Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
33. Bola Cahaya Merah Meredup


__ADS_3

Tapi setelah menunggu beberapa saat, nggak ada apa-apa. Rion dan Rissa menghela nafas lega.


Baru aja mereka mau berbalik tiba-tiba...


Sreeeeetttt!


"Aarghhhh!" Rissa memekik, dia merasakan sesuatu yang perih.


Rion mencoba melindungi Rissa di belakang tubuhnya.


Bayangan hitam itu muncul lagi, di belakang Rissa.


Tapi ketika Rion akan mengayunkan pedangnya, bayangan itu hilang dengan cepat.


Sreeeeetttt!


Bayangan itu bergerak dengan cepat. Memberi sayatan pada lengan Rissa untuk yang kedua kalinya.


Darah segar mengalir dari satu lengan Rissa.


"Aakkh!" Rissa kembali memekik.


"Kamu terluka, Rissa!" Rion memegang lengan Rissa yang terluka. Gadis itu memakai sweater hitam panjang tanpa jaket.


Dan ketika bayangan yang tuman itu balik lagi dan mau main-main.


Rion seketika menarik Rissa dan mengayunkan pedangnya ke arah bayangan itu dan 'seeeeettt' bayangan itu terpotong menjadi dua..


"Hhhh ... hhh," dada Rion naik turun.


Laki-laki itu melepaskan Rissa dan mendekati entah makhluk apa yang menyerang gadis yang sedang dilindunginya itu.


Setelah didekati, sekelebat bayangan hitam itu berubah menjadi kain yang teronggok gitu ajeee di atas tanah.


"Rionnn...?" Rissa manggil laki-laki sambil megangin lengannya yang kena beset.


Rion menunjukkan telapak tangannya, "Ntar dulu, gue mau ngecek kain apa ini?"


Baru juga tangan Rion mau menyentuh kain itu tiba-tiba kain hitam berubah menjadi sekumpulan burung-burung yang menyerang rion.


Kwaaakkkk!


Kwaaakkkk!


"Aaarrghhjh!" Rion mencoba menghalau burung yang main keroyokan nyerang dia.


Rissa yang lagi kesakitan memanggil bola merahnya, "Pergi kalian!!!"


Bummmmm!


Bola merah mengenai burung-burung yang menyerang Rion, dan mereka hilang seperti asap berwarna hitam.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Rissa.


Rion bangun dan memasukkan pedangnya, "Kayaknya kita masuk ke dunia sihir, Ren? hem, maksudku Rissa,"


"Bisa jadi, dan kita harus berhati-hati disini," kata Rissa mengingatkan.


"Lenganmu luka, tapi gue nggak bawa obat-obatan..."

__ADS_1


"Nggak apa-apa, nanti juga sembuh sendiri," kata Rissa.


Hutan yang gelap yang dipenuhi pohon dan akar pohon yang besar, membuat suasana yang berbeda.


"Sebaiknya kita jangan jauh-jauh dari disini, biaa aja pintu portal ini kebuka tiba-tiba kan? siapa tau?" ucap Rion.


Baru ngomong kayak gitu tiba-tiba bola merah milik Rissa padam.


Greepp!


Tangan Rion reflek memegang tangan Rissa.


"Come...!" bisik Rissa, bukan pada Rion tapi pada bola cahaya merahnya, supaya kasih sedikit penerangan buat dia.


Perlahan, bola cahaya merah berpendar, tapi kemudian dia redup lagi.


"Batrenya abis kali," Rion nyeletuk.


Yeuuh, si Rion. Lu pikir itu bola ada batrenya! Ngadi-ngadi emang lu yaaaaakkk!


"Biasanya nggak kayak gini," lirih Rissa.


"Kita di dunia sihir, tapi kenapa aku nggak bisa pakai sihir yang aku punya?" Rissa mencoba memanggil lagi bola cahayanya, tapi yang dipanggil nggak muncul juga.


Selain badannya yang rasanya capek banget, kekuatannya nggak semuanya bisa dipakai, "Ada apa sebenarnya?" batin Rissa.


Rion memutar saru tangannya dan mencoba memanggil bola cahayanya, "The light comes to me!"


Dan cahaya biru berpendar memberikan penerangan padanya.


"Punya Rion bisa, kenapa punyaku nggak mau dipanggil? apa karena dia jiwa paling murni?" batin Rissa.


Rion melihat sekitar, "Rissa, kayaknya ini bukan tempat yang tadi, tempat yang pertama kali kita kesedot kesini," kata Rion. Bahasa elu kesedot, Yon!


"Terus kita harus gimana?" Rissa memegangi lengannya.


"Kita duduk dulu, luka elu biar gue liat dulu. Habis itu baru kita pikirin langkah selanjutnya," kata Rion, dia mengarahkan Rissa untuk duduk di bawah pohon yang gede banget.


"Senderan," Rion nyuruh Rissa senderan di batang pohon.


"Gue liat, ya?" Rion ijin dulu sebelum ngeliat luka dan robekan dari sweater gadis itu.


