
Mavin Vintorin melangkah keluar dari mobilnya untuk melihat keadaan perusahaan yang berada ditebing kota A. tak ada apa pun yang ada disana. Sepi bagaikan tempat kosong yang sudah ditinggalkan
.
“Tuan...semua sudah diperiksa..tak ada orang disini”ucap Anak buah Mavin yang datang dengan wajah yang berkeringat.
Mavin Vintorin mengerutkan alisnya kala menyadari hal ini. Ditambah hari yang mulai gelap, tak ada tanda-tanda Evita ada diperusahaannya.
“Apa terjadi sesuatu?”benak Mavin Vintorin.
-
Malam harinya....
Diruang tamu, Evita,Intari,Amelya dan Liyana serta tiga suami mereka duduk bersama. Kali ini mereka akan menginap dirumah Evita yang entah keberapa.
Vino-Li telah tertidur dalam lautan mimpi. Dan saat inilah momen yang tepat untuk membahas masalah yang sebenarnya.
“Jadi....Kau ingin membahas Apa?”tanya Evita memulai rapat sederhana mereka. untuk yang bertanya dimana Sebastian dan Raja. Tentu saja mereka berada dikota Q. Mereka berangkat tepat saat Evita memutuskan untuk mengurus Andre. Jadi hanya sisa orang penting saja yang ada.
“Apa kalian ingat Obat yang ku berikan kekalian dulu?”ucap Liyana. Semua mengangguk. Karena memang mendapatkan bagian untuk obat tersebut berbeda dengan Yoongi,Za dan Echan yang hanya diam tak bisa menjawab. Karena mereka tak mendapatkannya.
“Pil yang kalian dapatkan, mengandung beberapa rempah-rempah yang membuat kalian melupakan bagian-bagian dari masa lalu”
“Selain itu.....ada beberapa yang berefek samping. Contohnya kepala sakit saat bayangan ingatan akan muncul...dan hal itu sudah kalian alami”
“Aku berpikir mungkin akan bertahan selama 1 atau 2 bulan. Tapi kalian yang sudah mengonsumsinya melebihi dosis membuat ingatan terlupakan hingga bertahun-tahun”
Penjelasan Liyana berhasil membuat Evita mengingat kembali obat yang pernah dibahasnya dengan Mavin Vintorin. Dan mengingat Mavin. Mata Evita membelak menyadari sesuatu.
“Maka saat aku memerikas Pil itu, Aku melakukan beberapa bagian untuk tidak membuat kalian tambah amesia. Dan syukurlah obat itu berkerja sekarang”ucap Liyana.
Intari berpikir sejenak, “Liyana...kau mengetahui ini sejak lama, kenapa tidak membahasnya bersama kami?”
“Karena kalian saat itu masih terpuruk..tak bisa Aku menganggu keadaan kalian...itu bisa memancing pengaruh obat yang meningkat”jelas Liyana.
“Lalu...apa masih tersisa efek samping dari obat itu?”Amelya bertanya karena takut masih tertinggal bagian yang penting, yang belum diketahui olehnya.
“Aku tak tahu..karena aku bukan dokter atau ilmuan yang sebenarnya..jadi aku hanya bisa menangkal apa yang bisa ditangkal”ucap Liyana.
“Cuma itu yang bisa ku sampaikan...dan satu lagi....Merlina dan Yelina sudah kembali”ucap Liyana. Sebagai salah satu hecker yang sebenarnya. Ia mampu melacak seseorang.
Semua langsung menatap kearah Evita yang menunduk tak mengangkat kepalanya.
“Lebih baik istirahat..ini sudah malam, dan untuk Kau juga Liyana... Vino pasti membutuhkanmu”ucap Echan yang langsung mendapatkan anggukan dari Liyana.
Semua pun pergi, Intari dan Yoongi memutuskan untuk mengunakan kamar dilantai bawah. Begitu juga dengan Amelya dan Echan. Karena rumah Evita terbilang agak sederhana. Hanya ada satu kamar utama dilantai dua. Lantai bahwa sudah terisi.
Za menatap kearah Evita yang masih duduk dengan tenang. Ia memberanikan diri untuk mendekat. Tapi Evita langsung menyadarinya.
“Za..ini sudah malam, sebaiknya kita tidur...apa lagi kau sudah seharian tadi menangkap Reza, pasti capek”ucap Evita yang melangkah menaiki tangga. Za yang melihatnya mengikuti langkah Evita.
-
Evita menatap kearah pintu kamar mandi. Selain memikirkan masalah orang lain, ia juga memikirkan masalahnya. Bayangan tentang disetubuhi masih menghantui. Bahkan ia sekarang tambah takut untuk berada didekat Za.
