Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
65. Keluar istana


__ADS_3

Nah loh! Rion cuma bisa melongo saat terpampang punggung putih si Markoneng. Sementara pintu udah tertutup, Rion jadi ngerasa tambah bingung, galau seketika dia.


Odellia yang apa-apa diladenin sama Anna nggak bisa nginget tali yang ada ddi bagian belakang. Ya dress panjang yang dilengkapi korset dibagian luarnya itu membuat Odellia kesulitan. Nggak mungkin juga dia pergi dengan punggung yang terbuka, jadi mau nggak mau dia minta tolong sama Arion, dia yakin kalau Arion orang yang baik dan nggak akan menyentuh tanpa seijinnya.


"Gue nggak bisa ngiket?!!" kata Rion.


"Tidak mungkin kan aku keluar dengan baju yang belum tertutup sempurna?" Odellia nengok ke belakang, dia berharap Rion mau menolongnya kali ini.


"Berbaliklah," kata Rion nyuruh perempuan yang ada di hadapannya ini balik badan.


"Ikat yang kencang jangan lupa," kata Odellia.


Tanpa sepatah kata pun Rion mencoba melakukan tugasnya sedikitpun tanpa menyentuh seinci pun kulit perempuan itu. Entahlah, dia hanya merasakan risih, tanpa mempunyai perasaan yang lain.


"Aaakk," Odellia memekik saat dia merasakan ikatan Rion terlalu kencang.


"Kenapa? kekencengan? kan gue udah bilang kalau gue nggak bisa ngiket baju kayak ginian, " kata Rion yang ngelonggarin lagi ikatannya.


"Hanya sedikit terlalu kencang, tapi sekarang sudah tidak lagi," kata Odellia yang masih belum mengatakan identitasnya yang sebenarnya.


"Udah selesai?!! sekarang kita pergi dari sini, kita harus mencari jalan keluar," kata Rion yang mundur beberapa langkah, menjarak tubuhnya dengan Odellia.


'Kau sungguh berbeda, Arion...' batin perempuan yang sedang bersama Arion.


Setelah matahari udah nampakkin diri dan langit juga udah terang, Rion membayar sejumlah uang untuk penginapan, lalu dia lanjut mengajak Rissa KW keluar untuk mencari sarapan, mungkin di luar sana ada yang jualan bubur ayam atau gemblong ketan ya, Yon?


Diwaktu yang bersamaan namun tempat yang berbeda. Ada Rissa yang lagi jalan menuju ruang makan yang jauhnya udah bikin kaki gempor, saking jauhnya.


Sementara baju yang dipakai Rissa bikin dia ribet banget buat jalan, sungguh dia rindu pakai jeans sama kaos.

__ADS_1


Dan ketika Rissa yang sedang memerankan puteri yang ditukar tambah panci pun tercengang saat pangeran Clift udah nyampe dan duduk di meja makan bareng raja Abraham.


"Odellia, kemarilah putriku..." raja Abraham berdiri, diikuti dengan pangeran Clift yang menyungggingkan senyuman manisnya.


"Selamat pagi, Ayah..." kata Rissa mencoba untuk nggak kaku kayak kanebo.


"Disini ada pangeran Clift, kau juga harus menyapanya...." kata raja Abraham.


Rissa sedukit menekuk kaki nya sebentar memberi hormat, "Selamat pagi pangeran..." Rissa memberikan senyuman sekilas


Pangeran Clift pun, membalasnya dengan memegang dadanya dan menunduk sejenak, "Selamat pagi puteri Odellia..." ketika dia mengangkat wajahnya, dia melihat puteri Odellia dengan tatapan lembutnya, berbeda dengan sebelumnya yang terlihat lebih berani dan tegas.


Rissa yang ditatap begitu pun mencoba untuk memutus pandangan dengan mendekat ke arah raja Abraham, "Aku tidak menyangka pangeran Clift bisa datang sepagi ini..." ucap Rissa.


"Dia ingin mengajakmu menaiki kuda, tapi menurut ayah kau bisa melakukannya di lingkungan kerajaan, banyak tanah lapang yang bisa kalian gunakan untuk berkuda...." kata raja Abraham yang udah jelas menolak.


