MANTIV

MANTIV
● Mantiv(108)


__ADS_3

Merlina menerjang Evita dengan pisau yang masih tersimpan ditangannya. Evita menatap dengan pandangan yang tak biasa. Mata mereka saling bertemu, tubuh Merlina yang gemetar masih kuat menyodongkan Pisau kearah Leher Evita. Merlina masih berniat untuk membunuhnya, meski merasa takut.


Semua yang melihat hal ini langsung mendekat, bahkan Para Bodyguard mencoba untuk mendekati dua wanita yang masing-masing menahan agar tak saling melukai.


Evita yang membawa pistol langsung melempar pistolnya menganti pisau kecil yang terselip di lengannya.


“Kalian benar-benar..ingin langsung ku bunuh disini?”tak ada lagi kata ramah. Evita benar-benar merasa hatinya dipenuhi dengan dendam. Mata Merlina yang menujukkan betapa sakitnya kehilangan kehangatan keluarga, rasa itu tersampaikan ke Evita yang kehilangan kehangatan juga bahkan dengan tak disengaja keluarga Kandungnya harus dibunuh didepannya.


“Aku berniat untuk berbaik hati kepada keluarga sampah seperti kalian ini..tapi jujur, merasa Iba hilang didada...Merlina benar, keluarga sampah seperti kalian ini harusnya tak ada didunia ini”ucap Evita yang membuat semua terteguh. Merlina yang masih menahannya, dengan mudah Evita membanting tubuh wanita itu. Evita menarik rambut Merlina lalu menghempaskannnya kearah orang tuanya.


Ayah Merlina tertawa mendengarnya “Justru Aku yang harusnya mengatakan itu Nyonya Kim Hyun Jae”


Ia melanjutkan “Keluarga Kim yang sangat berjaya, justru mampu mengendalikan para pengusaha, dan Mereka tak melirik Kami...Kami..Saat itu seperti orang bodoh”ucap Ayah Merlina.


Evita memandang datar, lalu kemudian tersenyum sinis “Kalian memang bodoh!!!..hanya karena perkara jabatan,kalian berpikir untuk menjual putri kalian,lalu beransumsi bahwa kalian bisa menang dengan cara seperti itu..kalian salah, didunia bisnis hal bodoh seperti ini memang sering terjadi dan akan selalu dihindari..”ucap Evita yang membuat keluarga Yan terteguh mendengarnya.


“Jika hanya karena Jabatan, kenapa Kau tak ingin menjadi pengusaha yang diam-diam mengendalikan seluruh pemasokkan tanpa dipandang..dengan begitu Kau tak akan merasa rendah”ucap Evita.


Ayah Merlina tertawa bebas mendengarnya “kau benar..Kenapa Aku begitu bodoh sekali..hahahah....jika memang begitu, kenapa, Kenapa Kau ingin bertemu denganku ini?”tanya Tuan Yan yang ingin mengetahui kedatangan Pengusaha ke 2 yang sebenarnya.


Evita membalikkan tubuhnya, “Kedatanganku kali ini adalah membunuh kalian semuanya..Aku tak ingin ada yang hidup setelah ia ikut campur dalam pembunuhan orang tuaku”ucap Evita.


“Yeah...Kematian orang tuamu?....Apa Putriku ikut campur Nyonya Kim?”tanya Tuan Yan yang menatap putrinya.


“Iya..bahkan Kau juga ikut”ucap Evita yang tak tangung-tangung menyodongkan pistol kearah keluarga kecil ini.


Merlina yang tak berani lagi menatap hanya bisa menundukkan kepala. Ia merasa hatinya dipenuhi dengan debaran. Mungkin karena ia akan dibunuh, rasa debaran itu bercampur dengan rasa rela yang entah kenapa memberinya kelegaan.


Memikirkan rencana membunuh Evita malah berakhir ia yang dibunuh. Ini membuat dirinya merasa hal bodoh yang dilakukan olehnya. Pengen kabur itu percuma karena bagaimana pun Evita akan selalu menemukannya.


“Ah..Sial..”benak Merlina yang menutup mata, membiarkan segalanya terjadi dan merasa kalau memang lebih baik ia pergi. Keinginanya hanya kecil yaitu mendapatkan kehangatan dalam keluarga.


Greb


“Maaf...Maafkan Ayahmu ini Anakku, Gara-gara ku, gara-gara keserakaanku, Kau tak bisa hidup dengan kebahagiaan...Kau selalu tersenyum diluar sana, tapi menderita didalamnya..Maafkan Ayahmu ini”ucap Tuan Yan yang memeluk Putrinya. Merlina dibuat kaget, Ia langsung membuka mata dan menatap kearah Ayah yang memeluknya.


