
setelah menghempasnya, Intari menendang tubuh yang masih merintih kesakitan untuk bertelentang. Melihat sang Pria sudah tak bisa lagi melawan, Intari dengan seenak jidatnya meletakkan kaki kirinya didada Pria itu.
“gimana?..aku menemukan persembunyianmu..sungguh tidak ku sangka ini hanya jadi dua hari.....” keluhnya.
“Jadi apa yang sebenarnya anda inginkan?” tanya Intari kepada pria yang merintih kesakitan ini. Bukan apa dia sudah dikalahkan namun sang gadis didepannya masih dengan nyaman menyiksa dirinya menggunakan kaki kirinya. Kalau dilihat sekilas itu hanya sekedar ditaruh tapi kaki itu ditekan perlahan.
“agh...singgirkan kakimu” tintahnya. Intari yang mendengarnya hanya menunduk dan melihat orang dibawahnya ini yang sedang meringih sakit karena kakinya.
Semua karyawan disana ingin mendekat, namun tiba-tiba seorang wanita mendekat perlahan dan memberi serangan kepada Intari.
Braakkk
“huh.....emang punya teman ternyata” ucap Amelya yang menangkap tangan seorang gadis mengenakan pakaian karyawan yang sama.
“Hei....ischan*.....”sapa Intari yang hanya dilirik oleh Amelya.
*ischan\= akan dijelaskan dichapter yang tepat.
“cih...padahal aku sudah berjuang nyelamatin Si Manja” keluh Intari. Amelya yang tengah menahan si pelaku kedua mendengus mendengarnya.
“Kalau aku tidak memberitahu mu, kau juga tidak akan tahu” balas Amelya.
Memang saat Amelya tengah memeriksa ruangan ganti, ia tiba-tiba teringat bahwa ada kaca yang dijadikan sebuah tempat untuk mengintip. Dengan cepat ia menyentuh seluruh kaca, dan ia menemukan kaca dengan menyatu dengan kukunya. Setelah menemukannya, tentu saja Amelya membuka kaca itu, benar adanya ruangan kecil tapi mampu memasukkan dua orang, apa lagi untuk bersembunyi. Selain itu kalau kaca ini diketuk suara mengema akan terdengar karena ruangan sembunyi ini memiliki ronga. Setelah memastikan semuanya, Amelya menghubungi Intari untuk mengecek ruangan, karena tidak mungkin kedatangan mereka disini, tidak dijadikan kesempatan.
Intari yang mendengar balasan Amelya hanya mendengus kesal. Sedangkan Amelya tersenyum puas dengan melihat tingkah Intari yang seperti menerima kekalahan.
“Tunggu!!!...apa yang kalian lakukan dengan karyawan ku” ucap sang pemilik toko. Intari dan Amelya saling melihat dan kembali menatap sang pemilik toko.
“karyawan anda?.....apa anda benar-benar mengenalnya?” tanya Intari melihat sang gadis yang ditahan oleh Amelya. Memang dilihat bahwa gadis ini sudah berkerja lama disini, apa lagi dia yang melarang Intari dengan sopan. Namun dilihat serangannya tadi tidak mungkin kan orang bisa masuk dengan santai tanpa ada bantuan. Pasti lah ada orang lain yang membantu pria yang ditahannya ini.
“Iya....” agak ragu, itu yang terdengar dari suara sang pemilik toko.
“Sudahlah..biar nanti yang selesaikan sang polisi. Lagian kita hanya perlu menangkap mereka” ucap Amelya yang dianggukkan oleh Intari.
“jadi...lebih baik kita ganti baju dulu yuk” ajak Intari yang langsung dianggukkan oleh Amelya.
Mereka berdua pun mengikat pelaku yang tidak bisa lagi melawan. Semua peralatan mereka diambil dan diletakkan didepan meja kasir. Setelah mengurus sang pelaku, Amelya dan Intari pergi menganti pakaian mereka, yeah dengan mengambil pakaian yang ada ditoko ini tentunya.
Setelah berganti pakaian, Intari yang mengenakan baju dress sampai lututnya dan ditutupi dengan coat. Sedangkan Amelya baju dress yang sama dengan Intari hanya saja ia tidak mengenakan tambahan.
“Sudah selesai...apa kita harus melaporkan ini kesang ayah si manja itu?” tanya Intari. Amelya mengangguk.
