
"Kamu tidak bisa terlalu banyak menggunakan kekuatanmu, Rissa!" suara seorang seorang wanita.
Loren melihat sebuah pohon besar yang ada lubang di tengahnya.
Krekkkk!
Krekkkk!
Pohon tua dengan akar serabut yang bergerak-gerak itu membuat Loren mundur beberapa langkah, takut kesambit ceunah.
"Aarrgh," lubang di pohon bergerak seperti mulut yang mau nyap-nyap, "Uhuuukkk!" pohon itu seakan terbatuk, mengeluarkan dua ekor burung yang kemudian terbang ke angkasa.
"Pergi dan menyingkirlah sana! aku mempunyai firasat buruk!" suara wanita itu terdengar lagi.
"Tapi, dia masih membutuhkanku. Aku nggak mungkin membiarkan dia begitu aja!" sahut Loren.
"Tempat ini tidak baik untukmu!" Suara itu kembali memperingatkan Loren, kemudian dia melanjutkan ucapannya, "Aku yakin jika ayahmu tau, kau pergi begitu saja. Kau akan dapat masalah!"
"Aku bisa aja pulang, tapi bagimana dengan Rion? mereka mungkin sedang mengincarnya!" Loren menggeleng, dia membayangkan hal buruk yang bisa terjadi.
"Iya tapi bukan berarti kamu memberikan setengah kekuatanmu padanya! bagaimana jika mereka menyerangmu sedangkan kamu sendiri tidak lebih kuat dari mereka?!"
"Itu, aku----"
"Ssstttt, ada yang datang! nanti kita bicara lagi," sosok itu pergi, pohon yang tadi sempet gerak-gerak sendiri, sekarang dia kembali seperti pohon biasa pada umumnya.
"Hey? elu ngomong sama siapa?" tanya Mova, menatap Loren penuh curiga.
"Bukan sama siapa-siapa!"
"Gue nggak budek, elu itu tadi lagi ngomong!"
Loren nggak menjawab, dia mengambil ranting yang dikumpulkannya dan balik ke tenda.
"Junior sekarang pada berani semua ya, nggak ada hormat-hormatnya sama senior?!! Ya ampun, sabar, sabar...." Mova ikutan balik ke tenda.
Dia mau nyusulin si Loren, sekalian mau kasih ultimatum 'Rion itu gebetan gue dari jaman Maba! please elu elu junior nggak usah pada sok kecakepan! nggak usah ngrebut gebetan orang!'.
Yeuuuh Mova elu kira si Rion barang main cap cip cup yang lain nggak boleh ikutan ngechyuuuup.
Kali ini Rion nyamperin Loren yang dateng bawa rating-ranting pohon.
"Disuruh siapa?" Rion nggak pakai basa basi.
Loren geleng kepala, "Ini mau ditaruh dimana?" bukannya ngejawab, Loren malah balik nanya.
"Kita udah ada kayu bakar, ngapain nyari lagi!" Rion ngambil semua ranting-ranting pohon dari tangan Loren.
__ADS_1
"Bener-bener ya si Mova!" Rion udah diubun-ubun keselnya.
Tadi dia sempet pergi buat ngecek sumber air yang ada si sekitar situ. Pas udah ketemu, ya udah dia balik ke tenda. Dan pas nyampe, kok si Loreng nggak keliatan. Baru mau nyari eh, dia ngeliat gadis itu lagi jalan di depan Mova, sambil bawa ranting kayu di tangannya.
"Kita gabung sama yang lain!" ajak Rion pada Loren.
Sementara Mova yang tadinya nyari Loren, dia juga kan ikutan balik ke tenda. Dan ngeliat tuh si anak baru dan anak manja lagi ngobrol sama Rion.
"Astagaaaaaaaaaa, merekaaaa bikin emosi gue naik mulu!" batin Mova.
Sedangkan Thalita yang liat Loren udah balik langsung merepet, "Udah balik lu? baru aja guweh mau nyuruh bang Eza buat nyariin. Lagian kenapa mau-mau aja sih disuruh-suruh sama dia?"
"Mova?" tanya Rion pada Telolet.
"Taaahhh etaaaa! si judes itu!" Telolet nunjuk ke arah Mova yang baru nyampe.
"Thalita..." Loren gelengin kepala.
"Biarin aja kali, Ren! emang dia yang nyuruh kok! kalau kita nyasar? dikejar macan gimana? emangnya dia mau tanggung jawab?" Telolet gedeg banget sama senior yang sukanya sok galak biar diatutin sama junior.
"Lu pada istirahat aja di tenda. Noh tenda elu yang disana!" Rion nunjuk tenda berwarna koneng.
"Kok tenda guweh beda sendiri?" Telolet menyadari kalau tenda buat dia lebih kecil dan warnanya berbeda dengan tenda yang lain yang warnanya biru.
