Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
123. Pertemuan


__ADS_3

Rion mendekat pada dinding yang memiliki poin-poin panjat.


"Gue nggak tau apa gue masih bisa atau nggak," Rion memegang salah satu poin panjat.


Ada keraguan terbersit dalam hatinya, karena dia baru aja sembuh dan dia belum pernah manjat lagi setelah dia berbulan-bulan hilang.


Sementara ada satu orang yang melihat kehadiran Rion di tempat itu. Tapi orang itu cuma diem, nggak ngapa-ngapain. Dia hanya memperhatikan Rion dari jauh, dia Slamet.


Kebetulan Slamer lagi nemenin Amanda, pacarnya yang kebetulan ada ekstra Tari. Nah sekilas dia ngeliat Rion naik motor, dia bilang sama Amanda kalau mau pergi bentar. Dan ternyata setelah diikutin itu beneran Rion yang berhenti di tempat mereka biasa latian.


'Lu kangen manjat juga, Yon!' batin Slamet, dia malah merembes nangis.


'Gue kira elu udah berubah jadi orang lain. Ternyata elu masih Rion yang dulu. Gue harus kasih tau Jaja sama Adam,' batin Slamet.


Dia pun mengeluarkan hapenya, mau ngambil vidio Rion yang mulai masang tali karmantel di badannya.


Slamet nggak mau ganggu acara temu kangen Rion sama si dinding panjat. Buatnya cukup tau aja kalau Rion masih memiliki hobi yang sama dengannya.


Mendapat kiriman vidio dari Slamet, baik Jaja dan Adam pun membulatkan matanya. Rion krekelan begitu lincahnya, bahkan lebih cepat dari terakhir tanding sama Eza.


Itu Rion kena sawan siluman monyet apa gimana, Met?


Eza langsung bales chat-chatannya si Slamet.


Gue pikir juga gitu! Kok bisa orang abis nggletak di rumah sakit, bangun-bangun bisa krekelan. Manjat begitu nggak ada dua menit, anjiiiir!


Sekarang giliran chat nya Adam yang Slamet buka.


Lu jangan sampe ketauan Rion, kalau elu lagi ngintipin.


"Bener tuh kata Adam! jangan sampai ketauan," suara lain di belakang Slamet.


"Ho'oh ya?!! bisa dikruwes bibir gue!" sahut Slamet.


Deg!


Slamet perlahan muterin kepalanya.


"Yonooo?!!" pekik Slamet. Aliran darahnya mendadak macet, ngeliat sosok Rion yang dingin berdiri di belakangnya.


Hap!

__ADS_1


Dengan sigap Rion mengambil hape yang ada di tangan Slamet, danenghapus vidio yang diambilnya secara diam-diam tadi.


"Kalau vidio ini kesebar, dan mami gue liat! Mami gue ntar stress!" ucap Rion seraya ngembaliin hape Slamet.


"Sorry, Yon! gue----"


"Gue ngerti!" Rion balik badan. Dia jalan menuju parkiran motornya.


Slamet ngejar, "Tungguin gue!" teriaknya.


"Mau kemana lu?" tanya Slamet saat Rion udah pakai helmnya.


"Cari makan, laper!" Rion makai sarung tangannya satu-satu


"Gue ikut!"


"Boleh," sahut Rion singkat


Namun seketika Amanda nelpon, "Bebbbbbbb? kamu dimaaaanaaaaaaaa? kok gue ditinggalin gitu aja siiiiih? ini temen-temen udah pada bubaran,"


"Ya ampuuuuun kok gue bisa lupa, kalau gue kesini bareng Amanda?!" gumam Slamet.


"Cepetan kesini, udah panas nih! atau gue bonceng Nizar aja?"


Slamet ngantongi hapenya lagi, "Sorry, Yon! gue kesini bareng Amanda yang lagi latian tari. Jadi gue----"


"Woles?! ya udah gue duluan!" Rion menunggangi belalang tempurnya menjauh dari Slamet.


Hatinya yang kangen udah terobati saat menaklukan dinding panjat kesukaannya. Sekarang perutmya laper dan pengen makan. Tapi rasa haus yang teramat sangat bikin dia pengen beli minum dulu. Akhirnya dia pun berhenti di salah satu minimarket yang punya banyak cabang di Indonesia. Bahkan sekarang setiap pengkolan aja ada minimarket ini.


