
“Amelya!!!”ucap Evita yang langsung mengerebek Meja Gazebo tanpa permisi. Membuat Rina, Ninta, dan Narti serta Pria yang dikenal dekat dengan Amelya itu kaget melihat kedatangan Evita.
Indah yang ada disamping Evita juga menatap kearah Amelya yang tengah santai menikmati minuman cupnya.
“kenapa?”tanya Amelya tanpa melirik.
Indah dan Evita kaget ketika diri mereka berpas-pasan dengan Amelya yang mengandeng seorang Pria.
“Jadi Evita..kau membawa Sebastian kekantor detektif...”ucapan Indah terhenti menyadari bahwa seseorang dengan seenak hati melewati mereka tanpa permisi.
Evita juga menatap kearah orang tersebut. “Gila Nih Cewek..kok makin lama tuk muka tahan dengan topeng?”ucap Evita saat Amelya dan Pria yang dikira mereka kekasihnya menjauh dari pandangan mereka.
“Evita..apa kita tanya saja langsung..kalau kita selalu diperlakukan seperti ini,serasa persahabatan kita telah pecah”saran Indah. Evita mengangguk “Baik kita akan berbicara dengan nya”ucap Evita yang langsung di iyakan oleh Indah.
Begitulah sebab kenapa mereka ada disini. Mendengar pertanyaan kenapa dari Amelya membuat kerutan diwajah Evita.
“Kenapa kau tanya?....Amelya, kau itu sahabat kami, apa yang kau lakukan..kenapa malah seperti ini..pertama kau menghindari kami..kedua kau berjalan dengan mereka..woke fine sebenarnya kau mungkin mencari momen baru...tapi setidaknya beri tahu kami”ucap Evita menyampaikan unek-uneknya.
Membuat Amelya terkekeh mendengarnya. “Nona Evita..siapa anda yang harus saya beritahu tentang saya”ucap Amelya dengan bahasa formal. Berhasil membuat orang-orang yang ada disana langsung melihat kearah mereka.
Indah yang mendengarnya, sadar bahwa Amelya salah berbicara. Mengunakan kata Nona, kepada Evita sama saja memgungkit betapa kayanya Evita. Evita tidak suka jika Sahabatnya mengatakan hal itu.
“Maksudmu?”tanya Evita dengan nada tenang. Namun Indah yang mendengarnya sudah salah. Amelya masih tidak perduli dengan apa yang terjadi.
“Dengar Nyonya Muda Evita....atau lebih tempatnya Nyonya Muda Kim Hyun Jae”ucapnya membuat orang-orang berbisik ketika mendengarnya.
“Jadi selama ini Evita anak keluarga Kim...keluarga kaya itu?”
“Dia juga menyandang status sebagai keturunan Alex”
“gila keren..pantes selama ini ia terlihat santai...ternyata anak kesayangan”
“Tapi rasa mengerikan juga sih...Dia akan kesulitan untuk mengatur diri agar tidak mempermalukan dua marga itu”
“Sulit...tapi menarik”
Itu yang dibisikan. Namun bisikkan itu malah terdengar ditelinga Evita. membuat Evita menghela nafas. Mungkin Amelya tengah berakting sekarang. Jadi ia harus sabar.
Amelya melanjutkan “Nyonya Muda sepertimu itu memang berhak mengatur segalanya, tapi bagiku siapapun yang aku temani saat ini adalah temanku, dan kau sekarang bukan temanku”ucapnya dengan senyum yang mewah. Amelya berdiri sambil menatap Evita.
Indah yang melihatnya berbicara. “Mel..hentikan jangan sampai sesuatu terjadi yang akan kau sesali nantinya”ucapnya.
Amelya yang mendengarnya tertawa “Orang yang membunuh orang tua sendiri lebih baik diam...engak usah banyak bicara..”
Indah langsung terdiam mendengarnya, ia menundukkan kepala karena mendengarkan hal itu. Evita masih terdiam.
“Dengar baik-baik..Evita, kau itu hanya anak manja yang selalu dituruti apa yang kau inginkan...sedangkan aku berbeda...jadi lebih baik hentikan pertemanan yang seperti sampah ini..Aku tak menginginkannya”
“Lagi pula berteman dengan orang sepertimu bisa membuatku mati seketika karena....”
Dorrrrr
Peluru lolos melewati wajah Amelya. Seketika itu juga pipi kanannya berhasil tergores akibat gesekkan angin. Peluru itu mengenai salah satu tembok sekolah.
