
“Evita..ada yang ingin Ku tanya”ucap Intari yang duduk disamping Evita.
“Tanyakanlah”Evita menyantap kue putri salju yang dibuat oleh Amelya.
“Apa Putra Liyana...Adalahnya Anaknya Mavin Vintorin?”tanya Intari.
Evita tak menduga itu yang didengar olehnya. Ia menatap kearah Intari yang masih serius. Tak hanya Intari,Amelya juga tengah serius mendengarkan.
Menghardikkan bahunya, Evita menjawab “Aku tak tahu..meski sebenarnya Aku juga menduga hal itu”
Intari dan Amelya terdiam mendengarnya. Jika Evita tak tahu. Maka kemungkinan saja bahwa Vino adalah anak Mavin Vintorin.
Evita menatap kearah layar tabletnya. Ia mengingat perbincangan malam hari bersama dengan Sahabatnya. Tak menduga bahwa Sahabatnya juga menyadarinya.
Evita penasaran, selama ini Liyana tak pernah bersama laki-laki. Bagaimana bisa mendapatkan seorang anak?. Apa Dia hamil tanpa pria, itu tak mungkin.
Jadi satu-satunya yang bisa dibuat oleh Evita adalah mengambil beberapa helai rambut dan mencocokkannya. Sekarang Evita hanya menunggu hasil. Ia telah menyerahkan rambut-rambut itu beberapa hari yang lalu, melalui Sebastian. Jadi tak ada yang mencurigainya.
Dan sekarang yang terpenting adalah rencananya. Yeah Malam ini Ia akan mengunjungi kediaman Yelina. Lebih tepatnya tempat perjudian terkenal yang pernah ia hancurkan. Meski yang dihancurkan adalah cabangnya.
“Maksudmu Evita..Kau ingin mempercepat?..lalu bagaimana dengan Yoongi dan Echan?”tanya Intari. Entah kenapa Ia mulai bergantung kepada Suaminya.
“Intari, Jika Kau merasa tak bisa, maka tak apa. Aku tak ingin memaksa orang”ucap Evita. Ia tahu bahwa Intari dan Amelya baru saja merasakan indahnya kebahagiaan dalam keluarga. Dan sekarang Evita memaksa mereka untuk kembali kepertempuran.
“Tidak Evita..Hanya..”Intari tak bisa melanjutkan ucapannya. Ia mengakhiri perkataannya “Maaf”ucapnya tak sanggup lagi. Intari sebenarnya takut, takut berpisah dengan segala yang ada. namun Ia sadar yang ditakutinya akan terjadi jika tak dihadapi.
Amelya yang biasanya menjadi penengah kini hanya bisa terdiam. Ia tak bisa menolak dan tak bisa sepenuhnya setuju. Karena Ia baru saja menerima kebahagiaan, sekarang harus menghadapi tantangan lagi. namun jika ia melewatkannya. Yang akan didapatinya bukan kebahagiaan melainkan kesedihan.
Maka keputusan pun dibuat. Mereka akan ikut pertempuran yang dipercepat itu. meski tahu Yoongi dan Echan tak akan bisa menyusul mereka.
“Huh~”Intari dan Amelya saling menghela nafas. Mereka berdua mendapat tugas yang sama. Evita memberikan bagian ini kepada mereka.
“Aku merasa bersalah bertanya kepadanya”ucap Intari yang melangkah memasuki sebuah ruangan yang baru saja dibuka paksa oleh mereka.
“Justru Aku yang merasa tak berguna Intari, Evita tak mungkin kita hentikan”ucap Amelya.
Mereka berdua merasa bersalah karena Evita tahu bahwa Mereka belum sepenuhnya setuju dengan keputusan yang diambil. Apa lagi mengingat bahwa mereka baru saja menikmati kebahagiaan yang ada. dan Evita tak ingin Mereka merasa kehilangan.
“Aku akan minta maaf kepadanya”ucap Intari yang langsung dianggukkan oleh Amelya. Mereka melanjutkan langkah mereka menuju ketempat yang menjadi penentu hidup dan matinya seseorang.
Evita menatap kearah tempat yang kini sudah didatangi olehnya. Melangkah masuk bersama dua orang yang menyamar menjadi bodyguardnya.
“Welcome to My Room”ucap seseorang yang merupakan pelayan. Tentu saja ucapan ini bermaksud untuk mempersilahkan para pengunjung masuk. Namun maksud utamanya adalah ruangan yang penuh dengan hawa kekalahan dan keberuntungan.
Evita mengenakkan kaca mata hitam dengan rambut pendek miliknya. pakaiannya kali ini terbilang istimewa untuk mengunjungi tempat penjudian ini.
