
Brruuuukkkk!!!!
Dengan segala kekuatannya, mami Reva menarik anaknya keluar dari pusaran.
"TIDAAAAAAAAAAKKKKKKK!!!" suara lengkingan yang kemudian berubah menjadi jeritan.
"Rrrrrghhhhhh..." teriak mami Reva saat berhasil keluar, dia tersedot ke tubuhnya sendiri.
Wiuujuuzzzhhhh!
Serangan angin hebat membuat papi Ridho dan yang lainnya melindungi mata mereka, "Aaarghhhhhh!!" teriak mereka kompak.
Pusaran angin yang yang tadinya berwarna hitam kini berubah menjadi biru terang yang menyapu apa saja yang ada di hadapannya. Dia semakin ke atas mengirim Dorothy ke negeri asalnya.
Sedangkan tubuh mami Reva yang tadinya berpegangan dengan mama Karla pun ambruk seketika, "Revaaaa?!!!" teriak mami Karla yang bersamaan dengan berhentinya sapuan pusaran angin yang membuat mereka hampir saja terbawa.
Sedangkan papi Ridho yang mendengar nama istrinya diteriakan pun segera membuka mata, dia melihat mami Reva yang tergeletak. namun matanya beralih pada dua sepasang manusia yang juga terkapar nggak berdaya.
"Rion, Rissaaaa?!!!" mendengar teriakan papi Ridho papa Dera dan juga Om Karan matanya membulat karena kondisi mereka yang sangat mengkhawatirkan.
"Reva lebih membutuhkan kamu! Rion biar saya yang urus!" kata Om Karan.
Papa Dera yang menyadari anaknya bersimbah darah pun segera berlari, begitu juga dengan papi Ridho. Dia meraih kepala istrinya sedangkan mama Karla menangis tanpa henti, dia hanya bilang, "Ini bukan salahku. Dia tiba-tiba sajaa hiksss..." mama Karla melihat kedua tangannya yang berwarna merah saat mencoba menolong mantan temannya itu.
"Aku percaya, tenanglah!" kata papi Ridho, padahal dalam hati dia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya. Karena beberapa saat yang lalu saja, mami Reva jatuh dari tangga dan sekarang keadaannya lebih mencemaskan. Dia tidak sadarkan diri.
Kejadian kedebag-kedebug malam itu akhirnya berakhir, dan nggak ada satu pun tetangga yang merasakannya. Bahkan semua orang berasa ditidurkan dan juga nggak ada satu orang pun yang lewat di depan rumah keluarga Ridho Menawan.
Jadilah ketiga korban pusaran angin itu dimasukkan ke dalam mobil. Karena nggak mungkin diangkut dalam satu kendaraan, Om Karan mengatur posisi mereka masing-masing.
Papi Ridho segera masuk ke dalam garasi rumahnya dan ngeluarin satu mobilnya. Om Karan segera memasukkan keponakannya ke dalam mobil bagian tengah.
Kebetulan papa Dera habis operasi, dia nggak mungkin menggotong Rissa sedangkan mama Karla juga nggak mungkin, tenaganya nggak mampu buat membawa Rissa. Beruntung ada papi Ridho, setelah mengangkat dan meletakkan istrinya ke dalam mobil bagian depan, papi Ridho menghampiri kedua pasang besannya, "Biar aku saja! kalian ikutilah mobil kami, kita akan membawa mereka ke rumah sakit. Rissa biar dia satu mobil denganku dan juga Reva!"
"Hiikksss," mama Karla hanya bisa menangis, dia melihat anaknya digendong orang yang dulu bahkan mungkin sampai sekarang menjadi penghuni rahasia di hatinya.
'Sudah kuduga, kau masih mencintai dia, Karla!' batin papa Dera, yang melihat bagaimana mama Karla memandang papi Ridho yang kian menjauh.
Singkat cerita, mobil Om Karan paling depan yang diikuti mobil papi Ridho dan terakhir mobil milik papap Dera. Sesampainya di rumah sakit ketiga orang yang terluka itu segera ditangani, ini rumah sakit yang sangat mengutamakan kenyamanan pasiennya. Rion, Rissa dan juga mami Reva masuk ke dalam IGD untuk diperiksa keadaan dan dibersihkan lukanya. Apalagi mami Reva, dia mendapatkan beberapa jahitan di kepalanya akibat jatuh dari tangga. Mungkin karena rasa khawatirnya terhadap Rion lebih besar, dia sampai nggak ngerasain darah terus keluar dari luka yang ada di kepalanya, yang membuatnya kini kehilangan banyak darah.