Hati yang dilanda kelegaan entah kenapa ada rasa cekat didadanya. Ia merasa sesuatu ingin meledak keluar dalam dirinya.


“Ibu..Ibu juga Anakku, Maafkan Ibumu, Maafkan atas apa yang Ibu perbuat...Anakku, Aku sangat menyayangimu..Kami menyayangi dirimu”ucap Sang Ibu yang juga ikut memeluk Merlina.


Merlina yang merasakan pelukkan orang tua, pelukkan yang sangat didambakan. Perlakukan dan ucapan yang diharapkan olehnya, malah terwujud disaat ambang kematian. Merlina tersenyum dan menyentuh wajahnya yang mengalir air mata dengan begitu banyaknya.


Evita yang menatap tak memiliki rasa Iba lagi. para Bodyguard langsung membalikan tubuh mereka. Za dan Sebastian berdiri dibelakang Evita.


Evita yang masih menodongkan Pistolnya sedikit bergetar. Namun entah keteguhan hati yang mana, Ia berbicara “Za..camkan ini..mulai saat ini Istrimu akan menjadi buronan para polisi..Keputusan ada ditanganmu, menangkapku apa tidak itu keputusanmu”ucap Evita yang tak lama.


Dor!!dor!!!dor!!!


“Maafkan Aku”guman Evita yang meninggalkan ruangan. Ruangan yang kini mulai dicium aroma darah. Mansion keluarga Yan yang dalam keadaan selalu ribut kini akhirnya bisa tenang tanpa membuat orang-orang merasa risih.


-


‘Kami disini melapor atas kematian dari keluarga Yan..saat ini para polisi tengah menyelidiki motif dari pembunuhan ini’


Berita kematian keluarga Yan telah tersebar. Membuat para pengusaha yang mendengarnya tersenyum.


“Ku pikir seorang Tuan Kim, akan bermain-main. Ternyata ia tak tanggung-tanggung membunuh secara langsung”


“Tak boleh dipandang remeh..inilah pengusaha ke 2”


“berniat untuk menjatuhkan pengusaha ke 1 sedangkan pengusaha ke2 saja dalam satu malam langsung menghabisi segala isi keluarga Yan”

__ADS_1


Ucapan mereka yang hanya didengar oleh mereka sendiri. karena saat ini tak ada yang berani melakukan tindakkan yang akan membuat keluarga mereka ikut hancur juga. Lebih baik menghindari dari pada menyerahkan diri.


-


Berita yang tersebar itu terdengar oleh Yelina. Ia bahkan sampai menghampiri pemakaman Merlina. Mata Yelina yang memandang kearah pemakaman, mata itu penuh dengan kekosongan dan kehampaan.


“Kau memilih untuk membunuh dirimu sendiri, Merlina”guman Yelina. Ia meletakkan sekuntum bunga yang dibawa olehnya. Lalu menaruh bunga itu dan kemudian melangkah pergi meninggalkan pemakaman.


“Biar Aku yang membunuh Evita..tenang saja, Kau akan menemuinya dialam baka”benak Yelina yang masuk kedalam mobilnya.


-


Intari menatap datar kearah Evita yang kelelahan. Tak hanya dirinya Amelya juga memandang datar, kedatangan mereka malam tadi mengemparkan keduanya.


“Dia benar-benar membunuh keluarga Yan?”tanya Intari yang melihat Sahabatnya tertidur pulas diruang tamu. Tentu saja bersama Suaminya. Ada Sebastian juga yang tidur disofa.


“Iya..”Amelya hanya bisa mengucapkan kalimat itu. melihat tiga orang yang terlihat lelah. Mereka tahu pasti ada hal yang terjadi. Apa lagi melihat leher Evita yang dibalut dengan perban.


“Mereka kelelahan?”tanya Echan yang telah segar, Pagi ini ia harus bangun lebih pagi dan ingin melakukan rapat rahasia dengan Yoongi dan Kak Za nya.


“Sepertinya”jawab Amelya yang melangkah menuju kedapur untuk membuat sarapan. Intari juga ikut menyusul.


Yoongi datang dengan wajah yang masih mengantuk. “Apa yang terjadi?”tanya-nya. Echan yang mendengarnya mengeleng “Kau tak pelupakan Yoongi?”Yoongi yang mendapatkan pertanyaan itu langsung kembali sadar.


