
“Ku pikir ini akan berakhir perang antara mafia” ucap Echan setelah Zahra keluar dari ruangan Yoongi. Yoongi menanda tangani sebuah dokumen tentang kasus kehilangan Laura dan Siska.
“Kenapa kau bisa berfikir seperti itu?” tanya Yoongi sambil menutup dokumennya dan menatap Echan yang sedang menyemil.
“tidakkah kau tahu..Maya Anita Zahra adalah anak dari keluarga Zahra yang lebih tepatnya keluarga bermarga Zahra ini adalah orang Mafia yang diam-diam memiliki kekayaan dalam dunia gelap..bukannya ini memungkinkan itu terjadi, apa lagi keluarga Son dan Noer ini juga adalah keluarga yang diam-diam bergerak didunia bawah tanah” ucapnya sambil membalas tatapan Yoongi.
“mereka akan menyelesaikannya secara pribadi” ujar Yoongi lalu berdiri dan duduk disamping Echan, mengambil cemilannya dan memakannya.
“Kau benar..mereka juga sudah tahu kalau pasangan saling mencintai bukan” Yoongi mengangguk.
Terdiam sejenak tiba-tiba Echan berdiri yang membuat Yoongi memandang tajam kearahnya.
“Kak Yoongi..apa kau tahu bahwa kemarin Paman dan Bibi Kedua membuat keputusan dengan 3 kakek kita” tanyanya. Yoongi menganguk pelan.
“Kenapa Bibi begitu memaksakan hal ini ya” ucapnya mengingat kemarin Malam, dimana dirinya yang baru saja pulang karena ingin mengunjungi tempat teman kakeknya untuk mengambil foto. Jadi menyempatkan bentar mengunjungi kediamann Keluarga Zhan. Namun saat tengah melangkah ingin memasuki aula suara penolakkan bibi terdengar jelas ditelinganya.
Echan berhenti melangkah dan mendengarkan apa yang didebatkan Malam itu. Sedikit merinding dengan tindakkan bibi keduanya ini atau lebih tepat kakak ipar dari Ayahnya.
“jiwa keibuan mungkin?” jawab Yoongi meski ia sebenarnya juga mendengar pertemuan besar Malam itu. Saat itu Yoongi tengah berada dikamar khusus untuknya karena ingin melihat langsung hasil foto yang dibawa Echan walau belum diambil oleh Echan. Apa lagi orangtuanya saat ini sedang berada dikediaman kakeknya, jadi sekalian mengistirahatkan diri dikediaman keluarga besar ini.
“Jiwa keibuan...menurutku ini lebih seperti mereka sengaja memanfaatkan diri mereka sebagai ibu dan mengambil harta kak Za nanti” entah apa, Echan memikirkan hal ini secara garis besar yang dilihatnya. Aneh dengan tindakkan bibinya ini, biasanya orang akan menyetujui karena mengingat bahwa Za juga membutuhkan orang lain apa lagi Za tinggal sendiri tidak ikut tinggal bersama Kakeknya dan Paman bibinya. Tapi ini berbeda. Seakan-akan Bibi kedua mereka inilah yang melahirkan dan menjaga Za, padahal umumnya Za tidak sepenuhnya dirawat oleh Bibi dan Paman kedua saat itu apa lagi Bibi saat itu menolak keras ingin mengasuh Za saat masih balita.
“Dia adalah Bibi Kedua, tidak berhak kita memberi komentar buruk padanya” ucap Yoongi mengingatkan Echan yang mulai ingin menyelidiki hal ini. Menurutnya Bibi kedua mungkin merasa bahwa keputusan itu salah, apa lagi dia bisa dibilang ibu angkat walau sempat menolak keras.
Mereka memang tidak tahu kenapa Bibi kedua menolak keras tentang hak asuh Za jatuh padanya, tapi keluarga mereka menceritakan bahwa Za dulu pernah ditolak tapi akhirnya Bibi kedua juga yang menjadi pengasuhnya.
-
Bercerita panjang lebar tanpa disadari bahwa seseorang sudah berdiri diambang pintu. Yoongi yang berpikir keras dengan wajah datar sedangkan Echan mengoceh tak henti.
Saat hawa dingin menjalar dari kaki mereka, mereka langsung merubah arah pandangan mereka ke arah pintu dan melihat bahwa orang yang dibicarakan ini ada didepan pintu.
Sambil terkekeh Echan berdiri namun kembali duduk. Ia bingung menyambut Kakaknya ini. Sedangkan Yoongi sendiri memilih berdiri saat Za dengan wajah datar masuk kedalam ruangannya.
