MANTIV

MANTIV
● Mantiv(120)


__ADS_3

“Kau yakin ingin memasukkan racun ini kedalam tubuhnya?”Tanya seorang wanita kepada Pria yang bernama Andre.


“Tentu saja Yakin, benarkan Yuda?”tanya Andre kepada Pria yang tengah asik memakan cemilan yang dihidangkan.


Yuda yang ditanya langsung mengangguk “Aku tak masalah, lagian kalau dengan alat itu Aku bisa mati, Aku akan sangat terbantu dengan adanya alat tersebut”jawabnya.


Wanita yang memegang dua alat berbentuk tabung dengan isi cairan racun yang langsung mematikan korbannya. Ia tersenyum mendengar jawaban Yuda dari pertanyaan Andre.


“Baiklah, berbaringlah kalian berdua, Akan ku tanamkan ini ditubuh kalian, dan akan ku atur. siapa yang ingin memegang pengendaliannya?”tanya Wanita tersebut.


Yuda menatap Andre “Kau saja, lagian Aku tak mungkin akan membunuh diriku sendiri”usul Yuda.


Andre yang mendengarnya mengangguk “Baiklah, jadi kapanpun Aku ingin meninggal, Kau harus siap menerimanya”ucap Andre dengan senyum diwajahnya.


Yuda mengangguk mendengar ucapan itu. Wanita yang melihatnya hanya bisa mengeleng.


“Kalian ini menarik ya, ingin sekali bermain-main dengan kematian, baiklah akan ku bantu...”ucap Wanita itu dengan mengambil alat-alatnya.


Malam itu, Yuda dan Andre melakukan eksperimen, menanam alat untuk menemui ajal kematian.


“Oh ya, Aku sudah mengaturnya. Jadi dengar, Andre...jika Kau membunuh dirimu, maka racun tersebut akan memicu detak jantungmu yang langsung mengaktifkan sistem alat tersebut dan terhubung dengan alat ditubuh Yuda...jadi perhatikan baik-baik”jelas wanita yang kini melangkah pergi.


Jangan tanya apakah mereka diberi obat bius, tentu saja diberi namun itu hanya ditempat yang akan digunakan untuk memasukkan alat tersebut. Mereka masih sadar dan bisa mengingat jelas proses eksperimennya.


Andre yang berada didalam sel bersama Reza. Ia membuka matanya kala mengingat tentang masa lalu yang dibuatnya.


Menatap tangan yang diketahui terdapat nadi disana. Ia tersenyum sesaat.


“Apa yang Kau senyumkan?”tanya Reza menatap kearah Pria yang senyum-senyum menatap tangannya. Siapa tahu kan ia berduaan dengan orang gila.


“Reza, Apa kau masih mencintai Kakakku, maksudnya Kakak Angkatku?”tanya Andre dengan wajah memandang datar.


Reza yang mendengarnya langsung menjawab “Rasa Cintaku terhadap Kakakmu itu sudah kelewatan dosis, namun setelah melihat dirinya bersama orang yang dicintainya, membuatku merasa ingin menghilang dari hadapannya”


“Kau berpikir seperti itu, apa mungkin bisa...sedangkan kita saja terkurung disini”Andre menatap Pria yang begitu mencintai wanita, yang jelas-jelas sudah membencinya.


“Aku tahu isi otakmu itu, Kau pasti berpikir untuk membunuh dirimu sendiri kan?”tanya Reza yang langsung membuat Andre tertawa.


“Hahahaha..benar sekali, lagian untuk apa disini, Aku memang ingin bebas, tapi jika kehidupan sulit membebaskanku, maka biarkan kematian yang membawaku”jelas Andre.


Reza yang mendengarnya terdiam sesaat, “Bagaimana caranya bunuh diri, kau tahu bukan..kita disini tak memiliki alatnya, apa kita harus saling mengcekik diri sendiri?”tanya Reza dengan menatap Pria yang kini berdiri didepannya.


“Tidak, Aku tak ingin merasakan rasa sakitnya, bagaimana kalau kita pinjam sama seseorang dulu”Andre berdiri mendekati jeriji besi. Terlihat teman mereka disana tengah asik memasak dengan aroma yang membuat orang lain lapar.


“Permisi, Sintra dan Feliya, apa kalian sibuk?”tanya Andre.


Yang diseberang sana langsung menatap kearah mereka dan juga mendekati jeriji besi untuk bisa berbicara lebih leluasa.


“Ada apa, Kau perlu sesuatu?”tanya Sintra kepada Orang yang kini menatap kearah mereka.