Krek
Evita melangkah keluar dari kamar mandi. Ia mengunakan pakaiannya didalam kamar mandi jadi tak perlu repot-repot pindah sana sini.
Dilihatnya Za tengah memegang wine ditangan menatap kearah jendela yang menunjukkan indahnya malam kota A.
“Za....kau tak ingin tidur?”tanya Evita. sudah beberapa hari pernikahan mereka berjalan. Dan kemesraan yang mana yang membumbui pernikahaan mereka. selain Evita yang makin egosi memikirkan diri sendiri.
“Tidurlah”ucap Za. Za juga tak ingin memaksa Evita untuk mengizinkannya menyentuh Evita. selama Evita bahagia itu sudah cukup.tapi ada yang menganjal dihati Za, ia tak bisa membiarkan Evita terus bermimpi buruk. Karena jika Za tak memeluk Evita. Evita akan menjadi gelisah bahkan akan sulit tidur karena mimpi menghantuinya.
“Maaf Za...ini salahku, Kau pasti menahan dirimu lagi dan lagi”ucap Evita. arah pembicaraan mereka kali ini mengarah kehubungan mereka. Bibi kantin pernah mengatakan bahwa hubungan ynag baik itu ketika sudah saling mencintai bahkan mampu memberi hal yang memang sudah seharusnya diberikan.
“Apa kau ingin melakukannya denganku?”tanya Za yang menatap Evita. Za menaruh Wine dimeja lalu menutup tirai jendela.
Evita terteguh mendengarnya, ia langsung membalikkan diri melihat Za yang sudah berdiri didepannya.
Bruk
“ZA!!!!”Pekik Evita yang kini berbaring dikasur kecil cukup untuk mereka berdua. Mata Evita bergetar tubuhnya mulai berkeringat.
__ADS_1
“Aku bertanya...Apa kau ingin melakukannya denganku?”suara dingin menembus kekulit Evita. mata Evita memandang Za meski wajah Za tak terlihat karena terhalang dengan cahaya lampu yang ada. dan hal itu berhasil membuat Evita mengingat masa kelamnya.
Tiga pria berdiri didepannya. Evita berusaha untuk membebaskan diri bahkan berusaha untuk menjauhkan diri. Tapi wajah penuh senyum membuat Evita merasa sakit hati hingga...
Srettt
Pakaian Evita robek bersamaan dengan sentuhan dari lelaki sialan yang bermain diarea pribadinya.
Mengingat hal tersebut,Evita memundurkan diri saat Za menaiki kasur dengan wajah yang mirip seperti tiga pria bajingan yang memperkosa dirinya.
“JANGAN...JANGAN.....KU MOHON...JANGAN”Evita mulai mengelantur melihat Za yang mendekat.
Cup
Mata Evita membelak menerima ciuman dari Za. Bahkan ia diajak bermain oleh Za. Za menekan tengkuknya untuk memperdalam.
“Hmph...Zaaaaaa”Evita mend*sah ketika Za berhasil membuatnya hanyut dalam permainan.
Namun saat ingin berlanjut, Evita menghentikan Za. “Za...ku mohon jangan...aku tak ingin membencimu...sungguh”ucap Evita yang menatap Za, Za tak mendengarkannya ia kembali ******* Evita bahkan tangannya ikut bermain.
Evita berusaha keras menghentikan permainan yang membuat memorinya berputar lagi dan lagi. ia makin dirundung kekesalan.
“ZA!!!!!!!!!”Pekik Evita yang langsung menampar Za didepannya. Pakaian Evita telah sepenuhnya terlepas dari tubuhnya. Za menatap kearah Evita bahkan bernafas dalam hembusan yang sama.
“Kenapa...kenapa kau melakukannya...kenapa kau begitu ingin melakukannya...jika menikahiku hanya karena ini, maka lakukan saat sebelum menikah....Za.....keluargamu..keluargamu adalah keluarga yang penuh aturan, jangan nodai aturan itu dengan tindakkanmu.....”Evita memeluk Za dengan air mata yang mengurai. Za sedikit lagi berhasil mencapai apa yang diinginkannya.
Dengan lembut Za mengusap punggung Evita tanpa sehelaipun kain yang ada. tubuh Evita bergetar karena rasa trauma masih tersimpan dalam tubuhnya.
“Hiks...Hiks...Za..ku mohon, maafkan aku, jangan lakukan ini”ucap Evita yang sudah menyerah. Meski dirinya merasa nyaman ikut permainan tapi jujur ia tak sanggup karena bayangan diperkosa sekali lagi berhasil membuatnya tambah trauma.
