
Rion mundur beberapa langkah sebelum akhirnya tangannya reflek menangkap benda itu.
"Panah?" gumam Rion melihat sebuah anak panah berupa cahaya berwarna merah milik Rissa.
"Ini kan punya Rissa! ya, gue inget banget, anak panah punya Rissa!"
Rion melihat ke atas ada sebuah sinar merah yang melengkung menuju titik dimana dia berdiri.
"Jangan-jangan sinar merah itu jejak dari anak panah ini? kalau gitu, gue tinggal ikutin garis merah itu, dan gue bisa ketemu sama Rissa," gumam Rion, dia memegang anak panah itu dengan tangan kanannya.
"Eh, tapi kalau ini bukan dari Rissa gimana?!" Rion yang akan melangkah mendadak nggak jadi.
Dia menamplek pikiran pengecut itu, "Aaah, gue kan sakti! gue bisalah ngalahin hantu bahkan iblis sekalipun," Rion menyemangati diri sendiri.
"Eh bola ajaib! gimana? gue harus samperin ini sinar merah apa nggak?" Rion masih menimbang lagi. Gue curiga ini Rion zodiaknya Libra, Abisnya nimbang-nimbang mulu daritadi!
Bola ajaib ini tanpa disangka-sangka, bergerak dan membentuk sebuah kata 'Ya' dengan sinar birunya di awang-awang, Rion tercengang saat melihat bola itu bisa bergerak seakan menanggapi ucapannya.
Disisi lain, malam semakin larut bahkan hampir menjelang subuh Om Karan masih fokus nyetir. Sementara papi Ridho udah speechless, nggak bisa berkata apa-apa lagi. Pikirannya terlalu ruwet saat ini dan dia milih buat diem sepanjang perjalanan.
Mami Reva beberapa kali missed called, tapi nggak diangkat sama papi Ridho. Dan udah kebiasaan juga kan dari dulu papi Ridho jadi orang susah banget dihubungi, jadi kalau sekarang dia nggak ngangkat telepon ya mami Reva nggak bakalan curiga. Sementara, Thalita yang duduk di belakang, ketiduran. Capek nangis dia.
"Ridho..." panggil Om Karan.
"Saya gagal, saya gagal menjaga Rion," mata papi Ridho menerawang jauh.
"Saya nggak tau gimana ngomong ini sama Reva. Dia pasti sedih kalau tau apa yang sudah terjadi dengan anaknya," lanjutnya.
Om Karan tau, pasti hati Ridho hancur saat ini meskipun dia berusaha untuk tetap tenang dan tegar menunggu titik terang dari pencarian Arion, putra semata wayangnya.
Mobil mereka melaju menuju rumah pak Sarmin.
Tapi mata Om Karan memicing, saat melihat sebuah mobil hitam yang sangat dia kenali, karena itu salah satu mobilnya.
"Reva ada disini," Om Karan menebak.
"Reva? bagaimana bisa?"
"Itu mobil saya," Om Karan menunjuk mobil di dideoannya dengan dagu.
"Kamu seperti nggak kenal istrimu sendiri. jangan-jangan dia kesini bersama Luri," lanjutnya.
Om Karan melirik papi Ridho sekilas sebelum berhenti tepat di belakang mobil hitam itu
"GAWAT!"
__ADS_1
Papi Ridho segera keluar dari mobil, disusul pak Karan dan Thalita yang masih kiyip-kiyip. Kalau dia nggak bangun sendiri, mungkin dia bisa ditinggal di dalem mobil.
"Tuan...!" seorang supir yang menunduk hormat pada Om Karan, sedangkan papi Ridho lurus aja jalan, pikirannya tambah ruwet, 'Apa yang bakal aku jelasin sama Reva,' pikirnya.
Sedangkan Om Karan hanya mengangguk sekilas pada orang yang membawa mobilnya itu.
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamualaikum!" Papi Ridho bertamu ketika matahari udah mau nongol.
"Waalaikumsalam," sahut pak Sarmin dari dalam.
Dan seketika pintu dibuka, dan terlihat pak Sarmin yang udah sepuh.
"Nak Ridho?" Pak Sarmin memastikan pandangannya.
"Iya, saya Ridho, Pak..."
"Nak Karan?" pak Sarmin melihat pada sosok di belakang Ridho, "Ayo, ayo masuk dulu! kita bicara di dalam," lanjutnya seakan tau wajah cemas Ridho.
