
Evita menatap kearah Feliya dan Arta Sintra yang kini tengah duduk terikat dikursi. Pria yang pakaian hitam tengah menunggu perintah Evita. Karena saat ini mereka berada diruangan hukuman yang terletak dibawah mansion Evita sendiri. tempatnya Mansion Keluarga Kim.
“Apa kalian telah sadar?”tanya Evita melihat kearah dua orang yang kini mengerjab-ngerjabkan mata mereka. melihat sekeliling, Feliya yang bereaksi lebih dahulu.
“APA YANG KAU LAKUKAN?....BERANINYA KAU MENGIKAT KU”Feliya berteriak sambil memberontak yang membuatnya jatuh dengan kursi. Seperti menyembah, Evita tak menunjukkan reaksi apapun dengan teriakkannya.
“Gadis Malang, berapa uang yang dikeluarkan tuan Arta Sintra untukmu, hingga kau berani berubah menjadi Salma?”tanya Evita dengan nada yang mengejek, membuat Arta Sintra mengerutkan alis mendengarnya.
“Sudahlah itu tak penting, kali ini aku tak basa basi, aku hanya ingin mengetahui, siapa yang menyuruh kalian?...itu saja”tanya Evita yang kini duduk didepan mereka, dengan kursi yang lembut dan sebatang rokok yang dihisap oleh Evita tanpa basa basi.
Membuat Arta dan Feliya menatap heran pada Evita. Yang mereka tahu, Evita tak memiliki kemampuan apapun, maksudnya tak bisa bela diri atau bahkan berani merokok. Ini semua diluar dugaan mereka.
“ternyata rumor gadis yang sulit didekati adalah seorang gadis perokok”ucap Arta Sintra dengan nada mengejeknya, membalas apa yang diucapkan oleh Evita. Evita tak menghiraukannya, tapi menjawab ucapan itu.
“Kau hanya tahu rumor tapi tak tahu siapa orang yang dimaksud”perkataan yang tepat, karena saat ini belum ada yang tahu, Evita itu seperti apa. Yang mereka tahu hanya orang tersebut dingin, dan jika bertemu diharapkan menjauh. Nyatanya Evita masih bisa berbaur tanpa diketahui orang-orang.
Mendengar itu membuat Sintra langsung terdiam. Tak berani mengeluarkan perkataan lagi. sia-sia menurutnya jika berdebat dengan wanita yang masih santai mengisap rokoknya.
“Sudahlah, dari pada basa-basi lebih baik jelaskan kepadaku, siapa yang memerintahkan kalian?”tanya Evita.
Feliya yang kini masih tersujud dengan kursi yang sangkut padanya. Mengangkat bicara “Kau ini...kenapa tidak cari tahu sendiri, begini ya Evita...aku yang bebas dari kurungan gelap dan mendapat kehidupan sebagai Salma Malah hancur gara-gara dirimu”
Feliya mengeluhkan tentang ketenangan yang didapat olehnya. Evita tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh Feliya. “Benarkah?...terus apa katamu yang senang bertemu denganku, bukannya kau sangat senang tadi”Evita tertawa lepas setelah mengatakannya. Membuat para pria berpakaian hitam terdiam dengan nafas yang tak bisa terhembus normal.
Merasakan hal dejavu seperti ini, membuat Arta Sintra menatap kearah Evita yang kini mematikan rokoknya. “Aku sudah bosan”ucap Evita yang melangkah mendekat dan menendang Feliya hingga terhempas kedinding.
“Tahukah dirimu, kenapa aku tak ikut bermain tadi”Evita mulai melangkah lagi, dan kembali menendang Feliya hingga Feliya merasa nyawanya terancam. Ia langsung menatap tajam kearah Evita yang kini memandang rendah padanya.
“Sudahlah, kau membenciku, lalu aku harus senang mendapat kebencian darimu?”tanya Evita lagi. dan tendangan lagi-lagi melayang.
“Justru aku yang seharusnya membenci kalian, bahkan kalau bisa AKU SUDAH MENGELUARKAN MATA MU ITU”lagi-lagi tendangan dirasakan oleh Feliya.
Dua orang itu pun menyadari bahwa Evita ini memiliki kepribadian ganda. Disatu sisi akan terlihat tenang dan disisi lain akan terlihat mengerikan. Mereka menyadari hal ini saat melihat para Pria yang tak lain adalah bodyguard Evita langsung gemetar melihat tingkah bos mereka. ingin menegur tapi tak ada yang berani datang.
