Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
147. Masalah Hati


__ADS_3

Rion terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Rissa yang nampak bingung dengan sikapnya saat ini, "Gue tau kalau gue salah. Gue udah ngilang udah ngeghostingin elu gitu aja. Gue emang pecundang yang lari dari masalah,"


"Dengerin gue ngomong dulu, sebelum gue berubah pikiran karena suatu hal lain," Rion mencegah Rissa untuk ngomong atau menyela ucapannya, ibu jari pria itu menyentuh bibir tipis Rissa.


"Sorry..." ucap Rion yang kemudian menurunkan kembali tangannya.


"Maaf buat semuanya. Gue jujur kaget ngeliat elu tiba-tiba ada disini, gue ngerasa sejauh apapun gue pergi nyatanya Tuhan selalu mempertemukan gue sama elu, Sa! dan itu diluar kehendak gue sebagai manusia biasa...."


"Aku nggak ngerti..."Rissa memandang Rion dengan tatapan bingungnya.


"Sama gue juga nggak ngerti kenapa takdir sekejam itu sama kita, dan seandainya aja----"


"Seandainya aku bukan anak dari Dera Prayoga?" Rissa menebak kalimat yang nggak bisa dilanjutkan Rion.


Rion mengangguk.


"Nyatanya aku anak dari orang yang sudah berbuat jahat padamu, Rion. Dan aku cukup paham jika kamu nggak bisa berteman denganku," Rissa sengaja menggunakan kata 'teman' karena mereka emang nggak terlibat hubungan spesial.


"Bukan kayak gitu, Sa. Jika kamu tau, aku pun tersiksa dengan hubungan yang nggak jelas ini. Tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa. Dan saat aku melihat kamu nggak bisa bernafas, disitu aku baru sadar kalau aku nggak bisa buat kehilangan kamu, Sa..."


"Nggak bisa," Rion menggenggam satu tangan Rissa.


Satu tetes..


Dua tetes air mata jatuh dari kedua mata Rissa.


Rion yang melihat itu langsung mengusap dengan ibu jarinya, dia segera meletakkan kopinya di kursi samping yang kosong, lalu dia menangkup kedua wajah Rissa, "Jangan nangis, gue tau gue ini brengssek. gue terlalu takut buat perjuangin perasaan kita berdua..."


"gue yakin elu juga punya perasaan yang sama kan sama gue, Sa?" lanjutnya.


Rissa nggak bisa ngomong apa-apa lagi, bertemu dengan Rion saja membuat hatinya berdenyut nyeri. Apalagi kali ini mereka ngomongin masa lalu yang membuat mereka sama-sama terluka.


Rion mengambil papper cup yang ada di tangan Rissa dan menaruhnya disamping kopi miliknya. Sekarang kedua tangan Rissa, ia genggam, "Aku nggak tau ini waktu yang tepat atau nggak. Yang jelas aku nggak mau buang-buang waktu lagi buat nyatain perasaan aku sama kamu, Rissa..."

__ADS_1


"Aku cinta sama kamu, dan aku nggak mau kehilangan kamu, Sa. Ayo kita berjuang sama-sama buat meraih restu orangtua kita..." Rion menatap Rissa dengan tatapan yang sendu. Matanya pun berkaca-kaca, Rion ngerasa kalau saat ini dia udah nggak bisa lagi menahan perasaan yang udah lama dia pendam.


Namun tiba-tiba Rissa melepaskan tangannya dari Rion, "Maaf tapi semuanya begitu cepat, aku ...aku kesini dengan tujuan tertentu, aku belum bisa memutuskan aku bisa menerima kamu atau nggak..."


Jawaban yang bener-bener diluar dugaan Rion.


'WHAAAAAATTTT...?!' Rion berkedip sesaat, dia mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Rissa.


"Ehm, kamu jangan terburu-buru. Tenang aja aku bisa menunggu, tapi jangan terlalu lama juga takutnya kamu tambah deket sama Thomas," Rion membuat Rissa kaget karena menyebut nama Thomas.


"Thomas?"


"Ehm," Rion cuma nyengir aja, dalam hati pengen banget mengumpat kenapa bisa dia menyebut nama sahabatnya itu di depan Rissa.