Tentu saja disebuah hotel yang terkenal namun tak ada yang mengetahui dibalik terkenalnya hotel ini terdapat tempat penjudian yang merugikan orang-orang.
Evita dituntun menuju kelantai 3B. Yang berarti mereka akan sangat turun kebawah.
Lantai 3 Bawah tanah yang menjadi akses sebenarnya. Evita menatap kearah tempat yang begitu luas. Sangat luas, hingga Kau yang suka berlari-lari bisa mengunakan tempat ini.
Terdapat 8 bagian meja yang dipenuhi dengan orang-orang. Tentu saja 80% yang ada disana adalah Pria, sisanya wanita yang merupakan pelayan.
Dan jika diperhatikan lagi, ada 50% hadiah berupa benda dan 50%nya lagi hadiah berupa makhluk hidup.
Menyaksikan hal seperti ini, tak ada lagi tata krama dan hak asasi manusia. Semua yang lemah dianggap mainan dan yang kuat dianggap pengusaha. Inilah dunia perjudian.
Evita dengan dua bodyguard dibelakangnya melangkah untuk menyusuri ruangan.
“Oh....Welcome, Nona Evita”ucap Seseorang yang berhasil membuat langkah Evita berhenti. Ia membalikkan tubuhnya dan mengangkat sedikit kepalanya untuk menatap kearah Wanita yang dicari-cari olehnya.
Yelina mengunakan Pipa rokok yang ada ditangannya untuk menunjuk kearah Evita. “Para Pelayanku, siapkan meja khusus untukku, Kita kedatangan tamu loh”ucapnya.
__ADS_1
Yelina bangun dari duduknya. Baju panjang ala tradisional china yang dikenakan olehnya benar-benar indah. warna merah, dengan celah dibagian kaki yang menunjukkan kaki jenjangnya. Selain itu bagian pundak yang beberapa helai kainnya berada dilekukkan lengan. Terlihat sekali bahwa Ia merupakan sang pemilik tempat perjudian ini.
Evita menatap kearah Yelina yang berdiri didepannya. Tinggi mereka hampir sama. Dimana Yelina terlihat sekali tengah bersemangat menyambutnya.
“Selamat datang Nona Evita..silahkan duduk dan kita akan bermain”ucap Yelina yang melangkah terlebih dahulu. para orang-orang yang melihatnya lansung menjauhkan diri. Evita yang diperlakukan seperti itu hanya bisa diam. Bukan takut, Ia hanya tengah mengamati apa yang dilakukan oleh orang didepannya ini.
Fyuh~
Asap rokok yang dihirupnya keluar dari mulutnya. Membuat gumpalan yang menarik perhatian orang-orang. Yelina berdiri didepan Meja segi empat yang memiliki dua kartu diatasnya.
Evita menatap kearah dua kartu tersebut. Ia kemudian menatap kearah lain dimana semua orang tengah berkumpul menyaksikan mereka.
“Karena sudah datang, tak mungkin melewatkan permainan bukan?”ucap Yelina yang meletakkan pipa rokoknya. Ia melepaskan lapisan luar bajunya yang hanya meninggalkan bagian dalamnya.
*Jika mengingat film Jepang,china dan korea. Pasti tahu ada beberapa lapis pakaian yang dikenakan oleh mereka.
Evita yang mengenakan jas miliknya langsung dilepas. Ia merasa permainan yang akan dihadapinya akan sedikit berbahaya. Jadi untuk menikmatinya, ia perlu bebas dari apa yang menghalanginya.
“Nah....Apa kita akan memulai permainannya?”tanya Yelina yang menatap Evita dengan senyuman yang penuh dengan tanda tanya.
-
Raja melangkah menuju ke toko TOSERBA. Ia kali ini bertugas untuk menyediakan keperluan memasak dirumah Boss Tertuanya.
Setelah semua masuk kedalam keranjangnya. Raja melangkah menuju kearah kasir untuk membayar semua belanjaannya.
Bruk
“Ah Maaf Ya,,,,Untung tak jatuh”
Raja mengeleng dan menatap kearah orang yang menabraknya. Matanya menyusut melihat siapa yang didapatinya.
“Raja...Kau rupanya”ucap Nabila yang datang dari belakang Raja. Raja langsung membalikkan tubuhnya. Wajah yang penuh terkejut itu kembali tenang melihat Nabila.
“Nabila...Kapan kau disini?”tanya Raja yang memilih untuk meletakkan belanjaannya.
“Aku..hm pagi tadi, sebenarnya Aku habis dari perusahaan Kakek”ucap Nabila yang juga meletakkan belanjaannya.
“Totalnya 400 ribu untuk Masnya dan Untuk Mbaknya 30 ribu”ucap sang Kasir. Nabila ingin menyerahkan uangnya namun Raja langsung menghentikannya.
