Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
116. Jangan Lu Pendem Sendiri


__ADS_3

Rissa ngangguk, "Ya udah, kalau gitu Rissa bawa uangnya. Rissa akan simpan uang ini di bank, supaya lebih aman..."


"Boleh..." ucap papa nya yang menurut Rissa 180 derajat beda banget dari papa nya yang sebelumya.


Om Dera menggenggam tangan anaknya, matanya berkaca-kaca, "Maafkan papa, papa bukan papa yang baik buat kamu. Jangan korbankan dirimu lagi untuk menebus dosa pap, Nak..."


"Sudah, Pah ... Kita nggak usah bahas itu lagi," ucap Rissa. Dia nggak mau papanya terbebani lagi.


"Papa nggak tau kalau kamu sudah tau tentang itu dan mencari tau keberadaan Arion untuk menukar posisi kalian. Papa nggak terpikirkan kamu akan melakukan itu untuk menggantikan penderitaan yang akan papa terima,"


Rissa mengusap punggung tangan papanya, "Semuanya sudah berlalu, Pah. Sekarang yang kita lakukan hanya menjalani hari demi hari dengan baik,"


"Tapi entah kenapa, papa merasa kalau semua ini belum berakhir, Rissa. Papa bahkan selalu mimpi buruk, papa takut akan kematian..."


"Pah, Pah, tenang ... papa yang tenang. Ada Rissa disini, ada Rissa di dekat papa," Rissa mencoba menenangkan papanya.


Dia mulai mencoba mengalihka pikiran papanya dengan pembicaraan yang lain, "Apa rumah yang kita tempati dekat dengan kampusku, Pah?"


Om Dera mengangguk dengan wajah piasnya, "Ya..."


"Syukurlah kalau gitu, jadi Rissa bisa bolak balik ngecek keadaan papa di rumah," kata Rissa.


Gadis itu terus mengajak papinya ngobrol sampai papanya bahkan tertidur.


Rissa menaikkan selimut papanya, dan pergi dengan berjalan mengendap-endap membawa uang yang sudah diserahkan padanya dan juga peralatan bekas makan papanya tadi.


Rissa duduk di meja makan seorang diri. Dia memegang uang yang ada di tangannya, "Apa yang harus aku lakukan dengan uang ini? kondisi papa semakin buruk,"


Ada ketakutan tersendiri di hati Rissa, terlepas sakit yang diderita papa nya ini konsekuensi akibat melakukan hal yang nggak bener, atau emang udah takdir papa nya memiliki penyakit jantung yang bisa mengancam jiwa kapan aja.


Ketika perasaannya lagi kalut, tanpa Rissa sadari munculah bayang wajah Rion di pikirannya, "Bagaimana keadaannya sekarang? apa dia sudah bisa menjalani hari-harinya seperti sedia kala?"


Sebenarnya ada rasa kecewa, karena Rion sama sekali nggak nyariin dia. Padahal mereka udah sama-sama menginjakkan kaki di bumi. Padahal sewaktu mereka di alam lain, Rion bela-belain ngelindungi dia dan mencari Rissa sewaktu mereka terpisah. Tapi kali ini nggak.


Nggak ada tanda-tanda kalau Rion mencari dirinya.


"Sepertinya aku harus menyicil berkemas," Rissa membuang pikirannya tentang Arion. Lagi pula, mereka memang nggak terikat hubungan apa-apa. Dan itu membuat Rissa nggak berhak buat ngerasa dilupakan oleh seorang Arion Putra Menawan.


Waktu bergerak semakin cepat.

__ADS_1


Teman-teman Arion bukannya pada ngandang, malah pada gloairan di atas karpet dengan bantal-bantal yang memanjakan kepala mereka, karena saking empuknya.


"Mereka lebih mirip orang yang nggak punya tempat tinggal!" Rion geleng-geleng kepala, saat ngeliat ketiga temennya tidur ninggalin tivi yang masih nyala.


Ngooooookkk!


Suara dengkuran Slamet mulai bikin kuping nggak nyaman.


"Maling! iya, itu malingnya! tangkap, Pak RT! jangan kasih lepas...! dia ngambil sendal saya," Eza ngelindur.


Bughhh!


Kaki Eza nggak sengaja nendang kaki Slamet yang bikin dengkurannya makin nggak berwibawa.


