Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
53. Melintasi Waktu


__ADS_3

Papi Ridho terbangun, setelah tergeletak 4 hari diatas karpet yang empuk, "Va...."


"Udah kamu tiduran lagi aja, kamu masih lemes gini kok," mami Reva yang masih ngejagain suaminya, dia pengen nanya-nanya, tapi ntar aja lah. Kangmas Ridho nya baru aja siuman.


Badan papi Ridho rasanya remek banget, tiduran dibawah kayak gini, plus habis melintasi ruang dan waktu. Masih untung dia bisa balik lagi.


Dan kini pak Sarmin pun tersadar. Dia merasakan badannya yang semakin lemah.


"Syukurlah pakdhe nggak kenapa-napa," kata tante Luri.


"Bagaimana dengan Ridho?" tanya pak Sarmin, yang sekarang dipindah ke kamar tamu.


"Mas Ridho baik-baik aja, pakdhe. Alhamdulillah..." tante Luri yang duduk di samping tempat tidur pun ngambilin teh anget buat pakdhe nya.


"Minum dulu pakdhe," kata tante Luri.


Pak Sarmin yang udah nggak pergi ke pasar perkara udah tua pun, minum teh yang disuguhkan tante Luri.


"Gimana, pakdhe? kondisi Rion...? apakah dia bisa diselamatkan?" tanya tante Luri.


"Harusnya dia sudah selamat dan keluar dari dunia kegelapan, tapi entahlah ... untuk menelusuri lewat mata batin, sepertinya pakdhe belum mampu," kata pak Sarmin, dia melihat sekilas pada Om Karan.


"Yang jelas, dia sudah keluar dari jeratan raja iblis. Mudah-mudahan, dia sudah menemukan jalan pulang," kata pak Sarmin.


"Astaga anak itu membuat semua orang khawatir terus!" Om Karan cuma bisa mijitin pangkal hidungnya, kepalanya mumet mikirin keponakan satu yang bikin geger orangtuanya selama lebih dari 2 minggu.


Sementara di rumah milik Ridho Menawan. Telolet lagi nggak ada mata kuliah hari ini, dia glosoran aja di kamarnya sembari pikirannya ngawang-ngawang.


Tiba-tiba ada telpon dari Eza.


"Halo..." Telolet lemes.


"Bidadariku lagi ngapain?"


"Lagi napas!"


"Ya kalau nggak napas berarti udah metong dong?!" Eza berusaha menghibur.


"Gimana? udah kabar dari pencarian Rion?" Eza salah satu yang sering banget nanyain kabar Rion.


Telolet menggeleng, "Belum!"


"Ya ampun," Eza ikutan lesu.


"Harusnya kita dengerin omongannya abang, harusnya kita nggak naik..."

__ADS_1


"Emangnya gue nggak nyesel? Gue nyesel banget tau nggak, tapi kita nggak bisa berbuat apa-apa. Ini yang disebut takdir," kata Eza sok bijak.


"Pokoknya kabarin gue ya, kalau ada info tentang Rion..." lanjutnya.


"Hem..." Telolet berdehem dan langsung nutup telepon dari Eza.


Disisi lain, Rissa dan Rion yang tersedot di pusaran waktu pun nyatanya terpisah. Genggaman tangan Rion terlepas dari Rissa.


Dan sekarang, Rion terdampar di suatu padang rumput yang luas.


"Astagaaa, dimana lagi gueeee?" Rion tercengang saat melihat keadaan sekitar.


"Jangan bilang gue nyasar ke dimensi lain lagi? Rissa, dimana Rissaaa...?" Rion bergumam nggak jelas, dia celingukan mencari sosok Rissa.


"Hussssshhh, husshhhhh! ini waktunya kalian makan! aku ijinkan kalian berpesta pagi ini," teriak seorang gadis.


Rion menoleh dan melihat banyak domba yang tiba-tiba datang menyerbu Rion.


"Weeeyh weeeyhhhh! jangan serudug gue!" seru Rion. Tapi sayang, domba-domba itu kayaknya ngerti juga nggak bahasa Rion.


Mereka dengan brutalnya menyeruduh kaki Rion, "Astagaaaa, dibilangin jangan nyerudug malah nyerudug!" Rion kesel.


Dan terlihatlah seorang gadis dengan mata biru memakai baju terusan berwarna putih dengan model serut di bagian tangan dia melihat Rion dengan tatapan aneh.


Ya gimana nggak aneh, orang Rion pakai baju pangeran dari ufuk timur.