“Ini sekalian belanjaannya”ucap Raja yang membuat Nabila terkejut.
“Raja, tak perlu..Aku bisa membayarnya”ucap Nabila, namun Raja menolaknya. “Sudahlah, Kau juga akan mengtraktirku lain kali kan?”ucap Raja.
“Ini belanjaannya..terimakasih telah berbelanja disini”ucap Sang Kasir yang langsung diangukkan oleh Raja dan Nabila. Mereka berdua melangkah keluar bersama.
“Terimakasih Raja..Aku akan menganti uangmu”ucap Nabila yang melangkah dengan menatap pemandangan indahnya kota A.
“Kau bisa mengtraktirku lain kali”ucap Raja yang membuat Nabila terkekeh mendengarnya.
“Yeah Kau benar..Oh ya Raja”Nabila berhenti melangkah untuk menatap kearah Pria yang lebih tinggi darinya. Setelah menatapnya, Nabila melanjutkan langkahnya.
Raja yang ditatap merasa bingung dengan Nabila yang melanjutkan langkahnya. “Ada Apa dengannya?”benak Raja.
Nabila melangkah saat ia merasa Raja ada dibelakangnya. “Dengar Raja...Aku adalah Cucu dari Keluarga Alex. Memiliki QI diatas rata-rata dan disekolahkan khusus sekolah putri yang tak akan pernah bertemu dengan pria sama sekali”ucap Nabila yang membuat Raja terdiam mendengarnya.
“Aku yang diangkat oleh Kak Evita sebagai seorang Manager, dan selalu menghadapi segala berkas..dulu saat usiaku masih 12 tahun, sudah diajak ikut kedalam permainan yang membawa kematian, Tahu kan dirimu, bahwa selama itu Aku tak pernah sama sekali berbicara dengan Laki-laki melebihi waktu kerjaku”
Raja terdiam mendengarkan ucapan dari Nabila. Entah kenapa ada rasa asing muncul dibenaknya.
“Kau tahu, Sekolah diasrama khusus Putri, dan berakhir dengan segala perkerjaan. Ku pikir akan menjadi seorang wanita mandiri tanpa perlu laki-laki. Seperti Kak Evita, sebenarnya Aku menduga Ia tak akan menikah, tapi ternyata ada takdir yang mengatakan bahwa Ia berhak bahagia”
Nabila berbicara sambil berjalan. Ia melangkah dahulu untuk tidak memperhatikan Raja yang berjalan dibelakangnya.
__ADS_1
“Dan Ku pikir, Apa Aku akan ditakdirkan seperti Kak Evita. yang Aku sendiri tahu, Aku bukan Kak Evita..sungguh mengerikan ketika memikirkan itu, namun seseorang menyadarkanku, Ia hadir dengan sendirinya tanpa diundang. Hati yang selalu tertutup entah kenapa tiba-tiba bisa dimasuki oleh orang lain, Namun satu hal yang ku ketahui, Ia tak masuk untuk berdiam diri tapi hanya sekedar bertamu dan bertamunya itu lama”ucap Nabila yang kemudian berhenti melangkah.
Raja dibuat terdiam disetiap kalimat yang dikeluarkan oleh Nabila. Ia berhenti sambil menatap kearah Nabila yang menatapnya juga.
“Dan orang yang bertamu itu adalah dirimu Raja..orang yang santai tanpa menunjukkan reaksi ketika didekat orang..namun entah kenapa Hatiku berkata lain ketika melihatmu..ah sialnya, Sakit sih tahu Kalau Kau tak mungkin menyukaiku..Hahahahh”Nabila tertawa sambil kembali melanjutkan langkahnya. Membiarkan Raja yang dilanda rasa bersalah.
“Sudahlah, itu tak penting sekarang..Bagaimana dengan Kak Evita dan lainnya”Nabila menganti topik pembicaraannya.
Niat Nabila tak ingin mengatakannya. Namun Hati yang sudah lama memendam rasa kini tak bisa lagi dipendam. Nabila tak ingin Orang yang dicintainya tak tahu perasaannya. Meski Ia tak memiliki Raja, setidaknya Ia sudah mengungkapkan perasaannya.
Raja yang mendengar jawaban itu langsung menjawab “Mereka menangani misi, Aku akan menyusul mereka”ucap Raja. Memang niatnya setelah berbelanja akan menyusul. Karena tugasnya adalah menjemput Bossnya.
“Oh..kalau begitu semangat..”ucap Nabila yang menghentikan sebuah taksi. Raja berhenti melangkah dan menatap kearah Nabila.
