Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
118. Dilabrak Balik


__ADS_3

"Revaa?" mata papi Ridho langsung jadi bulet seketika ngeliat penampakan istrinya.


"Kamu ngapain disini?!"


"Sorry to say, tapi istri kamu sepertinya mirip orang yang udah nggak waras!" ucap tante Karla. Iya, wanita yang sedang bersama papi Ridho itu ya tante Karla.


Telunjuk tante Karla yang dorong-dorong dada bidang papi Ridho yang bikin mami Reva geram melihatnya.


"Kamu itu yang nggak waras! ngapain kamu kesini? pake nunjuk-bunjuk suamiku yang ganteng ini, kenapa? kamu masih belum move on iya?" mami Reva mendekat ke arah suaminya. Dia berdiri di depan papi Ridho, seakan papi Ridho pria lemah yang pantas dilindungi.


"Ada aku, Sayang! wanita ini nggak akan bisa menyentuhmu," ucap mami Reva, sedangkan papi Ridho mengangguk imut. Boleh kita cubit nggak niih si papiiiih? berasa jadi casanova lu ya, Piiih?


"Heh, aku cuma mau memperingatkan! supaya anak kalian jangan deketin anakku lagi, ngerti?!!"


'Perasaan anaknya naik mobil pick up, kayak orang pindahan. Nah emaknya ngamok-ngamok disini, dia pikir Rion yang bawa kabur amaknya nih pasti! batin mami Reva.


"Ngerti, nggaaak?!!" tante Karla nyolot.


"Itu congor kalau ngomong biasa ajaa nggak usah pakai muncrat segala!" mami nggak kalah nyolot.


Masih untung ruangan papi Ridho berada paling atas dan hanya sekretarisnya yabg denger suara-suara ribut dan nggak akan berani buat kepoin.


"Lagian, anakku nggak akan berhubungan sama anak kamu. Di dunia ini masih banyak cewek yang cantik, yang pinter, yang baik, yang layak dijadiin calon mantu. Daaaan ibunya nggak kaya kamu modelannya..." mami Reva berani nantangin.


"Kamuuu---" tangan tante Karla nunjuk muka mami Reva.


Sreeettt!


"Sorry, Karla! tapi aku nggak suka kamu nunjuk-nunjuk muka istriku. Jangan keterlaluan lah," papi Ridho akhirnya nggak kuat juga ngeliat dua betina yang ribuut mulu kalau ketemu.


Dia menurunkan tangan tante Karla, "Tolong didik istri kamu!"


"Tentu, karena dia makmum ku. Tentu aku mendidiknya dengan baik, menyayanginya dan mencintainya dengan segenap hatiku dan nyawaku..." ucapan papi Ridho bikin hati tante Karla makin vanasshhhh.


"Dan asal kamu tau aja, Karla. Di negeri yang kamu tidak tau, analku yang menyelamatkan anakkmu. Jika anakku nggak terjun ke pusaran waktu, mungkin anakmu akan terjebak disana sendirian. Kalau bicara siapa yang salah, salahkan saja Dera Prayoga. Kamu tanyakan saja pada dia, kenapa dia dengan beraninya menumbalkan putraku hanya untuk sebuah balas dendam?"


"Ingat, anakku Arion Putra Menawan yang menyelamatkan putri mu dan membawanya kembali ke dunia nyata..."

__ADS_1


"Terserah, aku pergi!" tante Karla menyibak rambutnya dan keluar dari ruangan itu.


Mami Reva yang ngeliat tuh betina main ngeloyor aja, ngelepas satu high heels-nya dan ngelemparnya berniat nimpuk tuh musuh bebuyutan.


Braaakkk!


Tuh sepatu kepentok jidat orang.


"Aaaawwwwww!" pekik seseorang.


"Sorry, Sen!" ucap mami Reva dengan raut wajah yang serba nggak enak.


Dan pas tangan Arsen di turunin, "Sepatu?" dia pingsan seketika.


Braaaaakkkk!


"Arsen? Arsen?!!" papi Ridho memanggil-manggil nama asistennya. Dia tepokin tuh pipi.


"Nggak usah lebay, Sen! ayo, cepetan bangun!" ucap papi lagi, sedangkan mami Reva udah pucet banget mukanya. Takut ada apa-apa sama Arsen.


"Arseeeen...." papi Ridho manggil lagi.


"Astagaaaa, aku kira beneran pingsan! dasar asisten laknat!" mami Reva mengumpat Arsen yang bikin dia sempet khawatir dan merasa bersalah disaat yang bersamaan.


