
Evita terdiam mendengar pertanyaan dari Za. Matanya tak bisa berbohong kepada Za sendiri yang melihatnya. Kali ini suasana sunyi menjadi awal pagi yang menemani.
Za yang tak mendapat jawaban menghela nafas “Sudahlah, bangun dan mandi, Indah dan Amelya pasti telah membuat sarapan, setidaknya kau bisa membantu mereka”
Mendengar hal tersebut Evita mengangguk dan pergi kearah Kamar mandi, meninggalkan Pria yang menatap kearahnya sampai pintu kamar mandi tertutup rapat.
“Bagaimana caraku menghilangkan trauma dalam dirimu Evita”guman Za yang memilih untuk membersihkan kamar yang tak terlalu berantakkan.
-
Evita menatap kearah meja makan yang sudah berisikan berbagai hidangan yang ada. ia mengambil air putih untuk menyegarkan tengorokannya.
“Akhirnya Kau bangun juga...”ucap Intari yang datang bersama dengan Amelya disampingnya. Disusul oleh dua pria yang sudah tampak segar.
“Iya...Aku kemarin pulang terlalu larut”Evita menarik dua kursi, satu untuknya dan satu lagi untuk Za.
Tentu saja Intari dan Amelya melakukan hal yang sama. Saat Za datang barulah seluruh wanita itu menghidangkan makanan yang ada.
Semua menghidangkan masing-masing untuk pasangan mereka. pelajaran dari Bibi yang ada mengatakan bahwa sangat hangatnya keluarga dan bahagianya rumah tangga dengan melayani suami walau hanya menghidangkan makanan.
Dan dalam ajaran keluarga Alex. Evita diajarkan bahwa melayani suami dengan baik merupakan bentuk kasih sayang yang tak bisa dipandang remeh. Karena kadang menghidangkan makanan hanya dianggap sepele oleh orang-orang. Padahal itu bentuk perhatian.
Bukan hanya keluarga Alex. Evita yang pernah menghidangkan makanan untuk kepala keluarga besar Zhan, akhirnya bisa mengerti. Kenapa wanita menghidangkan makanan untuk suami mereka. bukan suatu kewajiban. Tapi suatu perhatian dan menghormatinya sosok seorang pemimpin dalam rumah tangga.
Sekali lagi pelajaran masuk dalam pikiran mereka. setidaknya mereka bisa belajar memahami apa yang belum pernah dipahami sama sekali.
Seusainya sarapan, tentu saja Evita,Intari dan Amelya memutuskan untuk melakukan rapat lagi. rapat kali ini adalah keputusan kapan mereka akan kekota Q menyusul yang lain. saat ini Sebastian dan Raja masih bersama mereka.
Diruang rapat..
“Evita..bagaimana pertemuan malam itu?”tanya Intari, meski bukan bagian dalam keluarga besar Kim. Ia tetap tak bisa diam jika ada masalah yang terjadi.
“Benar Evita....sangat sulit pertemuan dilakukan, bahkan awakmedia berhasil mengambil beberapa tangkapan, dan memberitakannya..untungnya kau dan Zahra tak diberitakan”Amelya mendapatkan berita itu saat ia tengah bersiap-siap. Berita tentang pengusaha kota A melakukan pertemuan tanpa virtual, menarik perhatian orang-orang meski yang disorot hanya beberapa saja.
“Pertemuan yang sia-sia....orang yang melakukan pertemuan hanya ingin membahas masalah putrinya”jawab Evita yang menatap kearah dua sahabatnya.
Sebastian dan Raja berdiri dibelakang boss mereka masing-masing. “Putri?...apa maksudmu Merlina..anak manja itu?”Intari menebak meski tahu bahwa memang itu jawabannya. Karena hanya Merlina yang saat ini menjadi sorotan para wartawan.
Evita mengangguk “Ia bukan hanya anak manja, bahkan bisa dibilang anak yang sangat disayangi meski orang tuanya hanya mengunakan dirinya sebagai umpan belaka”
“Kasihannya....jadi apa yang akan kita lakukan Evita..tak mungkin kita berdiam disini?”Amelya tahu bahwa Evita pasti belum memutuskan sesuatu. Semenjak kejadian ingatan yang kembali. Tak ada kemajuan dalam pencarian mereka.
“Tentu saja Aku akan melacak kembali koneksi Merlina dan Yelina...hanya ada beberapa hal yang terjadi”Evita menatap kearah layar ponsel miliknya. sebuah pesan terlihat dilayarnya.