“Woke..makasih traktirannya, Akan Ku traktir lain kali..jadi Bye bye”ucap Nabila yang melangkah pergi masuk kedalam mobil. Jujur saja hatinya menunggu jawaban. Namun terlihat sekali bahwa Raja tak berniat untuk membahasnya.
“Sudahlah...Lagi pula Raja tak mungkin menyukaiku”benak. Nabila.Mobil berjalan membelah kerumunan mobil. Meninggalkan Pria yang berdiam diri menatap kepergian mobil itu.
“Sial, kenapa bisa begini”benak Raja. Ia tak mungkin bisa tenang sekarang. Apa lagi baru saja seorang gadis menyatakan perasaannya. Dan sekarang Ia benar-benar tak tahu harus seperti apa.
-
“Tuan Derka, pemotretan kali ini akan berlokasi disebuah bandara..jadi mohon bersiap”ucap Manager Ravel yang meninggalkan kamar Tuannya.
Semenjak kejadian pesta itu, Tuan Derkanya benar-benar dingin layaknya kutub. Jarang menghadiri acara penting dan memilih untuk menyendiri.
“Aku tak menduga hal ini, siapa sebenarnya Evita ini, Untuk mencari data dirinya saja perlu penjelasan, Aku bahkan tak bisa membobol sistemnya”benak Ravel yang melangkah pergi.
Seperti apa yang diucapkan oleh Ravel. Mereka saat ini berada dibandara yang ramai dikunjungi orang-orang. Derka mengenakan kaca mata untuk tidak menarik perhatian orang-orang. Namun tak semudah itu, tetap saja Dirinya selalu menjadi pusat perhatian orang-orang.
Para bodyguard menghalangi mereka. membuat Derka menghela nafas. Ia melanjutkan langkahnya, namun mata yang memandang kedepan itu menangkap sebuah objek yang langsung membuatnya bertindak.
“Tuan Mavin!”sedikit berteriak untuk menarik perhatian. Derka melangkah mendekat kearah orang yang dipanggil. Ravel yang berada didekatnya langsung kaget mendengar nama Mavin.
“Mavin..apa dia seorang Mafia yang menjadi incaran para polisi”benak Ravel. Ia melangkah mengikuti Derka yang sudah tiba didepan Mavin. Pria bertubuh tinggi.
“Oh..Tuan Derka ternyata”ucap Mavin yang melihat Derka tiba didepannya. Mereka berdua terlihat layaknya teman yang sudah bertahun-tahun. Namun kenyataannya, mereka hanya seseorang yang bertemu dan mengenal lalu melupakan setelah berpisah.
“Bisa kita berbicara Tuan Mavin?”Derka menatap Pria yang lebih tinggi darinya.
Ravel berdiri dibelakang Derka. Ia tak menduga bahwa Mavin ini ternyata begitu dingin dengan hawa membunuhnya.
“Yeah...ini adalah pertemanan yang dihubungkan oleh siapa?”benak Ravel.
“Baik...ingin berbicara apa Tuan Derka”ucap Mavin yang menatap kearah lain. ia kemudian melanjutkan “Bagaimana Kalau kita berbicara ditempat lain, disini bukannya menganggu?”
Derka yang mendengarnya mengangguk “Tentu, Kalau begitu”Derka menatap kearah Managernya. “Ravel, pemotretan dimulai jam berapa?”tanya Derka.
Ravel menjawab “Jam 9 malam”Derka yang mendengarnya langsung menatap kearah jam tangan miliknya “Woke, masih ada waktu 30 menit, Ravel, Aku akan kesana jadi duluanlah”ucap Derka yang langsung mempersilakan Mavin melangkah duluan.
Ravel yang mendengarnya ingin melarang tapi Tuannya sudah melangkah meninggalkan dirinya. “Apa Aku perlu menyusul mereka?”benak Ravel.
Disisi lain, Derka dan Mavin melangkah menuju ke Cafe yang terlihat sepi. Mereka tak ada yang saling berbicara sampai tiba ditempat tersebut.
Setibanya dicafe, keduanya duduk dan memesan minuman mereka. menunggu sampai minuman itu datang barulah mereka saling berbicara.
“Ini minumannya Tuan”ucap Pelayan yang kemudian melangkah pergi.
Derka meyeduh minumanya. Ia kemudian menatap kearah Mavin yang juga menyeduh minumannya.
“Lama tak berjumpa Tuan Mavin”ucap Derka yang meletakkan cangkir miliknya. Mavin yang mendengarnya mengangguk.
“Kita pernah bertemu?..ku pikir hanya sekedar melihat”ucap Mavin dengan santainya.
__ADS_1
Derka yang mendengarnya mengangguk “Benar, Kita ini bukan teman, melainkan musuh yang saling kenal”