Feliya merasa sakit disekitar tubuhnya dan mulai merasa darah mengalir disekitar kepalanya. “Apa Wanita ini gila?”guman Feliya. Ia menatap Evita yang kini mendekat dengan wajah yang menghitam.
Melihat hal ini Feliya memilih untuk menutup matanya. Dan siap-siap menahan sakit yang datang, tapi bukan rasa sakit yang diterima melainkan ia mendengar suara terhempas.
Evita menendang Arta Sintra yang kini melepaskan diri dari tali kursi. Ia menatap Evita dengan tatapan marah.
“Apa yang anda marahkan Nona Evita?”tanya Sintra yang menahan tendangan Evita. Feliya yang melihatnya terdiam. Sintra pasti melepaskan diri saat ada kesempatan, itu yang dipikirkan oleh Feliya saat melihat kejadian didepan mata.
“Apa?..kalian menanyakannya.....Aku telah lama bermain-main dengan kalian, dan belum menemukan siapa pembunuh orang tuaku, dan kalian tanya apa yang aku marahkan”Evita tak bisa lagi membendung kata-kata dibenaknya, ia benar-benar telah lelah bermain-main.
Dengan cepat Evita merubah posisi yang tadi menendang kini memutar tubuhnya dan mengarahkan tinjuan kewajah Sintra. Tentu saja kaget dengan kejadian yang membuat Sintra tak bisa menghindar hingga ia terkena dan langsung terpental lagi kebelakang. Dan ditahan oleh Sebastian yang baru tiba.
Sebastian melempar Sintra kesamping dan berlari mendekati Evita yang kini melangkah kearah Feliya.
“Cukup!!!”Sebastian kini memeluk Evita dari belakang, melihat hal ini semua orang terdiam. Tak ada yang tahu apa yang terjadi, yang pasti Sebastian sebisa mungkin menahan Evita yang lepas kendali karena amarah.
Feliya dan Sintra langsung ditahan oleh Bodyguard yang ada. Mereka dibawa keruangan lain. karena saat ini Sebastian yang akan menghadapi kemarahan Evita.
__ADS_1
Evita tak berbicara, dalam pelukan Sebastian, ia mulai menyerang dengan tangan kanannya. Menangkap kepala Sebastian dan langsung mengerahkan kekuatannya hingga Sebastian terhempas kedepan.
Para bodyguard yang ada juga ikut menenangkan. Mereka tahu bahwa ini akan terjadi, jika Evita terlalu lelah bermain. Meski tahu mereka tak akan bisa menenangkan Evita, setidaknya mereka bisa memberikan pelampiasan Evita kepada Mereka sendiri hingga boss mereka tenang.
Evita tentu saja tak tinggal diam ketika para bodyguard mulai mendekatinya. Serangan lebih dahulu dikeluarkan olehnya dan dengan cepat membuat para bodyguard mundur. Sebastian yang terhempas langsung kembali berdiri dan kemudian mendekati Evita.
Tanpa basa basi lagi, Ia memeluk Evita. Hingga orang yang dipeluk terdiam. Terkunci hingga tak bisa bergerak. Amarah yang terpendam akan semengerikan jika keluar. Dan saat ini mungkin masih 20 persen dari amarah Evita. Entahlah..dari setelah kejadian yang lalu, Evita selalu seperti ini. Ada hal aneh yang membuatnya marah tanpa sebab.
“Nyonya...saatnya untuk istirahat, lebih baik untuk istirahat sekarang..anda ada jadwal Malam ini”Sebastian mengatakan apa yang memang ingin disampaikan hingga sebuah suntikkan tertancam dilengan kanan Evita. Dan tak perlu berapa lama, ia sudah tengelam dalam lautan mimpi.
Sebastian mengembuskan nafasnya. “Lain kali kalau Nyonya seperti ini, panggil aku secepatnya...dan jauhkan ia dari senjata dulu saat ini..mengerti!”semua orang serentak menjawab “Mengerti”
Sebastian mengendong Evita dalam pelukannya. Ada rasa tak tenang dihati Sebastian melihat makin hari sepertinya amarah dan ingatan Nyonya-nya ini mulai muncul. Entah ingatan apa yang akan diingat oleh Nyonya-nya, ia harap disaat terpuruk nanti Sebastain bisa melindungi Nyonya-nya ini
-
Malam tentu telah tiba, Evita kini melangkah menuju keMansion para Detektif. Ia tak mengingat apa yang terjadi setelah ia mengatakan dan mengamuk. Yang pasti ia merasa menghajar orang-orangnya sendiri.