“Tentu..tapi setelah mereka diselesaikan oleh pihak berwajib..sekarang ayok kita pulang menemui si gadis manja itu” ucap Amelya yang di ‘iya’kan oleh Intari.
Belum sempat mereka keluar dari ruangan, tangan Intari ditahan oleh pria. Untungnya Intari tidak mengeluarkan jurusnya untuk menghajar orang yang menahan tangannya.
“ada apa?” tanya Intari setelah membalikkan tubuhnya melihat seorang pria yang tidak lain adalah sang pemilik toko.
“kalian harus bertanggungjawab atas kejadian yang ada disini” ucapnya sambil menunjuk ruangan yang kacau.
“kami?....astaga....aku lupa, Ara....telpon sang Papa Manja itu, biar dia yang mengantinya” ucap Intari. Amelya yang mendengarnya pun langsung mengambil telpon pintar dan menghubungi apa yang disuruh.
Intari dan Pemilik toko terdiam saat Amelya mulai berbicara.
“baik.....saya harap toko ini mendapat secepatnya biaya kekacauan yang terjadi”
“...”
“dimengerti tuan..bagaimana keadaan Nona muda?”
“...”
“syukurlah, dia baik-baik saja”
__ADS_1
“....”
“baik terimakasih...kalau begitu saya tutup”
Setelah mengatakan itu, Amelya menyimpan ponsel pintarnya.
“sudah?” tanya Intari.
Amelya mengangguk, “Tuan, berikan nomor rekening anda, kami akan mentransfernya, dan menganti semua kekacauan yang ada” ucap Amelya.
Sang Pemilik toko itu pun mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan nomor rekeningnya.
“baik terimakasih, kalau begitu kami permisi” ucap Amelya sopan yang dibalas anggukan oleh sang pemilik toko, Amelya dan Intari pun pergi meninggalkan toko tersebut.
-
Disebuah taman hiburan, terlihat pasangan yang tengah menikmati liburannya.
Inul dan Cucu Kedua keluarga Zhan sedang menjalankan kencan mereka, yeah bisa dibilang hubungan mereka berkembang bahkan sudah saling mencintai satu dengan yang lain. Orang yang melihat Inul saat pertama kalinya, secara diam-diam tidak lain adalah Akbar cucu Kedua Zhan.
“bagaimana enak?”tanya Akbar kepada Inul yang tengah menikmati corndognya.
“Mn” jawab Inul sambil mengangguk. Akbar yang mendengarnya tersenyum.
“lebih baik kita duduk dikursi sana”ucapnya yang langsung diikuti oleh Inul.
Setelah mengistirahatkan diri dengan duduk,Akbar dan Inul pun menghabiskan makanan mereka.
“Akbar..apa kau tidak rapat hari ini?” tanya Inul setelah menelan makanannya.
“rapat hari ini, dihadiri oleh Kak Za..”jawab Akbar yang membersihkan mulut Inul karena terdapat saus disudut bibirnya.
“terimakasih...tapi Za itu siapa?” Tanya Inul.
“ada apa Inul?” tanya Akbar sambil mengelus lembut tangan Inul.
“tidak apa, aku hanya berfikir saja, bagaimana hubungan Evita dengan Kakakmu, soalnya sudah dua hari ini aku tidak mendengar kabar perkembangan mereka” Wajah Inul menunduk.
“tenanglah....Aku yakin Kakak pasti tidak akan menyakitinya, dan lagi keputusan kakak pasti juga ada baiknya” Akbar menenangkan Inul.
Meski dirinya juga tahu, bahwa hubungan Kakak Pertama dengan tunangannya itu tidak ada perkembangan.
“yasudah..kau mau beli es krim?”tanya Akbar yang dapat anggukan oleh Inul. Mereka berdua pun bangun untuk membeli Es Krim.
Akbar dan Inul memiliki hubungan yang dekat setelah beberapa minggu. Setelah pertunangan dadakan itu, entah kenapa Akbar begitu ingin dekat dengan Inul, hingga akhirnya ia diam-diam menyukai Inul. Untungnya Inul juga mencintainya, bahkan terang-terangan memberitahu dirinya.
