Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
97. Kobaran Api


__ADS_3

Papi Rion sengaja menutup mata nenek sihir walaupun sebenernya dia ogah banget, tapi demi bisa balik lagi ke dunia nyata membawa anak dan calon mantu pun, apa boleh buat. Ya elaaah mantuu! cmimiw


Tapi nih nenek sihir mencoba buat nglepasin tangan papi Ridho, sampe tau-tau kaki papi Ridho melayang dan muter kayak kipas angin saking kencengnya mereka hampir sampe ke bulan. Canda bulan!


Nenek sihir itu memegang tangan papi Ridho dan menyalurkan sensasi panas terbakar, "Akkkkhhhh!"


Papi Ridho melepaskan tangannya.


"Aaakhhhh!" dia mengaduh.


"Aku tidak suka kesenanganku kau ganggu! semua gadis ini milikku! mereka akan membuatku selalu cantik dan awet muda," Dorothy dengan tatapan nyalang.


"Sakit nih orang," gumam papi, dia ngerasain tangannya seperti melepuh.


"Papi nggak apa-apa, Pih?" Rion khawatir.


Papi Ridho menggeleng, dia fokus pada Dorothy yang bergerak dengan cepat.


Saat dia akan mengangkat tangannya lagi, papi Ridho menangkap tangan itu. dan lagi-lagi dia merasakan panas yang membuatnya meringis kesakitan, "AArrrrghh!" Rion bawa mereka pergi!" ucap papi Ridho.


"Nggak, Pih .. kita dateng sama-sama dan keluar juga sama-sama!"


"Fiammata!"  Dorothy mengucapkan mantranya


Dan seketika api mengelilingi mereka semua. Dorothy melepasjan tangan papi Ridho dia mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Akkkh!" Defne memekik saat rok bagian bawahnya hampir tersambar api saat dia mencoba untuk menolong Alfrida yang jatuh pingsan.


Puteri Odellia mendekat pada Dorothy, "Puteri Odellia!" teriak Rissa.


"Kau menginginkanku bukan? lepaskan mereka semua!" kata sang puteri.


"Ya itu dulu! tapi sekarang aku menginginkan kalian semua," ucap Dorothy yang membuat api semakin ganas dengan mengibaskan tangan kanannya.


Rissa yang mencoba manarik puteri Odellia dicegah oleh Rion, "Jangan, biar gue aja!"


"Wahai raja dari segala raja api, para gadis datang untuk menyerahkan kecantikan dan jiwa muda mereka untukku---"


Belum selesai Dorothy mengucapkan mantra persembahannya, puteri Odellia berlari ke arah wanita tua itu.


Braaaaakkk.


Odellia di tahan oleh energi lain, dia terpental.


"Isabel?!!" gumam Dorothy, dia geram dengan apa yang dilakukan ibu dan anak itu.


"Aku tidak akan membiarkan kau menyakiti puteriku!" ucap sang ratu.


Sedangkan di dunia nyata.


Mami Reva jadi panik saat melihat satu bagian pergelangan tangan papi Ridho berubah menghitam.


"Pak Sarmin? mas Ridho kenapa, Pak? kenapa dengan tangannya? kenapa dia bisa jadi seperti ini?" mami Reva menatap pak Sarmin yang kini bersamanya di ruang kerja papi Ridho.


Pak Sarmin memejamkan matanya dia berusaha mencari tau apa yang sekarang sedang terjadi, lalu sesaat kemudian dia membuka matanya lagi.


"Ridho dan Rion sedang menghadapi situasi sulit. Mereka berhadapan dengan seorang penyihir!" jelas pak Sarmin.


"Apa? penyihir? lalu bagaimana dengan anak dan suamiku, Pak?"


"Aku, kirim aku kesana, Pak! aku---" mami Reva udah hilang akal.


"Jangan, Nak! yakinlah, jika Rion dan Ridho akan selalu dalam lindungan-Nya..." Pak Sarmin menggeleng, dia memperhatikan telapak tangan Ridho yang memerah.


Om Karan yang baru masuk dengan segelas air di tangannya pun bingung, "Ada apa ini?


Mami Reva cuma bisa nangis dan do nothing, ngeliatin wajah suaminy yang pucet, ditambah beberapa tanda di tangannya. Dia bahkann nggak berani menyentuh takut papi Risho ngerasa kesakitan.

__ADS_1


"Ada apa ini, Pak? ada apa dengan Ridho?" Om Karan naruh gelas di meja, lanjut ngeliat keadaan papi Ridho.