Mami Reva jalan menuju singgasana suaminya dan duduk disana, sedangkan papi Ridho membantu Arsen untuk berdiri, "Lain kali, kalau nih pintu kebuka kayak gini nih kalau mau lewat harus tiarap, dan merangkak di bawah!"


"Lah bos kira, saya lagi wajib militer? pake tiarap dan merangkak segala? nih, bos!" Arsen ngasihin heels mami Reva yang udah bikin jidatnya jadi benjol.


"Saya mau obatin jidat dulu, bos! permisi," Arsen pergi dan papi Ridho pun nutup pintu ruangannya.


"Kenapa si Karla tiba-tiba kesini sih? kamu masih ada hubungan sama dia?"


"Hubungan apa? nggak ada," jawab papi Ridho serius.


"Terus kenapa dia bisa berani nginjekin kaki di kantor ini?"


"Ya mana aku tau, Sayang! dia tadi kesini bawa nama tempat dia kerja, jadi aku pikir emang dia kesini ya urusan kerjaan. Ternyata dia kesini cuma mau nuduh yang nggak-nggak," kata papi Ridho.

__ADS_1


"Nuduh apaan dia?" mami Reva mau berdiri dari duduknya, tapi kedua bahu wanita itu ditekan pelan oleh sang suami, yang enak aja duduk dikit di meja.


"Dia kira, Arion masih ada hubungan sama Rissa, dan membawa pengaruh buruk pada anaknya. Karena Rissa membangkang setelah bilang bersama Rion," jelas papi.


"Sembarangan aja nuduh-nuduh! harusnya aku kruwes itu mulutnya, huh!" mami Reva kesel.


"Udah biarin aja. Orang yang nggak bahagia hidupnya pasti sukanya cari gara-gara,"


"Jadi apa yang bikin kamu tiba-tiba datang kesini? apa sekangen itu sama aku? padahal baru beberapa jam loh Sayang kitabterpisah jarak dan waktu," papi Ridho mengangkat dagu istrinya dengan jari telunjuknya.


Hap!


Mami Reva menangkap jari papi Ridho, dan malah mendorong mulut suaminya pakai jarinya, "Ssssuuuuttt, bukan waktunya ngegembel, Fernandoooooh!"


"Ngegombaaaal, bukan ngegembeeeeel Sayang..." papi Ridho meralat ucapan istrinya.


"Ini soal Rion," mami Reva sedih.


"Kenapa lagi dia?"


"Rion yang dulu bukan Rion yang sekarang, Mas..." mami Reva hampir aja mewek.


"Maksudnya gimana? mukanya beda?"


"Bukan mukanya tapi sukap dia sama aku, Mas. Ketus banget, kayak aku tuh bukan maminyaaa, hiks,"


"Cup cup cup cup...." Papi Ridho membawa kepala ustrinya ke dalam dekapannya.


"Dia nggak bermaksud kayak gitu pasti. Aku kenal kok gimana Rion, dia nggak mungkin ngebentak mami nya. Karena udah pasti kalah set,"


"Maksud kamu, aku lebih galak gitu? iya?"


"Aku bilang kalah set, bukan galak. Nih mulut nyambernya cepet amat kayak bensin! nakal, nakal, nakal..." papi Ridho mencubit bibir istrinya.


Papi Ridho menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah wanita yang ada di hadapannya, "Kita harus kasih dia waktu dan ruang buat Rion beradaptasi dengan keadaan. Untuk sementara kita jangan terlalu menuntut Rion. Biarkan dia menentukan sikapnya,"


"Tebakanku, Rion denger pembicaraan kita. Dia tau kalau kamu nggak suka kalau dia deket-deket sama anaknya Karla. Tapi apa kamu dulu juga inget? gimana rasanya saat kita udah bertekad bersama, tapi kita terhalang restu mama Ivanna?" lanjut papi Ridho.

__ADS_1


"Menurutku kamu lebih paham dengan posisi Riion sekarang, karena keadaannya nggak jauh beda sama kita, Va. Untuk masalah perasaan, Riin udah menyingkirkan egonya dan fokus dengan skripsinya. Dia juga nggakain-main yang berbahaya lagi. Dan sekarang giliran kita yang melunak dengan mengijinkan dia buat kuliah di negeri orang," ucap papi Ridho.


Mami Reva menggeleng, dia nggak setuju, "Nggak...!"


__ADS_2