
Rion nggak melakukan apa yang kalian semua pikirkan, dengan pikiran-pikiran lucnut menggapai syurrrga dunia. Bersih-bersih tuh pikiraaaaan, yeeeuuuh!
Semalaman Rion ngejagain Rissa. Dia tau sekalinya dia maju satu langkah, maka dia udah nggak bisa mundur lagi. Sekarang Rissa udah jadi istrinya yang harus dia jaga sepenuh hati, jadi dia nggak boleh punya pikiran buat mengorbankan pernikahan mereka untuk perasaan Thomas, orangtuanya maupun mama nya Rissa. Karena kan Rion dan Rissa baru ngantongin restu dari pihak Om Dera aja.
Pagi harinya, Rion yang nggak tidur mencoba membuat sarapan. Niatnya biar romantis tapi malah bikin Rissa pengen menangis, karena apa? Karena mungkin lagi banyak pikiran itu telor dadar yang niatnya diatasnya mau dikasih roti dan nanti dipanggang bareng diatas teflon, eh telornya malah guosoong. Dan ini udah yang ketiga kalinya.
"Astagaaaaa, pikiran gue kemana aja si?" Rion jadi kesel sendiri.
"Uhuuukk, uhukkk," Rissa datang ke dapur dengan setengah terbatuk. Dia udah cantik dan seger.
"Ada apa?" tanya Rissa melihat Rion yang bertolak pinggang.
"Nggak taulah," Rion menunjukkan telor yang mau dia bikin buat dijadiin roti panggang, malah item-item nggak jelas. Biasanya juga dia bikin makanan simple kayak gini, nggak sampai gosong. Kecuali mami nya yang emang sama sekali nggak bisa masak, atau mungkin dia lagi dapat kutukan dari sang mami kalau 'sampai kapan pun kamu goreng telung, dia akan selalu gosong!'
"Mau bikin sarapan?" Rissa manggut-manggut paham.
"Aku bikinin aja lagi, kamu mandi dulu aja...." Rion ngeliat telor gosong sekilas lalu melayangkan pandangan adem nya ke arah sang suami.
"Ya udah kalau gitu. Oh ya, maaf udah bikin gosong makanan kita..."
Rion pun masuk ke dalam kamar Rissa, bukannya langsung mandi dia malah rebahin dulu badannya di atas kasur, semalaman bobok di sofa yang nggak begitu gede bikin dia harus nekuk kakinya dan itu lumayan bikin pegel.
"Arrghhhhh?!!" baru mau merem, dia keinget kalau nanti siang itu jadwal penerbangan Lukman dan pak Sardi.
"Astagaaa, kenapa aku malah leyeh-leyeh nggak jelas?!" Rion bangkit dan ngeloyor mandi.
Beberapa saat kemudian, dia keluar dengan baju yang sama dan ngeliat kalau udah terpampang nyata minuman panas dengan roti panggang yang dia idam-idamkan tersaji di atas meja.
Rion menarik kursi dan duduk mengambil secangkir kopi yang udah Rissa buatin, "Selalu enak..." puji nya.
Rissa yang dipuji minumannya yang dibilang enak pun senyumnya mengembang, "Roti panggangnya..." Rissa mendekatkan satu piring yang isinya roti panggang pada Rion.
__ADS_1
"Loh kok cuma satu?" tanya Rion.
"Kalau kamu mau lagi nanti aku buatkan lagi, karena roti panggang itu paling enak dimakan panas-panas, supaya ada sensasi keju yang meleleh," jelas Rissa duduk dan menaruh telur gosong yang Rion buat.
"Bukan buat aku, tapi buat kamu. Jangan bialng kamu mau makan telur dadar bikinanku itu?" Rion menunjuk telor dadar yang ada di piring ceper di depan Rissa.
"Sayang kalau dibuang, ini sebenernya masih bisa dimakan, hanya perlu nyingkirin yang goosng-gosongny aja," Rissa dengan senyumnya dan mencoba minggirin bagian-bagian yang item dari telur dadarnya.
Rissa pernah ngalamin masa sulit di dalam kehidupannya, sampai dia harus ngirit makan supaya bisa tetep megang duit buat pengobatan papanya. Kadang buat makan aja sulit, jadi ketika ngeliat telur dadar yang cuma gosong kayak gini, Rissa nggak tega ngebuangnya.
Dan akhirnya dengan manisnya, Rion pun berbagi makanan gosong itu dengan Rissa. Mereka makan bersama.
Rion bukan tipe cowok yang maunya enak sendiri, jadilah dia membagi setengah rotinya untuk Rissa dan bertanggung jawab membantu Rissa menghabiskan telur dadar yang untungnya nggak keasianan.
