Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
41. Tunggang Langgang


__ADS_3

Hujan semakin lama semakin mereda. Kini kawanan buaya menyerbu Rion.


Sri Candani dia tertawa, "Hahahahhaa, uhuk!uhuk!" saking lebarnya itu mulut ketawa, dia keselek jigongnya sendiri.


Rion melemparkan pedangnya yang kemudian hilang seketika dia mengambil busur melepaskan beberapa anak panah yang mengarah tepat ke badan buaya-buaya itu.


Siiiiiiiiiuuuuuuu!!!!!


Jlep!


Jlep!


Buaya yang terkena panah cahaya merah menggelepar.


"Sialan?!!!!!" teriak Sri Candani


Rion hanya menaikkan satu sudut bibirnya ke atas, "Kan gue udah bilang. Ndang baliooo! ngeyelan banget jadi perempuan sih?!!!!" sindir Rion, sambil manahin satu persatu anak buah sosok penunggu sungai. Kayak elu kagak ngeyelan, Rion!


Namun, entah darimana datangnya ada satu buaya yang nekat menggigit kaki Rion tapi bukannya kegigit, buaya itu malah kejet-kejet, abis itu pingsan.


Rion nunduk ke bawah, "Kan kan kan apa gue bilang? kagak mau pada dengerin gue sih!" Rion ngomenin buaya yang kini hilang menjadi transparan.


"Yaaaaakkk!!" Sedangkan Sri Candani menyabetkan selendangnya ke arah Rion yang sedang membidik salah buaya terakhir yang masih berusaha mendekat.


Siiiiiuuuuuhhh!


Jlep!


Panah udah terlanjur menancap di perut buaya. Yang kemudian buaya itu hilang gitu aja.


Sementara selendang yang tadi disabetkan Sri pada Rion, terbakar seketika.


"Elu bukan tandingan gue! sekarang ndang bali, masak nasi!" ucap Rion.


Busur dan panah seketika hilang dari genggaman Rion saat dia merasa udah nggak butuh senjata itu lagi.


Sri Candani geram dengan sosok manusia yang ditemuinya kini, "Dasar manusia sombong!"


Dia menggerakkan tangannya dengan cara memutar, dan mengeluarkan sebuah sinar berwarna hijau yang kini bisa menembus perlindungan yang telah di buatnya. Seketika badan Rion limbung.


Brukkk!!


Rion terjatuh, "Uhukk!" darah keluar dari mulutnya. Dia mengusap bibirnya dengan punggung tangan.


"Hahahahaha, kau pikir hanya dirimu yang memiliki kekuatan, hah?" Sri Candani tertawa.


Rion mengusap liontinnya dan mengubah liontin itu menjadi sebuah pedang.

__ADS_1


Dia berbalik, dan mengangkat pedangnya ke langit. Matanya tajam menatap Sri Candani yang matanya berubah jadi ijo, nggak jauh beda sama kayak elu-elu kalau liat duit!


"Aakkkhhhhh!" Ada sebuah ranting pohon yang menghantam jidatnya.


"Siaaaaalaaaaan!" teriak Sri, mencari siapa pelaku yang begitu usil dengannya. Dia nggak sadar kalau dia usil juga sama Rion yang mau nyebrang itu sungai.


Melihat Sri yang kena hantam benda, Rion memanfaatkan ini untuk melakukan hal lain.


"Keluarkan kekuatanmu, pedang cahaya ku!" Rion merasakan sebuah kekuatan yang besar keluar dari pedang yang dipegangnya saat ini, dengan tatapannya yang tajam dengan sudut bibir yang masih mengeluarkan darah, dia ayunkan pedangnya pada Sri Candani.


Seketika cahaya biru membuat wanita itu terdorong ke belakang.


"Aaaaaakkkhhhh!" Sri mengeluarkan serangan sinar hijaunya, namun di tengah jalan tiba-tiba ndat ndet, kayak raket nyamuk yang lowbet.


Pret prepet prepet.


"Kenapa dengan kekuatanku?" Sri Candani bingung dengan apa yang terjadi.


Karena ternyata pedang cahaya biru menyerap energi yang Sri keluarkan.


Ketika sinar hijau terhenti, Rion secepat kilat menghujamkan pedangnya ke tanah. Cahaya biru itu merayap ke arah Sri.


Krek!


Krek!


Krek!


Byuurrrrr!


Sri Candani berenang menjauh dari Rion.


"Aaarrgghh!" Rion mencabut pedang cahaya biru dari tanah yang ada kristal es nya


"Gue nggak akan menghabisi musuh yang tunggang langgang!" ucap Rion, dia memasukkan pedang ke dalam selongsongnya.


