Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
59. Pergi Ke Kota


__ADS_3

Udah hampir 1 bulan Rion ilang dan belum ketemu. Selama itu pula dilakukan doa bersama tiap malam tanpa terputus satu hari pun.


Dan malam ini, pak Sarmin yang masih tinggal di rumah pak Karan pun diam-diam menggunakan kekuatan batinnya. Dalam keheningan malam, pak Sarmin duduk di atas sajadahnya.


"Tunjukkan ya Allah kemana sebenarnya Arion ini...." pak Sarmin memejamkan matanya. Batinnya mencoba menelusuri keberadaan anak yang mampu membuat kedua orangtuanya seakan hilang semangat beberapa waktu terakhir.


Pak Sarmin melihat bayangan Arion yang sedang tidur di sebuah gubug penuh jerami. Dia memakai baju yang sangat kuno.


'Arion, banguuun Naaak...' pak Sarmin mencoba memanggil batin Rion. Tapi mungkin karena kelelahan, Arion yang tidur dengan berselimutkan baju pendekarnya pun nggak terbangun juga.


'Arion ... Kakek akan mencoba mencarikan jalan keluar untukmu, karena kamu tidak boleh berlama-lama di alam mereka...' ucap pak Sarmin lagi.


Seeeeet!


Pak Sarmin membuka matanya, dia memegang dadanya. Ternyata meskipun kondisi tubuhnya sudah membaik, usia nggak bisa ngebohongin, sejenak memanggil Arion saja pak Sarmin merasakan lelah yang teramat sangat. Kalau ketemu, tuh bocah harus digaplok pakai gayung lope ya, Pak?


Sedangkan mami Reva, matanya belum juga terpejam. Dia ngeliat ke langit-langit rumah.


'Apa iya semuanya harus diakhiri? udah sebulan aku di rumah adek sepupu, aku ngrepotin banget disini. Kasian juga mas Ridho' batin mami Reva,


"Sayang? kamu belum tidur?" papi Riho memeluk guling hidupnya.


Mami Reva yang dipeluk pun mulai memejamkan matanya, "Ini aku baru mau tidur," kata mami Reva, dia merasakan papi Ridho semakin mengeratkan pelukannya.


"Tidur, udah malem, ikan bobo..." kata papi ridho sambil kreyep-kreyep matanya, ngantuk parah.


Lagi-lagi mata Reva yang hanya terpejam, tapi sebenarnya batinnya masih berkelana memikirkan anak semata wayangnya.


Sementara di kamar lain, Om Karan dibuka dengan tablet yang ada di tangannya. Tante Luri masih belum tidur, dia lagi baca buku.


"Sudah malam jangan baca buku terus. Sudah berapa kali kamu membaca buku itu?" Om Karan ngomentarin, tapi matanya fokus ke layar tabletnya.

__ADS_1


"Ya karena ceritanya nggak ngebosenin, Mas..." jawab tante Luri lembut, wanita yang sedang duduk di ranjangnya dengan diganjal bantal itu pun seketika bertanya mengenai sesuatu yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya.


"Kamu pasti khawatir banget ya, Mas?" suara tante Luri membuat Om Karan menoleh.


"Tentang Arion?" Om Karan memastikan topik pembicaraannya benar.


Tante Luri balik menatap suaminya, dia mengangguk pelan, "Iya ... sudah satu bulan ini, Rion belum juga ada kabarnya, kamu pasti khawatir banget, Tapi apapun itu, tetap jaga kesehatanmu, Mas...."


"Reva pasti yang lebih khawatir, entahlah ... apa mungkin anak itu ditemukan dalam waktu dekat ini, atau  kita harus menunggu waktu yang lebih lama lagi. Kamu nggak keberatan kan kalau Reva sementara tinggal disini dulu? kalau di rumah dia sendiri, takutnya dia akan kabur entah kemana buat nyariin Arion. Disini saja dia pernah kabur ke rumah pak sarmin kan? kalau Reva kabur dengan pikiran kalut, itu lebih akan menyusahkan lagi," Om Karan tumben-tumbenana ngomong panjang lebar kayak kereta.


"Iya, Mas. Aku nggak pernah keberatan, kok. Ada mbak Reva, mas Ridho dan juga pakdhe Sarmin membuat rumah ini semakin ramai..." tante Luri nggak mau suaminya beranggapan kalau dia nggak suka kalau Reva numpang mulu di rumah mereka. Om Karan hanya menjawab dengan senyuman sekilas dan anggukan pelan.