"Cukup buat lu sama Loren! kita lagi mendaki bukan nginep di hotel, jadi jangan kebanyakan protes!" Rion yang kemudian meninggalkan kedua gadis itu dan nyamperin si biangkerok.
Sementara Mova yang tau sang ketua nyamperin dia, langsung dong, rapih-rapih baju, benerin rambut, ala-ala cewek mau ketemu gebetan gitu.
Rion dengan rambut yang diiket ke belakang menatap Mova sengan tatapan dingin, "Jangan nyuruh anak baru buat nyari sesuatu di hutan sendirian, entah kayu atau air atau apapun itu! kalau ada yang tersesat, yang ada kita yang repot!"
"Maksud gue tuh---"
"Gue tau!" serobot Rion.
Dia nggak mau denger Mova merepet lagi jadi dia balik lagi berkumpul dengan para cowok buat mastiin persiapan buat ntar malem.
"Rion!" Mova manggil, tapi Rion sama sekali nggak mau noleh.
Mova pun nyusul si laki-laki tampan dan menawan itu. Dikiranya Rion dateng buat ngobrolin apa gitu sama dia, kan lumayan bisa tepe-tepe, eh taunya cuma mau kasih teguran. Amsyong beneeeerrrr!
Rion bersama Adam, Eza dan Slamet duduk. Lagi bikin kopi mereka sedangkan anak-anak yang lain lagi angrem di dalam tenda. Dan sebagian lagi benerin tendanya yang doyong mulu kena angin.
Mova dateng dan ikutan nimbrung.
"Bisa duduk di bawah lu?" tanya Eza pada Mova.
"Ya bisa lah! emang kenapa?" jawab gadis jagger itu ketus.
__ADS_1
"Ya nggak kenape-nape, kirain lu bisulan. Soalnya kerjaannya marah-maraaaah mulu!" kata Eza.
"Apa lu bilang?!!!" suara Mova meninggi.
"Lu udah pada khatam naik gunung tapi nggak ada kapok-kapoknya ya ribut pas lagi di tengah hutan begini? dicomot dedemit baru tau rasa lu pada!" Slamet mencoba menengahi.
"Mulut dia tuh lemes banget tau, nggak?!" Mova nggak mau disalahin.
Eza baru aja mau mangap, nggak jadi setelah denger suara Rion, "Nggak usah disautin lagi, Zaaa!" Rion ngingetin Eza, konco sengkleknya yang punya cita-cita jadi wong sugih.
Suasananya yang tadinya enak, mendadak kok beda. Agak sintruh atau anyep gitu. Dan kalau di perhatikan, ada beberapa kawanan burung yang terbang di bawah langit yang berwarna oranye, suara empritan mereka kedengeran jelas banget.
Slamet mendongak, "Nggak biasanya hawanya kayak gini deh,"
Dan tiba-tiba ada satu burung yang turun, tepat di depan Rion, dia mengeluarkan suaranya.
"Burung kedasih?" Slamet nyeletuk.
"Hussshhh! hussssshhh! pergiii sana!" laki-laki itu mengusir burung yang menatap Rion sekilas sebelum terbang lagi menuju sebuah dahan.
"Lu sensitip banget sama burung, Met? main usir aja!" Adam heran dengan sikap Slamet.
"Lu nggak tau itu burung apaan?" Slamet menatap temen-temennya. Dan mereka pun menggeleng, ya kali mereka hafal jenis burung satu-satu.
"Itu burung kedasih. Konon burung itu pembawa kabar kematian atau kabar buruk gitu," wajah Slamet serius.
"Lu idup dijaman purba apa gimana, Met? jaman sekarang kok percaya tahayul?" Eza menimpali.
"Ya percaya nggak percaya! makanya emak gue kasih nama gue Slamet, biar gue selalu slamet dimana pun gue berada!"
"Yang ada lu tuh berdoa supaya pacar lu jangan cepet-cepet sadar, punya pacar model kayak elu, Met!"
"Halah, kayak elu laku aja!" Slamet balik ngatain Eza.
"Yee, lu kagak tau aja, bentar lagi kan gue sama Rion saudaraan!"
Dan....
KRUWESSSSS
Bibir Eza monyong 5 senti setelah dapet kruwesan dari tangan Rion.
"Yang kamu lakukan itu jahaaadddd!" Eza pegangin bibirnya yang dower.
"Jangan pada ribut, udah senja!" Rion ngingetin temen-temennya.
"Jangan lupa siapin api unggunnya!" Rion bangkit, dia main nyuruh aj kayak bos.
__ADS_1
Rion pergi menjauh dari temannya, dia berhenti sejenak dan mendongak melihat burung yang seliweran diatas sana, "Apa iya, mereka pembawa kabar buruk?" gumamnya.