Semua orang yang ada disana langsung terdiam, bahkan meringkuk karena mendengar tembakkan itu. Indah yang ada disamping Evita seketika sadar dan langsung menatap Evita yang kini menyodongkan Pistol ditangannya.
Amelya yang melihatnya langsung terdiam, ia baru ingat bahwa Evita lebih sulit dimengerti dan akan berbahaya jika berurusan dengan nya.
Suara pistol itu menarik perhatian orang-orang. Suno Rin, Echan, Yoongi dan Za langsung ada ditempat. Mereka membelakkan mata melihat apa yang terjadi.
Evita menurunkan pistol yang ada ditangannya. Ia menatap Amelya. “Dengar Amelya....kau sudah tahu kalau Aku pernah membunuh orang..jadi ingat baik-baik, jika seandainya Kau bukan Sahabatku, akan ku hancurkan seluruh tubuh hingga tak ada yang tersisa”ucap Evita.
Ia kemudian melangkah pergi dengan wajah yang datar. Mirip seperti ayah kandungnya. Mata yang mirip ibunya berhasil menundukkan kepala orang-orang.
__ADS_1
Echan yang melihat hal ini langsung bersigap untuk pergi menyusul Evita. namun ditahan oleh Za. “Biar aku...dia masih membawa senjata yang lain”ucap Za. Echan pun mengangguk.
Suasana masih sunyi, Indah menatap kearah Amelya. “Aku juga mengunakan topeng Amelya..tapi Persahabatan yang kita buat, tak akan mudah berakhir jika kita tak saling berbohong atau saling memberikan kebencian..ku harap kau paham”ucap Indah yang kemudian melangkah pergi.
Semua orang juga ikut pergi meninggalkan apa yang terjadi. Selain itu biar pihak sekolah yang menangani. Sekarang mereka telah menemukan sesuatu yang baru, yaitu Evita yang tak boleh disinggung sedikit pun, jika tidak nyawamu melayang.
Evita melangkah dengan cepat, ia mengambil tas yang ada dikelas. Niatnya ingin membolos atau kalau bisa tidak turun sekolah lagi.
“Senjatamu”ucap seseorang yang berhasil menyusulnya. Evita menatap kearah Za. Satu-satunya orang yang berhasil menahan amarahnya.
“Nih”Evita menyerahkan langsung kearah Za. “Lagi”ucap Za. Yang membuat Evita pasrah.
Ia mengeluarkan senjata api yang dibawanya. Evita selalu membawa senjata api diantara pahanya. Kenapa?..karena ia menjaga diri, selain masalah diri sendiri, kedua marga yang ada dinamanya, sangat menarik perhatian musuh-musuh keluarganya. Jadi ia harus bisa melindungi diri. Maka tak heran senjata api itu ada didirinya.
“Lain kali jangan membawanya lagi”ucap Za yang membawa empat senjata api. Selain itu ia pun menyarankan Evita untuk pergi keruang kepala sekolah.
“Tidak perlu..nanti akan ada wali yang datang..terimakasih Kak Za...dan terimakasih Mobilnya..akan ku bawa”ucap Evita yang diam-diam mengambil kunci mobil milik Za. Ia melangkah berlari meninggalkan Za yang mematung mendengarnya.
“Bagaimana bisa dia mengambilnya?”benak Za.
-
Amelya duduk dengan wajah lemas. Tangannya gemetar dengan apa yang didapatinya. Baru kali ini ia menghadapi maut. Jika Evita menembak tepat dikepalanya. Ia akan langsung mati ditempat.
“Aku lupa....Evita itu maniak senjata..ia sangat pintar menyembunyikan senjata”benak Amelya.
Tangannya sangat gemetar, ia tak bisa berpikir jernih sekarang. Jadi ia memilih untuk pergi tanpa pamit kepada Hun Kai dan tiga gadis yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Amelya melangkah dengan gemetar, karena gemetar itu ia hampir terjatuh jika seseorang tidak menolongnya.
“Kenapa kau sangat suka berakting”ucap orang tersebut. Amelya yang mendengarnya terdiam. “Kak Echan..kau sungguh sangat perhatian..jangan khawatir..ini tidak akan lama”ucap Amelya yang kini dalam dekapan Echan.
Echan tahu bahwa Amelya tengah tegang dan masih membayangkan kejadian tadi. Bayangkan Amelya yang tidak pernah diberi tatapan milik Evita, kini malah merasakannya.