Ngok, ngooook ngooookkk!


Dengkuran keras dan lebih cepat.


Rion buka balkon, berharap ada angin malam yang bisa menyegarkan otaknya yang lagi ruwet.


Dia ngambil sebuah kotak di dalam saku dan ngeluarin sebuah batang silinder yang bisa dibakar, "Hhhmmm, fiuuhhhhh!" Rion menyedotnya sampai terlihat warna merah terbakar di rokok yang dihisapnya.


Dia menjatuhkan benda yang diapit diantara jari tengah dan telunjuknya. Lalu mematikan benda yang sekarang bikin dia terbatuk-batuk, "Sial...!" Rion mengumpat kebodohannya dalam mengeluarkan asap.


"Uhukkk!" Rion memegangi dadanya, rasanya ada sesak yang lain yang menghimpit perasaannya.


Bukan karena sep yang nggak sengaja ketelen, tapi ada hal lain yang seperti menghujam dadanya saat ini.


Tetesan air merembes dari kedua mata yang selalu menatap tajam lawan bicaranya, dia menyeka rembesan itu sebelum menyusul air mata yang lain yang siap terjun bersama-sama.


Tangannya yang kekar memegang tralis balkon setinggi dada, dia mendongak ke atas, "Bahkan dunia nyata lebih menakutkan daripada dunia antah berantah yang pernah kita jelajahi, Rissa..."


"Meskipun kita sempat terpisah, tapi ada aja jalan yang membuat kita bisa ketemu lagi. Gue kira dengan balik ke dunia nyata, bikin semuanya lebih baik. Ternyata nggak juga..." Rion ngomong sendiri.


Greeeeekkkk!


Ada yang menggeser pintu balkon. Rion menoleh, disana ada Adam.


"Gue kira siapa, ternyata elu yang disini. Hampir aja gue sangka setan, Rion..." ucap Adam yang keluar dengan muka bantalnya.

__ADS_1


"Kok lu keluar, kenapa?" tanya Adam.


Rion cuma geleng kepala.


"Lu pasti keganggu ya? yang satu ngorok yang satunya lagi nglindur?"


"Mereka bikin gue stres!" sebuah kalimat meluncur juga dari mulut Rion.


Adam ikut berdiri di samping Rion dan ngeliat sebuah puntung rokok.


"Sejak kapan lu--"


"Nggak apa-apa," serobot Rion.


"Biasanya kan lu nggak pernah,"


Tapi Rion diem lagi, dia nggak ada niat buat jelasin. Buatnya nggak ada yang perlu dianggap aneh juga, dia laki-laki dan udah dewasa.


"Lu kalau lagi ada masalah bisa cerita ke gue. Jangan lu pendem sendiri, terkadang dengan cerita bikin pikiran dan hati elu lega, Yon...!" ucap Adam.


"Banyak hal yang terjadi," ucap Rion datar.


"Kita sahabat elu, Yon! lu masih punya kita yang mau dengerin curhatan elu semalam suntuk,"


Rion menengok ke samping ngeliat Adam.


"Lu nggak percaya sama gue? dan sama yang lain? kalau kita bakal bantu elu?" tanya Adam lagi.


"Mungkin gue bakal cerita tapi nggak sekarang," kata Rion menolak secara halus.


Adam menepuk bahu temannya itu, "Gue masuk, ngantuk lagi gue...!"


Adam memberikan ruang lagi buat Rion, sebenernya Adam tau. Ada sesuatu yang mengganjal di hati temannya itu. Tapi itu ranah privacy Rion, dan dia sangat menghargai itu. Beda cerita kalau Eza atau Slamet yang mergokin Rion dalam keadaan kacau kayak gini, tuh dua orang pasti merepet dan mekso Rion buat cerita. Adam kan emang paling bener otaknya diantara mereka yang sukanya bikin emosi sekitarnya.


Lagian yang emang susah mau cerita juga, terlalu panjang dang keder darimana dulu dia harus cerita.


Biarlah semuanya disimpan dulu, sampai akhirnya dia siap buat berbagi cerita bersama sahabatnya.


"Kalau kita nggak bisa bersama, lebih baik kita nggak pernah ketemu..." ucap Rion. Dia terus memandang langit yang gelap dan membiarkan tubuh atletisnya diterpa angin malam.

__ADS_1


__ADS_2