“Hm, Aku ingin sebuah pisau, apa Kau bisa memberikannya kepadaku?”tanya Andre dengan tenang.


“Apa yang ada dipikiran kalian, ingin bebas dari jeriji besi ini mengunakan pisau, sedangkan kita dibawah tanah, sulit untuk kabur”jelas Feliya yang melangkah pergi membiarkan dua orang kerja samanya itu melakukan kegiatan mereka.


“Tenang saja, Kami hanya perlu sebentar, dan lagi pula benar memang sulit untuk kabur, tapi tenang saja kok..kami hanya ingin bermain sebentar”jelas Andre lagi.


Feliya yang mendengarnya hanya mendengus. “Seterah kalian, lempar saja pisaunya itu Sintra..lagian kita masih punya satu lagi...Aku lapar ayo memasak”ucap Feliya. Sintra langsung mengangguk dan melemparkan pisau yang ada ditanganya.


Andre tersenyum mengambil pisau tersebut. Ia kemudian berteriak “PENJAGA”teriaknya. Menarik perhatian semua orang.


Penjaga yang bertugas langsung mendekat. “Ada apa, kenapa Kau berteriak begitu?”tanya Penjaga dengan baiknya.


Tentu saja, Andre dan Reza saja terpukau dengan penjaga milik Evita ini. Biasanya penjaga akan bersikap kasar atau suka membentak orang yang berada ditahanan. Namun penjaga milik Evita ini berbeda.


Mereka ramah dan memberikan respon baik. Bahkan Mereka akan menghormati jika disapa dengan baik juga. Hal inilah yang membuat Andre dan Reza menjadi merasa diberi kasih sayang tak langsung oleh Evita.


“Tak ada yang terjadi, Hanya bisa kau hubungi Nyonyamu itu, dan katakan tentang kematian kami”ucap Andre dengan santai.

__ADS_1


Sintra dan Feliya yang mendengarnya ucapan tersebut langsung menatap kearah dua orang didepan mereka.


“Apa yang Kau ucapkan, Nyonya akan mengamuk jika mengetahuinya”ucap Penjaga yang ada.


Andre tertawa mendengarnya. “Kasih tahu kepadanya, bahwa Ia telat”ucap Andre yang menyayat tangan kirinya. Sayatan itu menuntaskan nadinya.


Reza yang melihat keteguhan Andre tersebut. Ikut terbuai,“Kalau begitu, sampaikan juga pesanku kepadanya, katakan bahwa Aku sangat senang bisa mencintainya, dan dengan kematianku inilah tanda bahwa Aku bahagia melihatnya”Reza juga ikut menyayat tanganya.


“Oh ya Reza, jika disayat rasanya masih kurang, jadi minumlah darahku ada racun yang langsung membuatmu tumbang”


Reza yang mendengar ucapan Andre langsung mengangguk dan meminum darah tersebut.


Bagaikan parasit yang langsung merambat, Reza dan Andre merasakan jiwa mereka terbang dan pandangan mereka memudar.


“Aku datang kematian”benak mereka berdua.


Feliya dan Sintra yang melihatnya hanya bisa terdiam, penjaga itu bergegas untuk menghubungi Nyonya-Nya yang saat ini sibuk mengurusi musuh yang akan dihadapi.


-


Yuda yang ditahan menikmati tidurnya, Namun detakkan jantungnya berdebar cepat, dan sesuatu telah pecah didalam tubuhnya.


Ia langsung bangun dan duduk dengan wajah yang lemas karena racun ditubuhnya sudah menyebar.


“Ah, pantas kau menyuruhku pergi bebas, karena kau tahu..jika Kau mati, Aku juga akan mengikutimu..dasar Andre kau ini..tapi tak apa lah..lagian aku menikmatinya. Mungkin setelah ini Aku akan menemui Adikku dan keponakkanku”Ucap Yuda yang memuntahkan darahnya.


Ia berbaring dan langsung menikmati jiwanya yang sudah menghilang dari tubuhnya. Penjaga yang ada disana langsung kaget melihat hal tersebut mereka langsung melaporkan masalah ini kepada boss mereka.


-


Evita menatap datar kearah komputer didepannya, ia melihat rekaman yang didapat olehnya.


“Benar-benar susah diatur,,sudahlah jika mereka memang memilih kematian, aku tak bisa melarangnya”benak Evita. Ia bangun dari duduknya dan melangkah keluar menuju keaula utama dimana orang-orangnya sudah tiba dengan sigap.


