Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
159 Bugh!


__ADS_3

Udah nggak keitung berapa kali Thomas mencoba menghubungi Rissa. Sedangkan hape Rissa dia titipin sama Rion dan benda itu lagi angrem di kantong sengaja di-silent mode.


"Astaga, kenapa nggak bisa dihubungi? sebenernya kamu kemana, Rissa?" gumam Thomas.


Saking riweuh dengan persiapan pernyataan cinta yang segambreng, Thomas sampai lupa buat ngehubungin Rissa lagi. Dia mikirnya kemarin kan udah janjian mau ngajak makan, jadi Thomas ngertinya ya Rissa udah tau lah buat siap-siap kali aja Thomas ngasih tau jam berapa mereka mau ketemuan. Padahal boro-boro, Rissa nya aja lupa kalau dia ada janji sama Thomas. Pikirannya tertuju sama papa nya yang lagi operasi.


Thomas yang di datengin seorang pelayan yang nanya jam berapa menunya akan dikeluarkan pun hanya dijawab sama Thomas kalau nanti dia bakal ngasih tau kalau wanitanya udah perjalanan ke restoran itu. Soalnya lumayan modal banget nih Thomas yang sengaja nungguin berniat buat makan malem fine dining, sambil ngasih cincin. dia udah minta pemain biola juga buat ngiringin mereka makan, dengan sebuah bunga yang sengaja dia umpetin buat nanti dikasih ke Rissa.


"Apa terjadi sesuatu sama Rissa?" Thomas bergumam.


Pasalnya mobil mevah yang sengaja Thomas pesen buat jemput Rissa daritadi tuh nelponin mulu, bilang kalau ' Kayaknya rumahnya sepi', lah denger rumah yang disewa Rissa sepi kan Thomas juga auto khawatir. Takut Rissa kenapa-napa.


Dichat dari pagi nggak dibales, dan saat ditelpon juga nggak ngangkat. Tapi karena semua udah terlanjur Thomas siapin ya udah go ahead aja udah, jalan terus pantang mundur.


"Jangan-jangan dia lagi sakit? sampai nggak bisa nyalain lampu rumah?" Thomas berasumsi sendiri.


Waktu terus berjalan, sementara orang yang ditunggu Thomas nggak dateng juga. Padahal dia udah nelponin mulu sampai kuping dia panas. Dia juga udah nge-chat kalau itu mobil yang ngejogrog di depan rumah itu mobil yang sengaja buat jemput dia. Tapi ditungguin nggak ada kabar sama sekali. Sampai akhirnya tamu-tamu yang lain udah mulai pada pulang, Rissa belum dateng juga.


Pelayan di restoran itu gantian nanyain kapan menu mereka akan dikeluarkan, karena sebentar lagi restoran mereka akan tutup. Namun kali ini, Thomas nggak lagi menjawab 'Ya nanti setelah wanita yang saya tunggu datang' melainkan  'Keluarkan billnya sekarang...!' yang artinya Thomas udah nggak mau nunggu lagi, dia mau pergi dari restoran itu dan membayar semua menu yang dia pesan, termasuk jasa pemain biola yang daritadi magabut di sana.


"Harusnya gue daritadi ke rumah Rissa, bukan nungguin disini sampai berjam-jam?!" Thomas mengambil mantelnya dan meninggalkan bunganya begitu saja di atas meja yang udah dihias dengan lilin yang cantik.


Thomas hanya mengantongi cincin yang akan dia berikan sebagai tanda cintanya, kalau itu nggak mungkin ditinggal. Harganya mehong, cyiiiiint!


Thomas pergi dengan hati yang gundah gulana dan merana.


Sedangkan di tempat lain, Rissa yang sudah selesai makan malam bersama, sekarang berada di kamar Rion bingung nggak bisa istirahat dengan masih memakai gaun pengantinnya. Dia duduk di sofa, sementara Rion masih ngobrol di ruang makan bersama pak Sardi dan juga Lukman.

__ADS_1


Ceklek!


