
Dibalik pencarian kedua sepasang insan yang kesasar ke dunia lain, ada dua orang laki-laki yang membuktikan kalau dirinya masih kuat di umur yang nggak lagi muda, ya papi Ridho dan Om Karan.
"Ternyata masih kuat ya pak Karan!" ucap Ridho di tengah pendakiannya yang udah gelap.
"Kuatlah, kan saya rajin olahraga!" sahut Om Karan.
Dan orang-orang suruhan pak Karan sengaja tuh nyusulin bosnya ke bawah, dan mandu buat ke atas. Dan mereka ketemu sama rombongan para pendaki Slamet dan kawan-kawan.
"Selamat malam, Tuan!" ucap salah satu orang suruhannya yang disuruh jemput bos mereka.
"Bagaimana?" tanya Om Karan.
"Para pendaki ada di arean tenda, Tuan..." jawab orang itu dan menyembunyikan fakta yang sesungguhnya.
Nggak mungkin dia bilang gini kan, 'Arion jatuh dari tebing bersama seorang gadis, Tuan...'
Apalagi sekarang mereka lagi naik gunung, pikiran kudu positif dulu nih, ngomongnya ntar aja kalau kaki udah berpijak di tanah yang datar.
Namun, firasat seorang ayah nggak akan pernah bisa dibohongi. Ridho tetep aja ngerasa kalau ada yang nggak rebes nih alias beres. Tapi dia nggak mau berspekulasi yang tidack-tidack.
'Arion pasti dalam keadaan baik,' batin Ridho.
Sementara di rumah Om Karan, Reva nggak bisa tenang kaya ikan kurang air.
"Kenapa mas Ridho belum ngehubungin aku yah?" dia bergumam sendiri.
"Tante Reva kenapa sih, Bu? kok nginep disini?" tanya Kanaya yang keder ngeliat tantenya, Reva yang duduk di meja makan tapi nggak makan apa-apa. Piringnya masih utuh, nasi nggak tersentuh.
"Nanti ibu jelasin, sekarang kamu makan dulu, ya?" Luri menyuruh anaknya untuk makan duluan.
"Mbaakkk? Mbak Reva? makan dulu, Mbak..." suara Luri lembut.
"Nggak bisa, aku nggak bisa makan sebelum pastiin Rion dalam keadaan selamat, nggak ada cecel bocel sedikit pun. Kamu tau kan, aku itu sayang banget sama Rion. Dia anakku satu-satunya," kali ini mami Reva nggak bisa tenang.
"Iya, mas Karan dan mas Ridho kan lagi kesana, nyari Arion. Mbak harus yakin kalau Arion dalam keadaan baik," ucap tante Luri.
"Luri, aku nggak selera makan. Aku mau ke kamar aja," mami Reva bangkit dari kursinya dan keluar.
Sampai di kamar, dia mondar-mandir nggak jelas, "Arion, Arioooon! kenapa kamu bikin mami nggak tenang kayak gini! sebenernya ada apa sama kamu, bocah kamvret!"
.
__ADS_1
.
.
Di tengah hutan....
Suasana udah malam ditambah track yang nggak mudah, membuat perjalanan papi Ridho dan Om Karan membutuhkan waktu yang lebih lama dari seharusnya.
"Sebentar lagi kita akan sampai, Tuan..." ucap pengawal Om Karan yang berada di depan.
Dan setelah melihat ada banyak orang melingkar di depan api unggun, papi Ridho lumayan lega.
"Akhirnya sampai juga," gumam papi Ridho.
"Dimana Arion?" tanya Om Karan, namun para pengawal diam belum ada yang berani menjawab.
Sedangkan Thalita yang melihat Om nya datang, bangkit dan langsung menghampiri.
"Astagaaa, Thalitaaaa?" papi Ridho kaget melihat Thalita yang matanya udah bengkak.
"Kamu kenapa? mata kamu habis diantub tawon? kok bengkak gitu?" papi Ridho malah ngomentari mata keponakannya.
"Dimana Rion?" mata papi Ridho melacak satu persatu orang yang ada di depan api unggun.
"Om," Eza dan Slamet menyalami tangan papi dari sahabatnya.
"Dimana Rion? bilang ada papinya nyusulin naik gunung!"
"Ehm..." Slamet jadi gagu.
