
Di kamar itu akhirnya ada dua ranjang yang di tiduri orang yang berbeda.
Rissa perlahan membuka matanya, sementara papanya malah terkapar nggak berdaya di tempat tidurnya. Bikin tante Karla mijitin kepalanya.
"Sial banget, kenapa dia malah makin kesini makin nyusahin?!!" gumam tante Karla.
"Maaah...?" lirih Rissa yang melihat mama nya ngomong sendiri kayak orang sutres.
Tante Karla yang namanya dipanggil pun mendekat pada anaknya.
"Ya, Sayang? kamu butuh apa? kamu pengen orang itu dipindah dari sini?" tanya tantebKarla yang nggak liat sikon banget.
Rissa menggeleng, dia bukan merisaukan keberadaan papanya. Tapi dia mencari seseorang yang selalu bersamanya.
"Kenapa? ada apa? apa yang kamu cari?" tante Karla sebenernya tau siapa yang dicari oleh anaknya, tapi dia sok nggak ngerti aja, biar Rissa sendiri yang ngomong secara langsung.
Rissa menggeleng lagi. Syukurnya pas dokter dateng dan ngecek keadaan Rissa, nggak ada sesuatu yang mengkhawatirkan.
Dan respon Rissa pun sangat bagus, hanya motoriknya yang berlu dilatih.
'Dimana dia? apa dia juga bisa kembali ke dunia nyata? atau dia nyasar lagi?' batin Rissa.
Rissa yang di mimpinya lagi naik kreta kuda bareng pangeran Clift pun ditarik secara aneh. Dia tiba-tiba saja ingin terbangun, seperti orang yang bangun tidur seperti biasa.
'Semoga dia pun bisa kembali ke dunia nyata...' Rissa masih aja mikirin Rion.
"Kamu nggak usah banyak pikiran. Kamu baru aja sadar. Kalau orangtua ini mengganggubkamu, nanti mama pindahkan," kata tante Karla.
Kayaknya bukan Om Dera yang bikin Rissa nggak nyaman, tapi mamanya deh. Soalnya daritadi merepet mulu nggak mau berhenti.
Ceklek!
Bu Wati yang masuk.
"Biyung?" gumam tante Karla.
Bu Wati dateng dengan Kalila, "Syukurlah. Setelah dapet kabar kalau Karissa sydah siuman. Biyung langsung kesini,"
"Tapi ini kan sudah malam, Biyung. Kalau ada apa-apa di jalan gimana?" tante Karla menggandeng Kalila.
Bu Wati mendekat pada cucunya dia meletakkan parcel buah di atas meja, "Kamu sudah siuman? alhamdulillah,"
Rissa tersenyum sedikit, "Nenek..."
"Sudah, sudah. Jangan banyak mengeluarkan tenaga. Nenek tau kamu masih lemes..."
Dan ketika ngeliat, kok ada satu ranjang lagi dan ternyata ada mantan menantunya disana.
"Loh, Nak Dera kenapa Karla?" tanya bu Wati.
"Serangan jantung!" ucap tante Karla enteng.
"Yang bener kamu, Karla? jangan main-main dengan penyakit..." Bu Wati bergeser ke arah ranjang Om Dera.
__ADS_1
Dia melihat pria yang pernah menjadi suami anaknya itu pun tergeletak nggak berdaya.
"Astaghfirullah, kamu kenapa Nak Deraa?" bu Wati ngerasa kasihan.
"Dia nggak bakalan denger, Biyung. Dia lagi tidur," ucap tante Karla.
"Kamu pasti capek. Biyung yang akan menjaga Karissa. Kamu pulanglah bareng Kalila, nanti kalau kamu sudah kembali kesini. Nanti gantian Biyung yag pulang,"
Tante Karla peregangan sedikit pinggangnya ke kiri dan ke kanan, " Ya udah, Karla pulang dulu. Besok juga Kalila harus sekolah. Berarti Biyung yang mau nginep disini?"
Bu Wati mengangguk, "Pulanglah, kamu juga butuh iatirahat. Biyung yang akan menemani cucu Biyung ini..."
Dalam hati Rissa mungkin mengucapkan alhamdulillah berulang kali karena kupingnya bisa terbebas dari ocehan mama nya.
"Ya sudah, Karla pamit..." tante Karla meraih tangan ibunya.
Dia berjalan mendekati Rissa, "Rissa, mama pulang dulu ya. Besok mama datang lagi,"
"Mbaaaak..." Kalila mengelus tangan kakaknya.
Rissa cuma ngangguk, dia terlalu lemas untuk ngomong dengan kalimat panjang.
Dan akhirnya, si karet nasi warteg pun pergi dengan anak bungsunya.
Setelah mengecek keadaan Dera Dar Der Dor, Bu Wati pun beralih menarik kursi dan duduk di sping ranjang Karissa.
"Tidurlah, Sayang..." ucap bu Wati.