"Aku sebenernya kaget pas tau kamu deket sama Thomas, tapi aku yakin kamu lebih deket sama aku daripada sama dia, Iya kan?" Rion membuat kepala Rissa malah cekot-cekot. Apalagi Rion mengubah gaya bahasanya mengikuti dirinya.


"Shhhhhh?!" Rion menggigit bibirnya saat dia nggak sengaja menyebtuh sudut bibirnya dengan tangan.


"Sakit?" Rissa nanya, dia memperhatikan wajah Rion yang babak belur.


"Jadi kamu tau ini perbuatan Thomas?" Rion kaget, kok Rissa bisa tau kalau mukanya yang bonyok ini hasil mahakarya seorang Thomas.


"Aku tau dari Meisya, katanya kalian berantem! bukan berantem, tapi Kak Thomas yang memukuli kamu,"


"Thomas kesurupan, dia cemburu liat aku yang transfer nafas buat kamu yang habis tenggelam waktu itu," Rion sengaja ngomong gitu, biar Rissa tau siapa yang ngasih pertolongan pertama pada insiden itu.


"Maaf, gara-gara nolongin aku, kalian jadi salah paham," ucap Rissa tulus.


"Aku sengaja nggak ngelawan, karena sekalinya aku tonjok dia, mungkin dia bisa pingsan berhari-hari. Kamu tau kan aku punya kekuatan super?" Rion mengingatkan kembali perjalanan mistis mereka berdua.


"Ya, tentu! ternyata kamu masih memiliki pedang itu," Rissa ingat sewaktu di dalam air, dia melihat pedang cahaya biru milik Rion.


"Lupakan pedang itu dan segala kebonyokan ini. Yang jelas, aku bakal nungguin jawaban kamu, Rissa. Aku yakin, kali ini takdir berpihak pada kita..." kata-kata Rion membuat seulas senyuman tipis di bibir Rissa.

__ADS_1


"Jadi kamu ke rumah sakit ini buat?"


"Menjenguk papa ku..." sahut Rissa mantap.


Sekalian shock therapy buat Rion. Jika emang pria itu mencintainya dengan sungguh-sungguh, pasti Rion bisa memaafkan seorang Dera Prayoga.


"Papa kamu? disini? di rumah sakit ini?" Rion berharap dia salah denger.


"Iya, kenapa? dia sakit jantung, dan sedang menjalani masa observasi. Kalau kondisinya bagus, maka dokter akan melakukan operasi secepatnya," jelas Rissa.


"Apa kamu ingin menemuinya?" Rissa menawarkan sesuatu yang akan menjadi pergolakan batin Rion.


"Apa nggak apa-apa kalau aku nemuin papa kamu? aku takut dia shock,"


Rissa menggeleng, "Mungkin pertemuan dengan kamu merupakan salah satu hal yang dia inginkan, karena sejujurnya dia sangat menyesal dan dihantui rasa bersalah,"


"Benarkah?" Rion menatap Rissa, dia melembut.


"Ya, percaya atau nggak. Papa ku sudah meninggalkan semua hal yang buruk. Dia sudah bertaubat, dan kedatanganmu kali ini mungkin bisa menjadi penawar hatinya," kata Rissa.


Rion ngangguk, "Ya, aku mau!"


Tentu jika dia ingin bersama Rissa, Rion harus legowo menerima dan berbesar hati memaafkan segala kesalahan Dera Prayoga, dan Rissa tau itu nggak semudah membalikkan telapak tangan.


"Dimana kamarnya?"


"Akan aku tunjukkan, tapi sebelumnya. Minum kopi mu dulu, sayang kalau dibuang gitu aja," kata Rissa.


Wanita itu tau Rion pasti akan sangat gugup menemui orang yang sudah berbuat jahat padanya, makanya Rissa menyuruh Rion buat minum. Seenggaknya itu bisa membuat hati Rion sedikit lebih tenang.


Setelah minuman mereka habis, Rissa berjalan beriringan dengan Rissa. Perlahan tapi pasti pria itu mengisi jari jemari Rissa.


'Gue udah jauh berlari menjemput jodoh gue, Thomas! sorry, gue duluan!' batin Rion.

__ADS_1


'Walaupun Rissa masih minta waktu buat mikir, it's okay. Gue bakal tunggu itu sampai kapan pun,' lanjutnya dalam hati.


__ADS_2