
Papi Ridho bawa makanan ke atas.
Ceklek!
Pria yang selalu menawan itu masuk dengan langkah hati-hati.
"Kamu bawa apa, Mas?"
"Eh, kok udah bangun sih?" tanya papi Ridho.
"Abisnya baunya enak banget, bikin perut aku kruyukan..."
"Bagus deh, kalau udah laper. Jadi kamu bisa langsung makan, mumpung masih panas sup nya..."
Papi Ridho menaruh nampan di atas meja, lalu dia menghampiri istrinya.
"Pindah ke sofa, ya?" papi Ridho ngebantu mami Reva buat berdiri
"Aku nggak apa-apa, Mas! aku cuma sakit magh, bukan terkilir! kakiku bisa jalan sendiri,"
"Nggak! kamu nggak boleh jalan dulu ntar lemes!" papi Ridho gendong iatrinya dan dudukin di sofa.
"Kurang kerjaan kamu, Mas!" ledek mami Reva.
Sedangkan di bawah, Rion lagi gratakan nyari panci sup. Niat hati sih mau bantu papinya, tapi malah bikin polusi suara aja daritadi.
"Nyari apa, Mas Rion?" tanya mbak Rina bikin Rion kaget.
"Ya ampun, mbak! bikin kaget,"
"Mas Rion nyari apa?"
"Ini, papi masak sop iga. Ini suruh di pindah dan ditaruh di meja makan," Rion nunjuk satu panci besar yang masih panas.
"Biar saya saja, Mas! Mas Rion duduk saja!"
"Oh gitu? ya udah sekalian bikinin sambel kecap ya, Mbak? pakai irisan tomat sama bawang jangan lupa," ucap Rion.
"Siap!"
Sama hebohnya di rumah Rion. Rissa dinkontrakan barunya pun sibuk masak. Nggak mungkin juga dia selalu pesen, bisa jebol itu dompet. Belum lagi dia harus bayar uang kuliah dan bayar semester pendek, karena kan dia ilang 3 bulanan dan ketinggalan banyak materi.
Rissa bukan cewek cengeng yang dengan mudah menyerah dengan keadaan. Meskipun dia awalnya lahir dari keluarga yang kaya, untungnya dia selalu bisa menyadarkan diri sendiri kalau harta itu hanyalah titipan. Kapan aja bisa diambil sama Tuhan. Jadi sebisa mungkin Rissa ini selalu beraikap mandiri, apalagi waktu itu dia aempet hidup bareng ibu tiri hanya cinta kepada ayahnya sajaaa.
Rissa masak nasi goreng telur, nggak pakai minyak tapi pakai butter. Soalnya Om Dera punya sakit jantjng, dia harus mengurangi makanan yang berlemak.
Matahari baru aja nongolin diri, tapi Rissa udah selese masak. Rencananya dia mau cari kerja paruh waktu, buat menyambung kehidupannya sama papanya.
Lah kemarin kan dapet duit dari jual rumah, tjo? lah iya, ada duit. Tapi kan penyakit Om Dera ini butuh biaya. Jadi mau nggak mau harus tetep ada pemasukan, meskipun sedikit.
__ADS_1
Rissa bawaakanan masuk ke dalam kamar papanya, "Pah? Rissa masuk ya?" ucap Rissa.
"Ya..."
Perlahan gadis itu membuka pintu.
"Pah, waktunya sarapan," kata Rissa.
"Wangi sekali baunya, kamu masak apa?"
"Cuma nasi goreng. Semoga papa suka," Rissa membiarkan pintunya terbuka, supaya ada angin masuk dari luar.
"Pasti papa suka, apalagi ini masakan anak papa," ucap Om Dera.
Rissa membiarkan papanya untuk menikmati sarapan, sedangkan dirinya mulai membuka jendela dan menyibak tirai.
"Ac nya dimatiin dulunya, Pah? biar udaranya ganti dulu. Dan juga supaya sinar mataharinya bisa masuk, jadi kamar papa bisa lebih hangat!" Rissa mengikatntirainya ke samping.
Udara sejuk pagi hari langsung menyapa indera penciumannya, rasanya seger banget.
Rissa membawa satu keranjang baju kotor ke dapur.
"Biarkan saja, Rissa! pinggangmu bisa capek kalau kamu terus saja bekerja membersihkan rumah!" Om Dera ngingetin anaknya.