“Tidak baik menceritakan orang lain dibelakang” ucapnya penuh dengan aura dingin. Yoongi dan Echan merindik ngeri mendengar ucapan itu, mereka tahu bahwa Za ini menyayangi Bibi dan Paman kedua meski lebih menyayangi 3 kakeknya.
“maaf” ucap mereka bersamaan.
__ADS_1
Za duduk didepan mereka, kali ini ia menatap dengan wajah sedikit teduh dan tenang. Melihat tidak ada aura mencengkam, Yoongi dan Echan menghela nafas lega diam-diam.
“Aku akan mengadakan perkenalan dengan cucu pertama keluarga Alex...dikediaman ku” ucapnya. Mata Yoongi dan Echan sedikit terkejut. Mereka tidak menyangka rumah yang didiami oleh Za yang hanya Za saja bisa masuk kini orang asing bisa menginjak kaki mereka. Jujur saja Yoongi dan Echan sendiri tidak pernah bisa menginjak rumah itu, ya ada mereka hanya bisa menunggu digerbang rumah Za. Begitu juga dengan Paman dan bibi kedua yang tidak pernah menginjakkan kaki kecuali 3 Kakek mereka.
“Ke..kenapa harus dikediaman Kakak?” Tanya Echan ingin mengetahui lebih rinci. Za tetap datar dengan tenang melanjutkan “ini keputusanku, aku akan menilai secara langsung” ucapnya.
“Apa Kak Za, ingin ini cepat berakhir?” tanya Yoongi. Ia melihat wajah Za didepannya ini sedang mengatur strategi untuk mengakhir pertunangan ini. Yoongi tahu Za tidak menyetujui pertunangan ini.
“Aku tidak tahu...yang pasti ini keputusan Bibi dan Paman Kedua” ucapnya lagi dengan nada sedikit dalam. Yoongi dan Echan mengangguk. Mereka tidak bisa menanyakan lebih lanjut karena ini keputusan pribadi Za sendiri.
“berarti hari ini wanita itu akan datang ketempat Kakak bukan” ucap Echan yang dianggukkan oleh Za. Mereka bertiga terdiam dalam pikiran masing-masing.
-
Diruang rapat, empat orang tengah berdiskusi sedangkan yang satu lagi berdiri disamping tuannya. Intari, Amelya,Inul dan Nabila yang berdiri disisi Inul.
Intari dan Amelya duduk dikursi mereka, dengan wajah yang masih tenang seperti biasanya. Keceriaan masih ada.
“Kemarin Evita sudah berangkat, berarti hari ini dia menjalankan rapatnya bukan?” tanya Intari sambil menyeduhkan tehnya.
Beda dengan Amelya yang seperti curiga dengan tindakkan Inul dan Nabila. Amelya tahu bahwa jadwal Evita berubah tiba-tiba kemarin, bukan karena apa, ia juga seorang yang bisa mengakses jadwal Evita. Jadi wajar jika dirinya sedikit curiga walau dijadwal itu hanya menampilkan bahwa rapat dimajukan dan tidak menunjukkan bahwa hari ini tidak ada rapat.
“Baiklah...” suara Intari tiba-tiba berubah, berbeda seperti biasanya. Seluruh orang yang berada didalam pun mematung seketika, mereka merasakan aura dingin menjalar dari kaki dan aura ini hampir sama dengan aura Evita.
Intari memang dikenal dengan orang kedua yang memiliki jiwa seriusnya. Jika dirinya serius maka dirinya mirip seperti Evita. Tenang tapi juga bisa menusuk kapan pun.
Intari melanjutkan saat yang lain sudah mulai serius. “Kasus yang aku dan Amelya kerjakan memang sedikit mudah...kami berhasil masuk dalam ruangan itu...” ucapnya
Setelah mereka beranjak dari tempat duduk. Kim Hanuel dan Kim Ara memutuskan untuk pergi keruangan lain dengan dibawa oleh seorang pelayan. Pelayan ini mengenakan pakaian feminim tapi memiliki wajah serius sulit untuk meruntuhkan kewaspadaannya.
“Kalian benar-benar ingin masuk kedalam ruangan ini?” tanyanya sekali lagi. Kim Hanuel dan Kim Ara hanya mengangguk. Wanita itu kembali kearah pintu dan membukanya.
Mereka berdua melihat bahwa yang didepan mereka tempat seperti menonton bioskop. Disana sudah banyak kursi penuh, untungnya ada dua kursi yang jaraknya lumayan jauh dari altarnya.
Altar itu masih tertutup tirai yang berwarna merah tapi ada seseorang yang berdiri ditengahnya membuka acaranya.
“Baik....selamat datang para undangan semua...kali ini seperti yang kalian tahu..ini adalah acara yang harus kalian hadiri jangan sampai ditinggalkan” ucapnya begitu serius.
