Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
20. Awal Pendakian


__ADS_3

Selama perjalanan semua aman-aman aja. Loren bisa bernafas lega kali ini. Karena dia bisa menghalau makhluk-makhluk yang menyukai Rion. Dan itu lumayan membuat Loren kelelahan.


Selain itu, Rion juga nggak tau, kalau Loren emang sengaja maksa buat ikut. Bukan karena pengen liat awan di atas puncak, tapi karena dari semalam dia dimimpiin sesosok makhluk setengah manusia setengah kuda yang sedang mengincar Rion.


Walaupun sebenernya kekuatan Rion lebih besar daripada kekuatan Loren saaat ini, tapi gadis itu tetep khawatir. Karena Rion belum mengenal dirinya sendiri, dia perlu seseorang yang memiliki kesamaan dengan dirinya, buat saling melindungi. Dan karena Loren sudah mentransfer kekuatannya, alhasil dia nggak sekuat biasanya. Ibarat kata batre, Loren udah tinggal 50 persen aja.


Thalita yang dari semalem begadang karena takut ditinggal Rion, malah molor di mobil.


"Heh! bangun!" Rion tepok pundak Telolet.


"Hem? udah nyampe?" tanya Thalita.


"Udah daritadi, tuh Eza nggak bisa keluar kalau elu nya molor mulu di mobil!"


Brakkk!


Rion keluar dan nutup pintu setelah bangunin si Thalitha.


"Buset dah baru juga ngeliyep, cepet banget nyampenya..." Thalita nguap.


Braaaaakkkkkkkkk!


Thalita keluar dan main tutup pintu aja.


"Astaghfirullah, heehhhhh!!!!!!! gimana iniiiiii gue masih di daleeeeem! wooooyyyyy...?!"


"Bang-ke emang si Rion!" akhirnya dengan susah payah Eza berpindah dari kursi belakang ke kursi tengah.


Brakkk!


Eza berhasil keluar, mukanya udah bete banget.


"Eh, bang Eza? kok baru keliatan?" tanya Thalita.


"Kan elu yang ninggalin gue di dalem mobiiilll, Maemunaaaaaaaaahhh!!" batin Eza gregetan, tapi dia tahan. Bisa aja Thalita lagi nguji kesabaran dia, pikir Eza.

__ADS_1


"Ya, gue nggak sengaja ditinggalin gitu aja di dalem mobil," sahut Eza, sedangkan Thalita cuma bilang 'oh' bikin Eza pengen banget garukin macan.


Sedangkan Rion menatap Loren yang berdiri membelakanginya, udara pegunungan langsung terasa. Mereka ambil ransel masing-masing.


"Ransel kamu, Loren..." ucap Adam, ngasih Loren sebuah Ransel berwarna hitam.


"Makasih, Bang!"


"Terlalu berbahaya buat naik gunung dalam situasi seperti sekarang ini!" ucap Loren saat Adam menjauh darinya, dia sadar kalau dibelakangnya sekarang ada Rion.


"Gue bisa jaga diri,"


"Kamu nggak akan pernah menyangka seberapa kuat mereka. Menginjakkan kaki di tempat seperti ini nggak baik buat jiwa murni seperti kita," ucap Loren tanpa menengok ke belakang. Lalu dia jalan menjauh dari sosok Rion.


Pendakian di pimpin oleh Rion, dan paling belakang ada Slamet.


Pokoknya Slamet itu tugasnya ngitungin orang yang ada di depannya. Kan kalau Eza nggak bisa diandelin, dia terlalu fokus sama gebetannya, kalau si Adam ada ditengah-tengah tugasnya dengerin perintahnya si Rion, dan nyampein ke anggotanya yang di belakang.


Setelah berbagi tugas, mereka pun capcus naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali. Kiri kanan kulihat setan. Ya emang!


Loren yang menggunakan kekuatannya buat mengusir para makhluk jahanam itu buat menyingkir dari rombongan mereka. Cuma yang namanya ngusir begituan kan nguras energi juga.


Makanya tambeng banget kan si Rion ini persis kayak emaknya dulu. Kalau dibilangin 'jangan' kok ya malah dilakuin.


Jadi bisa dibayangkan ya, bagaimana lelahnya si Loren, disamping energinya buat naik gunung, dia juga harus nyingkirin setan-setan yang pengen ngikutin si Rion.


"Istirahat....?!!!!" teriak Rion.


Belum juga nyampe di pos 2, Rion meminta semua anggota buat istirahat. Sebenernya dia khawatir dengan keadaan Loren, dia pengen tau itu anak masih kuat apa nggak. Kalau si Telolet mah sabodoteuing.


"Loh kok istirahat disini, apa nggak di pos 2 aja?" tanya Mova.


Ucapan Mova disahutin sama anggota laki-laki lain, "Iya, apa nggak nanggung?"


"Ada beberapa yang baru naik gunung, satu istirahat yang lain juga istirahat!" tegas Rion.

__ADS_1


Kalau ketua udah bilang kayak gitu, udah yang lain kicep. Kecuali si Mova, emang cewek ini suka banget protes.


"Paling setengah jam lagi jalan, kita nyampe di pos 2. Tempatnya lebih enak,"


Sebenernya emosi Rion udah naik nih tapi ditahan-tahan disabar-sabarin, "Ya udah elu aja yang pimpin. Gue mau istirahat, kaki gue kram!"


"Udah deh, Mov! Kalau Rion bilang istirahat, ya udah istirahat dulu. Jangan sampai di rombongan ini ada dua komando, bikin keder tau, nggak?!" ucap Adam, udah gregetan banget sama Mova.


"Tauk nih! kaki guweh juga kan capek!" Thalita nyautin juga.


"Kalau takut capek ya jangan ikutan naik! susah amat!" Mova nyamber lagi.


"Mov? elu bisa diem nggak? istirahat juga nggak lama kok, jangan bikin suasana jadi panas ya!" Rion negur si Mova. Tatapannya tajem banget, Mova jadi duduk dan neguk minumannya sendiri.


Mova itu tau, kalau Rion minta istirahat karena mikirin dua cewek yang baru gabung itu. Terutama yang suka nyolot, Thalita.


"Gue kan bilang jangan ikut! elu tuh bikin rusuh tau, nggak?" Rion bicara lirih sama Thalita, dan itu nggak luput dari penglihatan Mova.


"Temen Bang Rion aja tuh yang rese," Telolet tetep nggak mau kalah.


Udahlah ngomong sama si Telolet sampai tahun depan juga nggak bakalan bisa menang. Ngejawaaab mulu dia bawaannya.


Sekarang perhatian Rion beralih pada Lorenza. Dia melihat gadis itu lumayan pucet, dan keliatan capek banget. Tapi Rion nggak bisa nanyain langsung, karena Loren ada di deket Adam. Dan posisi Loren ini lumayan jauh.


Suara Loren tiba-tiba terdengar seperti bisikan di telinga Rion, "Aku nggak apa-apa, kamu mending pimpin rombongan lagi buat lanjut jalan. Aku masih kuat!"


"Suara Loren?" gumam Rion.


"Kita jangan terlalu lama duduk disini, energinya nggak baik!" lanjut Loren.


Sedangkan Rion yang mendengar suara gadis itu, menatap Loren dengan tatapan heran.


Rion melihat gadis itu memegang kalungnya, lalu suaranya terdengar lagi di telinga Rion, "Mulai sekarang kita berkomunikasi hanya dengan batin kita," ucap Loren membuat laki-laki setengah takjub.


"Oke, kita lanjutin lagi," sahut Rion.

__ADS_1


__ADS_2