“Oh..Aku ingat, jadi Apa mereka benar-benar menghabisi keluarga Yan?”bukan tak percaya, Hanya tak menduga. Masalahnya pekerjaan mereka adalah Polisi. Dan yang membunuh keluarga Yan ada didepan mata mereka sendiri.


Jadi mereka ingin memastikan, dan berniat untuk bisa mencari cara agar tak ada masalah nantinya. Meski bagaimana pun seorang pembunuh harus mendapatkan hukumannya.


Yoongi dan Echan melangkah untuk melakukan kegiatan mereka. meninggalkan Za yang membuka mata karena merasa sudah saatnya bangun.


“Ugh!”Za menatap kearah dadanya yang terdapat sang Istri. Evita masih menutup mata dengan tenang. Pandangan itu tak luput dari Za


Malam saat mereka pulang..


Za yang mendengar pertanyaan itu langsung menatap kearah Evita yang menatap jendela mobil.


“Kemari Evita”ucap Za yang membuat Evita menatap kearahnya. Terlihat Za mengambil kotak P3K yang selalu sedia didalam mobil.


Evita yang tahu apa yang dimaksud oleh Za langsung menghampirinya dan duduk didepan Za.


“Angkat sedikit kepalamu”ucap Za yang langsung mendapati apa yang dipintanya.


Leher jenjang Evita yang putih terpanpang jelas dimata. Za yang melihatnya menghela nafas. Yeah karena ada bekas merah disana akibat perbuatannya.


Za mengobati luka sayatan itu. ia tak menduga Evita dengan tenang tak merasakan sakit saat tiba-tiba diserang. Namun wajahnya jadi merasa sakit ketika mendengar Evita yang mendesir kesakitan.


“Kau tahu bahwa tindakkanmu itu hampir membunuhmu”ucap Za yang membalutkan luka dengan tenang.


Evita hanya diam sedangkan Sebastian mengangguk mendengar ucapan Tuannya ini. Bagaimana pun Evita, Nyonya-Nya selalu membuat orang jantungan karena rencana dadakkannya.


“Sudah selesai...sekarang istirahatlah”ucap Za yang meletakkan kembali kotak P3Knya. Ia kembali menatap kedepan namun wajahnya kaget ketika melihat Evita duduk dipangkuannya.


“Apa yang kau lakukan?..Sebastian akan melihatmu seperti ini”bisik Za yang mendapati sang Istri merebahkan kepalanya didada Za. Evita tak perduli, ia memilih untuk menutup matanya.


Sebastian yang melihat tingkah ini mengangguk, membuat Za menghela nafas melihat tingkah Istrinya ini.


Setibanya dirumah, Intari dan Amelya menyambut Mereka. tapi mata mereka kaget melihat Za yang mengendong Evita ala koala.


“Evita..Usiamu berapa?”tanya Intari yang tahu bahwa Evita masih bangun. Amelya juga mengetahuinya. Saat ini Yoongi dan Echan sudah istirahat terlebih dahulu karena kepulangan Evita tepat dijam 12 malam. Tentu saja Raja juga sudah beristirahat.


Evita mendengus mendengar pertanyaan itu, Ia menjawab “Tiga tahun...lagian kenapa sih, seterah aku juga”ucap Evita yang masih bergantung manja dileher Suaminya.

__ADS_1


Intari dan Amelya mengeleng melihatnya, “Yeah masih anak-anak sih, wajar”ucap Amelya mencibir.


Za yang masih diambang pintu hanya bisa mengeleng, masalahnya mereka baru datang, bukannya disuruh masuk malah berbincang dimalam yang gelap gulita ini.


“Nona Intari, biarkan Tuan Za membawa Nyonya Evita masuk”ucap Sebastian yang langsung membuat Intari dan Amelya sadar kalau mereka masih diluar.


“Ah Kau benar Sebastian”ucap Intari yang kemudian memberikan luang untuk ketiga orang itu masuk.


Mereka melangkah menuju keruang tamu, “Za, Kita tidur disofa saja”ucap Evita yang membuat semua orang terteguh.


“Hah?...Evita, bisa kau tidur dikamarmu....Kau pemilik rumah ini, ngapain tidur disofa”ucap Intari yang mulai jengkel dengan sikap Evita ini.


Evita yang mendengarnya masih acuh “Za....Boleh ya?”rengek Evita kepada Suaminya. Melihat hal tersebut Za menghela nafas.


“Intari dan Amelya lebih baik kalian istirahat...tenang saja ada Aku disini...”ucap Za. Mendengar hal tersebut Intari dan Amelya hanya bisa mengangguk dan melangkah pergi.


