
Rion menengok sekilas pada sang raja iblis, dia menggendong Rissa menjauh.
Sedangkan gadis itu menggerakkan tangannya mencoba memanggil bola cahayanya, "Ikuti aku...!" lirih Rissa.
Namun, sang raja menggerakkan kedua tangannya dan menciptakan sebuah tirai energi yang membuat Rion nggak bisa menembusnya.
Braaaaakkk!!
Rion terjatuh saat menyentuh tirai energi berwarna hitam itu.
"Akkkkkkhh!" Rissa memekik.
begitu juga Rion, dia yang tertimpa tubuh Rissa pun nggak kalah bonyok, "Eerghh!"
"Uhukkk!" Rissa mengeluarkan darah lagi dari mulutnya. Dia berusaha bangkit.
"Kamu nggak apa-apa, Sa?" Rion menangkup kedua pipi Rissa.
Dan...
Trang tang tang tang!
Jlep jlep jlep!
Sebuah besi satu persatu menghujam tanah, mengelilingi Rion dan Rissa. Sontak keduanya bergerak mundur, takut kena hujam.
Kemudian diatasnya pun perlahan tertutupi oleh sebuah energi jahat yang tidak bisa ditembus dengan mudah. Rion, Rissa dan sesosok peri terperangkap di dalam sangkar besi.
Rion bangkit, "Heh, lu pikir kita ayam? pakai dikurungi segala?" Rion jengkel, dia mencoba menyentuh besi itu tapi...
Ndddrrttttt!
Rion seperti kena setrum, "Eerghhhhh!!"
"Rion!" panggil Rissa lirih, dia nggak mampu menolong Rion, dia memegang dadanya yang sakit.
"KAU MENCOBA UNTUK MELANGGAR JANJIMU?!! HAAHHH?" Sang Raja iblis murka pada Rissa.
"Kau menginginkan ini?" raja iblis mengambil bola cahaya merah, yang mengambang di atas telapak tangannya.
"T-tolong lepaskan Arion! kau harus memenuhi janjimu," kata Rissa, dia terduduk.
Sedangkan Rion bergerak mendekati Rissa, memegang kedua bahu Rissa dari samping, tatapannya tajam menatap sang iblis.
"SEKARANG AKU MENDAPATKAN KEDUANYA! MENGAPA AKU HARUS MELEPASKAN SALAH SATU DIANTARA KALIAN? BAHKAN HARI INI ADA SATU PERI MENJADI BONUS ENERGI UNTUKKU! HAHAHAHAHHAHAH, DASAR MANUSIA BODOH!" sang Raja iblis tertawa serenyah peyek lebaran, yang disimpen di kaleng khong guan. Khong guan, endors kita yaaaaakkk!
__ADS_1
"Tangan kamu..." Rissa meraih tangan Rion, melihat apakah pemuda itu terluka atau nggak.
"Tanganku, seperti besi. Nggak akan mudah terluka!" ucap Rion.
"Keluarkan kami!" ucap Rissa, baru kali ini Rion melihat Rissa begitu lemah dan nggak berdaya.
Seeeeettttttt!
Rion mendapatkan busur milik Rissa yang tiba-tiba muncul dalam genggamannya.
Rion menekuk kakinya di tanah, dia menarik busurnya, berniat menghujamkan panah cahaya merah pada iblis itu.
Taaaaarrrrrrrr!!!
Panah itu melewati celah antara besi yang satu dengan yang lain.
Namun...
Seeet!
Panah itu ditangkap oleh sang Raja iblis. Dan terbakar begitu saja.
"Sial!" umpat Rion.
"Kau pikir senjata seperti ini mampu melukaiku? in your dream!" sang raja iblis tersenyum sarkas.
"Mungkin dulu ada orang yang melindungimu, tapi sekarang tidak lagi. Kau sekarang ada dalam kekuasaanku! dan sebentar lagi, kau akan membuatku mengusai dunia ini, hahahaha!" sang Raja berbalik membelakangi tawanannya.
Dia menoleh sekilas, "Kita akan menunggu waktu yang tepat! Sekarang nikmatilah sisa-sisa energi yang kau punya!" ucapnya.
Dan dia pun menghilang bersama dengan para pengikutnya, meninggalkan Rissa Rion dan Keket di dalam sebuah lingkaran yang dikelilingi besi.
"Aarrghhh," Rissa merasakan badannya sangat sakit.
Rion yang melihatnya menyangga badan Rissa, dia menyandarkan kepala Rissa di dadanya.
"Aku sudah bilang jangan mencariku, uhuk!" Rissa lemas. kupu-kupu yang nemplok di rambut Rissa kini terbang mengelilingi tempat mereka dikurung sekarang.
Rion mengangkat tangannya sejajar dengan wajah Rissa, "Sembuhkan luka yang ada di wajahnya, hocus pocus!"
Nreeeeeeeeetttt!
Tangan Rion diselimuti cahaya berwarna biru, dia mendekatkan telapak tangannya pada wajah Rissa. Dan luka yang semula memenuhi wajah Rissa, sekarang mulai menutup. Tapi masih ada banyak sisa darah disana.
"Haishhhh, suka keluar erornya deh!" Rion kesel.
__ADS_1
Dia kemudian menengadahkan tangannya kembali," Gue minta sapu tangan, sama baskom plus kasih air anget! jangan sampai salah! hocus, pocus!