Bukan apa, Inul melakukan itu agar tidak ada kesalahpahaman, dan memudahkan keputusan. Siapa tahukan Akbar hanya terpaksa dan tidak mencintainya. Lebih baik ia memberitahukan langsung perasaannya, dan jika Akbar tidak mencintainya, ia hanya tinggal membatalkan pertunangannya. Tapi pada akhirnya mereka juga saling mencintai.
Inul seorang dokter yang masih menjalani masa kuliahnya yang masuki semester 5, sedangkan Akbar seorang pengusaha. Walau sebenarnya Akbar ini juga seorang polisi dengan jabatan yang sama seperti Yoongi dan Echan. Namun dia lebih fokus kepada perusahaan yang di bangun oleh Ayahnya. Tapi tetap, dia juga akan turun jika ada kegiatan atau tugas dari kepolisian. Jendralnya lebih tepatnya Kakaknya.
-
Sebuah mobil berhenti didepan gerbang. Mobil tersebut terdapat seorang wanita yang tengah khawatir. Iya dia tidak lain adalah Evita yang mengenggam tangannya sambil menatap kesegala arah untuk mencari ketenangan.
Bukan karena ia merasa sendirian, tapi ada didalam benaknya merasakan rasa trauma yang dalam. Ia seperti pernah mengalami sesuatu yang buruk. Walau sebenarnya yang dikunjunginya ini adalah tempat yang aman. Atau mungkin memberinya kemudahaan.
Melihat gerbang berwarna merah itu pun terbuka perlahan. Dan mobil pun berjalan masuk dihalaman yang begitu luas.
Ada tanaman hias, bahkan ada tempat labirin yang dibuat disekitar halaman. Sungguh betapa kayanya sang Tunangannya ini. Setelah lumayan 20 menit hanya berjalan disekitar taman. Ia melihat ada sebuah bangunan yang sepertinya memiliki 2 lantai.
Setelah mereka mendekat kebangunan itu, Evita baru menyadari bahwa ini adalah mansion yang dibangun seperti mansionnya di Kota tempat persembunyiannya. Namun Mansion didepannya ini lebih besar dari miliknya.
“Orang kaya mah bebas kan” benaknya dengan nada mencibir.
__ADS_1
Pintu mobilnya terbuka, sang pelayan tengah menyambut kedatanganya. Evita yang mendapat perlakuan itu hanya tersenyum cangung. Sungguh sebenarnya sebelum kesini. Ia menolak dengan berbicara baik bersama Kakek Zhan. Sayangnya keputusan cucu pertama mereka ini sulit ditentang. Evita hanya bisa mendengus dalam diam.
“Nona..selamat datang” ucapan bergema saat Evita masuk dan melihat ada sekitar 15 pelayan yang mengenakan pakaian Maid tapi tetap dengan kesopanan mereka. Selain itu ada hal yang bikin Evita tidak bisa memikirkannya. Bagaimana bisa, mansion ini berwarna gelap. Bukan hanya hitam dan merah yang menjadi tema tapi juga warna lain hanya semuanya diatur dengan warna yang sedikit gelap. Seperti tidak ada kehidupan.
“apa kehidupannya suram” benak Evita. Padahal dirinya tidak menyadari bahwa kamarnya sendiri juga bernuansa hitam dan biru.
“Nona....silahkan duduk diruang tamu, tuan besar akan datang dan berbincang dengan anda setelah rapatnya” ucapan sang kepala pelayan. Tanpa menyahutpun Evita mengikuti langkahnya. Ia juga bingung mau menjawab apa, yang pasti disini ia tetap orang asing. Bukan pemilik rumah ini, jadi hanya menurut.
“Pelayan pertama, tolong ambilkan minuman dan cemilan” perintahnya. Evita yang terbiasanya cuek, kali ini benar-benar sedikit banyak berbenak. Entah kenapa ia berbenak “apa seluruh keluarga ini suka menyebut seseorang dengan angka. Bahkan Kakek mereka pun disebut dengan Kakek pertama, Kakek Kedua..apa tidak ada nama untuk mereka”
Evita hanya bisa tersenyum dengan benaknya sendiri. Dan ia juga tidak ingin ambil pusing. Lagian tidak akan mungkin ia menjadi nyonya dirumah ini apa lagi menantu dikeluarga Zhan nanti.