“Apa?”Intari dan Amelya sama-sama mengerutkan alis mereka ketika melihat ekspresi Evita yang menjadi datar.
“Kita kedatangan tamu lain”ucap Evita yang menyodorkan sebuah pesan untuknya. Pesan yang terbilang langka.
‘Kak, Aku datang, kali ini datanglah bersama dengan anak buahmu, mari tentukan kematian kita bersama’
-
Andre baru saja mengirim pesan untuk Kakak tercintanya. Orang yang pernah dicintai olehnya. Yuda yang ada disampingnya hanya menghabiskan waktu dengan bersantai.
“Andre...apa yang akan kita lakukan disini?”tanya Yuda yang menatap kearah orang yang melindunginya. Atau lebih tepatnya orang yang menjadi aset keuangannya.
“Tentu saja menghabisi seseorang...ooh ya Yuda, pergilah! Kau sudah mendapatkan uang yang ku berikan kepadamu kan”Yuda mengangguk mendengar ucapan Andre.
“Maka sudah saatnya kita melepaskan kerja sama kita..aku hanya menyuruhmu untuk mengambil alih perusahaan Amelya itu...setelahnya Aku akan menyelesaikannya sendiri, bersama beberapa orang yang akan membantuku”
__ADS_1
“Kau yakin?...aku bisa pergi dengan mudah?..tak takut aku akan mengatakan bahwa Kau yang terlibat dalam kasus kabut itu?”
“Justru karena itulah Aku melepaskanmu, karena kemungkinan kau akan dilindungi oleh yang lain”
“Untuk apa....Aku hanya menyebarkan Kabutnya..kenapa aku jadi ikut imbasnya”
“Kau hanya melakukan apa yang ku suruh, jika kau ingin mati disini, maka bersiaplah”
Yuda terdiam mendengar hal tersebut. Ia berkerja sama dengan Sintra dan Feliya untuk menemukan jejak Evita yang sebenarnya. Dan sekarang Evita telah ditemukan. Yang berarti Ia akan bebas tanpa sangkut paut lagi.
“Baiklah..Aku akan pergi, tapi dari pada itu, bagaimana jika Aku yang ditangkap oleh Evita terlebih dahulu?”
Andre yang mendengarnya merasa perlu melempar orang didepannya dengan benda tajam agar otaknya ikut berpikir tajam.
“Apa kau bodoh, Kau bisa pura-pura amesia, dan lagi sudah ku katakan, Aku yang mengetahui semuanya. Jadi untuk apa kau berlagak mengetahui segalanya...Sudah bersiaplah untuk pergi sebelum orang-orang mencurigai dirimu”
“Baiklah...itu yang kau inginkan, aku akan pergi dengan mengunakan kereta bawah tanah”
“Pergilah, kalau bisa sejauh-jauhnya..karena mungkin saja kau bisa bebas”
“Hahaha...Sebagai mantan buronan Aku yakin aku bisa bebas”
Yuda melangkah keluar rumah tua yang berada dihutan. Hutan yang menjadi akses pertemuan Evita dan Andre. Yuda merupakan seorang pidana yang kabur karena Ia menjadi tersangka atas kematian adiknya sendiri.
Andre menatap kearah perginya Yuda. Pria yang begitu tenang tapi mampu membunuh Adiknya sendiri.
“Huh....sudah saatnya melakukan apa yang harus kau hadapi Kakak”
-
Evita terdiam mendengarkan ceramahnya Intari yang tak setuju dengan undangan melalui pesan.
“Apa.Apaan...Kau ingin pergi bertemu Andre?..Kau ingin mati?..Kita harus melakukan persiapan dengan baik Evita, ia ingin bertemu denganmu sekarang, tapi kita sendiri tahu bahwa ia memiliki niat yang jahat..apa kau melupakan Reza?”
Evita masih terdiam mendengarkan. Ia tahu saat ini memang banyak yang perlu dipikirkan. Tapi semakin berpikir Evita semakin merasa takut. Takut akan kehilangan lagi dan lagi. ditambah dendam kematian orang tuanya belum bisa dilampiaskan. Bahkan ia masih harus bermimpi buruk dengan bayangan kematian orang tuanya.
“Kita putuskan ini dengan baik”usul Echan yang kali ini ikut dalam rapat tentu saja ada Yoongi dan Za yang ikut.
“Bagaimana pun, Andre bisa saja melakukan sesuatu yang lain”Yoongi berpikir sama dengan Intari. Karena tak mungkin musuh hanya akan membuat medan pertempuran tanpa ada rencana yang matang.
