Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
132. Jadi Model?


__ADS_3

5 tahun kemudian...


Semuanya berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan Rion. Dia menjadi seorang arsitek muda yang selalu menuangkan ide nya ke dalam sebuah rancangan bangunan.


Selama itu pula dia nggak pernah pulang, udah ngalah-ngalahin bang toyib yang 3 kali puasa 3 kali lebaran nggak pulang-pulang.


Dan selama itu juga Rion selalu mimpi yang sama, mimpi sesosok pria tua yang duduk di kursi roda yang memekik kesakitan saat diaerap energinya oleh sesosok makhluk hitam. Rion sampai lumayan stress karena dia kayak nggak punya stock mimpi yang lain yang bisa menghiasi tidurnya. Bahkan dia nggak pernah memimpikan Rissa.


Kalau Rion mau, bisa aja dia gunain kekuatannya buat nengokin Rissa di negaranya. Tapi Rion nggak mau ngelakuin itu, karena percuma aja dong dia melanglang buana sampai pergi ke benua lain tapi ujung-ujungnya dia nengokin Rissa dalam bentuk transparan. Gagal move on yang ada.


Saat ini Rion lagi menatap gadgetnya, dia menghentikan aktivitasnya sebentar. Dia lagi asik nontonin Eza yang sekarang jadi artis yang kerjaannya nge-review makanan. Dia punya acara tivi sendiri. Dan Eza nyangking Slamet jadi asisten sekaligus managernya.


Eza sempet cerita kalau, pas dia lagi makan sama Slamet, tiba-tiba ada orang tivi yang nawarin dia buat ngegantiin seorang host yang kebetulan mutusin kontrak secara sepihak karena ngerasa kalau kesulitan menjaga berat badan, ya karena kerjaannya kan makan terus. Sehari bisa keliling 2 sampai 3 restoran atau pun tempat makan emperan.


Eza yang dapet tawaran ciamik pun langsung iyes iyes aja udah, dia terima tuh tawaran. Ibarat kata dapet durian runtuh loh, di tengah situasi syulit mencari pekerjaan eh dia dapet tawaran jadi artis. Ya nggak mungkin dia tolak lah ya, dan Eza yang buluk sekarang menjelma jadi babang glowing shimmering splendid ceunah.


Karena sering riwa-riwi di tivi, memudahkan Eza buat semakin mepet ke Thalita. Apalagi tante Ravel yang tau anaknya dideketin artis pun iya iya aja, malahan dia bilang gini, 'Nanti kapan-kapan promosiin kafe tante, dong! coba kamu ngomong sama produsernya bilang kalau kamu ada tempat tongkrongan yang bagus yang harganya murce, murah meriah ceunah! kalau nggak, jangan harap kamu bisa ketemu anak tante ya!'


Rion cuma bisa ngakak dalam hati kalau mereka berempat lagi vidio call-an. Seperti sekarang ini. Dia matiin nonton Eza lagi nyaplokin makanan dan milih buat video call -an bareng temen-temennya yang minim akhlak itu.


"Heh, lu vidio call nggak ada adab ya, Yon?!! ini gue masih kreyap kreyep nih! hoaaaaamppph!" Eza dengan muka bantalnya.


"Tauk nih, mana besok gue harus ngikutin Jaja ngider syuting! hoaamph!" Slamet ikutan nimpalin.


"Elu gimana disana? aman kan?" tanya Adam yang masih sibuk dengan kertas-kertas. Dia sempetin sambil ngobrol sama sahabat semasa kuliahnya itu.


"Aman!" sahut Rion irit.


"Aman aman tapi lu nggak pernah balik kesini? lu tuh kayak kacang lupa sama kulitnya tau nggak?!" kata Eza.


"Lu majuin negara orang, lah negara sendiri lu lupain!" tambah Eza.


"Nglindur lu?!" Rion cuma bisa geleng-geleng kepala ngeliat kelakuan Eza yang ngomong ngelantur kemana-mana.


"Gimana? kapan lu balik kesini?!" tanya Adam yang menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah kamera.


"Kapan ya? belum ada rencana gue!" sahut Rion sedangkan dua temennya Slamet dan Eza udah balapan ngorok.


"Kalian aja yang kesini, ntar gue kirimin tiketnya?!" kata Rion lagi.


"Gue juga pengen liburan, tapi perusahaan bokap lagi morat-marit! gue jadi harus kerja siang malem demi mempertahankan perusahaan supaya nggak gulung tikar?!"

__ADS_1


"Ya ini tikar raja dari segala macam tikar. Ini bisa digulung kayak bolu gulung----" Eza ngelindur.


"Temen lu tuh, saking mendalaminya jadi tukang review. Ada orang ngomong sampe kebawa mimpi!" kata Adam yang malah ngakak ngeliat Eza yang tidur mangap.