__ADS_1
Kim Hanuel melihat keselilingnya, ia bukan hanya melihat tapi meneliti tempat yang mereka kunjungi ini, memang ruangan ini berada dibawah tanah, tapi ia tidak habis pikir orang-orang disini bukan orang miskin atau rakyat jelata, melainkan orang yang sangat beruang. Mereka memakai topeng begitu juga Kim Haneul dan Kim Ara.
Beda dengan Kim Ara, ia lebih memperhatikan Mc yang sedang berbicara dialtar. Ia mendengarkan apa saja yang diucapkan oleh Mc tersebut sampai mereka memutuskan untuk membuka tirai yang tertutup rapat itu.
Kim Hanuel dan Kim Ara tiba-tiba membulatkan mata mereka dengan sempurna, melihat apa yang mereka dapatkan, mungkin misi ini memang cocok untuk mereka, dengan jam tangan yang dikenakan oleh Kim Hanuel dan Kim Ara mereka mengambil segala gambar yang ada tanpa diketahui.
Setelah selesai, mereka keluar dari ruangan itu dengan saling memberikan senyuman manis mereka. Pelayan yang tadi bertugas cuma bisa menatap kepergian dua orang yang tidak mereka kenali lebih tepatnya orang asing.
“Ruangan itu melakukan transaksi jual beli wanita...mereka menculik atau memperkerjakan wanita” ucap Intari yang kembali kemode santainya. Ruangan yang dingin itu kembali sejuk setelah perubahan Intari.
Inul dan Nabila menghela nafas dengan lega. Sedangkan Amelya mengeleng melihat tingkah Intari yang kadang bikin orang merindik ngeri.
Raja yang hanya berdiri disamping Intari sebenarnya tidak dalam kondisi baik. Dari awal masuk, aura ruangan ini memang tidak bisa diremehkan. Dirinya selalu berkeringat dingin, padahal Evita tidak ada. Ditambah dengan perubahan suasana dari Intari yang membuatnya segera ingin keluar dari ruangan, sayangnya itu tidak terjadi. Ia tidak mungkin meninggalkan rapat seperti ini. Jadi Raja hanya terdiam dengan menguatkan hati agar tidak pingsan ditempat.
“Kami sudah mengambil segala bukti yang ada, dan surat ini aku sudah menyuruh Raja menulisnya, jadi kita tinggal mengirim surat ini” jelas Intari.
Amelya mengangguk. Inul yang melihat amplop sedikit besar itu karena ada foto didalamnya. Ia mengangguk “Jadi misi ini dianggap telah selesai?” tanyanya.
Intari dan Amelya mengeleng pelan. “Tidak..kita akan anggap selesai saat para polisi menangkap pelaku tersebut” ucap Amelya. Inul mengangguk.
“Eh ya...Kak Inul...untungnya tugas ini hanya kami yang dikirim, kalau tidak mungkin bisa-bisa misi ini harus berhenti ditengah jalan” ucap Intari. Inul mengangkat salah satu alisnya.Nabila penasaran, ia bertanya “kenapa?”
Intari tersenyum “kau tahu Nabila...saat itu anak gadis yang seumuran sepertimu rela menjual diri mereka hanya untuk sejumlah uang”
Nabila yang mendengarnya langsung merindik ngeri, ia memang pernah mendengar ada wanita yang rela menjual tubuh mereka tapi ia hanya mengira itu untuk menakutinya. Namun akhirnya itu memang benar adanya.
“sudahlah..tidak baik dibahas sekarang...lebih baik kirim amplop itu segera, agar bisa ditindak lanjuti” ucap Amelya. Intari mengangguk sedangkan yang lain menyetujui apa yang diucapkan oleh Amelya.
Raja sedikit tersenyum, ia tidak percaya saat kepergian kemarin dua orang ini atau tepatnya bossnya ini menyamar begitu manis dan cantik, selain itu ia tidak menyangka bahwa Nyonyanya ini sangat feminim ketika menyamar. Tapi ketika dikehidupan biasanya, ia terlihat seperti gadis tomboy.
Raja merasa sedikit menyesal, dirinya seharusnya sudah lama bekerja disini, atau setidaknya sebelum Sebastian seketaris tetuanya. Tapi rasa menyesalnya itu tergantikan dengan rasa bangga bisa masuk apa lagi langsung mendapat posisi dekat dengan para atasan. Memang benar ada beberapa orang yang julid dengan dirinya tapi ia tidak perduli selama ia berkerja dengan baik ia tidak mungkin dibuang begitu saja bukan. Kecuali dia melakukan hal yang melanggar aturan.
...****************...
*jangan lupa Like and Comment..
ah jika kalian berkenan, mari mampir juga di novelku yang berjudul Seribu Terowongan Mengubah Segalanya😊*
__ADS_1