
Pagi harinya, Rissa dan Meisya sudah berada di kantor Thomas. Dia sudah melihat final TVC yang dia sepakati dengan Thomas.
"Aku rasa banyak wanita yang akan terpikat dengan iklan ini dan membeli produk kami sebanyak-banyaknya!" celetuk Meisya spontan saat melihat iklan yang akan ditayangkan di semua stasiun televisi di negaranya.
"Benarkah? apa dia semenarik itu?" tanya Thomas.
Meisya langsung kicep saat melihata tatapan nggak suka Thomas, 'Astaga, bukannya modelnya itu temennya sendiri? hemmm, roman-romanya ada bau-bau persaingan masalah hati,' Meisya dakam hatinya.
"Menurutku jika pendapat Meisya terbukti, bukannya itu akan menguntungkan perusahaan kami?" ucap Rissa.
"Tentu, dan itu hasil kerja kerasmu!"
"Kerja keras kita semua," ralat Rissa.
"Apa ada hal lain yang ingin anda tunjukkan, Pak Thomas?" tanya Rissa, karena dia harus ke rumah sakit, nengokin keadaan papa nya.
"Saya rasa sudah cukup meeting kita pagi ini," ujar Thomas.
"Baiklah kalau begitu, kami permisi..." ucap Rissa yang berdiri dengan Meisya. Mereka berdua keluar dari ruang meeting, sedangkan Thomas langsung mengejarnya.
"Rissa, Rissaaaaa, tunggu!" Thomas memegang bahu wanita itu.
"Ya? ada apa, Kak?"
Thomas berusaha menormalkan nafasnya, "Meisya, bisa kah kau tinggalkan kami berdua?"
"Saya akan menunggu anda di lobby, Bu..." Meisya sebelum pergi meninggalkan dua orang yang berdiri di sebuah lorong.
"Ada apa, Kak? apa ada sesuatu yang penting, sampai kamu harus berlari seperti itu?"
Melihat pandangan Rissa, Thomas jadi nge-blank sesaat, "Ya? hemm, aku ... aku ingin mengajakmu berkeliling kota,"
"Sekarang?"
"Ya tentu kalau kamu nggak keberatan. Kita bisa makan siang, atau apapun itu," Thomas penuh harap.
'Jika aku menolaknya, kak Thomas pasti akan kecewa. Bagaimana ini? tapi papa pasti nungguin aku,' Rissa bimbang.
'Aku ingin menanyakan hubunganmu dengan Arion, atau aku akan penasaran terus,' Thomas bergumam dalam hatinya.
Tapi sebelum Rissa menjawab, hape Thomas berdering. Pria blasteran itu pun mengangkatnya, dia tampak memijit jidatnya.
"Ada apa?" Rissa bertanya saat Thomas mengantongi lagi hapenya.
"Ada pekerjaan yang harus dilakukan. Bagaimana kalau besok?"
Rissa mengangguk pelan, "Kalau begitu aku pamit ya, Kak?"
__ADS_1
"Ya, hati-hati...." ucap Thomas dengan wajah yang lesu.
Risaa meninggalkan Thomas dan berjalan ke dalam lift, dia memencet tombol lobby.
Sementara, di tempat yang lain Arion sengaja meliburkan diri selama 5 hari ke depan. Selain dia lagi ngurusin pernikahannya, dia juga nggak pernah ambil libur.
"Gimana, Man? semuanya dah beres kan? kalau duitnya kurang lu ngomong gue aja, ntar gue transferin lagi," kata Rion yang lagi ngomong sama Lukman, temen yang bakal terbang menemui Arion dengan membawa seorang penghulu.
Rion menyimpan hapenya ke dalam saku, dia keluar dari kantornya menuju sebuah butik.
Meskipun ini pernikahan yang terlampau sederhana, dan terkesan terburu-buru tapi Rion ingin Rissa memakai gaun pengantin. Nggak mungkin dia pakai kebaya karena disini nggak ada yang jual, jadilah Rion sibuk memilih gaun pengantin berwarna putih yang simple, namun terlihat elegant apalagi jika Rissa sudah memakainya.
Hari berjalan seakan begitu cepat. Rissa yang tadi sempet ke rumah sakit dan memastikan keadaan papa nya dalam keadaan baik, sekarang pulang ke rumah untuk pergi bersama Meisya berkeliling kota, mereka mengambil beberapa gambar bersama.
Apalagi banyak salju disana-sini, membuat foto mereka tambah estetik.
"Semoga penerbangan nanti malam lancar ya, Meisya," ucap Rissa saat mereka berjalan menyusuri kota.