“Evita...Kim hyun Jae....dengar, Aku yang minta maaf, memaksamu melakukan ini bersamaku, jujur Aku ingin menghilangkan trauma itu, bahkan kalau bisa Kau hanya membayangkan diriku yang menyetubuhimu..tapi itu sia-sia...lelaki bang**t itu berhasil membuatmu tak bisa melupakannya”
Za memeluk erat Evita, yang berhasil membuat Evita terteguh bahkan kaget mendengar ucapannya.
“Aku melakukan ini, agar bayangannya menghilang menjadi bayanganku yang ada dipikiranmu, dihatimu dan tubuhmu hanya mengingat diriku...Evita berapa kali kau disetubuhi, aku tak perduli...karena selama Cintamu, pandanganmu, dan sekarang dirimu adalah miliku. Selamanya AKAN MENJADI MILIKKU”
Evita langsung menatap kearah Za dengan pandangan yang penuh keterkejutan. Gemetar ditubuh Evita menghilang diganti dengan rasa yang lain. Evita menatap kearah Za yang juga menatap dirinya.
“Evita...sekali lagi, tidak. Akan ku ucapkan berkali-kali...Aku MENCINTAIMU”
“Aku...Aku juga MENCINTAIMU..ZA!”Pekik Evita yang mendapat kembali serangan dari Za. Malam itu keduanya menghabiskan waktu dengan bermain permainan yang begitu panas.
-
Yelina menatap kearah meja judi yang kini banyak dihadiri oleh para pria tua.
“Aku..Aku yang dapat bagian”
“Berapa?”
“50 juta”
“Sepakat”
Sebuah dadu dikocok dengan cepat dan tak lama dadu tersebut dihentikan hingga terlihat angka-angkat dadu yang menujukkan nilainya.
“Besar...Wow..Aku untung banyak”
“Sial..seharusnya kita bertaruh besar tadi”
“agh.....aku pinjam, siapa yang punya uang..aku ingin meminjamnya...”
Yelina memandang dari atas tempat penjudian yang berada disalah satu hotel ternama dikota A. hotel itu tak lain milik keluarga besar Nurganto.
“Oh kau sudah kembali ya?”tanya seorang Wanita yang melangkah keluar dengan gaun panjang yang terbelah dibagian pahanya.
“Kenapa dengan matamu?”tanya Navi yang selama ini menghabiskan harinya bersama dengan pencarian Tunangannya.
“Ooh mataku habis diserang oleh jebakkanku sendiri”jawab Yelina dengan menikmati minumannya.
“Begitu kah....jadi rencanamu membunuh musuhmu itu gagal?”Yelina menatap sinis kearah Navi. Navi tersenyum sesaat.
“Yeah...pasti sulit....sudahlah, Niatku padahal ini menyuruhmu berkerja sama denganku mencari seseorang dan membunuhnya”
Yelina yang mendengarnya langsung menatap kearah Navi. “Siapa yang ingin kau bunuh?”
__ADS_1
“Oh dia seorang wanita yang berani menganggu hubunganku dengan Zaza..aku ingin membunuhnya”
“Wanita?....aku tak ingin, aku saat ini masih ada urusan lain”
“Sudahlah..berharap dengan mu itu percuma”Navi melangkah pergi dengan cepat meninggalkan Yelina yang tengelam dalam pikirannya.
“Siapa wanita yang membuat Navi ingin membunuhnya..wanita yang dulu dikenal sebagai pembully itu bisa kalah dengan wanita ini?”benak..
-
“Tuan..Kami hanya bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi....setelah kejadian itu, mereka semua kembali”ucap anak buah Mavin Vintorin.
Mavin Vintorin membelakan mata tak menduga dengan apa yang didengarnya. Andre berniat menghabisi Evita. bersama dengan Reza?. Tak habis pikir seharusnya ia ada disana.
“Lalu bagaimana keadaan Evita?”
“Ia hanya mengalami luka dibagian lengannya”jawab Anak buah Mavin.
Mavin terdiam lagi, ia merasa sakit mendengar Evita terluka. Apa lagi disaat ia mampu melindunginya. Namun memikirkan melindungi Evita. justru yang dipikirkannya bagaimana reaksi Evita jika tahu bahwa Andre adalah adik kandungnya. Meski beda ibu.
“Apa kalian tahu keberadaan mereka?”tanya Mavin lagi. selain masalah Evita ini, ia memikirkan Anak yang tak lain adalah Anaknya sendiri. hasil dari apa yang diperbuat olehnya.
