. Mendengar tuturkata Za yang begitu menyayat hati mereka.


Kedatangan mereka karena baru bisa menjenguk Evita. namun yang dijumpai oleh mereka adalah kesetiaan seorang Pria yang terlihat tegar ternyata rapuh juga didalamnya.

__ADS_1


Derka dan Mavin melangkah pergi meninggalkan ruangan yang disambut oleh Sebastian.


“Kalian?”Sebastian menatap kearah dua pria yang dikenali olehnya.


Mavin dan Derka yang melihatnya langsung mengangguk. “Sepertinya saat ini Evita tengah beristirahat,jadi kami tak berani menjenguknya..kami akan kesini nanti..Sebastian kabarilah kami”ucap Derka yang dianggukkan oleh Mavin.


Sebastian yang mendengarnya hanya bisa mengangguk. dua pria itu pergi meninggalkan dirinya dengan suasana yang membuat Sebastian mengerti bahwa mereka semua sedang disadarkan bahwa posisi mereka tak lah sama dengan Zhan Za Chen.


Pria yang sudah merebut hati Evita. bahkan sudah memberikan kebahagiaan yang tak mungkin bisa diberikan oleh mereka.


Sebastian melangkah menuju ruang rawat yang belum dipindahkan oleh Za. Ia membuka pintu kamar tersebut setelah mendapatkan izin.


“Tuan Za..Nyonya sudah bisa dipindahkan keruang rawat yang anda inginkan”ucap Sebastian.


Za yang mendengarnya mengangguk, Ia kemudian kembali fokus menatap Istrinya.


Sebastian melangkah pergi membiarkan dua orang itu menghabiskan waktu mereka. karena tak ada yang mengetahui besok akan menjadi seperti apa.


-


Derka menatap Ravel yang memandang serius kearahnya. Ravel menghela nafas lalu bertanya “Apa Kak Moa mu itu adalah pengusaha dari keluarga Kim?”tanya Ravel.


“Iya...Ia merupakan seorang pengusaha..bukan hanya Keluarga Kim, tapi juga dari keluarga Alex”jelas Derka dengan wajah heran.


“Kenapa Ravel, apa selama ini Kau tak mengetahuinya, Evita juga seorang Detektif, Detetif dengan posisi teratas”jelas Derka lagi.


Ravel yang mendengarnya terdiam. Ia memutar pikirannya dengan baik. Dan kemudian kembali bertanya, “Lalu Indah dan Amelya?”


“Dua orang itu juga pengusaha, mereka memiliki perusahaan di kota Q, dan perusahaan mereka berkembang. Tak ada yang tahu akan hal ini..tapi Kau orang yang berani bertanya Ravel, kenapa?”tanya Derka lagi dengan mengerutkan alisnya.


“Aku mengira mereka hanya orang rendahan yang memanfaatkan dirimu” jawaban jujur diberikan oleh Ravel. Derka yang mendengarnya mengeleng.


“Jangan memandang seseorang dari pakaian dan tindakkan mereka, kadang kita tak tahu apa yang ada dibalik hal tersebut..Kak Moa, Kak Indah dan Kak Amelya...mereka bisa dibilang atasanmu, karena dari perusahaan agensi, mereka pemegang sahamnya”ucap Derka yang melangkah melewati Ravel.


Ravel terdiam, sikap sombong dan ingin menjatuhkan seseorang menghilang darinya. Tak menduga diatas langit masih ada langit, dan diatas dirinya masih ada orang yang lebih diatasnya. Yang pasti Ia jangan terlalu membanggakan diri. Karena ia tak tahu didepannya ada penghalang yang tak bisa dibanggakan.


“Aku salah”benak Ravel yang kemudian menyusul Derka. Mereka akan kembali ke hotel dan melanjutkan kegiatan yang akan tiba.


-


Mavin Vintorin gusar dihotel yang dipesan olehnya. Masalah Anak kecil yang Ia yakini pasti anaknya, lalu masalah Ayahnya yang ternyata dalang kematian orang yang dicintainya.


Mavin Vintorin benar-benar merasa bingung. Ia bingung memulai dari mana untuk menyelesaikan masalahnya. Sudah mendapati anak sekarang orang tuanya. Serba salah menjadi di dirinya.


Kring!!!


Mata yang tadi memandang gusar kini menatap kearah ponsel pintar yang dilayarnya terlihat tulisan bernama Ayah.


Mavin menganggkatnya “Ada apa?”ucapnya setelah sambungan itu diaktifkan.


“Apa kau tak ingin bertemu Ibumu?”tanya yang diseberang sana.


“Untuk apa, Aku tak akan menemuinya, dan lagi pula Ayah, aku menantikan Evita membunuh kalian”


“Percaya diri sekali anakku ini, baiklah...Kalau saksikan saja, siapa yang akan menyusul malaikat maut nanti”


“Aku tak akan menjadi sepertimu, kenapa Kau melakukan itu semua”


“Untuk Ibumu, Aku mencintainya....tak ada salahnya bukan?”


“Tapi tetap saja itu salah..kalian membuat seorang menderita lebih dalam”


“Lalu apa Kau pikir Ibumu tak menderita?”


“Itu semua salahmu, Kau memainkan wanita dan itu balasannya..Ayah Wanita yang beberapa tahun lalu juga Kau jual lalu Kau bunuh begitu saja...Itu semua tetap salahmu kenapa sampai Wanita menderita seperti itu”


Mavin Vintorin mematikan ponselnya. Ia menghempaskan ponsel tersebut dan menatap kearah lain dengan wajah kesalnya.


“Kenapa Aku mendapatkan Ayah sepertimu sih...agh!!...sudahlah Lebih baik Aku mencari Liyana, agar Aku tak dibenci oleh mereka”


Mavin Vintorin mengambil jas miliknya dan melangkah keluar dari hotel menuju ke lokasi detektif yang sesungguhnya. Karena disanalah satu-satunya tempat yang harus dikunjunginya.


-


Nabila duduk diruang tunggu. Ia tak kemana-mana hanya berdiam diri dengan kabar yang didengar olehnya.


Hatinya sedih mendalam ketika tahu Evita mengalami kritis tapi untungnya bisa selamat. Telpon berdering berkali-kali untuknya dan itu tak menyadarkan dirinya sama sekali. Sampai...


“Apa kau hanya akan termenung disini, Nyonya Evita sudah selamat hanya menunggu kesadarannya”ucap Raja duduk disamping Nabila.


Nabila yang termenung itu mengangkat wajahnya dan memandang kearah Pria yang berbicara kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2