Rissa tersenyum tipis, dia lagi mikirin nasib orang yang dulu ditumbalin sama papanya.
Rissa mak deg gitu, kok neneknya bisa tau kalau dia lagi mikirin Arion.
"Nenek cuma menebak saja, Karissa..." sambung bu Wati.
"Tenang saja, Arion juga selamat seperti dengan kamu..."
Dalam hati Rissa langsung lega. Terlalu banyak hal.yang terjadi antara dirinya dan juga Arion. Jadi rasanya susah banget buat nggak peduli sama pemuda itu yang selalu menawan disegala jurusan.
"A-pa, d-dia b-berada d-di-sini?" Rissa terbata-bata.
Bu Wati menggeleng, "Tidak, Sayang. Dia tidak disini. Dia bersama keluarganya di rumah sakit yang lain," ucap Bu Wati yang sempet diceritain anaknya perihal anaknya Ridho yang ditemukan bersama Karissa.
"Sekarang, yang terpenting kamu sehat dulu. Nanti kamu pasti bisa ketemu dengan dia lagi," kata bu Wati yang ngadem-ngademi cucunya.
Rissa pun sedikit tenang mendengar ucapan neneknya. Rambutnya dibelai-belai, seakan menyuruhnya untuk istirahat lagi. Padahal udah lama banget Rissa tertidur. Dan sekarang matanya ingin terbuka lebih lama.
Sementara di tempat lain, papi mami nya yang udah capek banget pun ketiduran dengan posisi duduk.
Mereka lagi di ruang perawatan Arion, anaknya.
Rion yang masih melek pun melihat gimana dua orangtuanya itu tertidur.
'Kasian mami...' Rion dalam hatinya.
__ADS_1
Rion memandang langit-langit kamarnya.
'Kalau gue lanjutin, mami pasti sedih banget. Tapi itu juga kan bukan kesalahan Rissa, itu salah papanya. Dan dia berusaha buat selalu ngelindungi, bahkan mempertaruhkan nyawanya buat gue. Dia orang yang baik yang dikelilingi orang yang jahat,' Rion bermonolog dalam hatinya.
'Dimana dia sekarang? apa dia juga udah siuman? atau masih tidur, tergeletak di atas kasur? atau mungkin dia masih ketinggalan di negeri dongeng. Nggak, nggak mungkin ketinggalan! kan gue pegangin dia kuat banget mana mungkin sampai ketinggalan disana!' Rion masih inget apa yang terjadi sama dia.
Dia pun masih ingat jelas, kemana aja dia berkelana, Rion masih ingat itu. Rasanya dia hanya berpindah posisi tempat dan waktu aja. Tapi nggak tau kenapa badannya seakan macet, kayak mesin yang kurang oli.
"A-aa..." Rion berusaha bersuara selirih mungkin.
'Ajegileeee, susah banget buat ngambil minum juga,' Rion mencoba buat bangun. Tapi badannya susah banget buat digerakin.
'Apa ini efek karena gue kelamaan menjelajah ke negeri antah berantah?
Papi Ridho yang juga haus pengen minum pun mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Ya ampun, pegel banget!" dia ngerasa lehernya bantalan, karena tidurnya megleng terus.
Perlahan dia memindahkan menggeser kepala istrinya yang enak banget nyender di bahunya.
Dengan jurus selow motion, akhirnya papi Ridho bisa bikin istrinya tidur lempeng di sofa.
Pas papi mau peregangan, udah diangkat nih kedua tangan. Eh, dia lihat anaknya berusaha buat bangun.
"Riooon?" papi Ridho mendekat buat bantuin anaknya.
"Rion? kamu mau apa?"
"A-air," lirih Rion. Seakan tenggorokannya kering bak gurun pasir.
"Astaga, sebentar sebentar! biar papi ambilkan!" papi mengatur posisi tempat tidur Rion.
Nteeeeeettt!
"Piiihhh," Rion menunjuk betisnya yang keangkat. Ada gundukan di bawah kakinya.
"Sorry, Rion! salah pencet!"
Nteeeeeettt!!
Ini baru bener, Rion yang tadi rebahan dengan posisi tiduran pun kini verubah jadi setengah duduk.
"Sekarang kamu mau minum?"
Rion ngangguk, lidahnya masih kelu hanya untuk ngomong 'iya'.
Dengan telaten papi Ridho membantu Rion untuk minum dari sedotan.
"Gimana? apa kamu masih pusing?" tanya papi setelah naruh kembali air yang habis diminum Rion.
"Se-di-kit," ucap Rion, belajar buat mengucapkan sesuatu.
"Baguslah, berarti obatnya cespleng! ya kan?" papi lawak banget malem-malem kayak gini.
__ADS_1
Rion cuma nganggu, Rion yakin dibalik candaan papinya terselip rasa kasian melihat kondisinya saat ini.