Setelah lama menunggu, Evita yang menikmati secangkir teh dan cemilan kue basah yang dibuat dari bahan yang sepertinya mahal. Ya emang mahal engak mungkin kan rumah besar tapi makanan serba diskon. Tidak mungkin seperti itu, kecuali Amelya,Intari dan Dirinya yang suka merebut diskon makanan, bukan apa mereka kan suka makanan jadi wajar saja kalau mereka berebut dengan orang-orang hanya karena cemilan atau makanan.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki masuk melalui pintu utama, dan kepala pelayan tadi langsung berlari untuk menyambut orang tersebut.
“Tuan...Nona Evi sudah menunggu diruang tamu” ucap sang Kepala Pelayan. Yang dibalas anggukkan oleh Zhan Za Chen.
Semua pelayan yang berada diruangan ini adalah perempuan, kenapa perempuan. Entahlah yang pasti Za tidak ambil pusing masalah rumahnya, jika ada yang berhianat cukup dilempar kepenjara. Apa perlu diambil pusing. Dan untungnya pelayan disni tidak berani melakukan hal yang tidak disukai Tuan mereka. Namun ada satu hal yang menjadi sulit untuk tidak dilakukan, yaitu mencintai tuan mereka sendiri.
‘lihat lah..betapa tampannya dia’
‘huh...bayangkan dia datang mengenggam tanganku’
‘aku yakin, yang pasti setiap hari akan dihamburi dengan cinta olehnya’
‘dingin tapi menawan’
Itu adalah perkataan para pelayan yang hanya bisa didengar oleh mereka sendiri. Sebenarnya mereka sakit hati melihat kedatangan seorang wanita disini. Apa lagi sang kepala Pelayan yang berusia sekitar 25 tahun. Walau usia seperti itu tapi wajahnya masih sangat muda berkisaran antar 17-18 tahun.
Dengan wajah seperti itu, tentu bisa menipu siapa pun. Namun beda dengan Evita yang sudah menebak usianya. Jadi ia sedikit sopan padanya. Dengan melangkah mengimbangi sang Tuan pemilik mansion ini. Kepala Pelayan itu menjelaskan semua kejadian saat kedatangan Evita. Tak luput dimatanya untuk berkedip jika berada didekat tuannya ini. Lihat stylenya, jas berwarna hitam dengan celana panjang hitam. Kemeja biru Malam yang berpadu dengan dasi hitam sungguh tidak bisa dilewatkan bukan.
Namun beda dengan Evita yang melihat kedatangan tunangannya ini. Bukan apa, Evita juga orang yang tidak terlalu suka style, dan yang paling mengatur stylenya adalah Amelya. Walau tetap saja ujung-ujungnya hoodie yang dipakai.
Karena sang Tunangan telah datang, Evita berdiri untuk memberikan hormatnya. Dan dibalas dengan anggukkan oleh Za. Setelah Za duduk, baru Evita duduk.
Evita melirik kearah kepala pelayan, “kenapa dia disini juga...oh apa dia juga ini mendengarkan semua cerita disini, apa dia sang seketaris. Tapi dilihat-lihat tetap saja dia seorang pelayan”benak Evita. Tidak ada niat menghina, tapi entah kenapa kata pelayan begitu cocok untuk wanita yang berdiri disamping tunangannya ini. Jujur saja, Pelayan dirumahnya tidak pernah mendengar Evita menyebut mereka pelayan, melainkan Bibi, karena menurut Evita Bibi lebih baik dari pada Pelayan.
“aku tidak ingin ada basa basi..kita selesaikan ini” ucapnya,suara dingin dengan sedikit berat masuk ketelinga Evita. Seketika bulu tangannya berdiri karena merinding. Walau hanya sebentar.
“mn” Evita hanya mengangguk. Lagian menjawab yang lain tidak ada hubungannya. Jadi lanjutkan saja sampai selesai.
“aku ingin pertunangan ini selesai, dan kau perlu memenuhi persyaratan yang ada” ucapnya lagi. Evita mengangguk.
“maka dari itu.......”
...****************...
*jangan lupa like and comment😊
pentas kecil....
Kim: "Maka dari itu...apa Za?"
Za: "Entah...penasaran ya?"
Evita: "Kebiasaan bikin anak orang penasaran...mati penasaran baru tahu"
Za: "Jodoh sendiri di doakan mati penasaran,😒"
Kim: "🤣🤣🤭"
Evita: "bdmt*"
__ADS_1