
Hari yang dinanti pun tiba...
Namun pagi ini Rissa dikagetkan dengan sosok pria yang tidur di sofa ruang tamunya, "Arion????" pekiknya, membuat pria itu yang baru aja ngeliyep jadi terbangun lagi.
"Hemmm, ada apa?" Rion bangun dengan muka bantalnya, dan itu nggak mengurangi prosentase kegantengan Arion malahan dia jadi keliatan so cute dan gemesin.
Rissa yang udah mandi dan wangi ngeliat ada manusia yang dia kenal ada di rumahnya pun heran, "Kamu semalaman disini?"
"Ya, aku baru tidur habis subuhan," Rion ngeringkuk di sofa lagi, dia selimutan pakai mantelnya yang anget.
Rissa mendekat ngeliat pria yang semalaman menjaganya, "Ngapain kamu begadang?" wanita itu ngeliatin wajah Rion yang keliatan masih ngantuk banget. Yeuh, Rion, lu pikir rumah yang disewa Rissa pos ronda? pake lu jagain segala? apa lu lagi cosplay jadi hansip?
Rissa menaikkan kedua sudut bibirnya, dia membawa pergi mug bekas kopi yang ada di meja dan mulai nyiapin sarapan buat orang yang masih nyaman dengan tidurnya, baru dua hari ini Rion bisa tidur nyenyak tanpa mimpi yang nakutin.
Rissa mulai bikin sandwhich, meskipun sarapan yang paling mengena di hati kalau nggak nasi ya bubur ayam. Wanita itu membuatkan segelas teh melati hangat untuk pria yang tidur dengan kaki yang menekuk.
"Arion, bangun. Udah pagi, aku udah bikinin kamu sarapan," rRissa menyentuh bahu bidang Rion.
"Emmkkkh, gimana?" Rion membuka matanya perlahan, dia menyipitkan matanmya mencoba beradaptasi dengan cahaya ruangan.
Rion mengusap wajahnya dan bangun, dia menyingkirkan mantel dari tubuhnya.
"Kamu udah bangun? emang ini udah jam berapa? sorry aku baru tidur tadi," Rion menutup mulutnya, kali ini dia nguap.
"Udah dari tadi,"
"Aku numpang ke kamar mandi ya," Rion main masuk aja ke kamar mandi yang ada di kamar Rissa tanpa ada rasa sungkan. Sedangkan Rissa hanya bisa melongo melihat kelakuan orang satu itu.
Rion kembali dengan wajah yang segar, "Aku udah buatin kopi," kata Rissa.
"Maaf semalam, kamu yang mindahin aku ke kamar?"
"Iya, habisnya kamu nggak bisa dibangunin," ujar Rion cuek ngangkat mug nya dan meminum kopi yang dibuatkan wanita yang ada di hadapannya.
Sementara Rissa yang denger ucapan Rion seketika ngerasa malu kalau terlihat kebluk di depan Rion.
"Sorry aku nginep disini nggak bilang-bilang. Soalnya aku takut ada apa-apa sama kamu,"
Rissa hanya bisa tersenyum tipis, "Makasih kamu udah mengkhawatirkan aku,"
__ADS_1
"Oh ya, aku pulang sekarang ya? kamu juga siap-siap, jangan lupa pakai yang ada di dalam kotak..." kata Rion yang kini memakai mantelnya bersiap keluar,"
Ada yang bilang kalau orang mau nikah nggak boleh ketemuan, tapi keadaan Rion maupun Rissa nggak bisa nerapin adat pingitan seperti yang dilakukan orang lain sebelum menikah.
Bahkan Rion hanya pulang sebentar buat mandi dan memakai jas terbaiknya. Kalau ada yang nanya gimana tuh nasibnya pak penghulu sama Lukman?
Tenang aja, mereka kenyang dengan makanan yang dibawakan Rion sepulang dari rumah Rissa. Sekarang Rion sang pengantin pria menjemput pengantin wanitanya yang masih berada di kamarnya.
Gaun tanpa ekor yang dipilih Rion tertutup dengan lengan panjang dengan payet dan butiran-butiran berlian di beberapa bagian. Rissa hanya membiarkan rambutnya yang panjang dan bergelombang di bagian bawah itu terurai, dan dia hanya memoles wajahnya yang emang udah cantik dari sananya dengan make up tipis, namun manis jika dipandang.
Deg!