"Dimana A-R-I-O-N?" tegas Om Karan
Dia mencium bau-bau ketidak jujuran disini.
"Arion dan seorang gadis jatuh dari tebing, Tuan..." ucap salah satu suruhan yang berhasil menemukan rombongan pendaki ini.
"APAAAAAAA?????!!!!! nggak, nggak mungkin!" papi Ridho kaget bukan main, jantungnya serasa mau berhenti saat ini juga, "Nggak mungkin, nggak mungkin anakku jatuh!"
"Thalita, cepat panggilkan Rion. Cara bercanda kalian sudah kelewatan! ayo, dimana anak itu!" kata papi Ridho dengan raut wajah yang nggak pernah Thalita liat sebelumnya.
"Bilang, kalau saya nggak akan marah. Bilang sama dia suruh keluar dari persembunyiannya," lanjut papi Ridho, sedangkan Thalita cuma bisa nangeeeess mulu.
__ADS_1
"Katakan dengan jujur apa yang sudah terjadi?" Om Karan mulai nggak kuat dengan sikap diam mereka.
"Loren adik sepupu dari teman kamu, Adam tergelincir, dia jatuh dari tebing. Entah apa yang merasukimu eh, Rion ... dia yang melihat Loren terjatuh, malah ikutan melompat ke bawah," jelas Slamet.
Kami berusaha memanggil mereka, nunggu diatas puncak daripagi sampai sore, berharap ada keajaiban. Rion bisa kembali ke tengah-tengah kami, tapi ternyata nihil.." lanjutnya.
Ridho yang mendengar itu memegang dadanya sendiri, dia terduduk di bawah.
"Rion," bayangan wajah Rion memenuhi pikirannya.
Dia teringat ucapan pak Sarmin dulu, ketika papi Ridho menelepon meminta supaya mata batin Rion bisa ditutup. Karena pada saat itu Arion kecil sering melihat hal-hal yang di luar nalar manusia dan dianggap aneh oleh teman-teman sekelasnya.
Yang bikin mami nya selalu was-was terlebih lagi, saat Rion bilang dia lagi diajak main cingciripit. Satu sosok makhluk yang pernah mengganggu Reva dulu. Tapi pak Sarmin hanya bilang kalau ada hal yang nggak bisa dia kendalikan, termasuk Rion. Kecuali Rion sendiri yang melepaskannya. Disitu papi Ridho bingung, gimana caranya Rion kecil bisa melepaskan bakat terpendamnya itu.
"Banyak yang menginginkannya, karena Rion bukan anak sembarangan. Kamu hanya bisa menjaganya dengan doa-doamu, jangan tinggalkan kewajibanmu sebagai seorang muslim, berbuat banyak kebaikan, itu akan menghindarkan Rion dari hal-hal buruk. Tapi satu hal yang perlu kamu ingat, bahwa manusia hanya menjalani takdir yang sudah digariskan!" ucapan pak Sarmin teringat jelas di pikirannya.
"Om..." suara Thalita menyadarkan papi Ridho yang sedang terpukul, mendapati kabar yang membuatnya pilu.
"Ridho, bangunlah!" Om Karan membantu papi Ridho buat bangkit.
Sebenernya Om Karan pun merasakan hal sama, dia sangat terpukul dengan kejadian tragis yang dialami Arion.
"Bagaimana kalau Reva tau soal ini? dia pasti akan sangat sedih!" papi Ridho menatap Om Karan.
"Jangan beritahu dia dulu!"
"Sampai kapan?"
"Sampai tim evaluasi menemukan jasad Arion!" ucap Om Karan.
Mendengar kata 'jasad' membuat papi Ridho sangat sedih. Dia kecewa terhadap dirinya.
"Kenapa kalian pergi tanpa ijin? hem?" papi Ridho kini menatap Thalita yang tertunduk.
Papi Ridho melihat ke langit yang gelap tanpa bintang, "Maafkan papi, Rion! papi gagal menjaga kamu," gumamnya dalam hati.
Namun, seketika dia keinget tuh sama pak Sarmin.
"Saya pinjam mobilnya!" papi Ridho menengadahkan tangannya pada Om Karan.
"Mau kemana? sudah malam!"
__ADS_1
"Ini menyangkut hidup dan mati anakku!" ucap papi Ridho.
"Pikiranmu sedang kalut, lebih baik kita turun bersama-sama," ucap Om Karan.