MANTIV

MANTIV
● Mantiv(53)


__ADS_3

Nenek itu terdiam sesaat. Ia pun mengajukan jam lain “Gimana jam 3 sore”tawarnya. Dan kali ini Inul yang menolak “Engak bisa...kalau jam segitu, Evita, Indah dan Amelya baru pulang...terus mereka perlu kerja part time..mundurkan lagi tuh waktu”


Yeah engak ada habis-habisnya kalau tawar menawar yang engak bisa dapatkan roti tawar. Maksudnya engak ada akhir dari pendapat yang diberikan.


“Yasudah..gimana kalian yang atur”ucap sang Nenek. Yeah jangan buat dia menjadi makin tua dengan memikirkan jam.


Evita mengeluarkan pendapat “Jam 7 malam aja..kan engak ada kerjaan itu”ucapnya yang langsung disetujui oleh yang lain. membuat sang Nenek mengeleng tak karuan dibuatnya.


“memang harus ada yang jadi pemimpin diantara mereka”ucap Nenek Tua yang kini melangkah ikut kedalam Mobil karena Evita dan yang lain ingin mengantar dirinya pulang.


-


“Kertas....


“Gunting..


“Batu...”ucap Tiga wanita yang kini tengah bermain didepan kelas. Duduknya engak dikursi yang dibuat oleh sekolah. Mereka duduk berlesehan dilantai.


“Yessss...aku menang”ucap Amelya yang kini menatap kearah Evita dan Indah yang tengah terteguh menyembunyikan tangan mereka.


“Ayo..jangan disembunyikan tangannya”ucap Amelya sambil memandang kearah dua Sahabatnya yang memberikan senyuman sedih.


“Anu...Amelya...gimana kalau kita udahan, itu aku rasa tanganku tak kuat menerima jentikan dari jarimu”ucap Evita. ia ingin meranjak bangun tapi dengan cepat didudukkan kembali oleh Amelya. Sedangkan Indah sudah tak sanggup lagi menunjukkan jarinya.


Yeah mereka tengah beristirahat dan bosan tak memiliki kegiatan. Hingga mereka memutuskan main kertas, gunting dan batu. Jika menang. Yang menang akan memberikan jentikkan jari ketangan yang kalah. Dan dalam 5 kali permainan Amelyalah pemenangnya tidak ada yang bisa lolos dari jentikkan jarinya.


“Ayolah...kalian ini..tidak sakit kok”ucap Amelya. Meski bicara begitu, tetap saja senyum nakal ada diwajahnya.


Membuat Evita, Indah langsung berlari meninggalkan Amelya yang kini kaget dengan kaburnya mereka.


“Hei kalian...Sial..aku belum menjentik kalian!!!”teriaknya yang ikut mengejar dua orang.


Indah dan Evita tak bisa lagi menerima jentikkan itu. Tangan mereka sudah memerah menerima jentikkan yang ada. sial sekali mereka ini.


“Eh..Indah...lari lebih cepat kau mau tanganmu bengkak gara-gara jentikkan”ucap Evita yang memandang kearah belakang begitu juga dengan Indah yang melihat kebelakang. Hingga...


Bruukk


Brukkk


“Agh!!”Evita dan Indah menabrak sesuatu tapi tak sakit. Namun yang tak terduga. Amelya ikut menabrak.Dan akhirnya. Evita, Indah dan Amelya terjatuh bersama-sama.


Evita membuka mata. Ia jatuh dengan posisi terlungkup dan matanya memandang kearah semen yang hanya beberapa inci dari pandangannya. “Untung engak cium ini semen”ucapnya. Ia ingin bangun tapi tangan kiri yang digunakan untuk membantunya bangun malah menyentuh sesuatu.


Sesuatu yang kuat tapi bukan lantai. Bukan juga sebuah benda. Hingga dengan cepat Evita mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang tengah ditindih olehnya.


Mata yang tajam menyorot kearahnya, hidung mancung yang kini tersentuh dihidung Evita. nafas yang tertahan karena amarah terhembus mengenai Evita. seketika itu juga Evita langsung melesat bangun dari apa yang terjadi. Dan yang tak diduga kakinya terkilir membuatnya jatuh lagi.


Berbeda dengan Evita. Indah tengah menatap horor kearah Pria yang kini basah kuyup karenanya. Tak disengaja ia malah mendorong dan membuat dirinya serta Pria yang kini memandang datar kearahnya. Jatuh di selokkan sekolah yang baru saja habis dihujani. Membuat selokkan itu berisi air yang kini membasahi pakaiannya dan Pria didepannya. Tentu saja Indah duduk diperut sang Pria. Bahkan ia tak sadar dengan posisinya ini.


