
Rion nggak mau buang waktu, dia kudu mencari Rissa, prioritas di tempat yang paling banyak orang berkumpul dulu, habis itu entah gimana caranya dia nyari pangsit eh wangsit lagi setelah ini.
Rion jalan kaki dengan kuda milik Defne yang sekarang dihibahkan untuknya, "Semoga aku bisa nemuin dia..." Rion berucap dalam hatinya.
Bau makanan seakan membuatnya seketika lapar, "Ya ampun, pengertian dikit napa?! gue nggak punya duit, elu jangan minta jatah mulu! sekarang bukan waktunya buat laper, sekarang waktunya nyari Rissa," Rion ngingetin perutnya yang nggak tau diri.
Sekilas dia melihat ada orang yang angkut-angkut barang terus dikasih beberapa koin setelahnya, "Apa mereka dibayar?" gumam Rion.
"Saat ini gue harus bisa bertahan hidup dulu, disamping gue nyari Rissa..." gumam Rion. Intinya dia butuh duit, ya buat beli makanan atau apapun yang dia butuhkan nantinya.
Rion mendekati tempat orang tadi mendapatkan uang, "Permisi...."Rion sopan.
"Ya, silakan. Anda mencari tepung?" tanya si penjual.
"Ah, tidak, saya tidak sedang mencari tepung,"
"Maaf, kami hanya menjual tepung gandum, tidak ada yang lain lagi...." si penjual mengatupkan kedua tangannya.
"Bukan itu, maksudku, aku ingin bekerja untuk anda, tuan. Namaku Arion," kata Rion memperkenalkan dirinya.
"Bekerja? mengangkut karung tepung? apa kau sanggup karena hanya itu pekerjaan yang ada saat ini..."
"Aku bisa mengangkat apapun, asalkan aku bisa mendapatkan uang..." Rion masih memgang tali kudanya.
"Baiklah, ikat kudamu di sebelah sana, dan mulailah bekerja!" si pedagang tepung menunjuk sebuah tiang.
Rion mengangguk semangat, dia anggap ini adalah awal yang sangat baik. Dia mengikatkan kudanya sebelum dia melingkis baju dan mulai memanggul karung tepung yang dibawanya dari gudang ke toko itu.
"Arrrghhh!" satu persatu karung dia pikul dan dilettakkan di tempat yang disuruh pedangang tadi.
Dan apa yang dilakukan Rion, nggak luput dari pengawasan Defne. ya, gadis itu mengikuti kemana Rion berjalan, ' Kau memang berbeda...' gumam defne yang bersembunyi saat Rion meletakkan karung tepung dari bahu lebarnya.
Rion bolak-balik untuk mengangkut karung demi karung hingga akhirnya dia pun berhenti, "20 karung, Tuan... hhh ... hh..." Rion terengah-engah, keringatnya membasahi dahi dan pelipisnya, dia menyeka dengan punggung tangannya.
"Kerjamu lumayan cepat juga. Besok datanglah lagi, aku membutuhkan orang cekatan seperti kamu. Dan terimalah ini..." pedagang tepung memberi Rion satu bengket isinya uang koin.
Rion menerimanya dengan sungkan, "Terima kasih Tuan---"
__ADS_1
"Panggil saja Jared," kata pedagang tepung yang lumayan masih muda juga, ya sekitar 30 an lah umurnya.
Rion segera pamit dan mengantongi sejumlah uang di celananya, dia melanjutkan kembali perjalanannya.
"Gue harus inget-inget nih jalan, jangan sampai udah nyasar harus nyasar pula disini. rRssaa ... Rissa.... kamu dimana Rissaaaa..." lirih Rion dalam hati.
Sementara di pasar juga. Markoneng lagi jalan noh sama Anna, dia beli beberapa makanan yang dia temui di sana. Anna lumayan riweuh bawa belanjaan si tuan puteri. Nggak bisa diem banget pokoknya, dia antusias ngeliat barang dagangan apa aja yang ada di pasar. Dan pas denger ada pertunjukkan sulap, Odellia semangat banget tuh pengen liat.
"Merry...!" panggil Anna, tapi Merry alias Odellia nyerosol aja pengen liat pertunjukan sulap receh. Dia tepuk tangan seneng ketika si pesulap menunjukkan trik-trik sulapnya.
Apalagi ketika sebuah sapu tangan dibakar kemudian berubah menjadi setangkai bunga mawar.
"Waaaooow!" Odellia tepuk tangan merasa senang.
Dan .... si pesulap itu bergerak mencari penonton yang akan menerima bunga itu.