"Eeerrrrghh!" Rioon memegang perutnya, dia lumayan merasakan sakit di daerah itu. Pedang cahaya biru kini kembali ke dalam bentuk semula.


"Ikut gue! uhukkk," Rion menggerakkan jarinya, menyuruh bola cahayanya supaya mengikuti dirinya kembali mencari Rissa, meskipun juga sekarang dia merasa energinya semakin terkuras.


Rion sekencng-kencangnya berlari, dia terbang dan melompati sungai itu.


Tanpa dia bisa kontrol sosok yang ditemuinya di tenda, mengikuti perjalanannya mencari Rissa.


"Kenapa kamu tidak mempercayaiku?" ucap sosok perempuan itu melihat Rion yang udah jauh menyebrangi sungai.


Set!

__ADS_1


Set!


Perempuan itu kembali diam-diam mengikuti kemana Rion pergi.


Sementara di tempat lain.


Papi Ridho dan mami Reva udah balik ke rumah. Dia sempet dikasih penglihatan sama pak Sarmin, melihat Rion sedang berada di tengah hutan yang gelap. Dan mami Reva jadi inget waktu dulu dia kejebak di hutan terlarang, bagaimana dia harus menyelam ke dalam air dan melawan ketakutan terbesarnya.


'Kita tidak bisa berbuat banyak selain berdoa,' ucap pak Sarmin sebelum papi Ridho dan mami Reva pergi darisana.


"Sayang..." papi Ridho memegang kedua tangan istrinya, mereka lagu duduk di ranjang bersiap untuk tidur.


Sedangkan mami Reva daritadi matanya nontonin berita terus, dia berharap ada kabar lain selain dua tas yang ditemukan tim rescue.


"Sayang, udah malem. Ikan bobo..." papi Ridho mencoba menghibur mami Reva.


Tapi lagi lagi gagal dan selalu gagal, mami Reva yang suka banget merepet nggak jelas, sekarang diem seribu bahasa. Rumah berasa tenang, tanpa teriakan ibu dan anak yang biasanya menggemparkan sekuruh lantai di rumah ini.


"Besok, aku mau---"


'Pendaki yang sempat hilang dari rombongannya sampai saat ini belum ditemukan dimana keberadaannya. Sampai saat ini tim gabungan penyelamat masih terus berupaya melakukan pencarian di tengah cuaca ekstrem yang melanda kawasan pendakian. Untuk saat ini semua akses masuk ditutup sampai batas waktu yang tidak ditentukan---"


Sebelum berita itu selesai ditanyangkan, papi Ridho udah skip dan ganti channel.


"Jangan melihat seauatu yang akan membuat kamu kepikiran Arion!" ucap papi Ridho.


mami Reva yabg semula diam kini menoleh oada suaminya dengan tatapan nggak suka.


"Maksudku, aku tau apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi lagi-lagi kita nggak bisa berbuat apa-apa. Aku yakin Rion memiliki caranya sendiri untuk bisa keluar dari tempat itu, kemudian kembali bersama kita lagi..." papi Ridho segera meralat ucapannya, supaya istrinya itu nggak salah paham.


"Aku oun cemas dari Rion, tapi aku paham kalau rasa khawatirmu lebih besar dari yang aku rasakan, penderitaan yang kamu rasakan pasti jauh lebih berat dari yang aku rasakan. Aku tau semua itu, Va. Tapi aku mohon supaya kamu jangan mengurung diri terus di kamar, kamu juga perlu menghirup udara segar di luar selain kita berdoa dan tetep ikhtiar mencari anak kita, Rion..." papi Ridho ngomong panjang lebar.


Paoi Ridho menarik istrinya ke dalam pelukannya, "Aku sayang sama kamu. Aku nggak bisa liat kamu kayak gini..."


"Gimana kalau kita ke rumah nenek Darmi?" umtanya mami Reva.


Papi Ridho menjarak tubuhnya dengan mami Reva, "Neneknya Karla? Buat apa?"


"Dulu aku juga sempet kesasar di hutan bareng pak Karan, nyatanya dia bisa mengirim kamu buat jemput aku. Kali aja nenek Darmi biaa bantu kita buat bantu Rion supaya bisa kembali lagi," kata mami Reva yang udah di luar kesadaran.


"Nggak mungkin, Va..."


"Kenapa nggak mungkin? apa masalahnya?" mami Reva merepet lagi.


"Apa kamu yakin dia masih ada di dunia ini?" tanya papi Ridho, berusaha menyadarkan pikiran mami Reva yang kini terdiam.


"Ya mungkin ajah..." mami Reva menyahuti suaminya.

__ADS_1


__ADS_2