“Tidak....semua benda yang mudah dilacak tak dibawa oleh mereka”
Mavin terdiam. Ia tak bisa bergerak dengan cepat karena tahu bahwa Evita mampu menyembunyikan diri bahkan disaat-saat kritis sekali pun. Dan saat ini itu terjadi.
“Tuan!!!!...melapor”seru anak buah yang lain. datang dengan tergesa-gesa..
“Ada apa?”tanya Mavin dengan suara yang tajam.
“Tuan...Tuan besar dan beberapa Tuan besar lain akan melakukan pertemuan diamerika...jadi mereka memutuskan untuk menyusul pertemuan itu”
Mavin yang mendengarnya mengerutkan alis. Pertemuan antara Mafia. Sejak kapan itu dilakukan?...selama bertahun-tahun menjadi seorang Mafia. Pertemuan tak pernah dilakukan. Karena semua itu hanya akan menjadi peperangan yang menghiasi dunia bawah. Dan sekarang dilakukannya pertemuan. Untuk apa itu?
“Kapan pertemuannya dilakukan?”
“Tiga hari lagi Tuan”
“Siapkan pesawat pribadiku...kita akan kesana...aku ingin melihat berapa pemimpin mafia yang sebenarnya”
Selama ini dunia bawah tanah, hanya memiliki 10 orang terpenting yang makin kebawah makin memiliki pengikutnya. Dari semua itu hanya ada 2 pemimpin penting dalam mafia. Dan 2 orang itu tak diketahui keberadaannya.
Ada yang mengatakan bahwa salah satunya adalah seorang wanita. Tapi tak ada yang tahu seperti apa dirinya. Mavin saat itu hanya berpikir bahwa semuanya hanya hal konyol belaka yang menjadi sasaran empuk untuk menipu.
Namun saat Ayahnya mengatakan bahwa 10 mafia diantaranya memang dipimpin oleh seorang wanita. Hal tersebut membuat Mavin menjadi makin penasaran. Bagaimana bisa wanita memimpin sebuah kelompok bahkan bermain dengan hal-hal yang berbau darah.
Dan karena hal itulah, Mavin menjadi tertarik kepada wanita yang mampu mengalahkannya. Seperti Evita. wanita satu-satunya yang membuatnya selalu penasaran.
-
“Aku merindukanmu...kapan kau akan menyelesaikan ekperimenmu itu?”
Telpon diseberang sana membuat gendang telinga Wanita yang mendengarnya sedikit rusak. Ia langsung menjawab “Kau rindu denganku, atau dengan tubuhku?”
“hahaahahah....tentu saja keduanya...asal kau tahu, bertahun-tahun bersamamu, hanya kau yang membuatku candu..bahkan menjadi racun untukku”
“ooh...maka matilah biar racun itu berhenti bergerak ditubuhmu”ucap Wanita yang memainkan rambut seorang wanita yang sudah seharusnya dikubur. Tapi ia begitu sayang dengan hasil eksperimen sempurna. Maka dengan mengawetkannya, ia menyimpan hasil eksperimennya.
“kalau aku mati....bagaimana dengan dirimu yang akan merindukkanku?”
“Aku? Sepertinya mustahil aku merindukanmu....bahkan empat tahun ini aku dengan mudah hidup tanpamu”
“itu semua karena ada sesuatu yang harus kau lakukan....ayolah masa kau tak merindukanku?”
“Kau mengangguku, bisakah kau tak menghubungiku lagi..bahkan kalau perlu selamanya”
“Aku akan melakukan itu saat Kau telah memutuskan untuk pergi selamanya..tenang saja Aku akan terus mencintaimu”
“Biasakah kau berhenti sekarang...Aku....”
“Kau akan menemui hasil eksperimenmu kan?....maka aku akan ada disana, dan akan melindungimu...beri kabar padaku, kapan kau akan menangkap hasil eksperimen sempurnamu itu”
Panggilan berakhir dengan wajah Wanita yang makin tambah datar. Ia menatap kearah layar ponsel miliknya untuk memastikan lagi bahwa tak ada yang menganggunya.
“Dasar pria bajingan...selalu menghubungiku disaat ia lagi ingin sesuatu...lelaki memang begitu, hanya menginginkan tubuh wanitanya”guman Wanita yang kini mengenggam erat ponsel pintarnya.
__ADS_1
“Yeah ada benarnya....sudah saatnya menjemput hasil eksperimenku, ia pasti sudah mengingat sekarang..apa yang terjadi pada dirinya selama bertahun-tahun”