Tangan Rion memegang handle besi showcase yang segede gaban.


Namun nggak sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan seorang perempuan.


"Maaf!" ucap perempuan itu.


'Suara itu...?' batin Rion


Pemuda itu segera menoleh, dan dia melihat sesosok permpuan yang beneran udah mengisi sebagian hatinya.


'Nggak mungkin!' mata Rion membulat saat perempuan yang disampingnya itu juga melihatnya dengan tatapan kaget.

__ADS_1


Sesaat mereka terpaku di tempatnya masing-masing. Mereka hanya saling menatap tanpa ada satu kata pun yang meluncur dari bibir keduanya.


"Maaf Mas Mbak, saya mau ambil air!" ucap salah satu pengunjung.


"Oh ya, Maaf..." Rissa mengambil air mineral, kemudian bergeser ke arah kasir.


Rion nggak berniat buat ngejar, dia pun mengambil minuman kopi dingin yang menjadi incarannya. Dia hanya bisa melihat Rissa yang sudah membayar minumannya dan keluar dari minimarket.


Dengan berat Rion menghela nafasnya, sebelum melanjutkan jalan menuju kasir.


"Nambahnya apa lagi, Mas?" tanta si kasir perempuan.


"Nggak!" sahut Rion yang ngeluarin duit dari dompetnya. Hatinya mendadak berdenyut nyeri.


setelah membayar minumannya Rion berlari keluar. Dia melihat ke kanan dan ke kiri mencari sosok Rissa tapi nggak ada.


"Aarrggghh!" pemuda meninju angin.


'Kenapa gue cuma bengong kayak orang bego!' batin Rion.


Seketika dia inget sama sosok pria yang mendambakan Rissa, pangeran Clift.


Kalau itu pangeran hidup di jaman yang sama dengan Rion, dia pasti bakal ngejar Rissa. Rion yang memiliki perasaan dan hidup dalam satu waktu yang sama, malah nggak bisa berbuat apa-apa. Kisah mereka harus terpaksa kandas karena alasan nggak dapet lampu ijo dari orangtua, dari kedua belah pihak.


Meninggalkan minumannya gitu aja di atas meja yang ada di depan mininarket. Dia menunggangi motornya dan mencoba mencari kemana perginya perempuan yang bikin dia cenat cenut nggak karuan.


Dan lagi fokus nyetir ada telepon masuk. Rion segera melipir, "Ya, haloo???"


"Rion ini gue Mova. Gue udah nyampe, elu ada dimana?"


"Gue masih di jalan! 5 menit lagi gue nyampe!" ucap Rion. Dia langsung matiin telepon dari Mova.


Hari ini beneran bikin Rion kesel. Tadi ketemu Rissa dia diem aja, bengong doang. Giliran mau nyari, Rissanya udah pergi ditambah lagi dia lupa kalau hari ini ada janji sama Mova yang nggak tau mau ngomong apaan.


Sedangkan Rissa, sebenernya belum jauh. Dia cuma sembunyi. Dia tau kalau Rion nyariin dia, tapi Rissa nggak cukup ada nyali buat nampakin dirinya.


"Maafin aku Rion," gumam Rissa saat bayangan Rion udah hilang dari pandangannya.


Rissa cukup tau diri, dia nggak mungkin muncul di hadapan Rion. Apalagi beberapa kali dia diperingatkan oleh mamanya supaya jangan berhubungan dengan Arion. Yang penting sekarang udah nggak ada lagi yang mengincar jiwa pemuda itu. Dia merasa udah menebus dosa papanya.


Sekembalinya Rissa dari dunia antah berantah, dia udah nggak punya kesaktian apapun. Semuanya lenyap berbarengan dengan musnahnya bola cahaya miliknya. Sekarang dia hanya seorang gadis biasa yang lagi memulai kehidupannya yang baru.

__ADS_1


Rissa keluar dari persembunyiannya dan melanjutkan perjalanannya, dia membawa sebuah map yang dia dekap di dadanya.


'Semoga hari ini hari keberuntunganku,' batin Rissa.


__ADS_2