Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
117. Separuh Nyawa


__ADS_3

Pagi harinya...


Sesuai rencana, Rissa hari ini pindahan rumah. Ada satu mobil pick up yang sengaja dia sewa untuk ngangkut barang-barangnya. Karena lumayan banyak juga itu baju, sepatu papanya aja segambreng. Belum lagi dokumen-dokumen penting, jadi pindahan kali ini membuat Rissa semalaman suntuk nggak tidur.


"Kita nunggu siapa, Pah?" tanya Rissa yang berdiri di depan rumahnya bersama papa nya.


"Nunggu orang yang membeli rumah ini. Nah itu dia, kita harus menyerahkan kunci rumah ini dulu," Om Dera menunjuk sebuah mobil yang masuk dan diparkir tepat di samping mobil pick up yang disewa Rissa.


Ada sepasang suami istri yang keluar dari mobil putih itu, "Pagi, Pak Dera..."


"Pagi, Pak Hans!"


"Maaf, jalanan sedikit ada kendala, jadi kami terlambat datang kemari,"


"Tidak apa-apa, saya cukup mengerti. Tapi maaf, kami tidak bisa berlama-lama. Ini kunci rumah beserta surat-suratnya, sudah lengkap..." kata Om Dera.


"Terima kasih," ucap pak Hans, dia melihat sekilas sebuah map yang diberikan Om Dera padanya.


"Baik, terima kasih pak Dera..." ucap pak Hans.


"Kalau begitu kami permisi," ucap Om Dera yang menggandeng tangan anaknya.


"Hati-hati di jalan, Pak..."


Rissa dan papanya berjalan menuju mobil pick up berwarna hitam.


"Papa duduk di depan aja, biar Rissa naik di belakang,"


"Jangan, kamu disini saja. Biar papa yang duduk dengan barang-barang kita,"


"Nggak apa-apa, papa di dalem aja. Rissa udah biasa kok," Rissa memaksa papanya untuk duduk di depan bersama supir, sedangkan dia duduk bersama koper-koper dan barang-barang pribadi lainnya seperti lukisan dirinya dan papanya sewaktu dia masih kecil.


Mobil pick up itu berjalan keluar menjauh dari area rumah yang udah Rissa tempati sejak lama. Banyak kenangan manis ataupun kenangan buruk yang terpatri di bangunan itu.


"Setelah ini kita akan menjalani kehidupan yang baru, Pah..." gumam Rissa, dia duduk dengan memeluk lulutnya sendiri.


Rion yang terhubung seutas benang rindu dengan Rissa pun hanya bisa memimpikan gadis itu.


"Astagaaaa, kenapa dengan dia? kenapa perasaan gue jadi nggak enak," Rion memegangi dadanya yang deg-degan.


Dia ngeliat sekitar, kamarnya sepi, "Kemana mereka?" Rion bergumam sendiri.


Dan ketika matanya melihat jam wekker di sping tempat tidurnya, "Jam 11 siang?"


Rion memegangi kepalanya sendiri, "Perasaan gue cuma ngeliyep,"

__ADS_1


Semalaman sebenernya perasaan Rion nggak enak, dia pikir dia belum terbiasa dengan kamarnya lagi. Tapi nggak, perasaannya merujuk pada satu nama yang sangat dia ingin temui.


"Gue harap nggak terjadi apa-apa sama elu, Sa. Sorry gue nggak bisa jagain elu lagi," ucap Rion.


Mulai hari ini Rion harus ngeberesin kuliahnya. Dia bahkan lupa dengan janjinya mau ketemu sama Mova, sampai gadis itu sendiri yang meneleponnya.


"Ya, halo. Ini siapa?" tanya Rion yang nggak nengok siapa yang nelfon dia.


"Elu nggak nge-save nomor gue? ehm?" suara perempuan yang familiar ditelinganya.


Rion cuma dehem aja, "Ya, ada apa?"


"Gimana keadaan elu?" tanya Mova.


"Baik,"


"Syukurlah, kalau aku pengen ketemu boleh?"


"Ya, tapi buat sekarang ini aku lagi sibuk," ucap Rion datar.


"Oke, aku tunggu..." ucap Mova yang kemudian menutup panggilannya.


Rion sedang mengurus skripsinya, kalau teman-teman yang lain harus bertatap muka dengan dosen pembimbing, Rion cukup mebgirim file skripsinya. Dan otaknya yang emang tokcer, turunan dari papinya bikin sesuatu hal yang dikerjainnya bisa cepet kelarnya.


