
Semua orang berdiri tak terkecuali mami Reva. Dia memandang seseorang yang dulu ngebet banget sama Ridho yang kini menjadi suaminya.
"Ngapain kalian disini?!" intonasi suara tante Karla naik.
Mami Reva membuangĀ wajahnya, dia malas menatap orang yang sampai kapan pun akan membencinya.
"Karla," bu wati menghampiri anaknya.
"Biyung, ngapain mereka datang kemari?" saat ini tante Karla udah keluar tanduk, melihat kedua orang yang memiliki masa lalu buruk dengannya.
"Duduk dulu, biar biyung jelaskan..." bu wati sedang mencoba ngadem-ngademi anaknya yang udah panas.
"Maaf, Karla. jangan bersikap kasar dengan ibumu, hanya karena beliau menerima kami di rumahnya. Kami berdua akan segera pergi dari sini...." ucap papi Ridho.
"Kalian duduklah, sudah saatnya kalian berdamai dengan masa lalu..."kata bu Wati.
Wanita yang udah berumur itu pun menggandeng anaknya buat duduk, "Mau sampai kapan? awalnya kalian ini berkawan baik, hanya karena masalah cinta hubungan yang awalnya baik sekarang jadi rusak,"
Tante Karla cuma naikin satu sudut bibirnya, dia yakin kalau pasangan kamvret itu datang karena mereka ada masalah. Sekarang mereka duduk berhadapan, beberapa saat tanpa ada yang bicara.
Ada kekhawatiran yang terpancar dari wajah tante Karla, dan itu membuat biyung menanyakan sesuatu, "Apa terjadi sesuatu?"
"Ya..." ucap tante Karla seakan menyiratkan sebuah kesedihan yang saat ini udah nggak bisa lagi ditahan, meskipun di hadapannya kini ada orang yang nggak pengen dia liat.
"Bu Wati, sepertinya kami berdua harus pamit," papi Ridho, dia berdiri begitupun dengan Reva.
"Apa tidak tinggal dulu sebentar?" bu Wati dan Karla pun berdiri.
Mami Reva tau kalau si Karet bungkus nasi padang ini lagi ngeliatain suaminya, sambil ngelipet tangannya tuh di depan dada sok kecantikan banget
"Baiklah kalau begitu, hati-hati dijalan..." ucap bu Wati.
Mami Reva hanya senyum sekilas pada bu Wati, tapi nggak pada janda yang satu itu.
"Permisi," papi Ridho menggandeng istrinya buat keluar dari rumah itu, menuju mobil mereka.
Sedangkan Karla, mengajak biyungnya buat masuk ke dalam. Ada yang lebih penting daripada nanyain kenapa dua orang itu datang ke rumah ibunya setelah sekian purnama
"Huuufhhh! biyung, biyung harus bantu aku..." ucap tante Karla.
__ADS_1
"Apa ini tentang Karissa?" tanya bu Wati, tante Karla mengangguk.
"Ini semua karna laki-laki nggak bertanggung jawab itu! aku nyesel banget biarin Karissa hidup dengan dia!" keluh tante Karla.
"Ya, biyung beberapa kali Karissa hadir dalam mimpi biyung. Biyung kira itu hanya mimpi biasa, karena udah lama Biyung nggak pernah mimpi yang aneh-aneh," ucap bu Wati pada anaknya.
"Jadi, Karissa tau-tau pergi dari rumah. Nggak tau kapan, terus dia nggak balik-balik sampai sekarang. Kalau aku nggak ke rumah dia, pasti aku nggak tau kalau anakku kabur-kaburan kayak gini!" jelas Karla.
"Sabar, nanti kita coba cari tau, kemana dia pergi..." ucap Biyung yang beberapa hari ini memiliki firasat buruk.
.
.
.
Sedangkan di hutan kegelapan.
Rion udah berhasil menemukan Rissa. Tapi saat ini dia bersembunyi, karena dihadapan Rissa banyak banget roh jahat yang mengelilinginya. Sesosok berjubah hitam yang tinggi dan kurus.
Wuuzzhhh!
Salah satu menyalakan obor api yang tertancap di berbagai sudut. Serta ada satu pot besar yang terbuat dari batu, yang disitu menyala api yang besar.
'Rissa, gue ada disini. Gue bakal nolongin elu Rissaaa...' batin Rion. Dia mencoba mengontak Rissa tapi nggak ada jawaban sama sekali dari gadis itu.