Rion gerakin tangannya, menyuruh cahayanya berpendar lebih terang.


"Aaawwkh, jangan ditekan!"


"Perasaan dulu pernah luka kayak gini tapi elu diem aja?" gumam Rion.


Rissa yang disindir diem aja, ya emang sebenernya perih, cuma waktu itu dia tahan-tahan aja. Tapi sekarang, badannya semakin lemah, karena dia udah kasih separuh energinya buat Rion.


"Maaf, gue robek!" Rion merobek tuh sweater yang dibagian lengan Rissa yang ada lukanya.


Prepeeeeeettt!


Bukannya terpotong dengan sempurna, Rion malah membuat robekan sampai lengan atas Rissa, saking kencengannya.


"Sorry! gue---"


"Dengan tangan gue yang ajaib ini, apa mungkin gue bisa menutup luka elu ini dengan kekuatan yang gue miliki?" Rion nanya.

__ADS_1


"Mana tau kalau belum dicoba. Kamu nggak perlu mantra atau semacamnya, kamu hanya perlu mengendalikan semuanya dengan pikiran kamu," kata Rissa.


Rion ngangguk. Dia mengangkat tangannya yang kini diselimuti sinar biru.


Rion mengarahkan telapak tangannya, dan menggerakkan tangannya secara perlahan di atas lengan gadis yang perlahan mencuri hatinya.


'Kalau kamu tau siapa Rissa yang sebenernya, apa kamu akan tetap sebaik ini, Rion?' batin Rissa.


Pelan-pelan tapi pasti, luka sayatan di lengan Risa mulai menutup. Walaupun masih kerasa perihnya.


"Syukurlah," Rion bangga dengan dirinya yang bisa menggunakan kekuatannya dengan benar.


Rissa melihat jam tangannya.


"Kenapa?" Rion ikutan duduk di sebelah gadis itu, dia juga pegel abis nyungsruk di negeri antah berantah ini.


"Jam tangannya nggak berfungsi!" ucap Rissa yang melihat jarum jam berhenti bergerak. Rion pin ngecek jam tangannya sendiri, dan ya. Waktu berhenti.


"Mungkin karena kita berada di dimensi lain, makanya ada perbedaan waktu antara di sini dan di dunia kita yang sebelumnya," Rion mengutarakan pendapatnya.


"Ya, bisa jadi begitu..."


Lalu hening seketika.


"Tadi elu diapain sama Mova? didorong?" Rion nanya tiba-tiba.


"Bukan dia, tapi ada satu kekuatan lain yang ngikutin kita selama pendakian. Dia nggak suka karena aku deket sama kamu," kata Rissa jujur.


"Mova hanya sebagai alat aja, supaya bisa nyentuh aku dan bikin aku terjatuh!" lanjut Rissa, dia meremin matanya.


"Elu istirahat aja, gue yang jaga..." Rion menawarkan diri untuk melek sendirian.


Rissa kali ini ngangguk. Dia emang lemes parah, mungkin dengan meremin mata bentar. Energinya bisa balik lagi.


Dan Rion yang ngeliat Rissa tidur, dia membuka jaketnya. Rion menutupi badan Rissa.


Sedangkan matanya tetap awas melihat ke sekeliling.


"Gimana Telolet, yah? dia bisa balik ke rumah nggak tuh?" Rion jadi kepikiran adik sepupunya yang rese.


"Bisa lah, ada Eza. Gue yakin tuh bocah pasti nemenin Telolet," gumamnya sendirian.


Sesekali Rion membenarkan posisi jaket yang agak melorot.


"Gue nggak tau apa yang bakal kita hadapi di tempat nggak jelas kayak gini, tapi gue yakin kita bakal bisa keluar dari sini secepatnya," gumam Rion dia memandangi wajah gadis cantik di sampingnya.


Rion yang juga kedinginan, mencoba membuat api unggun, tapi dia nggak mungkin ninggalin Rissa sendirian.


"Kan gue udah sakti, ngapain gue cari-cari kayu? gue diem aja, biar kekuatan gue yang bekerja, cakeeeupp!" Rion memutuskan buat nggak stres dengan keadaan.


Karena kalau makin stres, makin nggak bisa mikir.


Rion menggerakkan tangannya dengan gerakan seperti memutar sebuah bola, "Tolong dong, gue butuh kayu dan api, kalau bisa sekalian kopi!" ucap Rion ada gila-gilanya.


Daaaaan...


Satu persatu kayu menghampiri Rion, tersusun dengan sendirinya. Tapi nggak dengan kopinya ya.


"Kan kan kan , apa gue bilang!" Rion girang sendiri, mengetahui tangannya kini bisa membuat suatu sihir tertentu.

__ADS_1


Dan kini, Rion bisa menikmati kehangatan api unggun, namun nggak disangka kepala Rissa nggak sengaja nyender ke bahu kekarnya.


Sedangkan Rion salting disaat yang nggak tepat, "Gue bakal lindungin elu, Rissa..." gumamnya sembari mengelus kepala Rissa sekilas.


__ADS_2