
Jadi selain beli buah mami Reva juga beli roti-rotian yang ngejual juga segala macam kue.
"Kenapa? kok kamu ngelamun, Mas?" tanya mami Reva.
Papi Ridho gelengin kepala, "Aku cuma lagi kepikiran kantor,"
"Lagi ada masalah?"
"Cuma masalah biasa, kamu nggak usah khawatir. Pilih lagi kue nya, tolong aku ambilin red velvet cake ya? aku lagi pengen yang manis-manis," kata papi Ridho.
"Bentar ya?" mami Reva ninggalin suaminya. Dia menghampiri Thalita yang kalap milih banyak banget jajanan.
Sedangkan papi Ridho senang melihat istrinya nggak ngelamun terus. Ya meskipun itu hanya untuk beberapa saat, tapi lumayan lah daripada lu manyun, ya kan?
Setelah mereka selesai belanja, papi Ridho nggak ngajakin mampir-mampir lagi. Soalnya waktunya juga udah mepet, ya karena mereka ngadain juga dadakan juga jadi ya tau sendirilah gimana riweuhnya nanti. Dan mereka niatkan ngadain acara itu, tiap malem sampai Rion bisa ditemukan. Pokoknya ada yang dateng nggak ada yang dateng, pengajian itu tetep dilakukan.
Sementara di dunia perdongengan.
Rissa baru tau kalau pangeran Clift nggak pulang, bahkan dia bela-belain buat ngejagain Rissa yang udah ketauan bukan puteri Odellia.
"Pangeran Clift datang ingin menjenguk, puteri..." Maria memberitahukan bahwa pangeran akan masuk.
"Biarkan dia masuk," kata Rissa. Dia yang lagi rebahan karena kepalanya benjol pun mencoba buat bangun.
"Mau kemana?" tanya pangeran Clift saat melihat Rissa akan turun dari tempat tidurnya.
Rissa hanya tersenyum, "Aku sudah lebih baik,"
"Aku lihat makananmu masih utuh? kenapa? apa kau ingin makan sesuatu yang lain?" pangeran Clift menunjuk ruang makan yang sempat dia lewati tadi.
'Aku harus ngomong ini sama pangeran Clift atau nggak? tapi udah terlanjur juga dia udah tau siapa aku, kalau dia jahat harusnya udah dari pertama dia curiga, dia tangkep aku kan ya?' gejolak batin Rissa.
"Kenapa? apa ada yang sedang kau pikirkan?" tanya pangeran Clift, dia memegang kedua lengan Rissa, perempuan itu hanya menggeleng pelan dan tersenyum.
Dan sikap lembut Rissa ini benar-benar membuat pangeran Clift menyukainya, walaupun dia sudah tau kalau dihadapannya ini bukan puteri Odellia yang sesungguhnya.
"Bagaimana jika..." Rissa menggantung ucapannya.
"Jika apa?"
Rissa menurunkan tangan tangan Clift, dia bergerak menuju sebuah cermin besar yang ada di ruangan itu, "Bagaimana jika seseorang menginginkan sesuatu yang buruk pada puteri Odellia?"
Rissa kemudian berbalik, "Dan orang itu, orang yang sangat dekat dengannya..."
__ADS_1
"Apa kau mengetahui sesuatu?"
"Sepertinya kau harus menemukan puteri Odellia secepatnya, pangeran. Selain ada banyak bahaya yang mengincarnya jika terlalu lama di luar istana, aku juga ingin pergi dari sini dan kembali ke duniaku..." Rissa menatap pangeran dengan serius.
"Arion, dia pasti mencemaskanku saat ini..." lanjutnya.
"Apa istimewanya pemuda itu dimatamu, Rissa? hingga nama itu yang selalu keluar dari bibirmu itu," kata pangeran Clift.
Dan ya, Rissa baru menyadari kalau dia terlalu sering memikirkan Arion. Berani mempertaruhkan nyawanya untuk laki-laki itu.
Melihat kekhawatiran di wajah Rissa, pangeran akhirnya pun berucap. "Tenang saja, aku akan temukan puteri pecicilan itu. Kalau perlu aku ikat supaya dia tidak bisa kabur dari istana lagi,"
"Sepertinya aku harus berhati-hati disini," ucap Rissa.
"Tentu, kau harus berhati-hati dimanapun kau berada..." baru kali ini pangeran Clift bisa ngobrol enak sama perempuan yang mirip dengan calon tunangannya.
Tok!
Tok!
"Masuklah..." seru pangeran Clift.