Tiba-tiba Rion masuk. Loh kok malah duduk? aku kira kamu udah tiduran,"


"Kayaknya aku mau ke rumah sakit aja, Rion..." kata Rissa.


"Aku nggak tenang kalau nggak nemenin papah," lanjutnya.


Rion ikut duduk di samping Rissa, "Kamu kan denger sendiri, papah belum bisa dijenguk. Masih diobservasi. Percuma kamu nungguin disana, yang ada kamu kecapean dan malah sakit,"


Rissa terdiam sesaat, "Kalau gitu aku mau pulang aja, Rion..."


"Pulang kemana? kita udah nikah, jadi rumahku ya rumah kamu juga, jangan bilang kamu nggak ingat kalau kita udah sah jadi suami istri?" Rion menunjukkan sebuah cincin yang tersemat dijari keduanya. Mereka mengingat momen-momen sakral dimana pernikahan sederhana itu terjadi di hadapan papa Rissa.


"ya, tentu aja aku masih ingat..." Rissa ragu buat ngomong, tapi akhirnya dia menatap wajah Rion yang ganteng itu, "Aku pengen ganti baju, aku udah pakai gaun ini seharian. Aku takut jika aku rebahan, bisa merusak gaun seindah ini,"


"ya..."Rissa nggak ada alasan buat menolak, karena sekarang Rion udah jadi suami dunia akhiratnya yang nggak boleh dia bantah perintahnya, selama perintah itu benar dan nggak menyesatkan. Akhirnya mereka berdua keluar dari kamar.


"loh kalian mau kemana?" tanya Lukman yang masih aja belum ke kamarnya,


"Kita mau oergi dulu, Man?!


"Ada yang mau Rissa ambil di rumah itu," Rion menjelaskan.


"Oh, ya udah kalau gitu. Kalian berdua hati-hati di jalan," kata Lukman.


Dengan mengenakan mantel mereka berdua ke luar unit milik Rion dan naik mobil menuju rumah yang disewa Rissa.

__ADS_1


"Kenapa? apa yang lagi kamu pikirin?" Rion memecah keheningan.


Rissa cuma menggeleng, "Aku hanya memikirkan, gimana kalau orangtuamu mengetahui pernikahan ini? mereka pasti akan kecewa,"


"Jangan pikirkan itu. Itu akan menjadi urusanku, Rissa. Yang jelas aku akan menjagamu seperti janjiku pada papa mu," Rion menggenggam tangan Rissa dengan satu tangannya, sedangkan dia berusaha membagi fokusnya antara menyetir dan menenangkan hati Rissa.


Sebenernya bukan Rissa aja yang galau tentang itu, Rion juga mikirin. tapi mau gimana lagi, emang udah takdir kalau mereka harus bersama, jadi ya udah Rion bakal hadapi itu nanti. Sekarang dia fokus aja dulu sama kesehatan Om dera yang sekarang jadi ayah mertuanya.


"Aku bakal mempertahankan pernikahan kita, kamu nggak boleh ragukan itu..." Rion melepas genggaman tangannya dan berpindah mengelus kepala Rissa.


Tanpa sadar, mereka sampai juga di rumah yang disewa Rissa. Rion segera markirin mobilnya, dia keluar duluan buat bukain pintu buat istrinya, eciyeeee istriiii...?!


"Makasih," Rissa menyambut tangan Rion buat turun dari mobil pemberian papi Ridho.


Brukk!


Rion menutup pintu dan mengikuti rissa buat masuk ke dalam rumah.


Tapi ternyata, disaat yang bersamaan Thomas datang dan terkejut saat melihat mobil milik Arion.


"Ngapain Arion kesini?" gumam Thomas, matanya membulat saat melihat Rissa yang lagi buka kunci, dan Rion berdiri di sampingnya. Posisi mereka membelakangi Thomas.


Dengan hati yang udah nggak bisa dikondisikan, Thomas keluar dengan air muka yang nggak biasa.


"Arion?" panggil Thomas dengan langkah yang panjang.


Rion memutar badannya lalu...

__ADS_1


BUGH!!


__ADS_2