“Diam lah.....dengar, persahabatan itu akan lebih baik jika saling memberitahu...karena akan ada sahabat yang tak tanggung-tanggung memberikan pertolonganya”ucap Echan kepada Gadis yang ada didalam dekapannya. Amelya terdiam. Ia memang salah dalam hal ini, tapi jika Evita membantu. Akan sangat sulit karena Evita tidak boleh terlalu diketahui oleh orang-orang. Dan sekarang ia yang menyebabkan masalah kepada Evita
-
“Keren juga nih mobil”ucapnya. Namun tak berapa lama, dua mobil lain mengejar dirinya.
“Sial....sepertinya mereka tahu keberadaanku...agh ini sulitnya jadi anak bermarga dua”benaknya. Ia melesat lagi. mencari tempat persembunyian yang tepat.
Evita menelpon salah satu karyawan Ayahnya. Ayah kandungnya.
“Ada yang bisa dibantu Nona”ucap yang diseberang telpon.
Evita menjawab “Buka gerbang Rumah utama yang sedang dibangun...aku akan kesana”ucap Evita.
“Baik”sahut yang lain.
Tak berapa lama, ada sebuah gerbang hitam yang terbuka. Evita yang melihatnya tersenyum. “Selamat datang dikediaman gagak”gumannya.
Mobilnya memasuki area halaman depan yang sangat luas. Ada beberapa orang yang sedang membangun kediamannya ini. Ini adalah kediaman yang akan menjadi tempat tinggal untuknya. Dan Indah lalu Amelya juga menjadi salah satu Nyonya-nya.
Karena Mansion yang dibangun olehnya serba suram, tidak ada kehidupan. Namun itulah ciri khas Evita.Ia keluar dari mobil yang didapat dari Za. Heh bodo amat lah yang pasti ia tengah tenang saat ini.
Keluar dua orang yang merupakan sepasang suami istri. Aura mereka sangat mendominasi keadaan, tapi itu tidak mempengaruhi Evita. ia melangkah menaiki tangga mansionnya.
“Siang”ucapnya. Padahal ini masih jam 10 pagi. Dua orang itu menatap heran kepadanya.
“Kenapa kau datang, apa kau membolos?”tanya Wanita yang ada disamping Pria.
“AH benar..heheheh.dan juga, Tante Zahra bisa atur orang-orang yang mengejarku”ucap Evita yang langsung dianggukkan oleh dua orang itu.
__ADS_1
Tak berapa lama, dua mobil tiba ditempat. Gerbang masih terbuka dengan indahnya menyambut. Tapi saat mobil itu sudah memasuki area. Gerbang itu langsung tertutup.
“Kami akan mengurusnya...lebih baik kau temani Maya yang ada didalam bersama Lee”ucap Tuan Zahra. Evita yang mendengarnya langsung masuk kedalam. Membiarkan mereka mengurusi orang yang datang mencarinya.
Didalam ruangan yang masih belum selesai, terlihat dua orang tengah bercerita sambil menikmati secangkir teh hangat.
“Boleh bergabung”ucap Evita yang duduk disamping Maya Anita Zahra. Maya yang mendengar suaranya langsung memeluk Evita.
“Evita...kapan kau datang?”tanya Maya. Evita yang mendapat pelukkan itu langsung membalasnya. “baru saja”jawab Evita.
Lee yang merupakan seketaris pribadi keluarga Zahra tersenyum. Ia melangkah meninggalkan dua orang yang tengah menikmati momen mereka.
“Hmm....Evita siapa yang bersamamu..kenapa wangi mu berbeda dari biasanya”ucap Maya. Dia gadis buta yang merupakan keturunan keluarga Zahra. Meski buta ia tak pernah mengeluh.
“Eleh...emang kenapa...lagian Aku bisa saja menganti parfumku”ucap Evita yang kini mengambil cemilan dihadapannya.
Maya yang mendengarnya mengerutkan alis. “Evita...apa kau mengunakan mobil orang?”tanyanya.
Evita yang mendapat pertanyaan itu langsung tersedak. “Uhuk...kok lo tahu sih....May? lo cenayang ya?”tanya Evita yang membuat Maya tertawa.
“Tentu saja aku tahu Evita..kau sudah lama berteman denganku, Aku tahu apa yang kau suka dan tidak..pertama kau menyukai bau cendana, kedua kau menyukai senjata api. Selain itu kau suka balapan..jadi apa yang tidak aku tahu”ucap Maya yang membuat Evita mendengus.
“Heh....jangan mencari-cari tentangku ya...karena kadang yang ku sukai itu malah jadi yang paling ku benci”ucap Evita yang menyeduh Teh hangat.