"Ayo duduk..." kata raja Abraham yanng menyuruh Rissa yang menyamar menjadi Odellia dan juga pangeran Clift untuk duduk dan menikmati sarapan.


Rissa sesekali melirik raja, sendok mana atau garpu mana yang dia pakai. Dan itu nggak luput dari perhatian pangeran Clift, 'Kenapa kau seperti orang asing di kerajaanmu sendiri, puteri?' batinnya,


Rissa tau kalau pangeran Clift sedang memperhatikannya, tapi dia pura-pura nggak tau. Rissa mencoba makan senormal mungkin.


Setelah sarapan yang begitu hening kayak hati para jomblo di malam minggu, raja Abraham membawa Rissa yang disangka puterinya dan juga pangeran Clift ke ruang khusus menjamu tamu penting.


Jendela besar terbuka lebar, meemberi kesempatan buat angin-angin sepoy untuk masuk ke dalam kastil.


"Bagaimana keadaan raja George? apa sudah membaik, aku dengar keadaannya sempat menurun?" tanya raja Abraham.


Pangeran Clift tersenyum, "Maka dari itu beliau menginginkan aku supaya mempercepat pernikahanku dengan puteri Odellia, selain ingin mempersatukan dua kerajaan. Beliau juga ingin melihat aku mendapatkan istri yang cantik dan sebaik puteri anda, puteri Odellia..."

__ADS_1


"Dan sebenarnya kami sedang melakukan pendekatan, agar terjalin sebuah chemistry diantara kami berdua. Untuk itu aku ingin mengenal puteri Odellia beserta rakyat yang mencintainya, bagaimanapun aku akan menjadi bagian dari kerajaan inin setelah kami menikah, jadi berikan kami nkesempatan untuk menyapa rakyat di luar sana..." pangeran Clift berbicara dengan hati-hati, macam sales gas nawarin selang regulator door to door.


"Tapi..." sang raja sedikit berpikir.


"Aku akan menjaganya dengan segenap jiwa ragaku, yang mulia tentu sudah mendengar sepak terjangku dalam hal memenangkan peperangan, dan kini saatnya aku akan mmenangkan hati puteri anda, yang mulia...." mulut pangeran Clift lemes banget, pokoknya dia keukeuh ngajak Rissa keluar.


"Aku akan menjaganya, yang mulia..." pangeran Clift masih aja usaha.


"Baiklah, tapi hanya sebentar dan kalian harus cepat kembali ke kerajaaan,


Pangeran Clift yang udah mengantongi ijin pun hanya bisa membuat Rissa melongo, dia meminta Rissa yang menyamar sebagai puteri Odellia untuk berganti pakaian yang lebih simple,


Rissa nggak banyak protes, dia mengikuti apa yang diminta sosok pria yang akan membuatnya keluar dari istana ini.


"Disini tidak ada celana jeans atau sejenisnya, Maria?" tanya Rissa.


"Tidak ada, Rissa. Perempuan dilarang untuk menggunakan celana panjang. Itu sangat tidak sopan," kata Maria, yowes sakaarepmu ae lah Maria.


Dan setelah bebrapa saat akhirnya riossa pun keluar, masihn denganm dress panjang namun kali ini bukan gaun puteri yang menggelembung di bagian bawahnya.


"Kenapa?kenapa kau melihatku sepeperti itu pangeran Clift?" tanya Rissa yang memiliki warna rambut lebih gelap daripada Odellia.


"Tidak ada, aku hanya sedang mengagumi pahatan Tuhan yang sangat sempurna," kata pangeran Clift menggombal.


"Sampai kapan kita disini?" tanya Rissa mencoba untuk lebih berani pada pangeran yang akan emmebawanya berkeliling.


"Tentu sekarang juga, sesuai keinginanmu puteri..." pangeran Clift menjawab dengan suara yang sangat macho.


Rissa yang sudah ganti baju dan menemui kembali pangeran Clift di ruang khusus menerima tamu pun akhirnya mengikuti calon suaminya itu keluar menuju sebuah tanah lapang dimana kuda-kuda mereka sedang istirahat.

__ADS_1


__ADS_2