"Lu tau, dia makin deket sama sepupu lu itu?!" tanya Adam.


"Gue taunya sekedar deket, nggak ngikutin perkembangan mereka juga!" ucap Rion.


"Eza pernah cerita sih kalau deketin calon mertuanya susah bener! harus banget promoin kafenya dia di tivi, baru tuh bocah boleh ketemuan berdua,"


"Ya ya ya, gue inget. Gue pernah liat tante gue dishoot gitu kan, diwawancara segala..." Rion jadi inget dia pernah liat tante Ravel nongol di acaranya Eza pake make up yang on banget.


"Ngomong-ngomong, elu nggak balik-balik karena udah kepincut bule disana?"


"Ngawur! jangan bahas gue, bahas aja Slamet yang belum move on juga dari Amanda!" Rion mengalihkan pembicaraan.


"Terlalu bucin jadi nasibnya begitu tuh?! liat aja, tidur pun ngenes banget mukanya!" kata Adam.


"Udah dulu ya, gue ngantuk nih! besok mau ada meeting!" kata Adam lagi.


"Oke!"


Dan video call mereka pun berakhir.


Rion balik lagi melihat sebuah gambar yang ada di meja kerjanya. Dia sedang mengerjakan project untuk pembangunan sebua hotel yang ada di sana.


Baru juga mau pegang pensil, ada seseorang yang ngetok ruangannya.


"Gue ada di depan ruangan elu, gue boleh masuk nggak?" tanya Thomas lewat telepon.


"Kurang kerjaan!" kata Rion.


Dan beberapa detik kemudian sesosok pria jangkung masuk ke dalam ruangannya.


"Lagi sibuk?" tanya Thomas yang merupakan kawan satu kampus dengan Rion dulu, dia berasal dari negara yang sama dengan Rion. Tapi sekarang Thomas banting stir. Dia ogah jadi arsitek, sekarang dia malah menclok ke dunia periklanan.


"Bro!"


"Apa?" Rion mulai membuat garis dengan pensilnya.


"Arion? gue punya penawaran buat lu?" kata Thomas, dia numpangin satu kakinya dia atas kaki nya yang lain.

__ADS_1


"Penawaran apa? gue masih sibuk ngerjain project yang satu ini, belum kelar-kelar!" kata Rion yang lagi kerja di sebuah perusahaan yang bergerak dibidang arsitektur bangunan.


"Bukan, bukan itu! tolongin gue dong, lu jadi model iklan buat iklan spre!" kata Thomas.


"APAAAAA?!!!" Rion mendongak dan menghentikan aktivitas menggambarnya.


"Slow, Arion! jangan bikin gue jantungan napa!" kata Thomas.


"Kenapa gueeee? gue ini arsitek, bukan model!"


"Iya gue tau! tapi bantulah, ini bersangkutan dengan karir adik gue, Arion!"


"Lah, apa hubungannya karir adek elu sama gue?"


"Terus gue harus terbang ke Indonesia demi karir adek elu itu? sorry sorry gue nggak bisa..." Rion gelengin kepala.


"Nggak lah. Kebetulan model yang ngebatalin kontrak itu dari sini juga. Ini udah mepet banget, udah mepeet banget deadline nya!" Thomas memohon-mohon.


"Gue nggak ada bakat jadi model! gue bisanya nggambar!" Rion nunjukin pappernya.


"Elu tinggal gulang guling aja di atas kasur, ngomong sekata dua kata terus udah! muka lu udah paling ngejual, Rion! lu bantuin gue sekali ini aja!" Thomas ngambil pensil yang ada di tangan Rion.


"Elu bayangin kalau nggak ada pensil di dunia ini? hidup elu pasti hampa, kan? nggak bisa ngegambar lu! sama kalau adek-adek an gue ini sedih, hati gue juga mendadak hampa, Rion! nggak ada udara buat gue napas!"


"Elu terlalu berlebihan!" Rion mengambil lagi pensilnya.


"Gue mau kerja, mending elu balik ke kantor lu sebelum elu dapet surat peringatan!" lanjutnya.


"Gue bakal disini terus, sampai elu mau nerima tawaran gue!"


"Honor gue mahal!" kata Rion.


"Semahal apa? gue yakin mereka pasti sanggup bayar!" Thomas maksa.


Rion menghela napas, "Oke, tapi cuma kali ini aja!"


"Thank youuuuu brooo!" ucap Thomas.


"Oke, nanti gue kabarin yaaaakkkk!!!" Thomas yang girang pun langsung pergi.


"Dasar temen nggak ada akhlak!" gumam Rion yang kemudian ngelanjutin lagi kerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2