Setelah mendapatkan penanganan, mereka bertiga dimasukkan ke dalam sebuah ruangan. Untuk memudahkan, Rion ditempatkan sekamar dengan Rissa dan mami Reva dirawat bersebelahan dengan kamar anak dan menantunya.
"Riooonnn, jangan tinggalin mami Riooooonnn!!" lirih mami Reva.
"RIOOOOONNN?!!" teriak mami Reva.
"Sayang?!!!! Revaaa, kamu sudah siuman??" papi Ridho yang duduk di sofa mendadak lari begitu melihat istrinya terbangun dengan nafas yang terengah-engah.
"Dimanaa? dimana Rion? hah?" mami Reva dengan wajah khawatirnya
Om Karan yang baru aja masuk juga nggak kalah kaget saat melihat sepupunya sudah sadar, "Revaaa? kamu sudah sadar..." ucapan yang sama meluncur dari Om Karan.
"Dimana anakku? aku mau ketemu sama Rion??!!" mami Reva memegang kepalanya saat mencoba menyibak selimut, "Arrrghhh..."
__ADS_1
"Kamu yang tenang, Sayang. Rion ada, dia selamat. Kamu nggak perlu khawatir..." kata papi Ridho.
Dan sekarang kedua pria dewasa itu mengantar seorang wanita yang menggunakan kursi roda menuju sebuah kamar yang ada disamping kamarnya.
Ceklek!
Disana ada mama Karla dan juga papi Dera.
"Revaaa...." lirih mami Karla. Mereka berdua bertatapan.
Papi Ridho mendorong kursi roda istrinya mendekat, pada kedua ranjang yang berjejer.
Satu tetes dua tetes air mata mengalir di kedua sudut mata mami Reva.
"Apa kamu mau kita pergi dari sini?" tanya Om karan yang tau situasi ini nggak baik buat kesehatan sepupunya.
Mami Reva menggeleng, "Aku ingin melihat Rion, aku ingin bersamanya..."
Mami Karla yang semula duduk, kemudian berdiri. Dia melihat ke arah mantan suaminya, dan papa Dera pun mengangguk,. Namun pada saat kaki itu ingin melangkah, tiba-tiba terdengar suara rintihan dari mulut Rion.
"Arrrghhhh, Rissaaa. Rissaaa..." Rion membuka matanya, dia berusaha untuk bangun.
"Rionn!" Om Karan mendekat, dia mencoba membantu keponakannya.
"Rion, berbaringlah! jangan bangun dulu,"
"Rissa, Om! dimana Rissaaa?" Rion belum menyadari kalau Rissa ada di ruangan itu juga.
Rion menoleh, tangannya lalu menjulur mencoba meraih tangan istrinya, "Rissaa..." lirihnya.
Semua orang yang berada di ruangan itu bisa melihat jelas besar cinta Rion untuk Rissa.
"Arrghh..." perlahan mata Rissa terbuka. mama Karla yang tadinya mau nyamperin mami Reva, sekarang berpindah ke sisi Rissa.
"Sayang, kamu sudah sadar..."
Matanya seketika membulat dengan tiba-tiba, "Dimana? suamiku? dimana Rion?"
"Rissaaa..." panggil Rion.
Rissa yang dipanggil pun segera menoleh, dia melihat ada Rion disamping ranjangnya, "Rion..." air matanya mengalir deras saat melihat orang yang mengisi seluruh ruang di hatinya.
"Sepertinya kamu sangat mencintai dia, Rion..." ucap mami Reva.
Papi Ridho mendorong kursi roda itu lagi, mendekat. Lebih tepatnya berada diantara ranjang Rion dan Rissa.
"Mami..." mata Rion berkaca-kaca.
"Jadi yang aku lihat, yang menolongku itu---" Rion nggak mampu melanjutkan kalimatnya.
Mami Reva mengalirkan buliran bening dari kedua matanya, dia mengangguk, "Apapun akan mami lakukan demi bisa menyelamatkanmu! bahkan jika harus menukarnya dengan nyawa mami sendiri,"
"Tapi ... bukannya Rion udah ngecewain mami?"