"Hah?" Rion berkedip berkali-kali saat melihat penampilan gadis berkulit putih dan dengan rambut blondenya.


"Tenang, gue bukan penjahit! eh, penjahat!" kata Rion dengan bahasa yang dimengerti gadis itu.


"Jangan mendekat!" kata gadis itu yang mengarahkan pecutannya. Sebuah benda yang digunakannya buat mengiring domba-dombanya.


"Sorry, gue Rion. Gue terdampar dari pusaran waktu, dan gue mau cari jalan pulang!" jelas Rion dua berusaha mendekat, tapi gadis yang wajahnya seperti boneka itu mengulurkan pecutannya.


"Stop! tetap berada di tempat anda, jangan coba-coba untuk mendekat..."


"Astagaaaaa, kenapa gue pakai nyasar segala sih????!!!" Rion mengusek rambutnya sendiri kesel.


Dari pakaian yang dikenakan gadis yang belum tau siapa namanya itu, Rion yakin kalau dia udah melakukan teleportasi. Dari masuk dunia iblis, sekarang terdampar di negeri orang, bener-bener random banget.


Yang dia ingat, dia mengikuti kawanan kupu-kupu saat masuk ke pusaran waktu.


"Jangan-jangan gue lagi di negeri dongeng?" gumam Rion lirih. Deuuuh, salah masuk pusaran waktu ini mah, Rioooon. Kok ya pakai nyasar segala, nyusahin pak Sarmin aja Lu!


Sedangkan di sebuah kastil, ada dua orang wanita yang lagi saling menatap.

__ADS_1


"Siapa kamu?" tanya seorang gadis dengan gaun mewah berwarna emas, rambutnya bergelombang di bagian bawah.


"Kenapa kau bisa masuk ke dalam kamarku?" tanya gadis itu.


"Dan kenapa wajahmu mirip sekali denganku?" lanjutnya, dia melihat Rissa dengan tatapan aneh.


Rissa hanya diam terpaku melihat sesosok gadis yang plek ketiplek mirip dengannya, hanya warna rambut mereka yang berbeda.


Rissa melihat ke sekelilingnya, 'Dimana aku sekarang?' batinnya.


"Bajumu aneh sekali," gadis itu bergerak menjauh.


"Kamu pasti peri jahat!" tuduhnya pada Rissa.


"Bukan, aku bukan orang jahat! Aku ... aku juga bingung kenapa aku ada di tempat ini," Rissa mencoba menjelaskan.


"Namaku Rissa, aku berasal dari masa depan. Aku masuk ke pusaran waktu dan .... arrgh, sulit sekali untuk menceritakannya saat ini. Tapi yang jelas dari pakaian yang kita kenakan, kita berasal dari negara dan tahun yang berbeda..." lanjut Rissa, berusaha meyakinkan gadis yang ada di depannya ini.


Namun tiba-tiba...


Tok!


Tok!


Tok!


Pintu kamar ini diketuk oleh seseorang.


"Puteri Odellia, pangeran clift ingin menemui anda..."


"Ya...! ehm, maksudku aku akan bersiap. Tunggulah sebentar," kata Odellia.


"Baik, tuan puteri...." kata wanita yang ada dibalik pintu.


Odellia mendekat pada Rissa yang penampilannya acakadul, sweater lengan sobek satu, dengan muka yang pucet dan ada darah di salah satu sudut bibirnya.


"Aku tidak tau, aku bisa mempercayaimu atau tidak. Yang jelas kamu tidak bisa sembarangan keluar masuk istana ini, apalagi dengan penampilanmu yang sangat aneh. kau akan dianggap sebagai ancaman..."kata Odellia yang seperti melihat dirinya sendiri.


"Aku akan keluar dan bersembunyilah di bawah tempat tidurku, kita akan bicara lagi setelah aku kembali," kata Odellia.


Sementara Odellia pergi, Rissa mengikuti saran dari gadis itu. Rissa bersembunyi dibawah ranjang yang mewah berwarna kuning keemasan, "Errrghhh, huuufh," Rissa dengan susah payah glosoran di lantai.


"Dimana Rion? astaga kenapa aku bisa terpisah sama dia," gumam Rissa sambil merogoh kalungnya.


"Kalungku? dimana kalungku?!" Rissa panik.

__ADS_1


"Apa kalungku juga musnah berbarengan dengan bola cahaya milikku???" Rissa berpikir keras.


__ADS_2