“Ah apa yang akan terjadi padaku kali ini”benak Evita. Ia melihat Intari dan Amelya tengah menentukan pakaian mana yang harus dikenakan.
Saat ini Evita tengah berada diruang tamu tempat tinggal mereka tentunya yang berada diruang bawah tanah.
“Apa yang tengah kalian lakukan?”tanya Evita yang mendekat. Para Pelayan langsung menyerahkan kue yang baru mereka buat, yaitu Kue putri salju.diletakkan dalam mangkuk dan menyerahkannya kepada Evita yang langsung mengambilnya.
“Makasih BI”ucap Evita dengan wajah berseri-seri. Ini bagaikan suapan yang bagus untuk membuatnya menghindari pikiran negatif yang didapat olehnya.
Intari dan Amelya langsung tertawa melihat tingkah Evita yang kini lebih memilih duduk dari pada melihat mereka memilih baju yang ingin dikenakan.
“Aku datang...tapi tidak ikut bermain”ucap Evita meski lancar, mulutnya itu telah penuh dengan kue Putri Salju yang membuat pipinya mengembung dan berhasil membuat Amelya dan Intari tertawa lagi dan lagi.
“Kau seperti anak usia 3 tahun....lihat, makan yang benar”Tegur Intari yang ikut makan bersama.
Mereka tertawa sambil menikmati makanan yang ada. Suasana ini yang kembali lagi di antara mereka. meski masih saling meragukan tak ada yang menolak jika suasana ini hadir begitu saja.
Setiap orang ingin kebahagian terbagi bukan hanya kepada mereka. dan begitu juga sebaliknya.
Setelah menghabiskan kue yang dibuat. Evita kini merebahkan diri begitu juga yang lain.
Evita berbaring dilantai beralaskan karpet berbulu. Ia baring dengan tenang disusul oleh Intari yang berbaring disampingnya dan Amelya disisi lain.
“Lihat...aku kangen momen ini”ucap Intari tanpa sadar, membuat semua orang terdiam.
“ah maafkan ucapakanku”setelah sadar Intari langsung minta maaf dengan ucapannya. Tapi Evita dan Amelya mengeleng.
“Tak perlu minta maaf”ucap mereka berdua bersamaan. Dan lagi-lagi menghadirkan gela tawa diantara mereka.
“Sudahlah...sekarang kalian pilih pakaian kalian, kali ini Pesta yang kita datangi juga sangat ramai”Ucap Amelya yang kemudian duduk.
“Benar”Intari langsung berdiri setelah mengatakan kata tersebut. Ia bertanya “Evita apa ada orang yang ingin kau temui disana?”tanya Intari yang mendapat anggukan oleh Evita.
“ada..ia seorang wanita...kita lihat saja nanti”ucap Evita yang kemudian pergi berlalu menuju kekamarnya yang suram seperti kehidupan.
__ADS_1
Intari dan Amelya terdiam mendengarnya. Mereka berbenak “Siapa lagi orang yang bersangkut paut dengan kematian Orang Tua Evita...saat ini saja kami belum mengetahui teka teki yang dimainkan oleh Evita ini”
-
Seorang wanita tengah memainkan dadu ditangannya. Ia mengocok dadu tersebut lalu melempar pelan kearah arena permainan yang tengah dimainkannnya.
“Yeah enam angka lagi”ucap bibir merah yang terukir manis menarik perhatian pria-pria yang tengah ikut bermain.
Permainan ular tanga yang dibuat lebih besar dengan banyak tantangan disetiap anak tangga yang dinaiki.
“Kapan kami main..kalau anda dari tadi mendapatkan angka enam berkali-kali”ucap seorang pria yang mulai mengeluh karena uang yang dibawanya telah menipis.
“Sabarlah tuan...ini hari keberuntunan ku..”ucap Wanita itu yang mengangkat pion miliknya untuk melangkah enam anak tangga sesuai dengan dadu yang didapatnya.
Hingga sebuah nada dering ponsel pintar miliknya mengangguk permainannya. Ia langsung menghempas seluruh arena permainan yang dimana sudah hampir menang olehnya. Membuat orang-orang terdiam melihatnya.