“Hehe”ucap Indah yang kemudian mengambil sapu tangannya. Lalu mengelap wajah Pria yang memandang datar kepadanya. Setelahnya ia pun hanya bisa meramalkan doa.


Berbeda dengan Dua Sahabatnya. Amelya bukannya terjatuh, ia hampir saja terbentur dinding. Kepalanya dilindungi oleh seseorang. Dan orang tersebut tersenyum padanya. Tangannya masih betah terletak dijidat Amelya. Dan Amelya yang membelakangi Pria yang melindunginya, memberanikan diri untuk melihat.


Ia tak menyangka bahwa Pria itu yang malah terbentur, hingga kepalanya tergores dan meloloskan darah yang kini mengalir. Membuat Amelya mengambil plester dikantung yang ia bawa. Dan memasangkannya dengan meramalkan doa.


Benar mereka bertiga hanya bisa berdoa, karena yang menyelamatkan mereka adalah anggota Osis kesayangan sekolah. Tamat sudah mereka.


-


Diruang Uks. Evita kakinya diobati, Indah menghangatkan diri dan Amelya terdiam duduk disamping Indah. Mereka kini menghadapi guru Bk yang menatap tenang kearah mereka.


“Indah..Evita...dan Amelya, siapa ketuanya?”tanya sang Guru Bk yang langsung dijawab oleh Indah dan Amelya bersama-sama “EVITA!!!”

__ADS_1


Mendengar namanya, membuat Evita langsung berdiri tapi duduk kembali dikursi karena Kakinya yang masih sakit. “Kok Aku..bukan aku bu!!!”pembelaan Evita. membuat Guru Bk hanya mendengus.


“Sudahlah....kalian tahu siapa yang kalian tabrak tadi”ucap Guru Bk.


Evita Menjawab “Kakak Kelas...Osis Bagian Keamanan, Ketua Pertama Za”


Indah Melanjutkan “Kakak Kelas...Osis Bagian Seketaris, Ketua bernama Yoongi”


Dan Amelya mengakhiri “Kakak Kelas...Osis..bukan..Dia Ketua Osis bernama Echan”


Mendengar itu membuat Guru Bk langsung mengangguk. “Bagus.kalau sudah tahu, apa yang harus kalian lakukan”ucapnya. Dan seketika itu juga, Evita, Indah dan Amelya menjawab “Meminta maaf dan tak mengulanginya lagi”


Dengan bangga Guru Bk pun melepaskan Tiga siswa yang sangat langka disekolah. Langka dalam tak membuat masalah. Untungnya nilai mereka dan prestasinya tak pernah mengecewakan.


“eh...gimana nih...masa kita yang minta maaf”ucap Evita yang mendapat pukulan dari Indah dan Amelya. “Jelas...kan kita yang salah..sudah ayuk kekelas 12”


Mereka pun meranjak ketempat Kelas 12 yang kini tengah ramai. Ramai dengan anak gadis. Mereka tak risih, memang begitu kalau ketemu dengan siswa paling populer disekolah, selalu ada fans yang berdiri dibelakang mereka.


Tapi jangan hanya beransumsi bahwa Pria saja yang menjadi Idola sekolah. Wanita juga bisa, dan Mereka bertigalah yang menJadi idola pria. Karena berani melanggar aturan sekolah bahkan bolos sekalipun.


Seorang Pria melihat Tiga wanita yang menaiki tangga. Membuat Pria itu langsung mendekati Mereka.


“waah...Ngapain Evita, Indah dan Amelya?”tanya Pria itu. Membuat Indah, Evita dan Amelya melihat kearahnya.


“Minta Maaf”jawab mereka bersama-sama, membuat Pria itu terteguh sejenak. Yeah mereka tahu bawa Tiga orang ini pasti baru saja melakukan kesalahan.


Pria itu mendekat kearah Evita. sambil mengeluarkan Coklat manis yang kini disodorkan kedepan Evita. membuat Evita mengerutkan alisnya.


“Evita..Mau jadi pacarku?”ucapnya. menghadirkan perhatian orang-orang. Yeah area ini menjadi area kakak kelas. Mereka baru saja masuk kedalam kandang kelas 12 yang terkenal galaknya. Kakak Kelas memang harus gitu ya.


“Tidak”jawab Evita dengan santainya. Membuat Coklat yang tadi diberikan langsung jatuh dari tangan Pria itu. Ia pun bertanya “Kenapa”


Evita menjawab “Aku tak bisa masak...jadi kalau kau suka makanan manis...aku tak akan bisa membuatkannya untukmu”ucap Evita sambil berlalu pergi meninggalkan Pria yang terbengong.