"Pangeran ... Yang Mulia menunggu anda di ruang makan," kata Maria.
"Dan satu lagi, bawa semua makanan yang ada di meja itu. Ganti dengan makanan yang baru..." lanjut pangeran.
"Baik, Pangeran..." ucap Maria.
Setelah Maria pergi, Rissa berjalan mendekat pada sang pangeran, "Aku harap kau menepati janjimu untuk membantuku pergi dari istana ini, pangeran...." ucap Rissa.
Langit udah gelap, beberapa pelayan datang dengan membawa makanan. Dari sekian banyak pelayan, ada seseorang yang mengubah penampilannya sehingga tak mudah dikenali, ya dia Anna.
"Silakan, puteri..."
"Kalian boleh pergi, karena aku ingin makan berdua hanya dengan puteri Odellia," tegas pangeran Clift.
'Sikap sopan dan lembutmu yang membuat orang dengan mudah akan menyukaimu, Rissa!" batin pangeran Clift.
Ketika Rissa akan mengangkat gelasnya, tiba-tiba gelas itu....
Ctaarrrrrrrr!!!
Gelas yang disentuh Rissa pecah.
__ADS_1
"Akhhhhh?!!!" Rissa memekik.
"kau tidak apa-apa, Rissa?" pangeran Clift segera bangkit dan bergerak ke arah Rissa yang memegang tangannya yang terluka karena cangkir porselen yang tiba-tiba pecah.
Tanpa pikir panjang, pangeran Clift menghisap darah yang ada di tangan Rissa. Kemudian memuntahkannya pada sebuah saputangan yang ada di meja makan.
Rissa kaget saat melihat warna hitam yang ada pada saputangan berwarna putih itu. Pangeran mengulangi apa menghisap darah Rissa sebanyak mungkin, sampai Rissa ngerasain kepalanya pusing. Pangeran mengeluarkan darah dari mulutnya pada sapu tangan yang lain.
Dan setelah yang keluar dari mulutnya berwarna merah, pangeran Clift berhenti menghisap darah Rissa.
Dan..
Braaakkk!
Rissa pingsan, dan untungnya tubuh Rissa bisa ditangkep sama pangeran Clift.
"Rissaaaaa?" teriak pangeran.
Ditempat yang lain, tepatnya di sebuah menara tua.
Praaaangggggg!!!
"SIAAALAAAAANNN?!!! SIAPA YANG BERANI MENANGKAL SIHIR SEORANG DOROTHYYY?!!!" seorang perempuan melempar cerminnya dengan sebuah cangkir yang ada di tangannya.
"SIHIR APA YANG DIGUNAKANNYA??" teriak Dorothy saat mengetahui kalau panah beracun gagal mengenai puteri Odellia dan teh yang sudah dia beri sihir gagal diminum oleh Rissa.
"Aku tidak akan menyerah, aku akan membuat Abraham begitu menderita karena kehilangan puteri yang ternyata hanya oranglain yang memiliki wajah yang sama dengan Odellia. Aku akan membuat negeri ini berduka, dengan tertidurnya perempuan yang mereka kira puteri dari sang raja!" Dorothy yakin, jika sihir yang dia kirimkan melalui makanan yang dibawa Anna akan membuat Rissa terkapar tak berdaya. Setidaknya jika makanan atau minuman itu dimakan oleh orang yang mirip dengan Odellia, akan membuat orang tersebut tertidur pulas dalam jangka waktu yang lama.
"Kenapa Anna begitu bodoh!!!" umpat Dorothy yang sudah tau kalau Rissa diselamatkan oleh pangeran Cluft sedangkan Odellia diselamatkan ileh seorang pemuda dari kalangan biasa.
Ya, pemuda yang sedikit mencuri perhatiannya. Yeeeuuh Dorothy, inget umur lu! jangan naksir Rion lu yeeee!
Sedangkan di luar, Arion masih berjaga di luar istana tentu bareng sama puteri Odellia yang asli. Karena nggak mungkin juga dia ninggalin puteri Odellia sendirian.
"Katanya kamu bisa bantu aku masuk ke dalam istana?" Rion mulai kesel dan laper.
"Iya iya tenang, kan aku punya surat jalan..." puteri Odellia dengan pedenya.
Tapi setelah mencari saku, ternyata puteri Odellia baru menyadari kalau, "Astagaaa, surat jalan itu disimpan Anna?!!"
"Dan aku tidak tahu dimana Anna sekarang," lanjutnya kemudian.
"Astaghfirulaaaaaaaah!" Rion ingin menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1