Deg!
Deg!
Rissa seakan bisa mendengar jantungnya berdegup sangat kencang.
Di ruang tamu, Rion sedang membetulkan dasinya.
"Udah ganteng maksimal, Riooooon?!" celetuk Lukman.
Sedangkan pak penghulu terus saja melipat tangannya, masih kedinginan.
"Rion? sebenernya kita mau ngelakuin ijab qobulnya dimana? kokk belum ada tetangga kanan kiri yang belum dateng kesini?" Lukman celingukan.
"Sorry, gue belum sempet cerita. Jadi begini Lukman dan pak Sardi, kalau aku dan Rissa akan menikah di hadapan papanya Rissa yang saat ini sedang berada di rumah sakit, beliau sedang sakit..." jelas Rion.
Lukman cuma nyahutin 'OOOOOhhhh,' sambil manggut-manggut.
Bukan hanya Rion sih, ada banyak pasangan yang akhirnya menikah secara dadakan karena faktor orangtua yang sakit parah jadi menginginkan pernikahan yang dipercepat. Tapi pertanyaannya 'Kenapa orangtua Rion nggak hadir di pernikahan anak semata wayangnya? bukankah mereka keluarga yang kaya? orang Rion aja bisa berangkatin Lukman dan pak sardi yang biaya tiketnya aja bikin kantong bolong! ada apa sebenarnya?' Dan semua pertanyaan itu, Lukman menyimpannya dalam hati. Terkadang nggak semua hal harus dijelasin.
Tap!
Tap!
Tap!
Mata Rion segera menangkap sesosok wanita saat menyadari kehadirannya di ruangan itu.
__ADS_1
Beberapa detik matanya terpaku, bahkan nggak kedip sama sekali.
"jangan lupa ngedip, woy?!" Lukman melambaikan telapak tangannya di depan wajah Rion.
"Ehem,! udah siap?" Rion yang nggak mau ketauan lagi salting pun segera berdiri diikuti pak sardi dan Lukman.
Rissa ngangguk, "Iya, udah..."
"Kalau gitu, kita ke rumah sakit sekarang," ajak Rion.
Berhubung Lukman nggak tau jalan, jadilah si pengantin pria yang menyetir dengan sangat mandirinya. Rissa duduk di kursi depan samping kemudi. Sejujurnya mereka berdua sangat gugup, meskipun pernikahan ini terbilang sangat sederhana, tapi mereka nggak kehilangan momen debar-debar berhadiah.
Rion membelokkan mobilnya di rumah sakit tempat papa Rissa dirawat. Entahlah, rioin ngerasa kalau dia harus sampai disana secepatnya.
Kedua calon mempelai kini bergandengan tangan menuju ruang perawatan Om Dera.
"Perasaanku nggak enak," lirih Rissa.
"Mungkin itu hanya perasaan kamu saja, karena kita menikah tanpa sepengetahuan ibumu," ucap Rion yang emang relate dengan keadaan saat ini, padahal dia juga ngerasain hal yang sama adengan Rissa.
Langkah mereka terkesan buru-buru, Lukman juga bisa merasakan kalau mereka sedang diburu waktu.
Ceklek!
"Papa?" Rissa melihat papanya sedang terbaring di ranjangnya, dengan beberapa perawat dan juga dokter yang sedang memriksa kondisi papanya.
"Paaaah? papaaah?" Rissa mendekat.
Sedangkan Rion melepaskan tangannya dari Rissa, dia meminta penjelasan dari dokter, mengenai keadaan Om Dera yang sebenarnya. rion hampir menjambak rambutnya saat mendengar sesuatu yang kurang baik di telinganya, pria itu meminta pada dokter 'Tolong lakukan yang terbaik,' dalam bahasa mereka tentunya.
"Kamu cantik, Rissa..." Om Dera dengan wajah piasnya.
"Paaaahhh, jangan tinggalin Rissa ya, pah?! Kita akan lakukan operasinya hari ini juga, dan papa nggak boleh mundur lagi," Rissa dengan isakan tangisnya.
"Ya, setelah melihatmu menikah..."
Karena kondisi Om Dera yang semakin menurun, Rion segera menempatkan dirinya di samping Rissa sedangkan pak Sardi dan Lukman pun segera menempatkan dirinya.
"Tolong wakilkan saya menikahkan mereka berdua," ucap Om Dera.
__ADS_1