"Aku mau pergi ngerjain tugas, Pah! makanya aku harus beres-beres dulu, biar nanti pas aku udah pulang aku bisa langsung istirahat," kata Rissa.
Sesaat kemudian rasa bersalah berkecamuk di hatinya. Seandainya dia dulu menikah atas dasar cinta, tentu Karissa dan Kalila akan mendapatkan cinta keluarga yang utuh.
.
.
.
Sekitar jam 11 siang, papi Ridho udah siap mau nganterin pak Sarmin balik ke kampung halamannya.
Om Karan dan tante Luri pun datemg, buat sekedar ngasih buah tangan.
"Jangan lupa pulang, kasihan ibumu..." ucap pak Sarmin ngingetin keponakannya.
"Iya, Pakdhe. Rencananya minggu ini Luri dan Kanaya akan jengukin ibu di kampung," kata tante Luri. Lah kalau Om Karan kan kerjaane akeh, jadi yang paling gampang dicangking ya Kanaya.
Pak Sarmin ngangguk dan senyum. Dan senyuman itu agak beda saat menatap wajah Rion yang sampai saat ini pun nggantenge naudzubillah.
Rion udah nangkep, arti senyuman itu.
'Nanti aku pasti anterin liontin itu, tapi nggak sekarang Kek. Karena aku punya firasat lain tentang liontin ini,' Rion ngomong dalam hati.
"Hati-hati ya, Pak..." mami Reva salim, dan diusap kepalanya sama pak Sarmin.
__ADS_1
"Pasrahkan semua pada gusti Allah. Manusia hanya bisa menjadi perencana, tapi gusti Allah yang maha segalanya..." kata pak Sarmin.
Mami Reva sih iya iya aja, karena emang akhirn-akhir ini dia kebanyakan over thingking yang bikin asam lambungnya naik karena dia over stressss mikirin anak yang berubah menurut versi emaknya.
"Assalamualaikum," ucap pak Sarmin.
Dan dijawab serempak oleh orang-orang yang berdiri di teras,"Waalaikumsalam,"
Aetelah mobil yang dikendarai papi Ridho menjauh dan udah nggak keliatan lagi, mereka semua masuk lagi ke dalam rumah.
"Rion? Om dengar kamu mau kuliah di luar?"
Rion melirik Telolet sekilas, 'Deeuh Om Karan. Ngomong gini kenapa di depan Telolet? dia kan ember bocor!'
"Ya begitulah, Om..."
Untungnya si Telolet kayaknya nggak debger, dia sibuk nuntun mami Reva buat duduk di ruang tengah.
"Nanti Om carikan universitas yang paling bagus!" kata Om Karan.
"Makasih, Om..."
Mereka bergabung dengan tantebReva dan tante Luri yang udah duduk duluan. Sedangkan Telolet kayaknya disuruh ngambil cemilan yang ada di dapur.
"Kenapa nggak di rawat saja di rumah sakit? wajah kamu pucat!" Om Karan ngomentarin wajah sepupunya.
"Ck, apaan. Cuma sakit maagh masa iya dirawat? nggak usah aneh-aneh, aku tuh cuma butuh istirahat aja, nggak butuh ketemu sama dokter!" kata mami.
"Mam, Rion mau ketemu sama temen dulu ya?" Rion ijin.
"Pulangnya jangan sore-sore, papi kamu kan kemungkinan pulangnya malam," kata mami Reva.
"Iya, Mam!"
"OM, tante ... Rion pamit dulu!" Rion menyalami mami beserta Om dan tantenya biar nggak dianggap anak yang nggak tau sopan santun.
Rion pun ke kamarnya buat ngambil kunci motor dan juga jaket. Setelah dapet, dia turun lagi dan gas puoooll keluar rumah.
Sebenernya dia pengen pergi dari pagi, tujuan utamanya bukan buat ketemu sama Mova. Tapi pengen ngilangin stress di otaknya.Secara dia ngerjain skripsi mode kebut semalam. Karena pengen cepet sidang dan lulus. Dengan begitu dia bisa cabut ke negeri orang.
Sepanjang perjalanan, pikirannya udah kemana-mana. Ada satu tempat yang dia kangenin banget.
Sreeeeeettt!
Rion masuk ke area kampusnya. Dia parkirin motor dan menuju dinding panjat yang entah kapan lagi bisa dipanjatnya.
Rion turun dan melihat dinding yang menjulang.
"Gue bakal taklukin elu dalam waktu dua menit!" gumam Rion.
__ADS_1