Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
99. Perjalanan Kembali Ke Istana


__ADS_3

Ketika tatapan mata mami Reva tertuju pada anaknya.


"Bukan saatnya," lirih papi Ridho.


"Bantu aku," lanjutnya, dia meraih badan Alfrida yang emang amaih kecil, sedangkan mami Reva bantuin puteri Odellia yang sekilas mirip dengan perempuan yang digendong sama Rion.


"LEPASKAN TANGANMU DARI PUTERI ODELLIA!" teriak seorang laki-laki pakai baju pengawal yang menerobos api.


Dia mengarahkan pedang pada mami Reva yang tampilannya terlihat sangat aneh, mereka takut dia merupakan penyihir seperti Dorothy.


Sreeetttt!


"Jangan coba-coba kau menyakiti istriku!" papi Ridho menangkis pedang itu dengan tangannya.


Dan itu keliatan keren banget dimata Rion. Dengan darah yang ngucur karena kebeset pedang.


"Mas, kamu berdarah?!" mami Reva meraih tangan suaminya. Dia akan menyobek ujung bajunya tapi dihalangi oleh papi Ridho.


"Jangan! jangan sobek-sobek baju mu!" kata papi, dia nggak mau perut istrinya itu terekspose.


"Tapi tangan kamu, Mas..."


"Udah biarin aja," kata papi Ridho sok cool banget.


Cermin yang mengelilingi mereka, hilang dengan ajaibnya. Dan hanya menyisakan satu cermin yang menyedot Dorothy.


"TANGKAP MEREKA!" seru seorang oengawal.


"HENTIKAN?!!!!" teriak pangeran Clift yang menghentikan para pengawal yang udah mau meringkus orang- orang yang mereka anggap sebagai ancaman.


"Hentikan, mereka bukan orang jahat!" kata pangeran Clift.


"Puteri Odellia?!" pangeran Clift menyangka kalau yang tergeletak itu Rissa, tapi setelah mendekat dia baru menyadari sesuatu.


'Ternyata kau memang Odellia!' batin pangeran.


Lalu matanya menatap seseorang yang digendong Arion. Gadis yang ingin diselamatkannya, Rissa.


"Tolong bantu mereka keluar dari sini!" perintah pangeran.


Para pengawal mereka semua gercep buat bantu, Defne, Alfrida dan Anna keluar dari kastil itu.


Sementara liontin yang sudah pecah, mengembalikan energi yang diserap dari para gadis itu.


Karena Rissa udah dibawa keluar sama Rion, pangeran Clift mau nggak mau ya bawa si Markoneng. Dan tadi kan dia udah janji sama raja kalau mau nyelametin anaknya.


Dan ketika keluar ada satu pengawal yang denger sebuah gedoran, dia pikir itu kucing atau orang yang kejebak di ruangan itu.


Brakkk!

__ADS_1


Brakkk!


Pas pengawal itu nengok, muka Dorothy nemplok, bikin kaget.


"Astagaaaaaa!" pekiknya, dia memanggil satu orang temannya buat melihat apa yang ada di dalam cermin.


Semua orang keluar dari bangunan yang dilalap api.


"ODELLIAAAA!" teriak raja saat melihat anaknya digendong pangeran Clift.


Dan para prajurit yang mebgawal raja langsung menarik busurnya pada kedua orang yang berpakaian paling aneh diantara mereka yang keluar dari kastil itu.


Ya, anak panah itu mengarah pada mami Reva dan papi Ridho. Satu perintah dari raja, anak puluhan anak itu siap meluncur ke arah sepasang suami istri dari jaman yang berbeda dengan mereka. Sedangkan ratu Isabel, seperti ditarik oleh suatu energi pergi dari tempat itu.


"Hentikan! mereka bukan musuh kita!" seru pangeran.


Para prajurit pun menurunkan busurnya saat sang raja memberikan kode untuk mengikuti perintah pangeran Clift.


Sedangkan Rion dan yang lain nggak berani bergerak walaupun satu langkah. Saat pangeran memasukkan Odellia ke dalam kereta kuda. Sedangkan Anna dan juga Alfrida yang pingsan dibawa dengan kereta yang lain. Defne yang bisa jalan walupun agak kliyengan


"Siapa mereka, Pangeran?" tanya sang raja.


"Panjang jika harus diceritakan sekarang. Yang pasti mereka bukan orang jahat yang berniat mencelakai puteri Odellia.


"Kau yakin?" raja Abraham menatap orang-orang yang yang dianggapnya asing dengan tatapan yang menusuk.