Intari dan Amelya juga berdiri dibelakangnya. Mereka juga sudah mengenakan pakaian mereka.


“Perhatian semuanya”sapa Evita layaknya pemimpin yang mengontrol pasukkanya. Namun memang benar ia lah pemimpinnya.


“Tak mungkin kita disana tak disambut oleh mereka, ada tiga pusat yang harus diperhatikan, titik ini”Evita menunjukkan hologram yang mengambarkan denah. Ada tiga titik yang menonjol disana.


“Titik-titik ini akan menjadi hambatan, Aku ingin kalian memeriksannya..lalu..”Evita menatap kearah Intari dan Amelya.


“Evita, titik pertama serahkan kepadaku”ucap Intari yang sudah siap dengan pistol ditangannya.


“Dan Titik kedua serahkan kepadaku”Amelya juga mengusulkan dirinya.


“Nyonya, Titik ketiga,serahkan kepada Sebastian”usul Sebastian juga.


Evita yang mendengarnya mengangguk “Baiklah, kalau begitu Yoongi dan Echan, ikutlah Istri kalian, dan untuk Raja...Ikutlah bersama Sebastian, sisanya mari kita bermain”ucap Evita yang langsung menghebohkan seisi perusahaan.


Semua bergegas untuk berangkat dengan persiapan yang ada. Miss Lila dan Mr Tom juga memberikan semangat mereka.


“Kalian harus selamat, ingat”ucap Miss Lila. Evita dan Intari serta Amelya mengangguk.


“Evita”Liyana yang jarang ditemui oleh Evita, kini mereka berdua saling bertatapan. Merasa paham dengan situasi, Evita menuntun Liyana untuk keruangan lain.


-


“Apa yang ingin kau bicarakan, Liyana?”tanya Evita berdiri didekat meja kantor.


Liyana yang mendengarnya langsung menjawab “Apa Pria berkulit madu itu akan membantumu?”tanya Liyana.


Evita mengeleng, “Ia punya urusannya sendiri..Dan lagi pula Aku tak berhak untuk mengurusnya..”jawab Evita dengan santai. Liyana yang mendengarnya bernafas lega.


“Apakah Ayah Vino adalah Mavin Vintorin?”tanya Evita tanpa berbasa basi lagi. hal ini membuat Liyana langsung terteguh.


“Ba..bagaimana Kau tahu?”tanya Liyana. Ia sudah menutupi segala berkas tentang Vino, hanya data dirinya. Bahkan golongan darahnya juga diubah-ubah. Namun bagaimana bisa Evita orang yang dikaguminya ini tahu.

__ADS_1


“Aku sebenarnya akan tertipu dengan data diri Vino, apa lagi darahnya itu. namun Aku terlalu bodoh, darah Vino dan Darah Mavin sama..lalu Aku melakukan tes dna dan berhasil mengungkapkan apa yang kau rahasiakan”jelas Evita.


Liyana yang mendengarnya langsung melangkah mundur. “Bagaimana bisa...?”guman Liyana menundukkan kepalanya.


“Liyana, bagaimana bisa Kau disetubuhi oleh Mavin..maksudku, Apa saat Aku diculik waktu itu, Kau menolongku?”tanya Evita kepada wanita yang kini memetakkan air matanya.


“Hiks...hiks”Liyana mengangkat wajahnya dan menatap Evita dengan wajah menangis tapi tertawa.


“Ha..hahaha, Putraku menyukaimu karena Ayahnya mencintaimu, Evita....Kau benar-benar menakjubkan”ucap Liyana yang membuat Evita terkejut.


Tepat saat Evita diculik, Liyana bertugas sebagai pelacaknya. Namun karena merasa kurang membantu, Liyana bergegas untuk memindai secara langsung.


Dihotel yang menjadi pusat perhatian mereka. Liyana menjelajahi apa yang ada disana. Sampai tiba dilantai tepat Evita disekap.


Liyana tak mengetahui dimana tepatnya Evita berada. Namun hatinya merasa yakin, Kakak yang dihormatinya ini ada disini.


“Seharusnya Kalung itu tepat disini kan?”benak Liyana. Namun saat akan bergegas untuk mencari. Dua orang asing menangkap dirinya.


“Apa yang?”Liyana mengeluarkan alatnya untuk melumpuhkan musuhnya ini namun belum sampai alat itu, Liyana sudah dilumpuhkan lebih dahulu.


“Sial, Kita salah tangkap orang”ucap salah satu dari mereka.