Dan....
Trang lalala yeyeye lalala yeyeye...
Munculah sapu tangan di tangan Rion dan sebuah baskom dekat dengan paha Rissa.
"Nah gitu dong! kalau kayak gini kan gue nggak marah terus!" Rion mencelupkan ujung sapu tangan ke dalam air hangat. Lalu dia mulai membersihkan wajah Rissa.
"Kenapa elu berbuat sesuatu tanpa persetujuan dari gue?"
Rissa hanya tersenyum sekilas, akhirnya dia merasakan diperhatikan seseorang. Karena menjadi anak korban perceraian orangtua hanya bikin dia ngerasa kalau nggak ada lagi yang sayang sama dia. Papa nya hanya mencukupi kebutuhan secara material, namun enggak dengan kasih sayang. Sedangkan mama nya, nanyain kabar paling sebulan sekali itu pun kalau dia inget. Tapi semenjak papa nya sakit dan lebih banyak di rumah, Rissa baru ngerasa kalau di rumah dia nggak sendiri lagi, dia masih punya papa.
"Kenapa lu senyam-senyum? kena sawan lu?|" Rion mulai menunjukan sisi lain di dalam dirinya.
"Inget ya? gue nggak bakal ninggalin elu di tempat kayak gini. Lu harus ikut balik sama gue! gue nggak mau tau!" Rion menatap wajah Rissa yang kini sudah bersih.
Sapu tangan dan baskom hilang seketika, saat Rion udah nggak butuh lagi. Sekarang dia sibuk melihat paras gadis yang berada sangat dekat dengan dirinya.
"Gue nggak tau kenapa elu dengan beraninya menyerahkan bola cahaya punya elu itu,"
"Karena aku harus melakukan ini. Dan kalau kamu tau, mungkin kamu akan membenciku bahkan kamu akan menyesal udah nolongin aku sampai detik ini," Rissa mencoba duduk tanpa menyandar pada Rion.
"Karena gue anak dari orang yang mencoba mencelakai ibumu 21 tahun yang lalu..." ucapan Rissa membuat Rion membelalakkan matanya.
"Maksudnya?"
"Mungkin saat ini, saat yang tepat buat aku mengungkap semuanya. Siapa aku sebenarnya, dan apa yang membuatku menyamar sebagai Lorenza...." Rissa menghela nafasnya sejenak sebelum menuturkan kebenaran yang udah lama ia sembunyikan.
"Aku Karissa Arawinda Prayoga, papa ku Dera Prayoga. Orang yang menumbalkan kamu saat kamu masih berada dalam kandungan. Dia yang melakukan perjanjiann dengan iblis, tentu untuk sebuah kekayaan dan juga balas dendam. Karena dulu dia pernah bersinggungan dengan ibumu. Saat itu, walaupun dia gagal mengambil jiwamu dan mempersembahkannya pada iblis, dia masih diberi tenggang waktu hanya sampai umurmu menginjak 21 tahun. Dan sebagai gantinya, dia harus merasakan sakit berkepanjangan dan jauh dari kebahagiaan. Karena nyatanya mama ku meningalkannya saat perusahaan papa mengalami gocangan hebat, dan kami harus menjual beberapa aset berharga...." Rissa berusaha kuat untuk menceritakannya.
"Kamu tentu penasaran darimana aku mengetahui ini semua, ya kan?" Rissa mencoba menebak pikiran Rion.
Pemuda itu mengangguk, dia nggak bisa lepas dari wajah Rissa. Rasanya sulit dipercaya, orang yang dia lindungi selama ini merupakan anak dari orang yang berusaha mencelakainya.
"Aku nggak sengaja melihat sesosok iblis yang datang menagih janjinya pada papa ku, papaku ketakutan dia nggak ingin iblis itu merenggut jiwanya. Sejak saat itu aku menyuruh Minetta untuk mencari informasi tentang dirimu, dan aku menggunakan sihirku untuk menjadi Lorenza, adik sepupu Adam, aku berharap dengan begitu aku lebih mudah menjagamu," Rissa melihat ke arah lain sebelum matanya memandang kedua bola mata Rion kembali.
"Kamu ingat pernah jatuh dari poin panjat? yang membuatmu jatuh itu roh jahat suruhan papa ku, dan untungnya aku datang dan mencegah hal buruk yang mungkin terjadi padamu...." kata Rissa.
"Mungkin ini takdir, papaku memiliki anak yang memiliki jiwa murni dan kalau iblis itu nggak bisa mendapatkamu, maka papa ku harus merelakan anaknya sebagai penggantinya, dan tentu dia nggak akan melakukan itu..." lanjutnya.
Rion udah nggak bisa berkata apa-apa lagi, jadi dia ikutan lompat menolong Rissa malah membuatnya masuk dalam perangkap para iblis.
"Dan ... aku disini, untuk membayar semua hutang papa ku atas semua penderitaan yang pernah kamu lalui dan juga ibumu," Rissa mencoba berdiri, dan seketika Rion pun mengikutinya. Dia memandang gadis yang berdiri membelakanginya
__ADS_1
"Aku tau kamu pasti kecewa dengan semua yang aku katakan, tapi inilah kebenaran yang sesungguhnya...." ucap Rissa menoleh sekilas padanya, sebelum dia menatap ke depan dan mencoba memegang besi yang mengelilingi mereka.