Tok!


Tok!


Tok!


Mbak Rina masuk dengan membawa nampan yang berisi makanan, "Mas Rion, ini buburnya..."


"Taruh situ aja, Mbak. Makasih," Rion nggak melepas matanya dari layar leptop. Sedangkan tangannya sibuk mengetik.


Mbak Rina keluar, tapi ada suara pintu yang dibuka lagi.


"Ada apa lagi, Mbak?" tanya Rion yang lumayan keganggu dengan suara pintu yang dibuka lalu ditutup.


"Ini mami, Rion..." ucap mami Reva.


"Oh,"


Mami Reva mendekati anaknya. Dia melihat aura anaknya sekarang beda, jadi lebih dingin dan lebih cuek. Sangat berbeda dengan Rion yang dulu yang masih ada sengkleknya.


"Kamu lagi ngapain?"

__ADS_1


"Ngerjain skripsi,"


Mami Reva duduk di samping Rion yang lagi duduk di sofa, "Mami ganggu ya?"


"Lumayan!"


Bukannya merepet, mami Reva malah sedih mendengar jawaban Rion yang terdengar ketus.


Rion mendengar mamjnya srot srot narik ingus, "Kenapa, Mam?" tanya Rion saat melihat maminya udah bleweran air mata.


Mami Reva gelengin kepala, "Nggak apa-apa,"


"Ya udah mami keluar, ya?" mami Reva keluar dari kamar Rion. Tapi kali ini Rion nggak ngeiyain, dia fokus aja dengan apa yang ada di depan matanya.


Mami Reva menutup pintu dengan perasaan yang sedih, lalu dia mengambil tas dan pergi ke perusahaan suaminya.


Mami Reva membawa mobilnya sendiri, kebetulan papi Ridho membelikan mobil yang cuma bisa gas rem gas rem, yang bisa auto pilot. Pokoknya yang bisa memberikan kenyamanan buat istrinya itu. Dam pas di lampu merah, dia ngeliat ada seorang gadis yang memakai celana jeans dan kemeja berwarna putih dengan oversize yang sengaja dimasukkin, dia duduk di sebuah mobil pick up terbuka dengan tangan yang dia taruh diatas kepala.


"Bukan itu cewek yang ilang bareng Rion? mau kemana dia? kok sendirian? dimana si karet gelang? apa jangan-jangan dia ditelantarin si Karla?" mami Reva yang mobilnya berada di belakang mobil pick up saat ada lampu merah.


Dan ketika lampu ijo menyala, mobil pick up itu melesat jauh. Dan mami Reva yang takut dan ogah ngebut pun, udah ngebiarin aja. Nggak ada niatan buat ngejar juga.


"Apa Rion berubah karena cewek itu? tapi apa istimewanya anaknya Karla? apa semenarik itu?" mami Reva geleng-geleng kepala, bayangin kalau anaknya Karla itu nggak jauh beda sama emaknya.


Mami Reva belum begitu kenal, karena pertemuannya sangat singkat. Tapi dari cara anaknya memperlakukan gadis itu, mami Reva yakin kalau anaknya itu udah menaruh hati. Semakin lama di jalan, pikirannya makin nggak karuan.


"Tapi Rion kayaknya nggak nyariin, iya. Dia nggak nyariin cewek itu," ucap mami Reva mencoba menetralkan hatinya yang udah grasak grusuk nggak tenang. Dia nggak tau aja kalau anaknya seperti udah kehilangan setengah nyawanya, karena dipisahkan dari perempuan yang dicintainya.


Mobilnya dia parkirin di depan, nggak masuk basement.


Mami Reva masuk ke dalam, aura boss masih melekat di dirinya.


"Selamat siang, Bu...?" ucap para staff yang berpapasan dengan wanita yang masih cantik diusianya yang nggak lagi muda itu.


"Siang," jawab mami Reva yang menyingkirkan kesan sombong.


Dia naik lift menuju ruangan suaminya.


Ting!


Dengan langkah cepat, dia setengah berlari dan berhenti tepat di depan ruangan yang menjadi tujuannya.


Dia menarik handle,


Dan...

__ADS_1


Mami Reva terkejut melihat pemandangan di depannya, "Jauhkan tanganmu dari suamiku!"


__ADS_2