Deg!
'Fix Reva udah tau semuanya,' batin papi Ridho.
"Maaaaasssss...?!! huaaaa ... hikks!" mami Reva berlari dan memeluk suaminya.
"Maafin aku, Va...." hanya ada kata maaf yang meluncur dari mulut papi Ridho. Sementara Karan Perkasa yang melihatnya pun nggak kuasa untuk nggak ikut terluka.
Papi Ridho memeluk istrinya, saling menguatkan. Selama ini dia berusaha buat nggak bikin istrinya nangis, tapi hari ini dia gagal. Dia bahkan membuat istrinya merasakan kehilangan yang teramat sangat.
"Aku takut kamu kenapa-napa! kamu nggak ada kabar! aku takut terjadi apa-apa sama kamu, Mas!" ucap mami Reva.
"Kamu kesini sama siapa?"
"Sama supir!" sahut mami Reva.
"Aku nggak sama Luri," lanjutnya seakan menerka apa yang lagi dipikirkan adek sepupu. Om Karan hanya mengangguk.
Reva melepaskan pelukannya, "Kamu nggak kenapa-napa kan? nggak terjadi sesuatu kan?" Mami Reva mengecek keadaan suaminya.
"Nggak ada..." papi Ridho mengelus kepala belakang istrinya.
__ADS_1
"Mana Rion?" tanya mami Reva tiba-tiba saat melihat Thalita berdiri di dekat pintu.
'Jadi dia nangis bukan karena tau Rion jatuh saat mendaki gunung lewati lembah?' batin papi Ridho.
"Mana Rion, Mas? dia masih di mobil? atau masih di luar?" mami Reva celingukan nyari anaknya.
Dan itu membuat papi Ridho menarik istrinya kembali dalam pelukannya.
"Mas, jangan peluk-peluk. Malu ada Thalita..." kata mami Reva.
"Rion masih di luar, ya? bilang sama dia, kalau nggak mau masuk ntar aku kruwes bibirnya sampe jeding!" kata mami Reva ngancem.
Tapi papi Ridho malah makin sedih ngeliat mami Reva yang sampai saat ini nggak tau apa yang sudah terjadi, papi Ridho melihat ke arah pak Sarmin yang mengangguk padanya.
"Mas, aku yang keder nyariin kamu. Kenapa kamu yang malah nangis?" mami Reva merasakan suaminya itu mengeluarkan bulir-bulir air mata.
"Maaf..."
Reva menepuk punggung suaminya, "Iya aku maafin. Kamu kebiasaan dari dulu, nggak bisa dihubungi. Bikin orang khawatir. Sekarang mana Rion, aku pengen liat anak kamvret itu!"
"Rion..." papi Ridho nggak sanggup mengatakannya.
"Kamu harus kuat ya, Va. Aku nggak bisa mengatakan ini, tapi kamu harus tau kalau Arion anak kita yang ganteng itu, dia jatuh saat mendaki!"
"Kesleo maksud kamu, Mas? ya udah kita bawa ke tukang urut! biar nggak makin sakit!" mami Reva melepaskan pelukannya pada papi Ridho.
Dia nyeruntul ke luar, nyari anaknya.
"Rioooiin?" panggil mami Reva.
Dia berjalan ke arah mobil Om Karan yang ada di luar. Wanita itu segera disusulin Ridho dan juga yang lainnya.
"Rioon?" mami Reva mencoba membuka pintu tapi terkunci, sedangkan kaca mobil yang gelap membuat ibu dari Arion itu nggak bisa ngeliat dengan jelas.
"Kok dikunci? bisa pingsan anak itu kalau mobilnya dikunci dalam keadaan mesin mati!" mami Reva merepet.
Ridho menarik napas sebelum mengatakan hal yang sangat membuat hatinya pilu, "Dia nggak ada di dalam..."
"Arion putra kita, jatuh dari tebing. Dia jatuh saat akan mencapai puncak gunung..." lanjut papi Ridho.
Membuat mami Reva menatap papi Ridho dengan tatapan bingung, "Apaa? jatuh? dari gunung?"
Dan...
Mami Reva yang shock, seketika hilang kesadaran. Beruntung badan wanita itu langsung di tangkap suaminya, "Reva ... Reva? sadar, Va..."
__ADS_1
Ridho memeluk istrinya dengan air mata yang mengalir deras, "Maafin aku..." gumamnya.