“Biarkan saja, lagi pula ini hanya dijadikan sebagai objek, ayo cepat sebelum si manik eksperimen itu mengantung kita hidup-hidup”ucap yang lainnya.


Liyana yang dalam keadaan setengah sadar melihat bahwa dirinya dibawa kesebuah kamar. Lalu tubuhnya dihempaskan begitu saja dikasur yang begitu luasnya.


“Tinggalkan dia, Tuan Muda akan bermain dengannya”ucap yang lain. mereka berlalu meninggalkan Liyana yang berusaha untuk bangun.


Liyana tak tahu, tubuhnya disuntik dengan apa. Namun, Ia yakin ini adalah suntikkan pelumpuh sementara dengan kantuk yang ada.Matanya perlahan tertutup dan tengelam dalam lautan mimpi.


-


Liyana terbangun ketika merasa tubuhnya disentuh-sentuh oleh seseorang. Ia bergegas menatap dan mendapati seorang pria mencumbunya dengan buas.


Yang membuat Liyana kaget lagi, orang tersebut orang yang tak dikenal olehnya. Dan Liyana langsung memberontak meski tubuhnya masih lemah.


“Diamlah Evita, biar aku mencumbumu”ucap Pria didepannya yang langsung menghujani Liyana dengan ciumannya. Liyana terdiam mendengar nama yang disebutkan oleh Pria didepannya ini.


Mengingat masa lalunya, Liyana makin tertawa hingga Ia mengenggam baju Evita yang sudah bersiap untuk bertempur.


“DIA..DIA MEMANGGIL NAMAMU, NAMAMU SAAT MENYETUBUHIKU...HAHAHAHHA”Liyana berteriak sampai akhirnya yang lain langsung datang.


Semua ingin mencegah keduanya namun terlihat sekali bahwa suasana kali ini ingin diselesaikan tanpa ada yang menganggu.


“Apa yang terjadi kepada Ibu?”tanya Vino yang digendong oleh karyawan detektif.


Intari yang mendengarnya langsung menjawab “Ibumu hanya sedang berlatih meluapkan emosi, Ayo Vino sebaiknya bermain dengan ku”ajak Intari namun Vino putra dari Mavin Vintorin itu sama keras kepala seperti Ibunya. Ia malah berlari mendekati Liyana dan Evita.


“Tahan dirinya”perintah Intari namun Sia-sia. Pria kecil itu sudah memeluk Kaki Ibunya.


“Ibu, Apa yang terjadi?”tanya Vino yang menatap Ibunya. Evita masih diam tak berbicara.


“Evita...Kau tahu bagaimana rasanya ketika Pria yang menyentuhmu adalah Pria yang menyukai orang yang Kau hormati, saat Ia datang membawamu dan melindungi dirimu...Aku saat itu tengah menahan sakit dan mual akibat benih yang ditanam olehnya”jelas Liyana tanpa memperdulikan Vino yang mulai ikut menangis.


Amelya dan Intari berusaha untuk menangkap Vino, namun Vino terus memeluk Kaki Ibunya.


“Dan tahu kah kamu, ketika Aku diperancis, Aku melahirkan seorang diri tanpa ada bantuan sama sekali, alasanku tak memberitahu Miss Lila dan Lainnya karena Aku tak ingin menganggu keluarga mereka..Evita disaat Kau berseda gurau dengan Pria mu itu, disaat itu Aku hampir merengang nyawa untuk melahirkan Vino”Liyana mengendong Vino yang makin menangis.


Evita masih memandang datar kearah lantai, Ia tak berani mengatakan apa-apa.


Semua orang tak berani mendekat, dan hanya beberapa orang yang penting yang ada didalam ruangan.


“Jadi, semua salahku Liyana ?”tanya Evita yang kini memandang Liyana.


“Aku tak menyalahkanmu, Aku hanya merasa kenapa ia hanya mengingat namamu saat menyetubuhi diriku, dan tak memandangku malah membayangkan diriku adalah dirimu...Evita bagaimana seharusnya Aku bertindak?”tanya Liyana yang mengendong Vino. Lalu Vino diserahkan kepada Pelayan dengan paksa.


Vino memerontak dan terus menangis anak usia 5 tahun itu begitu keras kepala dan marah seperti ibu dan Ayahnya. Semua melihat hal ini jadi terdiam. Apa lagi melihat Ekspresi Evita yang mulai berbeda.

__ADS_1


“Tuan Za, Nyonya Evita!!!!”Sebastian langsung menyadari perubahan wajah tersebut. Membuat Za bergegas untuk mendekat.


Dor!.....................


__ADS_2