“Evita...pikirkan dengan baik”Amelya menyentuh tangan Evita untuk bisa membantu menenangkan pikiran yang tak nampak.
Evita mengangguk, ia memang harus memikirkannya, ditambah ia tak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi yang pasti Ia yang harus membunuh orang yang membuat kecelakaan orang tuanya sendiri.
-
Setelah berdiam memikirkan keputusan yang tepat. Evita memutuskan untuk melakukan pertemuan dengan Andre yang berada dihutan. Tentu saja Intari dan Amelya datang meski tak menunjukan diri. Karena kali ini yang tertawa terakhirlah yang bisa menang.
Evita menatap kearah Rumah tua yang menjadi pertemuan mereka. terlihat Andre yang sudah menunggu dengan membersihkan pistol ditangannya.
“Kau akhirnya datang juga kakak....kenapa kau tak mencariku?”tanya Andre tanpa menatap Evita yang memasang wajah datar.
“Aku pikir, kau akan mengendus bau yang terseret ikut kematian orang tuamu”lanjut Andre lagi. Evita tak bergeming. Ia mengontrol emosinya agar tetap tenang.
“Apa kau masih menahan Sintra dan Feliya?”mendengar dua nama itu, Evita melupakan keadaan mereka. mungkin kedua pasangan itu tengah menikmati hidup dibawah tanah sebagai tahanannya.
“Sudahlah cepat atau lambat Kau pasti akan menemukan jawabannya”Andre melepaskan kain yang digunakan untuk membersihkan pistol miliknya. lalu bangun menatap kearah Evita yang masih berada diambang halaman rumah.
“Masuklah Kakak....kau tak perlu takut, Aku tak memiliki anak buah, karena Ayahku tak memberikannya, bahkan kakakku”Evita meringit mendengarnya, Ayah dan Kakak. Sesaat Evita penasaran siapa orang tua kandung Andre ini.
__ADS_1
“Apa ingin minum teh hangat? Atau sesuatu yang lain?”Evita yang sudah mulai muak dengan penyambutan ini. Ia pun menatap kearah Andre. “Langsung saja keintinya....apa kau yang ikut dalam kasus kematian orang tua ku?”
Andre yang mendengarnya langsung duduk kembali dan mempersilahkan Evita untuk ikut duduk. Evita yang paham langsung duduk.
“Kakak...apa dia benar-benar orang tuamu?”tanya Andre lagi. Evita menjawab dengan diamnya. Ia tak ingin terpancing dalam pembicaraan yang membuatnya tambah muak.
“Kalau begitu, maka seharusnya dulu aku sudah mengatakan keseluruh dunia, bahwa Kim Hyun Jae adalah Cucu dari keluarga besar Alex..apa kah aku salah?”
Mata keduanya saling bertemu, Evita masih menatap datar sedangkan Andre menatap begitu antusias.
“Sangat disayangkan Aku tak tahu, akan hal ini. Aku tahu saat Aku ikut campur dalam rencana wanita maniak eksperimen”
“Ia menjanjikan kepadaku, bahwa Aku akan bertemu lagi dengan orang yang berhasil membuatku ingin membunuhnya lagi dan lagi”
“Aku yang saat itu tak mengerti hanya ikut menjalankan rencana, mencari Yuda untuk memutuskan kabut yang tepat...dan bertemu dengan Sintra lalu Feliya......"
Disebuah ruangan yang dimana Feliya dan Sintra terkurung. Andre memasuki ruangan tersebut dengan begitu tenangnya.
“Ooh...apa kalian yang dibutuhkan oleh wanita itu?”tanya Andre dengan mata yang tajam. Yuda yang ada dibelakangnya hanya bisa mendengus.
“Feliya, gadis yang melakukan pembunuhan atau lebih tepatnya melakukan kegiatan membunuh orang dengan bayaran yang tinggi....”ucap Andre menatap kearah Wanita yang tengah tenang berdiri dengan menampakkan tato dipungungnya.
“Lalu sang pencipta Kabut yang sangat mencintai ciptaannya hingga membuat sang Kakak dari orang yang diperkosa membunuh adiknya sendiri”sindir Andre yang mengarah langsung kedua orang. Tatapan mereka menusuk bagaikan dua bilah pisau yang menembus dadanya.
“Sudahlah...kalian akan ikut denganku, aku akan membebaskan kalian, tapi dengan satu syarat....”