“Karena aku tak bisa makan, kalau engak langsung pakai tangan, keluarga andakan suka makan dengan sendok, jadi mohon maaf”jawaban Indah.


“Alasannya Karena Aku..emang engak bisa menerima..lagi engak ada niat untuk pacaran”jawaban Amelya.


Menghadirkan suasana suram yang ada. membuat para wanita kelas 12 merasa jijik melihatnya.


“Eleh.....sok cantik tuh cewek...mentang-mentang melangar peraturan sekolah, mereka langsung jadi lirikkan”


“Yeah mau bagaimana pun jangan sampai Cogan Idola kita yang malah jadian ama mereka. bahaya nanti”


“aku setuju”


-


Tiba ditempat tujuan, mereka melihat tiga pria tengah duduk santai dengan wanita yang mengagumi dari kejauhan. Dari mereka bertiga, seorang pria mengenakan pakaian lain, yeah itu karena tercebur dalam selokkan jadi gitu.


Indah yang melihatnya hanya bisa menunduk, tak tega tapi pengen ketawa. Yeah lucu aja sih, mengingat wajah datar itu tak terkejut sekalipun. Sungguh lucu. Beda dengan Evita. ia mendapat aura suram dari orang yang kini membelakanginya. Yeah dia tahu saat jatuh kedua kalinya. Pria ini yang mengendongnya. Membuat gadis yang mengidolakannya langsung beraura dingin menghantui Evita. tapi bdmt* sih kan Evita juga engak salah. Kakinya yang salah.


*bdmt\=bodohamat


Berbeda dengan sahabatnya, Amelya malah disambut hangat, dengan senyum manis yang menempel diwajah Kakak kelas ini.


“Kalian datang kesini ingin sesuatu?”tanya Echan sambil memandang tiga orang yang kini mengangguk.


“Apa itu?”tanya nya.


Evita, Indah dan Amelya mengatakan bersama-sama “Kami ingin minta maaf atas apa yang kami perbuat kepada kalian”ucap mereka dengan lantang.


“Baiklah dimaafkan...”ucap Echan namun terpotong oleh omongan dua pria yang beraura dingin.

__ADS_1


“Kalau sudah....Keluarlah dan kembali kekelas kalian”ucap mereka. sontak membuat Indah, Evita dan Amelya langsung mengangguk dan keluar. Lagian tugas mereka telah selesai. ngapain lama-lama disana. Yang ada mereka akan menghancurkan *mata-mata ikan* yang menatap tajam kearah mereka.


*mata-mata Ikan maksudnya orang-orang yang memandang mereka dengan pandangan menusuk.


Kepergian mereka membuat ketenangan untuk tiga orang Pria yang kini memilih untuk menghela nafas dengan kerasnya.


“Ini sudah keberapa kalinya mereka berbuat pelangaran?”ucap Echan sambil memeriksa buku tentang siswa pelanggar aturan.


“Jangan sampai aku ketemu mereka lagi”ucap Yoongi sambil memakai hoodie yang dibawanya. Yeah lebih baik ditutupi dengan hoodie dari pada engak.


“ku pikir mereka menarik......”ucap Echan sambil terkekeh tapi terhentikan dengan pandangan Yoongi dan Za yang menatap kearahnya.


“Mereka pembuat onar....”ucap dua orang itu yang kemudian berlalu pergi keluar kelas. Membuat Echan hanya bisa menghela nafas.


-


Tiba diwaktu yang diinginkan. Evita, Indah,Amelya,Inul dan Nabila. Mereka berlima kini berdiri disebuah Rumah tua.


Kemarin setelah mengantar Nenek Ngesot bukan Nenek Tua maksudnya. Mereka hanya bisa mengantarkan didepan rumah dan tak memperhatikan serinci apa rumah itu.


“ini yakin Rumah Nenek Ngesot...eh Nenek Tua Itu?”Evita bertanya sambil mendapat pukulan dibelakang tubuhnya oleh Indah. Membuat Dua orang itu langsung saling memukul karena Evita tak Terima. Dan perkelahian mereka malah membuat Amelya terseret. Hingga tiga orang itu saling memukul dan berakhir dengan Inul yang memukul ketiga-tiganya.


“Kalian ini....Berapa umur kalian?”tanya Inul sambil memandang Tiga orang yang kini bertekuk lutut sambil menunduk.


“Tiga Tahun”ucap Evita sambil tercengir membuat Indah dan Amelya ikut-ikutan.