Rion bersembunyi di balik sebuah pohon besar, dia memanjat dengan kekuatan super yang dimilikinya saat ini. Sebelumnya dia melindungi dirinya dari penciuman roh jahat yang jaraknya nggak jauh dari tempatnya ningkring. Nggak percuma latian manjat tiap hari ya, Yon!
'Gue harus bertahan disini dulu sampai gue nemu moment yang tepat buat bawa Rissa pergi. Gue yakin, mereka nggak bakal ngecium bau-bau manusia,' batin Rion.
Dan lagi fokus ngawasin Rissa yang ditawan, tiba-tiba ada selentingan suara perempuan, "Aku bisa membantumu kalau kamu mau,"
'Ya ampuuun, masih aja dia ngikutin gue! gue capek banget berurusan sama demit!' batin Rion.
"Aku nggak jahat, aku cuma pengen pergi dari tempat ini, sama kayak kamu!," ucapnya lagi.
Dari suaranya yang lemah lembut, Rion merasa kalau perempuan ini nggak jahat, kemudian pemuda itu mengedarkan pandangannya, tapi dia nggak melihat sosok yang dicarinya.
'Nggak ada?' batin Rion, dia udah celingukan tapi nggak ada sosok yang ditangkap oleh indera penglihatannya.
__ADS_1
"Kamu mencariku? aku disini," seekor kupu-kupu berwarna cokelat hinggap di bahu Rion.
"Kupu-kupu?"
Dan triiiiinggggg lalala yeyeye lalala yeyeye
Kupu-kupu itu, berubah menjadi sesosok peri kecil.
"Random banget asli!" gumam Rion, dari ketemu para silaumen alias siluman, lah kok ini malah ketemu peri.
Rion cuma bisa geleng-geleng kepala, saking absurdnya kejadian yang dia alami sekarang.
"Elu ini peri? kenapa elu berada di tempat kayak gini? bukannya para peri hidup di dunia dongeng? kenapa elu malah nyasar ke negeri antah berantah kayak gini? salah jurusan apa gimana lu?" Rion malah jadi kepo.
"Ya, benar! aku nggak sengaja masuk ke dalam pusaran kegelapan saat aku kabur-kaburan dari para kelompok peri," peri itu yang semula duduk di pundak, kini berjalan ke punggung tangan Arion.
"Terus caranya elu nolongin gue? gaya banget lu tadi nawarin bantuan ke gue buat keluar dari sini, sementara lu aja nyasar dimari?"
"Karena aku nggak sengaja melihat kamu. Aku lihat kamu bukan manusia jahat, aku sudah menghubungi peri yang lain untuk membobol portal itu dan sebentar lagi pasti mereka akan berhasil mengeluarkanku dari sini!" kata peri itu.
"Oh ya, daritadi aku belum ngenalin diri, namaku Catalina, panggil aja, Keket!" ucap peri itu.
"Keket? ulet Keket?"
"Keket nggak pakai ulet!" peri kecil ini pundung.
"Ya ya, terserah elu dah! mau Keket kek mau kucing kek, yang penting sekarang target gue mau nyelametin temen gue dulu!" kata Rion.
"Temen kamu yang perempuan itu kan?"
"Bukan! yang pegang obor!" sahut Rion asal.
"Itu mah roh jahat!"
"Ya udah tau pake nanya, ya iyalah yang cewek. Yang lagi diiket! gue mau nolongin temen gue itu. Gue nggak akan ngebiarin dia ngorbanin diri buat gue, apapun alasannya!" Rion menatap tajam ke arah Rissa yang udah sangat lemah.
Perlahan dari tanah keluar sebuah pot besar , dengan kaki pot setinggi satu meter, sedang mulut pot itu berbentuk lingkaran dan di dalamnya ada air yang mengeluarkan asap putih.
Salah satu dari roh jahat itu membawa bola cahaya milik Rissa yang dia keluarkan dari salah satu kotak berwarna tembaga, "Suruh dia menempatkan diri! karena kita akan memulainya sekarang!" ucapnya pada Rissa, ya karena bola cahaya hanya akan menurut pada tuannya.
__ADS_1
"Cepat katakan!!!! suruh bola cahayamu itu menempatkan dirinya pada posisi yang benar!" ucap roh jahat itu lagi.
Rion terbelalak saat mendengar suara besar dan menggelegar itu, 'Gue nggak punya waktu lagi! gue harus bergerak cepat,' batinnya.