Semua menatap kearah Andre yang kini memainkan pistol ditangannya ia pun menatap dengan senyum yang memiliki maksud lain. “Kalian harus bisa menarik perhatian wanita yang dicari oleh Wanita eksperimen itu”
Mengingatnya membuatku merasa kembali kejaman itu”Lanjut Andre mengingat pertemuan dirinya dengan orang-orang yang menjadi bawahannya.
Evita tahu cerita itu, Ia sudah diberitahu oleh Sintra sendiri. tapi ada cerita lain dibalik kejadian yang sebenarnya. Dibalik Yuda yang menjadi pembunuh dan dibalik Sintro yang menjaga kuburan adik Yuda.
Saat itu......
Seperti dalam cerita yang sebenarnya, Adik Yuda yang bernama Salma telah dihamili oleh Sintra karena efek dari hasil karyanya. Kabut yang dibuatnya pertama kali berhasil membuat dirinya hilang kendali hingga Salma dibuat hamil.
Setelah beberapa bulan dilalui, Yuda dan Sintra sering bertemu hanya untuk membahas eksperimen yang ada. melupakan Salma yang malu dengan dirinya. Tak ada yang menikahnya, bahkan Sang Kakak pun tak menghiraukan Adiknya sama sekali.
Hingga Salma bertemu dengan pemuda bernama Sintro. Pemuda dari pelosok desa yang merantau hingga ketempat mereka. Sintro yang tak tahu apa-apa menjadi tempat untuk Sintra melemparkan kesalahannya.
Salma yang sudah hamil tentu tak bisa disembunyikan hingga ia harus meghadapi celaan para warga dan berhasil membuat Sintra menjadi korban tuduhan pertama.
Karena Salma yang mengenal Sintro, dan kebetulan pertemuan mereka diketahui oleh Sintra. Keduanya pun di jadikan Sintra sebagai permainannya.
Maka Salma yang mendekati bulan kelahiran harus mati ditangan kakaknya sendiri karena kakaknya yang mengira bahwa Salma sudah menjual diri kepada Sintro. Dan Sintro menjadi bullyan orang-orang hingga ia harus menyendiri dan berakhir merawat kuburan Salma dan Anak yang ia sendiri ingin menjaganya.
Evita menyimpulkan semua itu dalam satu hari sejak Ia bertemu dengan Sintro yang asli. Memang tak ada yang tahu, seandainya Sintro pemberani, mungkin Salma dan Anaknya akan bisa diselamatkan. Dan mungkin akan hidup bahagia.
Namun mau bagaimana pun itu tak akan bisa terjadi, takdir sudah dilewati dan Sintro harus menanggung apa yang menjadi kesalahannya meski tahu bahwa ia tak sepenuhnya salah.
“Yuda...apa kau sudah menyuruhnya pergi?”kali ini Evita yang berbicara kearah Andre. Andre terteguh mendengarnya, ia pun tertawa kecil lalu mengangguk menjawab pertanyaan Evita.
“Ia sudah ku suruh pergi kak..kenapa Kau ingin menahannya juga, menurutku sia-sia, karena Yuda merupakan pria yang lebih tak waras. Kadang ia akan berpikir baik dan kadang ia akan menjadi gila”jelas Andre.
Evita tahu, sebagai Kakak yang membunuh Adiknya hanya karena kesalah pahaman, itu sangat penuh dengan tekanan. Dan berakhirlah menjadi sebuah penyesalan yang tak akan ada habisnya.
“Jadi Kakak...Aku hanya bisa menyampaikan sesuatu, Kematian orang tuamu itu hanya ketidak sengajaan dari wanita yang gila eksperimen itu...ia mengatakan bahwa targetnya bukan orang tuamu, tapi mungkin sekarang target itu telah mengarah kepadamu”
Evita terdiam, Ia sedikit tak suka ketika mendengar ucapan Andre bahwa kematian orang tuanya hanya karena ketidak sengajaan belaka. Apa mereka menganggap bahwa orang tuanya hanya objek sampingan?.
__ADS_1
“Sudah selesaikah kau bicara?”tanya Evita. emosinya mulai memuncak, ia lebih baik pergi tanpa menyakiti siapa pun.meski membawa senjata, emosi yang tak stabil dan ingatan yang masih perlu perlengkapnya. Evita tak ingin mengambil resiko yang akan membuat orang terdekatnya mati. Lebih baik diselesaikan dengan sekali tembakkan.
Dan saat itulah yang terjadi, Evita menodongkan pistol tepat dikepala Andre. Dan Andre melakukan hal yang sama.