Rion mengangkut dua koper punya Rissa ke dalam mobilnya yang harus dibuka penutup atasnya. Pemandangan pagi ini juga kayaknya patut dinikmati dengan sebaik-baiknya.
"Udah dicek lagi? kalau nggak ada barang pribadi kamu yang ketinggalan?" tanya Rion.
Rion pun mengunci rumah itu dan nyerahin kuncinya pada Rissa. Pasangan pengantin baru itu, segera melsat meninggalkan kawasan itu dan pergi menuju rumah sakit.
"Kamu di rumah sakit aja, nanti setelah aku nganterin Lukman dan pak sardi baru aku akan nyusulin kamu kesana," Rion sekilas nengok ke arah istrinya.
"Nggak apa-apa aku langsung ke rumah sakit? aku nggak enak kalau nggak nganterin temen kamu dan juga penghulu yang udah menikahkan kita,"
"Papa lebih membutuhkan kamu, Sa. Lukamn dan pak Sardi pasti maklum kok, kamu nggak usah khawatir," Rion meraih tangan Rissa sedangkan satu tangannya lainnya memegang stir kemudi.
"kalau gitu sampein salam, permintaan maaf dan terima kasih aku buat mereka ya?" Rissa yang masih belum punya panggilan sayang buat Arion.
"ya, nanti aku sampein..." Rion pun melepaskan genggaman tangannya dan fokus nyetir, membawa Rissa menuju rumah sakit.
Setelah beberapa saat, Rion pun menurunkan Rissa di rumah sakit tempat mertuanya dirawat. Awalnya Rion mau turun buat nganterin Rissa sampai ke dalam ruang perawatan Om Dera, tapi Rissa nyuruh Rion buat langsung aja ke apartemen, takutnya nnati malah telat nganterin pak Lukman dan juga pak Sardi. Dengan berat hati, Rion pun akhirnya langsung tancap gas setelah menurunkan istrinya.
__ADS_1
Sementara Rion udah pergi, Rissa pun masuk ke dalam lobby rumah sait.
Namun tiba-tiba ada suara sesesorang pria yang familiar di telinganya yang kini memanggilnya.
"Rissaa...." ucapnya, membuat Rissa sontak mememutar tubuhnya.
"Kak Thomas?" gumam Rissa yang ngeliat Thomas dengan penampilannya yang lebih baik, namun nggak dengan wajahnya yang banyak lebam.
Thomas mendekat, dia menjaga jaraknya, "Bisa kita bicara?" ucap Thomas.
Rissa mengangguk, "Ya..."
Mereka berdua duduk di sebuah meja, di kantin rumah sakit.
"Maaf, semalam aku---" Thomas nggak mampu meneruskan ucapannya, tapi Rissa hanya diam nggak mau nyerobot. Dia menunggu dengan sabara apa yang akan Thomas katakan padanya.
"Nggak seharusnya aku berbuat seperti itu," lanjut Thomas.
"Maaf, aku lupa dengan janjiku, tapi aku nggak bermaksud untuk melupakannya dan membuat hati kamu terluka, Kak..." Rissa bicara dengan tulus.
Thomas manggut-manggut, "Ya, ya, lagipula aku yang salah. Aku menentukan semuanya sendiri sesusai pikiranku, tanpa aku tanya dulu sama kamu. Aku pikir project itu selesai itu berrati kamu punya banyak waktu senggang, ternyata kamu lagi menghadapi sesuatu yang besar. harusnya aku ada disana, memberi kamu support, tapi aku datang dengan membawa amarah yang meluap-luap," Thomas nggak mau Rissa takut sama dia karena semalam dia udah bersikap sangat emosional.
Suasana mendadak menjadi aneh, nggak seperti biasanya. Rissa yang mendapati orang yang sudah dianggapknya seperti kakak sendiri pun hanya bisa berkata, "Aku tau, dan bisa memahaminya. Kamu orang baik, dan aku bersyukur mengenal orang sebaik kamu, Kak..."
Thomas tersenyum getir, "Aku nggak akan membayangkan ada di situasi seperti ini, Rissa. Nggak pernah terbayang sedikitpun. tapi yang pelu kamu tau, apa yang aku ungkap kan semalam merupakan kenyataan. Dan itu yang aku rasakan selama ini. Aku cinta sama kamu, Rissa.
"Aku tau sekarang kamu milik orang lain, tapi aku nggak mau menyesal dengan memendam perasaan ini sendirian..." lanjutnya.
"Aku tau, aku sangat menghargai itu..." sahut Rissa.
Thomas meneteskan air matanya, namun buru-buru disekanya, "Apakah aku boleh menengok papa mu?" tanya Thomas, dan Rissa pun terdiam sesaat sebelum memutuskan.
__ADS_1