"Ridho sedang berhadapan dengan seorang penyihir yang menyukainya dan juga Rion,"


"Apaaaaa?? suka sama mas Ridho dan Rion?" mata mami Reva langsung membulat. Tambah nggak tenang hati mami Reva denger ucapan pak Sarmin.


"A-apa penyihir itu muda dan cantik, Pak?" lanjutnya nanya.


"Buat apa kamu bertanya seperti itu, Reva?" Om Karan ikut nimbrung.


"Ya aku cuma takut, kalau mas Ridho suka sama tuh penyihir. Atau dia sengaja dibikin suka dan lupa buat pulang lagi," mata mami Reva berkaca-kaca.


"Aku nggak mau jadi jandaaaa!" mami Reva nangis. Om Karan mengusap punggung sepupunya.


"Penyihir itu sudah tua Reva. Bahkan umurnya lebih dari satu abad. Hanya tampilan luarnya saja yang menyerupai seorang gadis, tapi sebenarnya dia bahkan jauh lebih tua dariku!" jelas pak Sarmin.


"Alhamdulillah kalau udah tua," seketika mami Reva merasa lega.


"Tapi kan bisa aja kalau mas Ridho diperdaya," lanjut mami Reva overthingking lagi.


Mami Reva geleng-geleng, "Pokoknya saya mau nyusulin mas Ridho, Paakkk..."


"Berbahaya, Nak! kamu percaya saja kalau Ridho dan Rion pasti akan kembali dengan selamat," kata pak Sarmin.


Tante Ravel yang ngeliat kakaknya lagi down, nggak berani ngeganggu. Dia cuma kadang buka pintu dan ngintip dikit apa yang terjadi di dalam ruangan itu.


Nenek Ivanna cuma pesen sama anaknya, Ravel supaya jangan ngomong yang nanti bikin Reva tambah pikirannya kemana-mana. Secara diabtau kalau kedua anaknya itu kalau ngomong remnya blong.


Tante Ravel nutup pintu pelan, dia balik ke kamar ibunya buat laporan.


"Gimana?" tanya nenek Ivanna saat tante Ravel masuk ke dalam kamarnya.


"Kasian mbak Reva..." tante Ravel lalu menceritakan hasil menguping siang ini.


"Reva nggak boleh menyusul Ridho!" nenek Ivanna bergegas keluar dari kamarnya, setelah mendengar apa yang diceritakan oleh anak bungsunya.


"Maaaaah..." teriak tante Ravel, dia segera mengikuti kemana nenek Ivanna pergi.


"Tante?" ucap Om Karan saat melihat nenek Ivanna.


"Mamah?" mami Reva mengusap pipinya yang banjir air mata.


"Gimana keadaan Ridho?" tanya nenek.


Mami Reva menggeleng, "Masih menunggu,"


"Aku masih berharap dia bisa kembali," lanjutnya lagi, sambil ngeliat pergelangan tangan papi Ridho yang berubah warna.


Sementara di negeri Dongeng, semua mata memandang pada Dorothy. Nenek sihir yang lagi pengen jadi muda lagi.


"Mau mati dua kali rupanya!" gumam Dorothy.


Puteri Odellia yang secara gamblang melihat sosok ibunya pun menteteskan air matanya, "Ibu..." panggilnya.


"Tenanglah puteriku, aku tidak akan membiarkan wanita jahat ini menyakitimu!"


"Hah, bagaimana kau bisa menembus selimut sihirku?" Dorothy mendelik dengan bola mata yang hitam.


"Entahlah, mungkin saja kekuatanmu sudah berkurang saat ini. Lihatlah dirimu, Dorothy..." ratu Isabel menatap lawannya dengan tatapan mematikan.


Dorothy melihat tangannya, jarinya memendek dan kulitnya kini sudah semakin mengendur.


"Tidak, ini tidak boleh terjadi..." Dorothy menggeleng, napasnya memburu. Dia kesal karena semua rencananya hancur berantakan karena ulah Anna.


"Ini semua karena gadis bodoh itu!" gumamnya.


Sihir Dorothy perlahan memudar, karena dia telah mematikan sebagian jiwanya sendiri. Kobaran api semakin besar, hawa panas seakan menusuk kulit mereka yang masih kencang. Kecuali si Deodoran berarti, yak?

__ADS_1


Rion mengangkat pedangnya.


Tapi Dorothy segera menyadarinya, dia membuat pedang itu terlempar, "Kau pikir kau bisa menyerangku?"


"Seharusnya kau yang sadar, Dorothy. Mungkin hari ini merupakan hari terakhirmu di dunia..." sindir ratu Isabel.


"Lihatlah, kau disini sendirian ... kau, tak akan mampu melawan kami," lanjutnya.