"Sebaiknya kita tidur, sudah larut malam..." Om Karan menaruh tablet yang ada di tangannya di atas nakas.


"Iya, Mas..." Tante Luri pun menaruh buku novel kesukaannya, lalu memadamkan lampu tidur


Dan mereka pun masing-masing dijemput ke alam mimpi oleh rasa lelah dan kantuk yang udah menggelayut.


Sedangkan Arion, dalam mimpinya dia mendengar suara seorang kakek-kakek yang memanggi namanya. namun begitu syulit bagi Rion untuk sekedar membuka matanya.


"Hoaammm, jam berapa nih?" Rion kebangun, dia mencoba pasang telinga. Nyoba ngedengerin kali aja ada suara ayam berkokok. Yeuh si Rion emang. Kayaknya belum sadar dia , kalau dia lagi holiday ke negeri orang.


Karena penasaran, dia pun buka pintu, "Udah subuh kayaknya...." ucap Rion.


Karena nggak  mungkin ke rumah Defne untuk ngambil wudhu, dia tayamum aja udah. Setelah ngelakuin kewajibannya, Rion keluar buat nyari air.


Tapi emang rejeki, baru juga buka pintu lagi, eh ada Defne. Dia bawa roti sama sebotol susu.


"Ngapain lu pagi-pagi kesini?" tanya Rion,


"Roti dan susu, sebelum kamu pergi..." kata Defne yang ketus tapi aslinya mah baek.

__ADS_1


Gadis yang berdiri di hadapan Rion ngasihin keranjang yang ada di tangannya, dan Rion menerimanya dengan senang. Alhamdulillah, perut nggak jadi keroncongan kan gitu.


"Ya, terima kasih..."


"Pagi ini aku akan ke kota, kalau kau ingin kesana. Kita bisa pergi bersama dan berpisah disana...." kata Defne.


Rion nimbang-nimbang tawaran dari Defne si cabe setan, setelah beberapa saat berpikir dia pun memutuskan untuk, "Oke, gue ikut elu ke kota..." kata Rion.


Defne cuma bisa nangkep kalau Rion bakal ikut sama dia ke kota, gitu lah kira-kira. Setelah sarapan yang super kilat, Defne nganter Rion ke sungai yang super jernih buat cuci muka, mereka kembali ke kandang kuda


"Kamu bisa menaiki kuda, kan?" Defne mengelus kuda yang berwarna cokelat.


"Bisa!" jawab Rion takut dianggap remeh sama si cabe setan.


Defne ngeluarin dua kuda, buat mereka naiki.


'Kagak pake mobil aja gitu? kan lebih cepet!' batin Rion, dia ngelus kudanya. Nggak nyesel pernah les naik kuda beberapa taun yang lalu, akhirnya skill itu bisa menolongnya disaat genting kayak gini.


Kalau Rion dasarnya mata keranjang dan lidah buaya, pasti udah kesengsem sama si Defne. Secara muka tuh bocah cantik kayak boneka, apalagi matanya yang bikin pengen natap terus gitu saking bagusnya.


Melihat Defne yang kesusahan buat naik, Rion pun berinisitaitif buat ngangkat pinggang gadis itu dan 'hap' gadis itu duduk anteng di pelana kuda. Defne yang mendapat bantuan secara tiba-tiba pun kaget, dia merasa deg-degan nggak jelas.


Dan baru juga duduk diatas, Defne baru nyadar kalau sarung tangannya ketinggalan di dalam gubug. Kan sakit kalau narik tali kuda nggak pakai sarung tangan.


"Eh, eh, mau kemana lu?" tanya Rion yang melihat Defne mau turun dari kuda, tapi karena Defne kurang hati-hati kakinya kepleset dari pijakan besi yang buat naik turun kuda.


Dan...


Hap!


Tubuh Defne nggak jadi jatuh ke tanah, tapi jatuh di pelukan si abang, abang Rion.

__ADS_1


Rion segera menurunkan Defne, 'Jangan sembrono! lebih hati-hati saat turun dari kuda!" kata Rion memperingati.


"Ya, tentu! terima kasih," Defne ngibrit ke dalam gubug buat ngambil sarung tangannya yang tertinggal. Setelah nemuin tuh barang yang ada di meja, lantas defne memukul kepalanya, "Astagaaa, apa yang aku pikirkan?!" Defne  menggelengkan kepalanya.


__ADS_2