"Iya, semoga, Bu. Sebenernya saya takut kalau-kalau ada turbulensi,"
"Semoga nggak terjadi, positif thingking aja," Rissa mencoba menenangkan Meisya.
"Banyak orang yang ingin diposisimu sekarang, Meisya. Jadi, nikmati perjalanan udaramu..." lanjutnya.
Kaki Rissa berhenti saat melihat sebuah toko yang menjual baju pengantin, tapi nggak mungkin dia masuk kesana sekarang, bisa curiga Meisya.
"Gaun pengantinnya bagus ya, Bu?" Meisya komentar.
"Tanganku rasanya mau beku, lebih baik kita masuk ke dalam restoran itu!" Rissa mengajak Meisya untuk masuk ke dalam sebuah restoran yang dari luar terlihat begitu hangat.
.
.
.
Sekitar jam 9 malam, Arion datang ke rumah yang disewa Rissa selama tinggal disana.
Kebetulan, Rissa udah pulangkarena Meisya harus packing dan pergi satu jam lagi.
"Sorry, aku datang jam segini," kata Arion dengan membawa dua buah kotak berpita.
"Nggak juga, ayo masuk!" Rissa memberi jalan untuk Rion masuk ke dalam.
"Aku ganggu nggak, atau kamu baru aja mau tidur?"
"Nggak kok, kebetulan jam 10 nanti aku mau nganter Meisya ke bandara,"
__ADS_1
"Kalau gitu pas banget! aku juga mau jemput temenku dan orang yang akan menikahkan kita besok. Jadi mending kita bareng aja," mengucapkan itu hati Rion bergetar hebat, antara bahagia sekaligus merasa berdosa pada mami nya.
"Ya kalau nggak ngerepotin," sahut Rissa.
"Oh, ya. Aku punya sesuatu buat kamu, aku harap kamu suka..." Rion memindahkan dua buah kotak itu ke tangan Rissa.
"JANGAN DIBUKA SEKARANG?!" seru Arion saat Rissa mau membuka salah satu kotak. Wanita itu sampai terkejut.
"Sorry, bukan maksud gue ehhm maksudnya, aku nggak ada maksud buat bikin kamu kaget, nanti buka kotaknya di kamar aja, jangan disini," lanjut Rion.
Rissa pun ngangguk paham, "Duduk dulu, aku mau taruh ini di kamar habis itu baru aku bikinin minum,"
Rion membuka mantelnya dan duduk dengan nyaman, sedangkan Rissa setelah menaruh barang yang diberikan Arion di kamarnya, lanjut bikinin minuman kesukaan pria itu.
"Hot chocolate!" Rissa menaruh satu mug di meja.
"Thanks,"
Risaa duduk berhadapan dengan calon suaminya, mereka hanya diam. Sampai Rissa membuka pembicaraan.
"Aku sudah melihat tvc-mu, dan sejauh ini hasilnya memuaskan," kata Rissa.
Rion menarik satu sudut bibirnya, "Memuaskan?"
"Ya, memangnya ada yang salah dengan kata-kata ku tadi?"
"Nggak ada yang salah. Aku hanya melakukan tugas sebaik mungkin," senyuman Rion seketika memudar saat dia menyadari sesuatu.
"Berarti kamu habis ketemuan sama Thomas?" tanya Rion.
"Iya, aku habis meeting sama dia melihat tvc final, karena aku harus melaporkan ini pada perusahaan," kata Rissa.
"Hanya sebatas pekerjaan, atau ada hal lain yang kalian bicarakan berdua?" mata Rion menelisik.
"Hanya pekerjaan, dan..." Rissa memutarkan bola matanya berusaha mengingat sesuatu.
"Dan apa?" Rion penasaran.
"Sebuah ajakan makan bersama?!"
"Makan bersama? lalu? lalu kalian?" Rion duduk dengan tegang.
'Jangan-jangan Thomas udah tanya-tanya tentang gue pada Rissa, anak itu kan kalau udah penasaran, dia bakal ngejar itu sampai dapet!' batin Rion.
"Nggak, kita nggak jadi makan bersama karena dia ada pekerjaan yang urgent harus ditangani," sahut Rissa, dan aeketika membuat Rion yang tadinya tegang sekarang bisa bernafas lega.
"Syukurlah," gumam pria itu.
__ADS_1
"Buuu, saya sudah siap?!" seru Meisya dengan menarik koper besarnya. Dia terkejut saat melihat seseorang sedang bertamu malam-malam begini.
"Maaf, saya tidak tau kalau sedang ada tamu..." lanjut Meisya.