Ratu Isabel melayang ke arah Dorothy yang makin kisut bin keriput, "Kali ini kau yang akan kalah..."


Dorothy merentangkan kedua tangannya, "Con tutte le anime che sono qui (Dengan seluruh jiwa yang ada disini)" dia mengucapkan kalimat yang membuat telinga manusia yang ada disana sangat kesakitan.


"Soprattutto le anime delle ragazze si fonderanno in un'unica anima con me (terutama jiwa para gadis akan merasuk menjadi satu jiwa bersamaku,)"


"Con Dorothy...!" teriak Dorothy.


"CON DOROTHYYYYYY...!!!"


Api menyala dengan ganas, menyambar mereka yang berdiri dalam lingkaran setan.


"Akkkkhhh!" semua orang memekik tak terkecuali Rissa. Rion melindungi gadisnya.


Sedangkan papi Ridho perlahan bergerak dengan menahan rasa sakit di tangannya. Dia berusaha mengambil pedang milik Rion.


"HAHAHAHHAHA----" Dorothy tertawa keras, sebelum akhirnya dia merasakan sesuatu yang lain. Setiap tubuh para gadis, menghasilkan sebuah uap yang mengarah pada Dorothy.


"AAAAkkhhhhh?!" Defne kini merasakan sakit di sekujur badannya, dia yang tadinya berada di dekat Alfrida yang pingsan, kini berdiri dan memegang kepalanya.


"DEFNEEE?!!" pekik Rion, dia mau lari ke arah gadis itu tapi sekarang semua memekik kesakitan kecuali sosok ratu Isabel.


sang ratu menghampiri puteri Odellia yang memegangi wajahnya, dia merasa sangat perih di seluruh bagian kulitnya.


"AAAAAAAAkkk!" Rissa memegang kepalanya, dia merasakan pusing. Pandangannya kabur saat melihat kobaran api kian mengganas.


"Rissa...?!! elu kenapa, Rissa?!!" Rion memegangi Rissa yang berdiri tanpa keseimbangan.


Sedangkan Dorothy tertawa puas, karena mangsanya datang sendiri tanpa perlu bersusah payah mencarinya.


"Kali ini aku akan kembali cantik dan awet muda...!" Dorothy menggerakkan jari-jarinya, Rion yang lagi nepokin pipi Rissa ditarik mundur secara paksa.


Greppp!!


Rion berada tepat di depan Dorothy. Bola mata yang hitam legam kini perlahan memudar. Berubah menjadi warna hijau kebiru-biruan.


Mata yang sangat indah jika pemiliknya nggak punya jiwa yng kotor seperti Dorothy.


'Astaga, dia menyerap energi para gadis...' batin Rion. Jaraknya kini sangatdekat dengan nenek sihir. Mata Rion berabrakan pandangan dengan papi Ridho yang kini memberikan sebuah kode, 'Lanjutkan, Nak! karena aku punya rencana!'


Ditengah teriakan para gadis, Rion mencoba mengalihkan perhatian Dorothy.


"M-matamu sangat in-dah," ucap Rion yang seketika pengen muntah mengucapkan kalimat itu.


"Ah, tentu! tentu bukan hanya mataku, tapi seluruh bagian dari Dorothy memang sangat indah...' Dorothy memandangi rion dengan tatapan penuh cinta, wlleeekkkk.


Rion melihat fokus pada wajah Dorothy, kerutan-kerutan wajah perlahan menghilang. Sementara teriakan gadis-gadis itu termasuk Anna begitu memekakkkan telinga.


"Hentikaaaan?!!" teriak ratu Isabel.


"Tolong hentikan, Dorothy...!!" ratu Isabel yang akan melangkah pun dihempas begitu saja dengan sekali kibasan tangan Dorothy.


"Dasar pengganggu?!!" lirih Dorothy.


"Biarkan pangeranku melihat bagaimana cara kerja sihir Dorothy! siapapun akan terpukau melihat diriku, benar kan pangeran?" Dorothy ingin menggunakan sihirnya untuk memikat Rion.


Sedangkan Rion melihat ada sesuatu yang menyala dan meredup di leher Dorothy, seperti sebuah liontin berwarna hitam yang lagi di charge batrenya.


Sekarang dia tau apa yang harus dilakukannya. Rion mengedipkan matanya pada sang papi yang kini melemparkan pedang milik anaknya,

__ADS_1


"Pedang cahaya?!!!!" seru Rion saat tangannya terulur ke atas.


Dan secepat kilat tangannya yang lain menarik kalung liontin dari leher Dorothy,"Tidaaaaaaakkkkkkk!" pekik wanita itu.


__ADS_2