Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
Bertemu papi


__ADS_3

Rion sekarang menyelimuti Rissa yang sekarang tertidur pulas saat matanya lelah mengeluarkan air mata. Rion perlahan mengelus kepala wanita itu sebelum beranjak dari tempat tidur. Sesungguhnya berdekatan dengan Rissa, membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak. Tapi dia menahan semua keinginan yang iya iya sebelum semuanya terselesaikan dengan baik.


Langit sudah gelap, dan Rion mengambil jaketnya. Kepalanya menoleh ke arah tas milik Rissa, dia mengambil kotak kecil dimana dia menyimpan liontin pedang cahaya biru.


"Semakin dingin..." gumamnya lirih. Rion mengambil dan memakainya lagi seperti biasa.


Ketika dia akan membuka pintu, Rion kaget saat melihat bik Minah yang membawa satu nampan berisi dua cangkir, "Maaf, Mas! ini ada air jahe anget buat mbak Rissa..."


Rion nengok ke belakang sekilas sebelum melihat lagi ke arah bik Minah, "Rissa sedang istirahat, Bik..."


"Oh ya sudah, saya bawa ke dapur lagi saja..."


"Tunggu!" cegah Rion.


"Kalau nanti Rissa bangun dan mencari saya, bilang saja saya pergi. Ada urusan yang harus saya selesaikan," kata Rion.


"baik, Mas..." kata bik Minah sopan.


Rion pun pergi, keluar dari rumah itu. dia sengaja pesen taksi online karena dia nggak bawa kendaraan. nafasnya memburu, jantungnya berdebar. dia mencoba menanngkan dirinya sendiri.


'Gue tau ini nggak akan mudah, tapi gue udah menginjakkan kaki disini, dan gue nggak mungkin bakal kucing-kucingan terus menerus...' ucap Rion dalam hatinya.


Setelah melaju beberapa puluh menit, bergabung dengan mobil lain yang membuat kota dipenuhi cahaya lampu mobil yang indah saat dilit dari ketinggian, tapi pusing bagi yang lagi mengejar waktu ini pun akhirnya melambat dan menuju sebuah gedung perkantoran dimana perusahaan ini sudah sah menjadi miliknya.


Rion turun dan berjalan dengan langkah gagah dengan tampilan gagah, tampan menawan di seantero jagat maya maupun jagat nyata ini pun segera naik ke lantai atas, dimana ruangan papinya berada.


'Papi nggak boleh denger berita ini dari orang lain!' gumam Rion dalam hatinya, dia takut mama mertuanya ngelabrak kedua orangtuanya yang nggak tau sama sekali.


Rion mengetuk pintu sekilas, dia sama sekali nggak minta ijin seperti biasanya.


Dia membuka pintu ruangan papi nya begitu saja.


Ceklek!

__ADS_1


"Rion?" papi Ridho menurunkan kacamatanya, dia sedikit menyipitkan matanya mencoba mencerna jika saat ini di asama sekali nggak lagi bermimpi.


"Maaf, Pih. Rion langsung nyelonong masuk..." kata Rion.


"Kamu pulang? kapan? kok papi nggak tau?" papi Ridho berdiri dan menghampiri lalu memeluk anaknya sebagai peluntur rasa rindu.


"Kenapa? apa ada masalah?" tanya papi setelah melepaskan pelukannya.


"Duduk," papi Ridho menyuruh anaknya buat duduk. Sebenernya Rion hanya insting saja menebak kalau papi nya masih di kantor, dia sama sekali nggak menghubungi siapapun, sengaja supaya kedatangannya kali ini senyap, bahkan papi nya sendiri nggak menyabgka anak semata wayangnya malam ini datang mengunjunginya.


"Ini papi beneran nggak lagi mimpi, kan?" papi menampar pipinya sendiri.


"Apa perlu bantuan, Pih?" Rion menawari papanya satu tangan tambahan buat menyadarkan kalau ini bukan ilusi.


"Nggak perlu?!!" papi Ridho menolak mentah-mentah.


Dia memperhatikan gerak-gerik Rion, 'Ada apa dengan anak ini? nggak mungkin dia pulang tanpa kabar, kalau nggak karena sesuatu yang penting,' batin papi Ridho.


"Mau minum apa?" tanya papi.


Rion mengambil dua buah minuman kaleng isotonik dari sana, dia memberikan satu buat papi nya.


Mereka berdua minum dengan gaya masing-masing yang bikin para wanita menjerit histeris, saking cool dan gantengnya.


Rion diam sejenak sebelum mengatakan sesuatu yang penting, "Pih, sebenernya aku pulang karena aku mau ngasih tau kalau..."


Papi Ridho menatap anaknya dengan serius, dia menunggu Rion menyelesaikan ucapannya.


Rion membalas tatapan papi Ridho, "Kalau aku udah menikah sebulan yang lalu,"


Papi Ridho menatap Rion tanpa berkedip, dia mencoba mencerna apa yang barusan Rion sampaikan, "Menikah? sebulan yang lalu? hahajaj, Rion, Rion. Kamu lagi bikin acara prank? kameranya mana? hem? di saku jaket kamu? papi nggak bisa kamu bohongi, nggak bisa kena prank kayak begitu," papi Ridho meneguk minumannya.


"Rion serius! dan ini buktinya," Rion mengeluarkan sebuah buku nikah berwarna merah.

__ADS_1


"Rion, Rion nggak baik becandain orangtua. Kalau papi punya sakit jantung gimana? bisa fatal nantinya!" papi Ridho mengambil buku nikah dan meletakkan minumannya.


Matanya terpaku pada namadan foto seoeang wanita yang dia kenal, terlebih membaca nama ayah sang wanita itu, "Karissa? anaknya Karla dan Dera?"


"Maksudnya apa ini, Rion?" papi Ridho menaruh buku kecil itu diatas meja.


"Seperti yang papi lihat, itu bukti bahwa aku sudah menikah dengan Rissa,"


"Tapi bagaimana bisa? astagaaa...." papi Ridho mendadak kepalanya berdenyut.


"Apa yang kamu lakukan, Rion? bagaimana bisa kalian bertemu? sejak kapan? kenapa kamu menikah secara diam-diam? apa kamu telah melakukan hal yang dilarang agama? apa yang sudah kamu lakukan pada gadis itu?" papi Ridho mencecar Rion dengan berbagai pertanyaan.


"Ya ampun, papi! aku nggak melakukan apa-apa pada Rissa, bahkan setelah kami menikah pun dia masih utuh?!"


"Maksudnya masih utuh?"


"Kami nggak pernah melakukan apa yang papi tuduhkan!" kata Rion meledak.


"Maksudnya? kamu? kamu belum pernah buka paket?" papi Ridho menunjuk anaknya dengan dagunya.


"Pakeet?" Rion menatap papinya heran.


"Paketan, Rion?!"


"Paketan?" Rion makin bingung.


"Sudahlah?! lupakan soal buka paket!" papi Ridho memijat keningnya.


"Jelaskan! bagaimana ini bisa terjadi, jangan ada yang ditutupi lagi," papi menatap Rion. Rion anaknya yang sangat menawan itu, akhirnya menceritakan apa yang dialaminya sejak pertemuannya dengan Rissa. Termasuk alasan yang menjadi dasar dia jadi model madul dadakan. Semua Rion ceritakan, nggak ada yang terlewat.


"Bagaimana kalau mami mu mengetahui ini?" ucap papi Ridho.


"Memangnya kenapa kalau Reva tau?!" suara Om Karan yang kemudian muncul dari balik pintu.

__ADS_1


'Yassaalaaaaam...?!' batin papi Ridho.


__ADS_2