Maya yang mendengarnya mengeleng. “Sudah..jadi mobil siapa yang kau bawa itu?”tanya Maya yang tidak ingin menyerah. Maya dan Evita sudah lama berteman, sekitar 1 tahun. Pertemanan mereka terjadi saat Evita diajak kepertemuan malam dengan orang asing.
“Yeah itu mobil kakak kelas..Aku mengambil kuncinya..”jawab Evita tanpa merasa bersalah. Mendengar hal itu membuat Maya mengeleng.
“Kalau begitu kau sungguh sangat tidak tahu malu, dia laki-laki pasti”tebak Maya. Dan itu lagi-lagi menarik perhatian Evita.
“Kau ini pasti cenayang..kok tahu sih”Evita mencubit pipi Maya yang langsung ditepis sang empunya.
“Sakit”ucap Maya yang mengelus pipinya. “Siapa suruh gemesin”Evita menyantap lagi cemilannya.
“Aku doain ya...kau akan mendapatkan orang yang selalu menempel kepadamu, dan bucin selalu”ucap Maya yang kemudian beranjak berdiri. Ia mengambil tongkatnya.
“Doain aja terus.....lagian engak ada yang terkabul..siapa juga yang suka aku...kau mau kemana?”tanya Evita yang ingin membantu.
“Kau bilang tidak ada yang suka...Aku sudah mencium aroma pakaianmu...bisa dipastikan ada tiga orang atau lebih yang ingin dekat denganmu..hati-hati kau yang suka mengoda laki-laki akan mendapatkan karmamu sendiri”ucap Maya yang kini dibantu oleh Pelayan yang ada.
“Nona Maya sudah waktunya istirahat Nona Evita..maaf sebelumnya”Pelayan itu menyampaikan tujuan Maya. Evita mengangguk. Ia membalas perkataan Maya. “Bodoamat...lagian laki-laki itu lucu kalau digoda”ucapnya. Dan Maya tertawa mendengarnya.
“hati-hati malah kau yang akan sulit menghadapinnya”ucap Ibu Maya yang baru saja tiba. Terlihat pakaiannya sedikit terkena darah. Evita hanya mendengus mendengarnya.
“Tante sama kayak anaknya...suka mengejek..sudahlah saatnya Aku kembali kekediamanku”ucap Evita yang ingin meranjak pergi. Tapi tangannya ditahan oleh Ibu Zahra.
“Kenapa Tante?”tanya Evita.
“Evita..dengar, akan ada banyak masalah yang terjadi, dan pasti akan berhubungan langsung dengan mafia...kau harus menguatkan dirimu agar bisa mengalahkan mereka..itu pesan Tante..ah dan satu lagi kalau bisa jagalah Maya jika tante dan Paman tidak ada”
Evita mengangguk. Ia mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Keluarga Zahra ini. Sepertinya musuh dari dua orang tuanya ini bermain dibawah tanah. Ia harus hati-hati.
“Baiklah kalau begitu Aku izin pamit paman dan Tante”ucap Evita yang melangkah langsung kemobil yang dibawanya. Terlihat dua mobil yang mengejarnya dihancurkan dengan palu besar oleh orang-orang dan yang mengawasinya adalah Lee, seketaris keluarga Zahra.
“Keluarga yang menakutkan”benak Evita. ia menancamkan pedalnya dan kembali membelah jalan. Siang ini, ada rapat yang akan membahas masalah keluarga Sebastian, seketarisnya.
Sebastian telah ia titipkan kantor detektif. Dan ia akan mendapat kabar Sebastian ini lebih baik diberi pendidikkan langsung di sekolah, atau hanya mengambil les untuknya.
Mengingat tentang kejadian yang ia alami, Evita rada menyesal bisa menyakiti sahabatnya sendiri. tapi memang seperti inilah dirinya. Jika hatinya telah terluka dan dipaksa untuk menerima kenyataan. Ia akan menolak dengan keras, meski tahu akhirnya seperti apa.
Evita memikirkan lagi, Pria yang ada disamping Amelya. Seperti pernah ditemuinya. Tapi dimana, dan kapan.
-
__ADS_1
Amelya diam dikelasnya. Sudah jam 11 siang. Dan saat ini ia hanya duduk sendiri tanpa adanya Indah. Karena Indah lebih memilih untuk duduk dikursi Evita.
Suasana yang sepi ini membuat Amelya menangis dalam diam. Apa yang harus ia lakukan. Ia tak ingin persahabatannya pecah. Ia masih mengharapkan Evita dan Indah tempat ia kembali. Apa lagi beban dipikirannya mulai bertambah. Apa yang harus ia lakukan?...