__ADS_1
Mami Reva menggeleng, "Nyatanya rasa cinta mami lebih besar dari rasa kecewa yang kamu berikan pada mami,"
Sedangkan papi Ridho memberikan usapan dipunggung istrinya. Semua orang terdiam, memberi kesempatan mami Reva untuk bicara dengan anak semata wayangnya itu.
"Maafkan Rion, Mam..." Rion berusaha menggapai tangan mami nya.
Tanpa Rion sangka, mami Reva menyambut tangannya, "Mami akan maafkan kamu, bocah kamfret! asalkan kamu berjanji buat menjaga istrimu dan juga mencintai dengan seluruh jiwa mu,"
"Maksud mami?" Rion meligat mami Reva lalu mengalihkan pandangannya sekilas pada Rissa.
Mami Reva mengambil satu tangan Rissa, "Mami putuskan buat merestui kalian. Mami bisa melihat bagaimana Rissa berlari untuk menolongmu. Tanpa keberanian dan cinta yang besar, dia nggak akan mungkin menembus pusaran itu. Mami merestui kalian,"
Sekarang mami Reva menyatukan tangan Rion dan Rissa, "Tenang aja, wanita itu biar menjadi urusan mami. Kalau dia berani nggak kasih restu buat kalian!" mami Reva melayangkan pandangan pada mama Karla.
"Kamu jangan membuat kompor diantara anak -anak ya, Reva?! karena aku .. aku juga merestui mereka!" mama Karla mendekat.
Dia menekuk kakinya supaya sejajar dengan Reva, "Mama juga merestui kalian, maafkan mama Rissaaa..." ucapan mama Karla membuat Rissa menangis saat tangan mama Karla juga ikut bergabung dengan tangannya dan juga tangan Rion yang berada diatas telapak tangan mami Reva.
"Maafkan aku, Reva. Maafkan segala rasa benciku dan kejahatan yang sudah dilakukan mantan suamiku...." mama Karla tulus.
Satu tangan Reva pun mengusap punggung tangan mama Karla, "Maafkan aku juga,"
Dan kedua wanita yang telah berselisih sekian puluh tahun, akhirnya mampu mengalahkan rasa ego mereka dan memilih untuk berdamai demi kedua anaknya yang ternyata saling mencintai satu sama lain.
"Apa kalian nggak butuh restu dari ketiga pria ini?" ucap papi Ridho menunjuk dirinya, Om Karan dan juga papa Dera.
"Sepertinya mereka sudah melupakan kita," lanjutnya pada kedua pria yang menanggapinya dengan senyuman.
"Papi kamu kumat, Rion?!" celetuk Om Karan.
"Maafkan Om. Om sudah menentang kalian. Sekarang berbahagialah," lanjut Om Karan yang berdiri disamping Rion.
"Kalau papi nggak perlu mengatakan itu, karena papa yang meminta kalian menikah," suara papa Dera membuat semua orang melihat ke arahnya.
"Oohhh, jadi dia biangkeroknyaaaa?!!" tunjuk papi Ridho, dia beralih dari belakang kursi roda istrinya dan mendekat ke arah papa Dera.
"Pihhh, jangan Pihhh! papa Dera habis operasiii!" Rion khawatir, karena muka papinya berubah menjadi sangat serius.
Namun...
Tanpa disangka, papi Ridho memeluk dan menepuk pundak papa Dera, "Terima kasih sudah memberikan menantu yang baik buatku dan Reva! aku sudah khawatir dengan anakku yang nggak pernah pacaran itu! hah, akhirnya aku lega. Terima kasih!"
Dan semua orang tertawa melihat wajah panik papa Dera yang mengira akan dilabrak karena dia yang memaksa kedua anak itu untuk menikah.
"Jadi, bagaimanaaa? kapan kita akan mempunyai cucu?" tanya mama Karla, yang menambah kebahagiaan diantara mereka.
Sementara Rion memandang istrinya, dengan perasaan bahagia karena perjuangan mendapatkan restunya berakhir juga.
'Gue Arion! gue akan mencintai dia, dengan segenap jiwa dan raga gue!' batin Rion menatap istrinya.
'Aku akan berada disampingmu, berada dekat denganmu, selamanya...' Rissa dalam hatinya juga.
------------TAMAT-------------
__ADS_1