"Untukmu, Nona..." kata si pesulap.
"Terima kasih...." kata Odellia.
Matanya mencari keberadaan Anna tapi nggak ada, suasananya ramai jadi dia nggak bisa ngeliat dimana Anna.
"Anda tidak ingin menghirup wangi bunga mawar itu?" tanya si pesulap membuyarkan pikiran Odellia.
Rion yang melihat sebuah pertunjukan pun naikin alis, "Ada apa tuh rame-rame?" gumam Rion. Dia pun membawa kudanya dan mengikatnya di salah satu sudut.
"Disini aja lu! jangan kabur...." Rion ngelus kuda milik Defne.
"Gue liat dulu ada apaan rame-rame, daripada gue penasaran!" kata Rion yang meninggalkan kudanya dan masuk ke kerumunan orang-orang.
"Permisi..." Rion berusaha masuk melewati satu persatu orang yang berdiri. Sedikit banyak dia melihat seorang pria yang memakai topinya berada di tengah-tengah arena.
Sementara Odellia melihat bunga mawar di tangannya dan mendekatkan bunga itu ke hidungnya.
'Hiruplahhh sebanyak yang kau mau!' ucap si pesulap dengan wajah misteriusnya.
Baru saja Odellia menarik nafas, dia merasakan bau yang begitu membuatnya pusing.
__ADS_1
"Akhhh," Odellia memegang kepalanya.
Anda kenapa, Nona?" tanya si pesulap, dia berusaha memegang bahu Odellia.
"Aku tidak apa-apa hanya sajaaa mungkin aku alergi bunga----"
Braaaakkkkkk!!!
Odellia jatuh.
"Awassss!" teriak beberapa orang.
Rion yang melihat ada orang jatuh pun kepo pengen liat, dan pas diliat sosok itu mirip seseorang yang dia kenal, "Rissaaaaaaaaaa?!!!" teriak Rion membuat orang-orang kaget.
"Permisi, permisi! beri aku jalan!" Rion panik melihat Rissa tergeletak di tanah.
Dan ketika dia udah berhasil melewati banyak orang, Rion lantas meraih tubuh Odellia yang dia kira Karissa.
"Saaaa, Rissaaaa? bangun, Saaaa...." Rion tepok-tepokin wajah gadis yang dicarinya.
Rion mengambil bunga mawar yang dipegang Risaa, dan melihat sekeliling meminta jawaban. Dan ada seseorang yang bilang kalau setelah gadia itu menghirup mawar yang diberikan pesulap, dia langsung jatuh nggak sadarkan diri.
"Apaaaa?!!" Rion mencoba melihat sosok pria yang memakai topi, tapi nggak ada. Dia hilang.
Ya, tanpa Odellia sadari. Dia membuat penyihir jahat lebih mudah mendapatkan dirinya. Sang ratunyang sebenernya selalu mendampingi Odellia pun tadi sempat menyingkirkan tangan puterinya namun sayangnya Odellia udah mencium bunga itu. Penyihir yang menyamar jadi pesulap pun kabur entah kemana. Dia kesal saat rencananya gagal.
Disisi lain, Rion yang melihat Rissa nggak sadarkan diri, dengan sat set sat set mengecek nadi yang ada di tangan Rissa, "Masih ada..." gumamnya.
Lantas Rion segera membawa Odellia yang dianggapnya Rissa menaiki kudanya.
Lumayan susah ya, tangan satunya dia pegang buat meluk Rissa yang dia sengaja dudukin dengan posisi membelakangi kepala kuda. Rion memacu kudanya menjauh dari area pasar.
"Syukur, feelingku tepat. Aku cepet banget nemuin kamu, Rissa..." gumamnya.
Tapi ada hal yang aneh, biasanya kan kalau deket Rissa ada aliran listrik yang dia rasain, tapi ini kok nggak ada. Dia kayak lagi meluk si telolet, nggak ada rasa gitu. Tapi lagi-lagi, Rion gelengin kepalanya, mengusir pikiran-pikiran laknat.
"Jangan mikirin hal-hal yang aneh, yag harus gue pikirin, kemana nih gue harus bawa Rissa dengan keadaan pingsan kayak gini," Rion memperlambat laju kudanya.
__ADS_1
Beruntung di kantongnya sekarang ada duit, paling nggak dia bisa beli makanan atau minuman. Namun matanya melihat suatu bangunan.
"Penginapan?" Rion bergumam, "ya aku akan kesana, dan setelah Rissa sadar baru kita mikirin gimana caranya keluar dari negeri ini!"