Inul yang melihatnya hanya bisa menatap datar, yeah dia seperti pengasuh anak bukan teman sebayaan.


Nabila yang melihatnya hanya mendengus. Ia kemudian mengetuk pintu dan memeriksa apakah ada orang didalam.


“Rumah ini tak ada penghuninya”ucap Nabila. Membuat Empat orang tadi pun langsung ikut memperhatikan.


Evita memcoba membuka pintu dan pintu itu terbuka tanpa terkunci sekali pun.


“Eh Evita...waaah..Pintu itu terbuka dengan tanganmu..bahaya”Indah memandang kearah Pintu yang ia periksa apakah baik-baik saja. Membuat Evita memukul dirinya.


“Eh orang, itu pintunya emang engak terkunci..bukan aku yang salah...”mereka berempat pun masuk kedalam Rumah. Disana suasana terlihat suram karena hanya satu lampu yang hidup.


Mereka menjelajahi Rumah yang ada. melihat dan memindai. Inul dan Amelya memilih untuk memperhatikan dalam Rumah bagian dapur. Tak ada apa-apa disana.


Nabila dan Indah memeriksa dua ruangan lain yang ada didalam rumah yang mereka ketahui adalah Kamar. Dan disana tak ada apa-apa.


Sedangkan Evita. dia hanya duduk sambil melihat-lihat dengan matanya. Emang engak beres nih orang.


Hingga lampu redup pun mati. Seketika itu juga ruangan menjadi gelap gulita. Membuat Lima orang yang ada didalam tak berteriak. Mereka masing-masing siaga karena mereka sudah diberi latihan untuk melindungi diri.


Tak berapa lama, dibagian tengah tepatnya ruang kamar. Dua orang tengah bertarung. Evita masih diam ditempat. Inul dan Amelya melangkah menyusuri ruangan. Ingatan mereka tentang denah ini telah tersimpan dalam otak hingga mereka tak perlu merasa takut kalau nanti terbentur dinding.


Yang bertarung adalah Nabila. Ia merasakan ada yang salah dengan ruangan yang diperiksanya. Ada nafas lain yang terhembus dalam ruangan yang sama, padahal tadi ia sudah berpisah dengan Indah untuk memeriksa dua kamar ini.


Maka dari itu Ia pun langsung mengambil inisiatif menyerang dengan memberikan tendangan. Dan tak menyangka dibalas oleh orang lain. membuatnya tersenyum.


Indah yang berada dikamar lain langsung bergegas untuk keluar, tapi sayang ia merasa ada seseorang juga dikamar yang sama. Ia mengetahuinya dari gerakkan itu. Hembusan angin saat orang-orang melakukan arah berlawanan dengan angin. Maka angin yang seharusnya mengenai Indah terhalang. Membuatnya mengetahui keberadaan lawan. Dengan cepat ia mengerahkan tinjuannya tapi tergantikan dengan tendangan bawah yang langsung mengalahkan sang lawan.


“Mudah”guman Indah.


Berbeda dengan mereka berdua. Evita malah harus menghadapi sesuatu yang membuatnya malas bergerak. Ia tak sengaja menjatuhkan sesuatu dari meja yang berakhir dengan sinar leser terang memenuhi ruangan. Untungnya bagian ia duduk tak mengenani hal itu. Dan ia juga melihat bagian pengendali listrik didekat pintu masuk. Membuatnya mendengus.


“Ribet amat ini rumah....ku pikir Ini rumah biasa aja...”Guman Evita. Evita pun berteriak memenuhi ruangan yang membuat Empat lain mendengarkannya.


“KALIAN MENDENGARKAN KU BUKAN....BISA TIDAK SATU ORANG KESINI..AKU LAGI MALAS BERGERAK”dan tak berapa lama, Amelya datang dengan wajah kagetnya.


“Apa-apaan ini?”tanya dirinya. Evita menjawab “ini..seperti jebakkan untuk menangkap tikus...Amel kemari”ucap Evita sambil berdiri dikursi. Amelya langsung mendekat dengan melewati beberapa leser. Setelahnya ia langsung mendapat tarikkan dari Evita dan melemparnya kearah Pintu Masuk, membuat Amelya sedikit kaget. Tapi juga paham apa yang dimaksud.

__ADS_1


Amelya mengenai leser yang ada dan membuatnya terpindai hingga sesuatu ditembakkan kearah dirinya. Evita berdiam dibelakang dengan mata yang tajam. Ia mengambil benda yang ada dimeja sudah dipastikan itu adalah mangkuk kaca. Dengan cepat ia melempar kearah sinar leser yang akan memberikan tembakkannya.


__ADS_2