Za memutuskan duduk disofa dengan memeluk Evita yang masih digendong ala koala. “Sebastian, masih ada kamar...tidurlah”ucap Za kepada Sebastian.


Tapi Sebastian menolak “Tidak Tuan..Aku akan menemani Tuan disini...lagi pula sangat langka melihat Nyonya begitu manja”ucap Sebastian yang tersenyum melihat Evita sudah terlelap dalam mimpinya.


Za yang mendengarnya mengeleng “Kenapa dia jadi manja begini”ucap Za yang langsung dijawab oleh Sebastian “Tuan...Nyonya sangat mencintai anda”


Za yang mendengarnya mengangguk “Dan Kau juga sangat mencintainya”balas Za yang membuat Sebastian terteguh.


“Maaf Sebastian, Kau lagi-lagi melihat hal yang menyakitimu...”ucap Za yang langsung dipotong oleh Sebastian “Tuan sudah ku katakan jangan berbicara seperti itu”. Sebastian tak terima jika ia masih dikasihani.


“Aku mengerti...tapi bagaimana jika Aku yang ada diposisi kalian..dimana Kalian begitu sangat disayang oleh Evita..sedangkan Aku harus menyaksikan keromantisan kalian...Kau, Mavin,Derka,Andre dan Reza...Kalian mencintai Evita, mungkin melebihi diriku”ucap Za.


Za tahu, selama menjadi kekasih Evita, banyak yang dipelajarinya. Meski Ia cuek akan segala hal, tapi Ia masih memperhatikan orang-orang disekeliling Evita.


“Tuan, Kami memang mencintainya, But Nyonya hanya mencintai satu orang, Yaitu anda...Jika Kami mendapatkan Nyonya..yang kami dapatkan hanya raganya bukan jiwanya. Hanya dirinya bukan Cintanya. Karena bagaimana pun dihati Nyonya sudah diisi oleh Anda”ucap Sebastian.


Sebastian mengerti dan paham sekali, Meski Tuan Za nya ini terlihat cuek ternyata mampu memperhatikan sekeliling. Dan tak ingin menyakiti orang lain. “Hati Tuan Za memang sangat baik”benak Sebastian memuji Za.


Za yang mendengar hal tersebut hanya bisa terdiam. “Tuan lebih baik Anda istirahat..tenang saja Aku juga akan istirahat”ucap Sebastian.


Za mengangguk dan memandang sang Istri yang benar-benar terlelap. Ia pun memilih untuk menyusul sang Istri dalam mimpi yang entah apa.


“Evita....untuk menangkapmu, Aku sudah melakukannya..dan untuk masalah hukumanmu, Aku tak akan menyerahkanmu kehukum...Karena Aku tak ingin Kau menderita lagi”benak Za. Ia menatap Sebastian yang juga terbangun.


“Pagi Sebastian”ucap Za yang langsung dianggukkan oleh Sebastian. “Tuan..Lebih baik Bawa Nyonya kekamar....”ucap Sebastian yang berdiri dan meranjak pergi setelah mengucapkan kata tersebut.


Za mengangguk dan juga melangkah untuk menuju kekamarnya. Tapi langkahnya terhenti karena melihat Yoongi dan Echan berada didepannya.


“Kak Za...Ada yang ingin Kami bicarakan”ucap Yoongi dengan wajah kahwatir. Melihat hal tersebut membuat Za mengerutkan alisnnya.


“Kita akan bicara nanti....Aku akan menemui kalian”ucap Za yang membuat dua Adiknya itu mengangguk.


Za membawa Evita kekamar mereka. Evita dibaringkan kekasur meski masih dalam gendongan ala koalanya. Dengan perlahan Za melepaskan tautan tangan yang mengalung dilehernya.


*Cu*p


Meninggalkan kecupan pagi, Za bergegas untuk mandi dan mendengarkan hal apa yang ingin dibicarakan oleh kedua Adiknya itu. karena perasaannya sudah menentukan rasa cemas dan khawatir.


“Ku harap tak terjadi apa-apa”benak Za.


-


Dikediaman keluarga Alex.


“Tuan Besar..Kami menemukan Jejak Nona Evita ini”ucap seorang pengawal yang ada.

__ADS_1


Tuan besar Alex yang mendengarnya langsung melihat lokasi yang diberikan “Jangan panggil ia Nona..karena Ia tak ada kaitannya lagi dengan keluarga Kita...untuk lokasi itu, Kirim 20 pengawal menjemput dirinya...”ucap Tuan Besar yang langsung dianggukkan oleh Pengawal miliknya. mereka bergegas untuk mengerjakan apa yang diperintahkan.


__ADS_2