"Beri mereka kuda!" perintah pangeran Clift.


Para pengawal pun menurut, mereka mempersilakan Arion dan juga yang lainnya untuk menaiki kuda.


"Yang Mulia, Yang Mulia...?!" seru dua orang pengawal sambil bersusah payah membawa sebuah cermin.


"Ada apa? apa yang kalian bawa!"


"Kami menemukan benda aneh ini di kastil tua itu," jawab salah satu pemgawal.


Raja sangat terkejut saat melihat sosok nenek tua yang hidup di dalam sebuah cermin.


"Dia Dorothy, Yang Mulia ... dia terkena sihirnya sendiri," Rion yang masih menggendong Rissa, dan pangeran Ciftt nggak suka ngeliat hal itu.


"Dorothy?" gumam sang raja yang begitu geram dengan wanita penyihir itu.


"Tinggalkan saja cermin itu di kastil! tidak ada untungnya jika cermin iru dibawa ke Istana.


Api yang kini melahap bangunan kastil tua, kini berhasil dipadamkan. Kedua pengawal memasukkan kembali cermin ke dalam sana.


Raja nggak mau membawa cermin yang berisikan penyihir jahat. Lebih baik cermin itu ditinggalin aja di kastil yang udah nggak karuan bentukannya.


Rombongan raja pun akhirnya kembali menuju istana di saat langit akan mengalami pergantian waktu malam menuju pagi.

__ADS_1


Puteri Odellia bersama sang raja di dalam sebuah kereta kuda, sementara pangeran Cluft memilih menunggangi kudanya sendiri sambil mengawasi Rissa yang berada di satu kuda yang sama dengan Arion.


"Ridho, Ridho...?" suara pak Sarmin terdengar di telinga papi Ridho.


"Ya, pak haji!"


"Syukurlah kalian telah selamat! tunggulah, sebentar lagi aku akan membukakan sebuah portal waktu untuk kalian! tetaplah bersama dan jangan terpisah lagi dengan Arion!" ucap pak Sarmin.


Papi Ridho yang mendekap erat istrinya yang kedinginan pun mengendalikan kudanya dengan hati-hati. Pria itu melingkarkan tangannya di perut istrinya, menjaga wanita itu supaya nggak jatuh


"Apa katanya?" tanya mami Reva.


"Portal waktu akan dibuka, kita bisa segera pulang bersama Arion dan calon mantu!" kata papi Ridho.


"Calon mantuuu?" mami Reva sontak menengok ke belakang.


"Udaaah, jangan ngintip! nanti bintitan!" papi Ridho, balikin posisi kepala mami Reva biar nggak nengok ke belakang, ngeliatin Arion.


"Emmnhh!" Rissa yang lagi naik kuda sekarang perlahan membuka matanya.


"Elu udah sadar, Sa? syukurlah!" ucap Rion lega.


"Emmh, ya ... sekarang kita?"


"Naik kuda!" sahut Rion cepat.


"Terus, gimana dengan puteri Odellia dan juga yang lain?" Rissa merasakan kepalanya masih pusing.


"Mereka semua selamat, elu nggak usah khawatir!" Rion sebenernya nggak mau bahas yang lain. Dia melihat kuda papi Ridho berada tepat di depannya.


'Nggak tau deh nasib gue habis ini!' batin Rion antara senang dan takut ketemu sama mami nya.


Rissa sedikit nengok, ngeliat wajah ganteng Arion, "Lalu gimana dengan---"


"Nenek sihir itu?" serobot Rion.


Rissa mengangguk pelan.


"Udah kena karmanya! dia terjebak di dalam cermin, dan itu juga berkat mami gue yang tiba-tiba muncul!" jelas Rion.


"Kok bisa?" leher Rissa sampe muter, saking terkejutnya denger penuturan Arion.


"Good things takes time!" ujar Rion.


"Ya, tentu ... hal baik membutuhkan waktu! tapi aku masih bingung, kenapa bisa ibu dan ayahmu masuk ke dalam dunia yang sama dengan kita..."


"Terkadang banyak hal yang nggak perlu kita tau, Rissa!" ucap Arion berkilah dari peryanyaan Rissa, padahal dia nggak bakal berani nanya ke mami Reva kenapa dia bisa sampe kesini. Bisa ae lu, Yon kalau ngeles!


Sementara di tempat lain. Sesosok tubuh bergerak-gerak di sebuah tempat transparan...

__ADS_1


__ADS_2