“Rapikan”ucapnya yang kemudian pergi mengangkat ponsel pintar yang terus berdering itu.
“Apa keinginannmu?”tanya Wanita yang telah mengangkat ponsel miliknya. diseberang sana seorang wanita menjawab pertanyaannya.
“aku ingin kau datang kepestaku..bisakan?”tanya wanita diseberang sana. Membuat kedutan dialis wanita yang mendengarnya.
“Apa yang kau inginkan...kontrak kita telah selesai....”Wanita itu melangkah meninggalkan ruang judi miliknya menuju kearah ruang yang khusus untuknya. Tersebar kesana sini uang yang bernilai ratusan. Pandangannya mengarah kesofa yang disisi kanan dan kiri penuh dengan uang.
Duduk dengan kaki jenjang miliknya. lalu mendengarkan suara diseberang sana. “Kau ini, kontrak kita memang telah selesai, tapi apa hubungan sebagai teman tak berlanjut...lagian kita kedatangan tamu istimewah loh”ucap yang diseberang sana dengan nada yang sangat gembira. Membuat wanita yang mendengarnya sedikit mengerutkan alisnya.
“Apa dia akan datang keacaramu?”tanya Wanita itu memastikan pendengarannya.
“tentu saja dia datang”balas yang diseberang saja. Setelahnya ia melanjutkan “wanita itu akan datang karena telah berhasil mengangkap orang-orang bodoh itu, apa kau akan bersembunyi atau menyambut mereka, aku hanya menyampaikan informasi ini....karena aku tak ikut campur urusan kalian”yang diseberang sana mengucapkan kalimat dengan santai tak mengetahui bahwa yang mendengar tengah meremuk uang-uang yang kini telah rusak karena remukkan.
“putuskanlah keputusan mu, aku telah menyampaikan....semua tergantung kepadamu. Sampai jumpa”ucap yang diseberang sana dan setelahnya hanya bunyi nada terputus yang terdengar.
Wanita itu langsung melempar ponsel miliknya dan menatap kearah foto yang menunjukkan seorang wanita tengah mengenakan pakaian hitam dipadukan tata rambut yang tersangul dengan manisnya.
“kau telah kembali, baiklah aku ingin mengorek seluruh tubuhmu itu”ucapnya dengan nada menekan. ia mengambil pisau yang tak jauh darinya dan melempar kearah gambar wanita tersebut hingga gambar itu penuh dengan kerusakkan yang ada.
Ia pergi meninggalkan dengan amarah dihatinya. Meninggalkan sebuah gambar wanita dengan wajah yang datar tak perlu dijelaskan apa yang tersirat dimata wanita itu. Yang tak lain adalah Evita.
-
Semua mobil berbaris dengan bergiliran, mereka mengantri untuk menurunkan tumpangan yang mereka bawa. Banyak gadis, pemuda, pasangan yang keluar dari masing-masing mobil. Semua yang hadir merupakan orang terpenting saat ini.
Dan yang ditunggu-tunggu telah tiba, Pria yang sangat disorot oleh seluruh kota.
Tuan Taoran Chan yang merupakan Cucu Keempat dari keluarga Zhan. Sorot pandangan mereka kearah pria yang masih muda itu. Meski umur sudah menginjak 20 tahun lebih. Taoran Chan masih memiliki wajah yang sangat muda. Hingga orang-orang akan tertipu pada umurnya.
Selain Tuan Muda itu, Tuan Xue Yoongi juga tengah menjadi sorotan orang-orang, karena pemuda pembawa hawa dingin ini sangat diinginkan para wanita. Entah lah wanita sekarang lebih memilih pria yang dingin, nanti kalau sudah dicuekin pada ngomong pria apa sih..dingin mulu, padahal udah tahu kalau cowok itu emang dingin.
Saat semua orang memperhatikan cucu Keempat dan cucu Ketiga itu, mereka dikagetkan dengan kedatangan seorang pasangan yang sepertinya baru-baru ini lagi panas.
Pasangan itu tak lain adalah Zhan Za Chen cucu Pertama keluarga Zhan dan yang berdiri, hanya berdiri tak bergandeng tangan. Dan pasangannya Navi Nurganto yang merupakan anak pertama dari keluara Nurganto. Sangat serasi jika dilihat tapi kalau dipandang lebih lama, mereka melihat bahwa hanya wanita saja yang terlihat bahagia, sedangkan sang pria telah bodo amat akan keadaan.
__ADS_1